Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 33



Julian



Julian


Pertama kali menjejakan kakiku di luar tembok istana yang mengintimidasi, membuatku sangat bersemangat. Dari apa yang kudengar di dapur, di taman, di selasar, dimanapun pelayan - pelayan istana bertukar cerita, kehidupan paling menarik ada di balik pagar panjang yang tumbuh alami selama berabad - abad mengitari perbukitan wilayah kerajaan. Dan disinilah aku sekarang, tepat satu langkah melewati perbatasan antara wilayah netral dan wilayah para manusia.


Sudah tak terhitung berapa kali aku melakukan "pemberontakan" terhadap guruku, juga ayahku. Pemberontakan dimana hanya aku yg tahu kebenarannya. Salah satunya yang terbaik, saat di mata mereka, termasuk ibuku, aku terlihat sakit, tak berdaya. Sekujur tubuhku dipenuhi bulatan bulatan pipih merah muda seperti ruam, dan suhu tubuhku panas membara. Kemampuanku memanipulasi visual ditambah aktingku yg alami, merintih dan meracau dengan mata tertutup sambil menggaruk garuk tangan, leher, wajah, dan bagian tubuh manapun yang dapat kujangkau, membuat aksi pemberontakan tunggalku memperoleh kemenangan telak. Pemberontakan yang dipicu titah ayah saat usiaku tepat menginjak angka 18 beberapa minggu lalu, menghadiri pesta pertunanganku sendiri dengan putri seorang kerabat jauh keluarga yang hanya beberapa kali saja bertemu.


Sabrina adalah gadis yang menarik. Tubuh tinggi semampainya didukung wajah cantik jelita khas bangsawan. Cantik yang angkuh, namun memikat. Rambut bergelombang laksana lautan api seolah mendeklarasikan keberanian pemiliknya yang merupakan seorang pemanah ulung.


Pertunangan kami sudah disepakati layaknya perjanjian bilateral antara dua keluarga besar. Keluarga Windsor sang penguasa dan keluarga De Marco, sang pelindung. Sebuah ikatan yang harus kujalani, salah satu kewajiban sebagai putra mahkota kerajaan.


Tapi, aku tidak menginginkannya. Aku mungkin pemimpi, tapi aku juga seorang optimistis. Usiaku masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan usia kebanyakan orang di sekelilingku. Masih banyak hal hal yang belum kulihat, masih banyak orang yang belum kutemui. Masih banyak kemungkinan. Dan terutama, aku merasa, seharusnya aku hidup berdampingan bersama seseorang yang membuatku merasakan sesuatu. Dan, aku sangat yakin, bukan Sabrina orangnya.


Bagiku, Sabrina hanyalah seorang kerabat, tak lebih. Beberapa kali kami berbincang-bincang dalam kunjungan keluarga de Marco ke istana. Dalam beberapa hal, dia pandai. Memanah contohnya, adalah keahlian yang ia dapatkan berkat latihan keras sejak kecil. Bahkan, ia mampu melesatkan 3 buah anak panah sekaligus dalam satu tarikan busur. Berpenampilan menarik pun sepertinya merupakan hal yg sangat ia kuasai. Tapi untuk menghabiskan waktu bersamaku, nilainya nol besar. Ia kerap kali membuatku bosan bahkan jengkel, dengan pembicaraannya yang hanya mengenai keluarganya yang terpandang, atau bagaimana cara orang-orang memujinya penuh pemujaan.


Dan yah, seperti yang sudah kuyakini, kemenangan yang mudah. De Marco sangat perfeksionis jika itu menyangkut penampilan dan keselamatan diri mereka. Tertular penyakit adalah resiko yang terlalu besar bahkan jika dibandingkan persekutuan yang akan semakin erat terjalin antar 2 klan. Hanya butuh kurang dari 24 jam untuk membuat mereka membatalkan acara pertunangan itu. Dan esok harinya, secara ajaib, aku pun sembuh.


Gizlin adalah kerajaan luas. Meski hampir setiap hari aku berputar mengelilinginya, sebagai bagian dari tugas patroliku, hanya kurang dari 1/3 wilayah saja yg pernah kukunjungi. Namun, kesamaan diantara semua wilayah - wilayah itu membuatku merasa bosan. Sama sama teratur, tenang, indah, damai, bukan berarti aku menginginkan sebaliknya.


Dan kuputuskan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi perbatasan.


Barisan rapat pepohonan yang menjadi pagar alami wilayah netral mulai jauh kutinggalkan. Tanah berbatu kerikil yang kuinjak tanpa suara menguarkan bau yang berbeda, lebih kering, lebih segar, terutama jika kau baru saja menghabiskan waktu dalam balutan rapat kanopi lembab yg membuat udara seperti berubah menjadi padat dan sulit kau hirup.


