
Dengan memantapkan
hati, aku mulai melangkah menuju arah yang berlawanan dengan jalan raya yang menjadi tujuanku semula. Menuju barisan pepohonan yang terasa familiar. Tentu saja karena barisan pepohonan di belakang sekolahku ini terus bersambungan tanpa putus hingga ke belakang rumahku. Aku yakin itu. Meskipun aku tak pernah sekalipun memasuki dan menusurinya sebelum ini. Tapi kurasa hutan ini aman. Aku sering melihat Nat berjalan di atas jembatan yang membentang di atas danau alami kami, menghubungkan tepi danau dengan tepian hutan. Wajahnya selalu terlihat bersemangat setiap kembali dari hutan dengan berbagai macam potongan kayu yang diikat membentuk gelondongan besar, dan ditarik begitu saja dengan mudahnya, semudah seorang balita yang menarik selimut kecilnya tanpa sengaja. Nat sangat menyukai kayu. Apapun yang ia buat pastilah sangat indah. Semua hiasan kayu di rumah kami adalah karyanya. Begitupun beberapa furniture unik yang tak kan dijumpai, bahkan di toko furniture terbesar di benua. Karena ia membuatnya "limited edition, kalau tak bisa dibilang satu-satunya," begitu selalu ia menyombongkan bakatnya.
Nathan
Tak sadar, aku sudah mulai jauh berada di dalam hutan. Pepohonan di kanan kiriku terasa lebih rapat dan semakin rapat setiap aku melangkah. Jalan setapak masih ada, meskipun sekarang semakin sempit saja. Aku berencana mengikuti terus jalan setapak ini, dan semoga arahnya benar. Aku hanya mengikuti instingku yang biasanya tidak mengecewakan.
Entah sudah berapa lama aku berjalan, rasa lelah mulai menerpaku. Aku tidak tahu seperti apa penampilanku saat ini. Sekelilingku semakin gelap. Hanya cahaya temaram yang sangat bertekad menembus pekatnya kanopi di atasku yang membuatku sedikit merasa tenang. rasa lapar masih bisa kutahan. Aku bersyukur Savanah memaksaku menghabiskan roti gandum dengan telur lapis kesukaanku. Sebelum ia menyorongkan segelas besar susu yang benar-benar membuatku bosan. Aku ingin cepat berusia 15 tahun agar bisa mengganti susu dengan jus jeruk seperti Tatiana dan Samantha. Atau mungkin, ehm... Kopi seperti papa? Hanya mama sendiri yang menyukai teh di rumah kami. Aku sendiri tidak akan pernah meminumnya kecuali jika tubuhku kedinginan, biasanya saat salju turun dan aku terlalu lama bermain di luar, mama akan memaksaku meminum segelas besar teh hangat dengan potongan kayu manis dan kayu berwarna putih yang aku tak tahu namanya. Rasa hangat yang menjalar di tubuhku kemudian, akan membuatku mudah terlelap. Ugh... Membayangkannya membuatku ingat akan rasa haus di kerongkonganku. Saat ini rasanya aku sanggup meminum apapun, bahkan teh basi sekalipun.
Tubuhku semakin lemah. Pandanganku berkunang-kunang. Pusing, lapar dan kedinginan. Aku berpegangan pada apapun yang dapat kuraih. Dan mengernyit sakit ketika tak sengaja memegang sejumput semak berduri. Perih.
Suara-suara binatang kecil mulai terdengar. Cicitan tikus hutan, tupai yang berkelebatan dari satu pohon ke pohon lainnya, bahkan beberapa ekor kera ramai ramai memamerkan suara khasnya. Aku mengenal suara kera, karena Will seringkali menjahiliku dengan berpura-pura menjadi kera. Ia akan mulai berjalan berputar-putar, kakinya dibuka lebar membentuk huruf O, dengan tangan yang menggaruk-garuk dada dan kepalanya. Suara uak uuk nya sangat ribut. Tak jarang Will pun lompat ke atas sofa atau meja sambil terus mengejarku yang berlari menghindarinya. Hanya mama yang bisa menghentikan Will dari tingkah menyebalkannya itu. Satu panggilan khas dari mama, akan langsung membuat Will menghentikan kegilaannya. "Willan Dianders Archey! " demikian mama biasanya memanggil Will jika kejengkelannya sudah tak tertahankan. Saat itu, giliran aku yang tertawa terbahak-bahak.
Jangkrik tak mau kalah memainkan irama khasnya. Kupikir mereka baru akan memainkan serenadenya setiap kali bintang mulai muncul di langit malam. Tapi rupanya di tempat ini, hari selalu malam. meski tanpa bintang. Suara krik kriknya diselingi koakan burung yang bertengger dan membuat sarang di dahan-dahan besar berlumut.
Sayup-sayup aku bahkan mendengar suara berkeresak di dekatku. Rasa khawatir mulai melanda. Bagaimana jika itu serigala, atau harimau? Atau mungkinkah itu Hyena, yang menungguku sekarat dan mati lemas sebelum akhirnya menyeretku untuk dihidangkan sebagai santap malam keluarga?
Pandanganku semakin kabur. Dan aku semakin sulit melangkah. Hingga sedetik kemudian pipiku menyentuh sesuatu yang lembab. Baunya seperti tanah basah dan lumut. Mataku tak dapat lagi kubuka. Samar kudengar gemercik suara air di kejauhan, lalu... Sesuatu mendekatiku, mengguncangku perlahan. Ia memanggilku, "Ann, Anna, kau tidak apa-apa, An? "
Mungkinkah aku mulai gila karena mendengar Hyena berbicara?