Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 5



Hari ini aku bangun terlambat.  Tapi toh ini hari libur,  tak ada salahnya terlambat bangun sesekali setelah selama 5 hari sebelumnya aku harus selalu bangun pagi,  mandi pagi-pagi, bahkan ketika langit masih tampak merah,  lalu bersiap-siap menunggu bis jemputan yang akan membawaku ke sekolah.


Yap,  sekarang aku sudah kelas 3, sudah lebih tinggi dan dewasa.  Tapi tentu saja itu hanya khayalanku saja,  karena seluruh isi rumah ini selalu menganggapku anak kecil yang tak bisa apa-apa. Menyebalkan.


Seperti biasa,  tujuan pertamaku adalah perpustakaan,  untuk memilih buku yang akan kubaca hari ini. Beberapa novel koleksi perpustakaan kami sudah kubaca berulang kali, tapi tetap saja menarik, terutama novel tentang alien yang menginvasi planet biru dengan sangat elegan dan tanpa kekerasan. Perampokan dan perampasan dalam damai, begitu kupikir. Meski terdengar aneh, tapi hey... apa yang tak mungkin dilakukan oleh para pemilik kekuatan dan teknologi?


Begitu sampai di depan perpustakaan dan hendak membuka pintu,  gerakanku terhenti. Sepertinya ada orang di dalam.  Kubuka pintu dengan sangat perlahan.  Melalui celah pintu yang sangat kecil,  aku bisa melihat mama,  papa,  dan ketiga kakak laki-lakiku,  dan satu orang lagi.  Sean,  ya..  Kurasa itu dr. Sean, dokter keluarga kami



"Haruskah kita menunggu lagi?  Bukankah semakin banyak orang yang tahu keberadaannya,  itu artinya semakin banyak yang bisa melindunginya? " Will berkata dengan nada tidak sabar yang menjadi gayanya selama ini.  "Kurasa ini belum waktunya,  Will.  Diusia sekarang dalam penampilan fisiknya,  sepertinya kurang pantas jika nantinya Kea bertemu Julian," dr. Sean menimpali. "huh...  Kurang pantas apanya.  Bukankah yang didalam sana tetap saja Kea. Tak perduli bagaimana tampilan fisiknya," Will mendengus kesal.  "Kau tahu bagaimana Julian, Will. Dia sudah menunggu terlalu lama.  Jika sampai dia tahu,  aku tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya pada adik kecil kita yang masih di sekolah basic, " Nat menimpali sambil menahan senyum. "Dan,  karena alasan itulah maka menunggu hingga waktunya tepat adalah pilihan yang terbaik,  anak-anak, " papa tersenyum sambil memeluk mama di sampingnya.  "Saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah sebisa mungkin mengawasi dan menjaga Kea bergantian.  Apalagi jika ia pergi keluar rumah," Bob berkata sambil menjentik-jentikan bibir bawahnya. "Tapi menempatkan penjaga akan terlalu mencolok, Kea akan tahu,  dia gadis pintar, " wah dadaku sampai menggembung mendengar Will memujiku.  "Mengapa harus menyewa penjaga,  jika Kea memiliki kita? Kurasa Samantha,  Tatiana,  dan Siera juga pastinya mau membantu," ucap Nat bersemangat.  Hal-hal seperti penjagaan, penyelidikan, penyerbuan selalu membuat Nat seperti Will jika menemukan benda-benda aneh dan unik.  Antusias. Antusias yang berlebihan mungkin.


"Ryan, apakah menurutmu pihak yamala sudah melupakan semuanya? maksudku, toh ini sudah lama berlalu," dr. Sean menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemarinya. suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Bagi mahluk berumur panjang seperti kita, Sean... beberapa ratus tahun tidaklah lama. Entah bagi mereka, tapi sepertinya bagiku, kejadian itu tidak pernah bisa kulupakan." Papa berucap lirih, menatap dr. Sean. ko


"Hem,  baiklah.  Kurasa cukup hari ini,  sebentar lagi Kea bangun, " mama akhirnya bersuara juga. "Ya," timpal papa.  "Kita harus segera berkoordinasi. Nat,  Bob,  Sean,  segera hubungi mereka untuk meminta bantuan. Aku akan menyusun jadwalnya, " lanjut papa. "Kita lanjutkan lagi nanti setelah aku selesai dengan jadwal, terimakasih anak-anak," sambil matanya melirik mama dan mengecup lembut kepalanya.


Mengapa aku butuh dijaga?


