
Kana memberanikan diri menatap Revan, wanita cantik itu mengernyitkan dahi. "Pertanggung jawaban seperti apa yang ingin kamu berikan?"
"Apapun! kamu ingin aku bertanggung jawab seperti apa? Aku pasti akan mengusahakan apapun yang kamu minta" ucap Revan dengan yakin.
Kana tertawa mendengar ucapan Revan, membuat pria itu heran, apa yang membuat Kana tertawa nyaring seperti itu.
"Sudah aku katakan, aku tidak membutuhkan pertanggung jawaban mu," sahut Kana kemudian.
Kana sedang berusaha membuat Revan semakin merasa bersalah, sehingga dia yakin Revan akan melakukan apapun untuk nya.
"Aww.." pekik Kana. Dia hendak bangkit meninggalkan Revan, namun kakinya terasa sangat sakit.
"Kamu mau kemana?" Revan mencekal lengan Kana,membuat Kana reflek menghempaskan tangan Nya.
"Maaf," ujar Revan lirih.
Mereka kembali terdiam. "Aku harus pulang," ucap Kana tiba-tiba.
"Izinkan aku mengantar mu," pinta Revan. Sudah empat tahun menunggu, tidak mungkin Revan membiarkan Rena pergi begitu saja. Dia harus tahu dimana Rena tinggal, agar memudahkan dirinya memantau wanita itu.
"Tidak perlu," tolak Kana, wanita itu bangkit berjalan meninggalkan Revan dengan kaki tertatih. Tentu saja Revan tidak menyerah, dia tetap mengikuti Kana dari belakang.
Ingin rasanya Revan membantu wanita itu, namum dia tidak kuasa memaksanya, biarlah semua berjalan sebagai mana mestinya, untuk saat ini yang terpenting dia tahu dimana Rena tinggal. Banyak sekali yang ingin Revan tanyakan, namun sepertinya kenangan malam itu sangat melukai Rena. Bahkan tadi wanita itu sampai menangis.
Hampir saja Kana terjatuh, jika Revan tidak dengan sigap membantunya. Mungkin semua yang Kana lakukan hanya sebuah sandiwara, namun rasa sakit dikakinya benar adanya, meski begitu luka itu belum seberapa jika dibandingkan dengan luka hati yang Kana rasakan selama ini. Kana rela menanggung semua luka itu, asal dia bisa membuat Revan merasakan kesakitan yang lebih dari ini.
"Tolong jangan menolak, izinkan aku membantu mu," mohon Revan, seraya memegangi lengan Rena, nama samaran yang Kana buat untuk menjerat Revan.
Sungguh sentuhan Revan membuat sekujur tubuh Kana meremang. Tidak pernah dia bayangkan akan kembali bersentuhan dengan Revan seperti ini. Kana fikir setelah kepergiannya ke New York dia tidak akan pernah kembali bertemu ayah dari Arfa lagi.
Meski begitu Kana hanya diam saja, dia membiarkan Revan membantunya. Karena sebenarnya inilah yang Kana harapkan.
"Kamu mau kemana?" tanya Revan setelah mereka cukup jauh menyusuri bibir pantai.
"Pulang," sahut Kana singkat.
Mereka sudah berjalan cukup jauh, bahkan kaos dalam yang Revan ikatkan pada kaki Rena sudah berubah warna, dan dia tidak tahu kemana Rena akan pulang.
"Dimana rumah mu?" tanya Revan pada akhirnya.
Kana melirik Revan sekilas, keringat mengalir menyusuri wajah tegas nan tampan itu. Tidak dipungkiri wajah Revan memang sangat tampan, mungkin beginilah gambaran Arfa ketika dewasa nanti. Kana jadi membayangkan jika Arfa dan Revan bertemu, apa mereka akan saling mengenali.
Kana mendengus, entah apa yang dia fikirkan, mengapa pula dia jadi memikirkan hal-hal tidak penting. "Kana Dhanijaya, fokus dengan tujuan mu," batin Kana dalam hati.
"Hey Rena, kamu tidak apa-apa?" tanya Revan hawatir, karena wanita itu hanya diam saja.
"Ahh, iya.. Aku harus pulang, rumah ku sedikit jauh dari sini, apa kamu tidak apa-apa jika berjalan jauh?" bohong Kana.
Revan mengangguk. "Aku tidak masalah, tapi jika tidak keberatan bisakah kita naik mobil saja, darah dikaki mu akan semakin banyak menetes," ucap Revan sembari melirik kaki Kana.
