One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 38. Kenyataan Yang Mengejutkan



Hembusan napas Revan terdengar tenang, detak jantung mereka saling bersahutan. Aktifitas panas yang mereka lakukan beberapa jam lalu membuat pria itu terlelap damai. Namun tidak dengan Kana, sedari tadi dia sama sekali tidak bisa terpejam, ada perasaan takut dan gelisah yang tiba-tiba menghampiri dirinya.


Kana menatap wajah Revan. Saat tertidurpun Revan terlihat sangat tampan, garis wajah tegas, hidung mancung semakin menambah kadar ketampanan nya. Apa reaksi Revan ketika nanti dia memberitahu tentang Arfa, wajah mereka terlihat sangat mirip. Arfa pasti akan sangat senang jika bertemu dengan Ayahnya. Kana semakin tidak sabar menunggu kedatangan Arfa dan Tantenya.


Dering ponsel mengudara membuyarkan lamunan Kana. Kana menyadari jika itu bukan ponselnya dan membiarkan saja. Namun karena terus berbunyi, akhirnya Kana memutuskan mencari dimana ponsel itu.


Perlahan Kana mengurai pelukan Revan. Dalam keadaan bugil wanita itu turun dari ranjang mencari dimana asal suara ponsel Revan. Kana menghampiri sofa, terdapat jas Revan disana.


Dengan sedikit ragu Kana mengambil ponsel itu. Sebuah panggilan masuk dari Tuan Adit. Kana mengernyitkan dahi, mungkinkah nama Tuan Adit yang tertera disana nama pemilik Eigle. Kana yakin jika itu benar, mungkin saat ini Rayan telah bertemu dengan keluarganya, dan mungkin pria itu sudah melaporkan Rayan pada Papanya.


Kana membiarkan saja. Toh itu bukan ranahnya untuk ikut campur, meski Revan melakukan ini karena melindungi dirinya. Jikapun nanti Revan ditendang keluar dari Eigle, maka Kana akan memintanya bekerja bersama Papanya.


Ponsel itu Kana letakan kembali. Namun karena terus berbunyi akhirnya Kana memberanikan diri menjawap panggilan dari Radit.


"Dimana kamu Van?" Tanya Radit dengan nada marah.


Kana masih terdiam, dia ingin tahu apa yang akan Radit katakan pada Revan.


"Apa kamu gila Van? Bisa-bisanya kamu membuat adik mu babak belur seperti itu," bentak Radit.


Deg..


Kana tersentak kaget mendengar apa yang baru saja Radit katakan. Dia masih mencoba mencerna maksud ucapan Radit.


"Ini semua salah mu Pah, lihat apa yang sudah anak haram itu lakukan pada anak ku. Berikan ponselnya pada ku." Suara perdebatan antara Radit dan Tirana terdengar nyaring hinga telinga Kana.


"Tenang Mah, Papa yakin ini hanya kesalah pahaman. Revan tidak mungkin melakukan ini pada adiknya." Radit masih berusaha membela anak sulung nya.


"Bela saja terus anak mu. Agar dia semakin besar kepala," maki Tirana seraya menyambar ponsel yang tengah suaminya genggam.


"Heh Revan Mahardika. Anak gila, apa yang sudah kau perbuat pada anak ku? Jika sampai terjadi sesuatu pada Rayan, aku pastikan kamu akan menyesal." Panggilan berakhir setelah Tirana mengatakan itu.


Kana terhenyak. Pandangan nya nanar menatap kearah Revan yang masih tertidur pulas dibawah gulungan selimut.


"Jadi Revan anak Radit?" guman Kana masih tak percaya.


"Kana Dhanijaya, apa yang sudah kamu lakukan? Kamu menambah rumit masalah ini," batin Kana.


Wanita itu seperti orang ling-lung. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Kana fikir semua akan berjalan seperti yang dia harap kan. Namun kenyataan yang baru saja dia ketahui seolah menapar dirinya.


Dengan perasaan kalut Kana memunguti pakaiannya yang tergeletak diatas lantai. Air matanya kembali menetes, lagi-lagi dia sudah melakukan kesalahan. Dan kini dengan suka rela Kana menyerahkan tubuhnya pada anak dari musuh sang Papa.


Kana berlalu masuk kedalam toilet. Wanita itu mengenakan pakaiannya kembali. Jam yang tergantung pada dinding kamar itu menunjukan pukul tiga dini hari. Kana kembali menyambar ponsel Revan, wanita itu menempelkan ibu jari Revan agar bisa membuka ponselnya.


