Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 10



Pagi-pagi sekali,  Tatiana sudah membangunkanku.  Aku segera duduk di kasurku dan debaran di dadaku kembali muncul.  Kali ini bukan karena Jeremy,  itu sudah tidak kupikirkan lagi.  Ini tentang rencana yang akan kujalankan hari ini.  Misi yang baru saja semalam kurencanakan,  tapi sepertinya mengasyikan.  Aku tidak tahu apakah misi ini akan berhasil,  yang jelas aku tidak mau selamanya penasaran dan menduga-duga.


Selesai mandi,  Tatiana segera menyerbuku dengan segala peralatan perangnya.  Wah,  kalau sedang bertekad dan bersungguh-sungguh,  meski dengan posturnya yang mungil seperti itu,  Tatiana sungguh menyeramkan. Ia sendiri masih berbalut piyama dan sepertinya belum mandi. Dimulai dari wajahku yang di olesi berbagai cream yang aku tak tahu apa fungsinya. Semalam saja,  aku tidur menggunakan masker dan Tatiana mengancam akan membuntutiku di acara pesta dansa nanti jika aku melepas maskerku sebelum waktunya.


Puas dengan warna wajahku yang sudah lebih merona,  ia tambahkan juga beberapa warna pada kelopak mata dan bibirku.  Aku nyaris tak mengenali wajahku sendiri di cermin.


Setelah itu ia lanjut menata rambut panjangku.  Dikepang dari sisi kanan ke sebelah kiri dengan tatanan yang tak terlalu rapi tapi hasilnya sungguh bagus dan berkesan alami.  "Tian,  kenapa kau tidak membuka salon saja?  Kau mahir untuk memanipulasi wajah seseorang, " kataku tanpa bermaksud mencela sama sekali,  aku justru menyanjungnya.  "hahaha," ia tertawa nyaring. "dan kehilangan kesempatan untuk bermain-main dengan suamiku?  Tentu saja aku tidak mau," ucapnya sambil menggeleng.


"Kau tahu,  sayang,  jika aku membuka salon,  maka salonku itu akan sangat penuh setiap harinya dengan mereka yang menginginkan sentuhanku, " ucapnya lagi sedikit puas pada diri sendiri.  "aku akan hanya punya sedikit waktu untuk bersama suamiku yang sibuk dan jarang sekali melepas pandangannya dari objek-objeknya di mikroskop," lanjutnya.  Aku terkekeh geli.  Ucapannya ada benarnya juga.  Beruntung Bob memiliki istri yang penuh pengertian dan perhatian seperti Tatiana.


"oke,  Sekarang tinggal memakaikan gaunmu dan sedikit sentuhan akhir di rambutmu,  maka...  Wholaaa... Selesai sudah Masterpiece ku abad ini," ucapnya seraya mengangsurkan gaun biru untuk kupakai.


Tak lama,  aku melihat bayanganku di cermin,  yang sama sekali tak mencerminkan aku.  Melihat diriku sendiri mengenakan gaun biru,  mengingatkanku pada sebuah novel lawas yang pernah kubaca,  "Girl in a blue dress".



"Wooww...," decakan kagum terdengar dari arah pintu.  Bob rupanya tak sabar menunggu istrinya terlalu lama. "Tatiana,  mengapa tak kau kenalkan bidadari kecil ini kepadaku?" ucapnya sambil tersenyum jahil.  "kau tau,  Sayang...  Itu karena aku takut kau berpaling dariku setelah melihatnya," jawab Tatiana manja.


"Hey... Hey... Hey,  kalau ingin saling merayu,  pergilah ke kamar kalian.  Jika aku muntah saat ini,  maka pekerjaan Tatiana selama 2 jam,  akan sia-sia, " ucapku sewot.  Bob tergelak.


Hari ini papa dan mama yang akan mendampingiku ke sekolah. tapi, karena waktu kedatangan orang tua telah diatur panitia,  selisih 3 jam dengan kedatangan anak-anak,  agar mereka punya waktu untuk diri mereka sendiri sebelumnya, yah...  Tau sendirilah...  Dansa,  pemilihan siswa terfavourite,  siswa terkeren,  queen and king, nostalgia, bla bla bla.


Maka aku bisa sedikitnya terbebas dari penjagaan mereka selama waktu 3 jam,  meski aku yakin akan tetap ada beberapa pegawal yang mendampingiku.  Tapi,  itu bisa kuatur.  Toh mereka hanya akan berjaga di gerbang sekolahku seperti biasa.