"Aku tidak memiliki mobil," ucap Kana pada akhirnya.
Revan menepuk dahi, jika tahu akan seperti ini jawaban Rena, sudah sedari tadi dia mengantarkan wanita itu menggunakan mobilnya.
"Ayo." Revan menuntun Rena menuju Hotel dimana ia bermalam.
"Bisakah kamu menunggu ku disini, dan jangan kemana-mana," pinta Revan penuh permohonan. Tidak mungkin dia mengajak Rena berjalan sampai basement Hotel, apa lagi kakinya tengah terluka.
Kana hanya mengangguk merespon ucapan Revan, Revan memintanya duduk disalah satu kursi yang ada diaera parkir.
"Tolong berjanjilah tetap menunggu ku disini, dan jangan pergi oke," mohon Revan sungguh-sungguh. Dia tidak ingin kehilangan jejak Rena lagi, dan lagi-lagi wanita itu hanya mengangguk.
Revan berlari kecil menuju basemant, sesekali ia kembali menoleh memastikan Rena masih ada ditempatnya. Pria tampan itu bergegas menginjak pedal gas nya, meghampiri Rena.
Revan menghela nafas lega manakala Rena masih setia duduk disana. Kulitnya yang putih bersih begitu kontras dengan warna rambutnya yang hitam legam. Duduk dibawah sinar matahir seperti itu semakin membuatnya bercahaya, benar-benar devinisi mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Revan menghentikan mobilnya tepat didepan Rena, ia turun dan berlari kecil mengitari mobil untuk membukakan pintu. "Ayo masuk," titah Revan.
Kana mengangguk, ia berjalan perlahan masuk kedalam mobil. Andai mereka baru mengenal, mungkin Kana akan terkesima dengan sikap manis Revan. Namun tentu pertemuan mereka kini bukan untuk saling mengagumi.
Dalam hati Revan bersorak senang, pria tampan itu kembali masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan area Hotel.
"Dimana rumah mu Ren?" tanya Revan seraya melirik Kana yang tengah fokus mamandangi jalanan.
Kana menoleh. "Tidak jauh dari sini," sahut Nya.
"Perempatan didepan belok kanan," jelas Kana.
Revan mengangguk. Mereka kembali saling diam, sebenarnya Revan ingin menanyakan Seperti apa kehidupan Kana selama empat tahun ini namun dia tidak berani mengatakannya dia takut Kana semakin sedih mengingat kenangan buruk itu.
Mungkin Revan akan menanyakan itu di lain waktu, yang terpenting saat ini dia sudah bertemu Kana, dan sebentar lagi di tahu dimana wanita cantik itu tinggal.
"Kamu tinggal bersama siapa?" tanya Revan. Rasanya Revan tidak tahan untuk tidak berbicara dengan Rena. Wanita yang baru ia temui beberapa jam lalu itu sudah membuat semangat Revan kembali menggelora, tentunya sudah merenggut sebagian perhatian nya juga.
Dalam hati Kana begitu kesal, mengapa Revan seperti seorang wanita, terus saja mengajukan banyak pertanyaan.
Kana kembali menoleh kearah kemudi, dimana Revan tengah duduk dengan fokus. "Aku tinggal sendiri," sahut Kana malas.
"Bukankah sudah aku katakan, aku diusir kedua orang tua ku, dan kini aku tidak punya siapa-siapa, aku juga baru pindah ke Jakarta beberapa minggu lalu, sebelum nya aku tinggal di Bandung, setelah di PHK aku kembali ke Jakarta, siapa sangka aku malah bertemu dengan mu lagi," ucap Kana sedikit kesal, dia berharap Revan tidak lagi mengajuakn banyak pertanyaan.
Nada bicara yang sedikit emosi membuat Revan faham jika mungkin Kana tidak ingin terlalu banyak ditanya. Pada akhirnya pria itu hanya diam, membiarkan semua berjalan sebagaimana mesti nya. Masih banyak kesempatan yang Revan miliki, setelah ini dia akan selalu mendatangi Rena.
"Apa kamu sudah memiliki pekerjaan di Jakarta?" tanya Revan lirih, dia takut Rena semakin kesal. Namun hal ini penting untung diketahuinya.
Kana menggeleng. "Aku sedang mencari pekerjaan," timpal Nya.
Revan berfikir Tuhan sedang memberinya banyak kesempat, selain kembali dipertemukan dengan Rena. Kini dia memiliki ide lain agar mereka bisa lebih sering bertemu, Revan akan memastikan jika Rena mau menerima pertanggung jawaban Nya.