Penjagaan ketat?  Huh...  Awas saja kalau mereka berani membatasi gerakku.  Aku akan memberontak.  Memangnya siapa aku,  hingga butuh dijaga?  Aku bukan anak presiden atau politikus atau mungkin selebritis yang takut penguntit atau fans psico menculik anaknya.  Dan kurasa papaku,  meski ia terbilang merupakan pengusaha sangat sukses,  ia bukanlah pribadi yang akan memiliki banyak musuh.  Papaku adalah orang yang sangat baik hati dan pemurah.  Diberkahi dengan kemampuan yang sangat jeli melihat peluang dan memilih pegawai,  membuat kariernya melejit tak terbendung.  Tapi ia bukan tipikal pengusaha yang sanggup melakukan cara apa saja untuk memuluskan usahanya.  Apalagi dengan mama disampingnya.  Itu semakin tidak mungkin lagi.  Karena sudah terbukti mama menjadi tali kekang dan kontrol yang baik untuk papa. Dan bagusnya lagi,  mereka saling sangat mencintai satu sama lain.


Aku sendiri, well...  Bukannya sombong.  Di kelasku aku adalah primadona yang memiliki banyak pemuja,  bahkan hampir seluruh isi kelas memujaku,  bahkan hampir semua guru yang pernah mengajarku.  Tentu saja bukan karena wajahku. Wajahku biasa saja.  Dengan mata coklat keemasan warisan dari papa,  rambut coklat susu yang entah dari mana,  mungkin perpaduan coklat pekat mama dan pirang dari papa.  Kulitku cenderung pucat karena aku lebih senang menghabiskan waktuku di dalam ruangan.  Sangat berbeda jauh dengan kakak-kakakku.  Sedikit mirip Bob,  meski Bob akan sanggup menjelajah hutan dan gunung untuk mencari dan mendapatkan tumbuhan yang diinginkannya. Secara penampilan,  aku biasa-biasa saja.  Bahkan Yosephina dan Laudya,  dua teman sekelasku,  jauuuh lebih manis.  Mereka mirip dengan boneka wanita dewasa yang sering kulihat dipajang di etalase toko mainan.


Kelebihanku hanyalah aku selalu mengerjakan seluruh tugas yang diberikan guru dengan tepat waktu dan nilai sangat memuaskan.  Dan aku tak segan segan membantu teman-temanku mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka.  Adrian, Stefan,  dan Jack,  bahkan rela menawarkan diri menjadi bodyguardku selama di sekolah basic jika aku mau mengerjakan tugas-tugas aljabar dan essay mereka, hal yang tentu saja langsung kusetujui,  meski terkadang jengah juga mendapati mereka berada di sekelilingku saat jam istirahat atau pelajaran olahraga.


Entah mengapa,  aku tak perlu bersusah payah belajar untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah.  Bahkan sebelum  guruku menjelaskan,  aku sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam buku teks, seolah-olah,  aku tahu begitu saja.  Seperti insting, sesuatu yang otomatis.  Ah,  entahlah.  Mungkin suatu saat aku bisa menanyakan ini semua pada Will,  atau papa.


Dengan tanpa suara aku berbalik menuju kamarku. Mungkin berendam air hangat bisa membuatku rileks. Semoga saja Savanah atau Yolan tidak mencariku dan memaksaku bersiap seperti biasanya jika aku terlambat sarapan.


Perlahan kumasukan kakiku ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat dengan campuran camomile, hingga seluruh tubuhku terendam, menyisakan kepalaku yg bersandar di kepala bathtub dengan bantal khusus anti air... sungguh nyaman. Aku begitu terhanyut dan tak lama, perlahan lahan mataku terpejam.


Awalnya pandanganku berubah menjadi gelap, seperti berada di ruang kosong tak bertepi. Semburat kemerahan tertangkap pandanganku. Apa itu? bergerak perlahan - lahan ke arahku bagai singa yang sedang mendekati mangsanya, tanpa suara. Lama lama semakin banyak warna merah, semakin dekat dan jelas... hingga akhirnya warna merah itu memiliki bentuk yang jelas. itu adalah rambut yang tergerai indah dari seorang wanita yang sangat cantik. Tatapannya tajam ke arahku. Wanita itu tersenyum. Tidak... tidak... itu bukan senyum, itu seringai. Seperti saat vampir berhasil memerangkap mangsanya dan memamerkan taring taring di bibir indahnya sebelum membenamkannya ke leher sang korban. seringai seperti itu. seringai penaklukan.