Seolah semesta merestui, ponsel itu terbuka dan Revan sama sekali tidak terusik. Kana menyalin semua file materi pengajuan tander dan mengirimkan keponsel nya sendiri. Lantas dia menghapus semua log aktifitas pengiriman email itu.


Kana meletakan ponsel Revan dan ponsel miliknya yang Revan berikan beberapa waktu lalu. "Maafkan aku Van, sepertinya semesta memang tidak merestui kita," ucap Kana. Wanita itu mengecup bibir Revan sebelum akhirnya pergi dari kamar itu.


Kana meminta layanan Hotel untuk mengantarkan nya menuju Apartemen. Sebentar lagi Matahari akan menyambangi bumi, jika Revan sadar dan Kana masih belum menyelesaikan urusannya. Semua itu akan menimbulkan masalah yang lebih panjang.


"Tunggu disini Pak, saya ada urusan sebentar," pinta Kana pada kendaraan Hotel yang ia sewa.


"Baik buk," sahut petugas Hotel itu.


Kana berjalan cepat menuju apartemennya. Sampai disana Kana hanya mengambil ponsel miliknya, dan meninggalkan semua pemberian Revan.


Mata Kana memindai ruangan Apartemen, baru beberapa hari lalu dia menginjakan kaki diapartemen itu. Namun kini dia harus pergi begitu saja.


"Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama," ucap Kana seraya menutup pintu apartemen.


Lelehan air mata mengiringi langkah Kana. Baru saja dia merasakan jatuh cinta, namun harus kandas begitu saja. Padahal semuanya belum dimulai. Kana tidak ingin egois, dia tidak ingin memaksakan kehendak. Bagaimanapun Kana sudah mengecewakan orang tuanya. Kana tidak ingin membuat orang tuanya bertambah kecewa jika tahu dia dan Revan menjalin hubungan apa lagi sampai memiliki anak diluar nikah.


"Jalan Pak," ucap Kana.


Sopir Hotel itu mengangguk. "Kemana buk?" tanya nya.


Kana terdiam, dia tidak mungkin meminta petugas Hotel itu mengantarkan nya sampai rumah. Bisa saja Revan bertanya pada petugas Hotel itu.


"Berhenti saja dijalan depan," pinta Kana.


Dengan patuh sopir itu mengangguk. Jalan yang masih sepi membuat mobil itu sampai dengan cepat.


"Disini buk?" tanya sopir itu. Dia nampak heran mengapa Kana meminta berhenti disinii. Padahal saat ini masih pukul empat dini hari. Sopir itu mengira Kana wanita panggilan.


"Iya disini." Sebelum turun Kana memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah kepada sopir itu.


"Buk, ini kebanyakan," ucap sopir itu.


"Nggak papa, buat Bapak." Kana turun setelah mengatakan itu.


Beruntung tadi saat diapartemen Kana sudah menghubungi Anton, sehingga dia tidak perlu menunggu lama Anton sudah ada disana.


Petugas Hotel itu pergi dari sana saat Kana terlihat masuk kedalam mobil mewah yang berhenti dibelakangnya. "Buset dah, PSK sekarang keren-keren, mana yang nyewa bos-bos gedean lagi. Berapa ya tarif nya?" Sopir itu terus mengguman dengan praduganya sendiri.


"Non Kana darimana? Kenapa pagi buta seperti ini sudah ada diluar?" Anton membrondong Kana dengan banyak pertanyaan. Tentu dia merasa heran dan hawatir saat kana meminta dijemput dijam seperti ini.


Kana mengehela napas, dia memandangi langit yang mulai dihiasi semburat matahari. "Nanti saja saya jelaskan. Carikan dulu saya Hotel," pinta Kana.


Anton terdiam. Meski dia sangat hawatir dan penasaran, namun tentu dia tidak bisa membantah ucapan Kana. Anton mengangguk patuh dan mengantarkan kana kesalah satu Hotel milik Widjaya group.


"Aku tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Aku yang merencanakan pertemuan kita. Aku juga yang sudah kalah. Aku sudah menyerahkan diri secara suka rela. Kenapa? kenapa harus seperti ini Van? Takdir memang rumit, membuat aku tidak bisa memilih." batin Kana sendu.