Gerbang sekolah yang tingginya hanya mencapai kurang dari 2 meter, dan merendah di bagian tengah,  terlihat dari jauh.  Di kanan kirinya tampak belasan mobil mewah berjejer rapi yang seakan dikomando untuk menghadap ke arah yang sama dengan jarak yang sama. Setahuku Urusan pengaturan mobil seperti itu hanya sanggup dilakukan oleh satu orang saja, mr. Nelson,  penjaga gerbang sekolah kami yang tak segan mengunci gerbang jika bel telah berbunyi dan tak kan mempan rayuan bahkan tangisan versi apapun dari para tukang ngaret setiap harinya.


"David,  kurasa kita sedikit terlambat.  Iring-iringan kita tak kan mendapat tempat lagi di depan gerbang. Sebaiknya kau turunkan aku disini saja,  dan carilah tempat yang masih kosong di lapangan samping sekolah, " saranku pada David yang ternyata langsung disetujui,  setelah ia menghubungi para pengawalku lewat walkie talkie.


Salah seorang pengawal membukakan pintu mobil untukku dan menemaniku menuju gerbang sekolah. Mereka sigap berdiri di tempat yang memang khusus disediakan untuk para pengawal.  Yah,  untungnya bukan hanya aku seorang yang harus dikawal ke sekolah,  setidaknya aku tidak terlihat terlalu aneh.


Rencana awalku segera dimulai.  Aku berencana menyelinap kembali ke luar sekolah melalui pintu belakang.  Pintu itu kecil,  hanya muat 1 atau 2 orang siswa yang melaluinya dalan waktu bersamaan.  Tingginya pun hanya 1,5 meter.  Sengaja dibuat sebagai pintu darurat.  Aku sudah pernah membuat kunci duplikatnya dulu,  ketika membantu evelyne yang harus terlambat datang ke sekolah. Cerita yang sungguh menegangkan untukku tapi kini aku bisa tersenyum-senyum sendiri jika mengingatnya.  tak pernah kusangka keputusan untuk tetap menyimpan kunci itu, bukan membuangnya dalam rangka menghilangkan barang bukti, akan sangat berguna sekarang ini.


Kupastikan tak ada seorang pun yang mengenaliku di lorong sekolah, hingga kulihat jeremy yang baru saja keluar dari pintu aula besar yang disulap bagaikan ballroom tempat kami seharusnya berdansa. Beberapa saat ia tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ugh,  untung aku cepat berbelok ke arah kelas lamaku.  Semoga saja ia tak sempat melihatku.


Terpaksa aku berjalan memutar,  lebih jauh dibanding melewati aula besar.  Tapi tak apa, asal lebih aman,  aku lebih memilihnya. Lagipula aku harus mampir sebentar ke loker lamaku.


Tanpa kesulitan berarti,  aku mencapai gerbang mungil di bagian belakang sekolah dan membukanya dengan kunci duplikatku.  Perlahan aku melangkahkan kaki keluar pintu,  dan semilir angin segar langsung menyambutku.  Hemmm...  Udara disini mengapa terasa begitu berbeda?


Ujung hak highheelsku segera saja melancarkan protes tak bersahabat terhadap jalanan kecil tanpa balutan aspal dibawahnya.  Meski ini rencana dadakan tapi aku cukup tanggap untuk menyadari kalau berjalan jauh kembali ke rumah menggunakan highheels itu sama saja dengan bunuh diri.  Kukeluarkan bungkusan dari dalam tas punggungku.  Sepatu yang biasa kugunakan dalam pelajaran olahraga. Aku tersenyum penuh kemenangan atas bagian awal rencanaku ini.


Tadinya aku berencana untuk memutari tembok sekolah hingga sampai di pinggir jalan. Dan berjalan kaki menuju rumahku dengan menyusuri jalan raya.  Aku sama sekali tak membawa peta,  karena toh percuma juga,  aku tidak pandai membaca peta.  Tapi sepertinya itu tak mungkin kulakukan karena sepanjang jalan dari sekolah menuju beberapa kilometer berikutnya,  sudah penuh sesak oleh deretan mobil mewah para tamu undangan.  Aku tidak mau mengambil resiko terlihat dan ketahuan oleh para pengawalku atau siapapun pemilik mata yang menaruh curiga melihat seorang gadis bergaun indah berjalan sendirian.


Waktunya menjalankan rencana cadangan,  yang belum kusiapkan sebelumnya.