
Di sekolah riuh teman-temanku membicarakan mengenai pesta kelulusan kami. Para gadis bertanya-tanya, gaun apa yang harus mereka pakai, cocok dengan sepatu model apa, siapa yang nantinya akan menjadi queen and king. Hal-hal berbau remaja seperti itulah. Sementara teman-teman lelakiku mulai bergerilya mencari kandidat gadis yang tepat untuk diajak ke pesta bersama.
Untuk hal itu, aku tak terlalu berharap. Yah, sedikit sih, itu karena sepanjang hari Evelyne memamerkan bahwa Eric Sanders, salah satu bintang lapangan yang memiliki banyak fans, mengajaknya ke pesta. "Oh, Kea... Gaun mana yang harus kupakai? haruskan aku bertanya, apa warna tuxedonya nanti? Pasti menyenangkan jika kami bisa memakai gaun pasangan." Ya ampun, dia kira ini kencan sehari ala variety show. "Oh, Kea... Tinggi kami tidak sama, haruskah aku memakai high heels? Tapi aku tak terbiasa memakainya. Aku harus mulai latihan dari sekarang," Evie berkata sambung-menyambung membuatku bingung. Apakah aku harus menjawab semua pertanyaannya itu atau cukup dengan mengangguk-anggukkan kepala seperti orang bodoh, hanya untuk menunjukan kalau aku mendengarkannya dan ikut bersimpati atas dilema yang tengah ia hadapi. Ugh... Menyebalkan. Mengapa begitu repot dan menghabiskan banyak waktu juga biaya hanya untuk melewatkan satu hari saja? Toh aku yakin, hari itu bukan benar - benar hari kami terakhir bertemu satu sama lain. Masih ada reuni tahunan, reuni 5 tahunan, reuni perak, emas. Belum lagi jika kami nantinya masuk ke sekolah lanjutan yang sama. Hemmm... apakah aku terlalu optimis? atau justru skeptis? entahlah.
Pestanya sendiri tidaklah terlalu luar biasa. Hanya pakaian kami saja yang tidak biasa, kalau tidak bisa dibilang agak berlebihan. Para gadis diharuskan memakai gaun, sementara anak laki-laki mengenakan tuxedo.
Beberapa keluarga terlalu berlebihan memaknai pesta kelulusan ini. Mereka menganggap ini kesempatan bagi mereka untuk memamerkan anak gadis mereka kepada public dan keluarga "baik-baik" yang sesuai kriteria.
Kuharap Tatiana, yang kuberikan kepercayaan mempersiapkan keperluanku, tidak bersikap terlalu berlebihan. Tapi mengingat binar matanya dan ekspresi bahagia yang berusaha ia sembunyikan dihadapanku saat kukatakan hal ini padanya... Ugh, aku tak yakin semuanya akan berjalan sesuai "standar"ku.
"Hai, Kea, " sebuah suara memecah monolog dalam diamku. Aku mengernyit melihat siapa yang barusan menyapaku. Mau apa lagi anak ini? Belum puaskah ia mengodaku sepanjang pelajaran olahraga seperti biasanya. Oh ya, seluruh kelas di angkatan kami akan digabung menjadi satu saat jam pelajaran olahraga.
"Apa maumu, Jeremy? " tanyaku ketus. "Hey, kenapa galak sekali sih," ucapnya dengan ekspresi Kecewa yang dibuat-buat. "Jangan-jangan belum ada satu anak laki-laki pun di sekolah ini yang mengajakmu ke pesta, ya? " tanyanya sambil tersenyum jahil. "Apa maksudmu? " tanyaku. "Dengar ya, tentu saja ada yang mengajakku. Kau pikir aku tidak menarik hah? " ucapku ketus.
"oh ya.. Kalau begitu siapa ya anak laki-laki yang matanya cukup rabun sehingga mau mengajakmu ke pesta? Atau... Kau membayarnya ya? " Jeremy tergelak di sisiku.
"rabun katamu? Bukankah matamu yang rabun? Karena hanya kau satu-satunya anak laki-laki di sekolah ini yang selalu mengejek dan menghinaku," ucapku sewot. Airmata mulai menggenang di pipiku, kesal sekali aku pada mahluk yang satu itu. egoku terusik oleh fakta bahwa memang belum ada seorangpun yang mengajakku. Cepat-cepat aku berjalan menuju kelasku. Namun baru beberapa langkah, seseorang menarik tanganku, menahan dan membalikkan tubuhku. Sepasang lengan menangkup kedua pipiku. "Kea, kau menangis? " tanya Jeremy. Entah mengapa kali ini suaranya begitu lembut. Mungkinkah ia memiliki kepribadian ganda?
Evelyne menatapku bingung. "Kea, ada apa Kea? Kau menangis ya? " pertanyaan yang sama yang kudengar kedua kalinya hari ini. Aku menengadah memandang wajah Evelyn, jantungku seakan meloncat keluar. Dengan gugup aku menjawabnya, "tidak evie... Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kesal." Aku terlambat menyadari bahwa Evelyne dan jeremy adalah bersaudara. Bukan hanya itu, mereka kembar.
^^^
evelyne dan Jeremy^^^
Beberapa hari setelah itu, aku malas masuk sekolah. Rasanya pasti tak nyaman duduk bersama evelyn dan memandang wajahnya. Sementara mata birunya pasti akan mengingatkanku pada pemilik mata biru yang identik, yang telah dengan kurang ajar menciumku. Mencuri ciuman pertamaku!
Tidak, tidak. Bukan berarti aku membenci evelyn. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah teman pertamaku dan kami telah bersama-sama semenjak kami berdua memasuki gerbang sekolah basic untuk pertama kalinya. Hanya saja... Aku terlalu malas untuk menetralisir debar jantungku dan mencari penjelasan atas sikap jeremy yang tak masuk akal.
Beberapa telpon evelyn sengaja kuabaikan. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan situasi "bad mood" ku padanya. Dan sekali dari... Jeremy. Yolanlah yang menerimanya. Aku tetap bertekad tak ingin menerima pertanyaan dari siapapun. "tuan Jeremy menyampaikan permohonan maafnya, Miss," Yolan menyampaikan pesan jeremy untukku. Aku hanya mendengarnya tanpa terlihat antusias. "terimakasih, Yolan," ucapku berusaha menahan diri bertanya lebih jauh, apa lagi yang disampaikan mahluk kurang ajar itu. Tapi Yolan dengan sukarela menceritakannya sendiri padaku. "tuan jeremy juga bertanya, apakah Anda akan datang ke pesta kelulusan besok," Yolan menyunggingkan senyum. "Apa maksudnya itu? Tentu saja aku tak kan datang. Aku malas," jawabku. "tapi miss, bagaimana dengan semua yang telah disiapkan nyonya Tatiana untuk acara itu? " tanya Yolan sedikit panik. "psst... Sst... Sst... Jangan keras-keras, Yolan. Aku akan tetap memakainya kok, tapi bukan ke acara pesta kelulusan. Aku akan mengadakan pestaku sendiri," ucapku dengan senyum lebar, takjub dengan rencana yang tiba-tiba muncul di benakku.
"Dan kau tak kuijinkan membocorkan rencanaku pada siapapun, Yolan! " ucapku, menatapnya tajam.