Entah sudah berapa lama aku berjalan, sampai hampir - hampir jengkel rasanya, karena yeah... Dengan kemampuanku bepergian melalui "lorong", tempat manapun yang ada dalam pikiranku dapat kucapai dalam beberapa detik saja. Kekurangannya hanyalah, aku harus sudah pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.


Ada seseorang yang memiliki kemampuan hampir mirip denganku, Ryan Abraham Archey, seorang Ketua pengawal yang sangat dihormati ayahku, bahkan terkadang kurasa sangat berlebihan bagi seorang raja untuk begitu memuja bawahannya.


Ryan juga dapat melintasi lorong, hanya saja Ryan dapat mencapai tempat manapun hanya dengan mengucapkannya dalam hati, bahkan tempat tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Kupikir itulah yang membuat Ryan pantas menjadi sosok yang ditakuti. Kau tak tahu kapan ia memutuskan menyusup ke dalam kamarmu, dan memutuskan diam-diam aliran darahmu tanpa ribut-ribut.


Sayup sayup kudengar suara musik hingar bingar di kejauhan. Rupanya ada keramaian. Semoga saja penampilanku tidak terlalu mencolok. Baju bepergian ini adalah yg paling sederhana yang kumiliki. Harusnya tadi aku bertukar pakaian dulu dengan James.


Dengan langkah dipercepat, nyaris berlari, aku mencari sumber musik bernada riang gembira itu. Tak lama, kulihat banyak sekali tenda warna - warni dengan berbagai bendera segitiga yang juga berwarna - warni, dikelilingi pagar bambu rendah sebagai pembatas. Di salah satu sisinya terdapat dua menara kayu setinggi 3 meter, yang digunakan sebagai penyangga baleho bertuliskan "Pasar Malam Musim Semi"


Nah, James pasti jengkel jika mengetahui apa yang dia lewatkan hanya demi berpatroli bersama geng pengawalnya itu. Meski dia sahabatku, terkadang kupikir dia sama sekali tidak memihakku.


Tanpa ragu aku berbaur dengan kerumunan manusia. Sepertinya semua orang bergembira, terlihat dari wajah-wajah penuh tawa dan antusias kemanapun aku memandang.


Rupanya beginilah bentuk pasar di dunia manusia. Sedikit berbeda dengan pasar di tempatku. Pasar ditempatku sangat rapi, bersih dan teratur. Semua barang yang dijual dikategorikan dengan jenis dan kualitas, tidak bercampur baur seperti disini. Dan oh, ada juga yang tidak menjual sesuatu. Hanya meminjamkan barang untuk melakukan sesuatu ditukar dengan beberapa keping warna-warni. Misalnya saja, seorang nona yang ada didepanku saat ini. Ia meminjam sebuah palu setelah sebelumnya menyerahkan beberapa kepingan merah pada penjaga. Dengan tertawa dan penuh semangat ia memukul setiap kepala katak yang muncul dari lubang lubang di atas meja bundar. Tentu saja aku tahu itu hanya boneka, bukan katak sungguhan.


Lampion warna-warni dengan berbagai hiasan indah, berbagai ornamen seperti dream catcher, gantungan pedang, kipas lipat, berbagai macam lilin, makanan yang mengepulkan asap dan aroma beraneka macam, semua bercampur baur di tempat itu. Hanya tersisa sedikit ruang untuk berjalan di antara tenda tenda dan tali temali yg berpilin di atas tanah.


Sedang asyiknya kuberjalan, tiba- tiba aku merasakan sesuatu terlepas dari pinggangku. refleks aku menoleh untuk melihat seorang anak laki laki kurus dengan penampilan kusam dan lusuh berlari dengan membawa kantung uangku. Ya tentu saja aku membawa kantung uang untuk berjaga - jaga. Uang hadiah taruhan yang kudapatkan dari Mario, pengawal pribadiku. Tapi apakah anak itu tahu bagaimana cara menggunakannya? Mengkhawatirkan itu aku berlari mengejarnya. Namun tak disangka seseorang mendahuluiku. Seorang nona berlari mengejar anak itu dengan kelincahan yang luar biasa. wow...


Anak itu berlari menuju sudut tergelap dan terjauh. Dengan penglihatanku yang jauh lebih tajam dari manusia biasa, kegelapan tidaklah menyulitkanku. Hingga pandanganku menangkap gerakan anak yang kukejar melemparkan kantong uangku pada 2 orang laki-laki dengan aura tak menyenangkan yang sedang asyik mengepulkan asap dari bibir mereka. Sekilas anak itu hanya berlari melewati mereka tanpa berhenti. Gerakannya begitu cepat untuk ukuran anak kecil. Rupanya dia sudah terlatih dan terbiasa melakukan hal itu.


Refleks aku menangkap pinggang nona di depanku. Hampir saja ia melemparkan dirinya ke mulut buaya.