
Usiaku baru beberapa bulan saja, berjalan pun masih harus sering berpegangan pada apapun yang bisa kuraih, tembok, pinggiran kursi, jendela, box tidurku, atau berpegangan tangan dengan mama. Tapi, aku sudah mampu memahami pembicaraan orang - orang disekitarku, dan beberapa acara televisi. Aku tahu kalau mama sering membicarakan uncle Bruce, bersama aunt Lusi. Bruce yang tampan, mapan, dari keluarga baik - baik, Bruce nya sendiri pun baik. Beberapa kali uncle Bruce main ke rumah dan menggendongku. aunt Lusi naksir uncle Bruce, hanya sayangnya uncle Bruce sudah memiliki aunt Lani, dan beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Orang dewasa seperti mereka cenderung mengabaikan bayi sepertiku saat tengah asyik berbincang. Andai mereka tahu bahwa panca indera dan otakku tak ubahnya seperti blackbox pada mobil atau pesawat terbang, yang mampu memindai apapun yang terjadi disekitarnya.
Semakin orang - orang tak perduli padaku, aku semakin nyaman. Masa - masa bayi yang kulalui dalam diam, jarang menangis, membuat mama sempat bertanya - tanya, apakah aku normal? Hey... Tentu saja aku normal. Hanya saja aku terlalu malas untuk menangis. Kemampuan fisikku tak ubahnya bayi lain, merangkak di usia 6 bulan, berdiri dan mulai berjalan di usia 10 bulan, dan sesekali aku mengeluarkan bunyi yang terdengar seperi "da da da da" jika aku merasa sangat kesal terhadap kakakku. Will, kakak ketigaku, sangat senang menjahiliku. Terkadang ia membujukku dengan menawarkan permen atau coklat. Tentu saja aku tak bergeming, karena memang aku tak suka. Tapi, kalau sudah es krim yang ia pamerkan di hadapanku, rasanya sungguh menjengkelkan. Aku sukaaa es krim, tapi bahkan memegangnya pun, mama tak memperbolehkanku. Will hanya menyentuhkan saja ujung es krim ke bibirku. Dinginnya sungguh menggoda. Dan selalu saja ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal di wajahku.
Berjalan dan berlari adalah hal yang paling menyenangkan di usia batita. Tapi aku tak suka. Aku lebih senang duduk tenang memperhatikan ikan - ikan di aquarium atau menonton televisi. Acara memasak "Easy Baking with Hannah" adalah favouritku atau "cook with Yan" yang menampilkan chef kharismatik asal negri Sakura. Sesekali aku juga membuka - buka majalah mama untuk sekedar melihat - lihat gambarnya. Membaca? Sepertinya aku bisa, hanya saja aku lupa caranya :)
Barulah di usia menjelang 5 tahun, ingatan akan huruf - huruf latin dan bagaimana cara merangkaikannya membuatku tersentak kaget. Lebih kaget lagi adalah Yolan, wanita manis berhati hangat yang sehari - hari membantu mamaku membersihkan rumah, ketika ia tak sengaja mendengarku membaca koran dengan suara keras dan khas balitaku.
"Mrs. Archey... Mrs. Archey... " spontan ia berbalik sambil memanggil - manggil mamaku.
"Ada apa Yolan, kau membuatku kaget", mamaku datang setengah berlari.
"Anda akan lebih kaget jika mengetahui apa yang saya dengar", jawab Yolan dengan nafasnya yang memburu seperti habis berlari jauh.
"Dan itu adalah... ", mama menunggu jawaban Yolan dengan setengah tak sabar. "Miss. kea... Kea...,", tergugup Yolan sambil menunjuk ke arahku.
"Iya, Kea... Ada apa dengan Kea? Kea sayang, kau kenapa? " mama segera menghampiriku yang kini berpura - pura ikut bingung dan melipat - lipat sembarangan koran yang kupegang.
"Saya... Saya mendengar Miss. Kea membaca koran", lanjut Yolan. Nafasnya sudah lebih teratur sekarang.
"Apa?" hahaha, mamaku tertawa sangat keras. Aku mau tak mau ikut tersenyum melihatnya tertawa. Mamaku sungguh cantik jika sedang tertawa. Well, ya... Mamaku memang selalu cantik. Dengan wajah lembut keibuan, mata hijau yang bening dan rambut coklat pekat ikal yang selalu nampak berkilat, sepanjang hidupku yang baru 5 tahun ini, mama adalah wanita tercantik yang pernah kulihat. Kulitnya yang putih kemerahan karena ia senang bergerak melakukan apa saja di rumah ini. Meski sebagai nyonya rumah dan sebagai istri seorang pengusaha terpandang di Dunedin, ia toh tidak harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri. Banyak pelayan di rumah besar ini. Ooh, aku belum tahu jumlahnya karena aku belum bisa berhitung. Mungkin sebentar lagi, setelah ingatan akan membaca ini sepenuhnya kupahami.
"Yolan, kurasa itu tidak mungkin. Aku belum pernah mengajarinya membaca. Mengenal huruf pun ia belum bisa. Bagaimana mungkin Kea membaca koran? Ya ampuun, koran... Yolan, koran... ", dengan masih menyisakan tawanya, mamaku menggeleng - gelengkan kepala tanda tak setuju atas pernyataan Yolan.
"Yolan, kapan aku menuduhmu berbohong? Aku hanya terpaksa meragukan pendengaranmu. Hemm... Atau haruskah kita memanggil dr. Sean? " mamaku sedikit mengerutkan keningnya, sambil menjentik - jentikan jari telunjuknya ke dagu, gayanya jika tengah mempertimbangkan sesuatu. Tapi sorot matanya terlihat jahil.
"Tidak tidak, Miss. Archey, telingaku baik - baik saja kok. Mungkin... Mungkin tadi saya hanya salah dengar. Saya memang agak kurang konsentrasi pagi ini", tolak Yolan dengan terburu - buru.
"Hem... Baiklah. Kita anggap saja begitu ya... Kita lupakan dulu peristiwa ini, dan nanti jika Kea sudah bersekolah dan belajar membaca, kita akan merayakannya saat Kea membaca buku pertamanya, bagaimana? " ucap mamaku sambil mengerling. Yolan hanya tersenyum.
"Dan kau, sweety, kau apakan koran daddy? Mom tidak mau ikut campur ya kalau dad marah - marah karena tidak bisa mengetahui kabar terbaru dari klub sepakbola kesayangannya, karena korannya sudah kau daur ulang", ucapnya sambil menjawil pipiku gemas. Aku hanya bisa meringis, karena melupakan kemungkinan itu.
Sejak itu, aku memiliki kegiatan baru setiap harinya. Berlama - lama di ruang keluarga untuk membaca artikel - artikel menarik yang disuguhkan Feminine's milik mama atau menyelinap ke perpustakaan hingga Savanah, gadis manis dengan mata bulat hitamnya mencari - cariku untuk makan siang.
Perpustakaan menjadi ruang favouritku sekarang. Secara tak sadar, aku telah mrnyelesaikan membaca banyak buku - buku tebal disana, terutama novel. Ya, aku suka novel, ensiklopedi, dan autobiografi, tapi aku benar - benar bergidik ngeri ketika membaca buku-buku hukum dan politik. Medis sih masih lumayan.
Otot mata balitaku sepertinya tak sanggup mengimbangi keinginan dan kemampuan membacaku. Aku sering merasa perih dan pusing akhir - akhir ini, dan kuputuskan untuk istirahat sejenak dari kegiatan membaca, meski perpustakaan tetap menjadi tujuanku setelah menyelesaikan makan pagi.
Aku tengah asyik menyusun kepingan - kepingan puzzleku, di sudut terjauh perpustakaan, di antara rak tempat novel - novel berjajar rapi dan sebuah sofa tanpa kaki beralaskan karpet berbulu tebal menjadi sandaranku saat lelah, ketika kudengar suara pintu terbuka dengan cukup keras.
"Kita tidak bisa menundanya lagi, Ryan. Anak itu mulai menunjukan tanda - tandanya", sebuah suara memulai percakapan, dan aku sangat yakin kalau itu adalah suara mamaku.
"Sabarlah beberapa saat lagi, sayang. Kita harus menunggu hingga Kea cukup matang dan benar - benar nyaman menunjukkan kemampuannya", ujar suara papaku, seorang lelaki tampan yang sangat lembut. Well ya, setidaknya pada keluarganya, pada mama, aku, Will, Bob, dan Nat. Seingatku, papa tidak pernah marah, dan tidak pernah meninggikan suaranya saat ia bersama kami. Entahlah jika diluar atau ditempat kerjanya, mengingat papa adalah seorang pemimpin yang disegani oleh semua pekerjanya dan kawan kawannya, itu yang pernah kudengar dari pembicaraan beberapa pelayan kami. Meskipun papa lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, tapi setiap di rumah, ia selalu meluangkan waktunya untuk menengokku di kamar, ngobrol denganku tentang buku buku yang saaaangat kusuka, dan makan malam bersama keluarga.