
Istana Waterfall adalah sebuah bangunan yang terbesar dan tertinggi di lembah Waterfall. Bangunannya sendiri jika dilihat sepintas tidaklah terlalu mewah. Itu hanya sebuah pondok besar yang terbuat dari batang pohon dan akar tanaman tertentu yang sebelum digunakan, harus dimasak terlebih dahulu agar elastis dan tahan lama. Ya, dimasak, dengan cara digoreng dalam cairan panas khusus. Tapi Laine menggunakan kekuatannya untuk melindungi setiap bagian istana agar kokoh tidak mudah rusak. Will ingat, saat kecil dulu ia dan Anna pernah mencoba menggambar di dinding istana seperti yang biasa mereka lakukan di The Rink. Tapi dinding istana seperti waterproff dan dilapisi lilin, sehingga alat gambar dan alat tulis mereka tak ada satupun yang berhasil menggoresnya. Itu membuat Anna kesal. Menurut Anna, istana ini terlalu suram, sehingga mereka ingin membantu Laine membuat dekorasi.
Will melangkah tanpa suara di atas lantai batu berkilap. Ia sangat mengenal seluk beluk istana ini, sehingga tak sulit baginya menemukan ruangan khusus yang selalu disiapkan Laine untuk menjamu tamu-tamunya.
"Will, untung kau cepat datang. Jika tidak, cairan favouritemu ini akan menjadi dingin." Laine yang tengah duduk di atas kursi berbantal melambaikan tangannya mempersilakan Will bergabung.
"Oh ya ampun. Untung saja Rachel segera datang. Atau aku baru malam nanti bisa lepas dari peri-peri nakalmu itu, Laine." Will mendudukan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Laine. Segera ia menyesap minuman dalam sebuah gelas tinggi berwarna perak. Minuman itu sangatlah istimewa karena terbuat dari campuran susu domba, telur ayam hutan yang sulit ditangkap, madu yang hanya bisa dikumpulkan oleh para peri karena tergolong langka, dan rempah berbau tajam dengan rasa pedas yang membuat tenggorokanmu serasa terbakar ketika meminumnya. Rempah inilah yang istimewa, karena hanya bisa diperoleh saat Ryan kembali dari perjalanan bisnisnya dari dimensi lain yang sangat jauh. Dan rempah itu hanya Ryan bawa khusus untuk diberikan pada Suzan dan Laine.
"Mereka hanya seperti itu padamu. Entah mantra apa yang kau berikan pada mereka sampai mereka seperti itu." Laine memutar matanya mengingat tingkah peri-peri penjaga lembah yang biasanya garang berubah menjadi sangat kemayu di hadapan Will.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku tidak menggunakan mantra apapun, Laine. Aku toh tidak bisa menahan pesona yang menguar dari dalam diriku. Itu terjadi begitu saja. Sealami keringat yang bercucuran saat hari panas, kau tahu." Will mengedikkan bahunya sambil menyecap perlahan minuman di hadapannya.
"Keringat apa. Bizonik tidak bisa berkeringat, Will."
"Ah ya... Tentu tentu. Itu kan hanya perumpamaan saja. Lagipula mengapa juga kita tidak bisa berkeringat. Kau tahu Laine, di beberapa dimensi yang kami kunjungi, para wanita disana sangat memuja pria yang sedang berkeringat. Mereka menganggap itu.. ehm... Apa ya... Oh ya.. . Seksi." Will menjelaskan dengan penuh semangat seperti seorang anak yang sedang menceritakan pengalaman hari pertamanya di sekolah pada sang ibu. Itulah yang Laine sukai dari Will dan Anna, mereka berdua selalu berhasil membuat dadanya berdesir dan menghangat dengan segala tingkah absurd mereka.
"Seksi ya.... Hehehe..." Laine terkekeh.
"Ya, dan seksi itu berarti kau sangat diinginkan, Laine." Will kembali menegaskan penjelasannya.
"Berarti minumanmu itu seksi."
"Apa?"
"Minumanmu itu seksi. Kau sangat menginginkannya, Will." Laine tersenyum sepintas. Matanya berkedut menahan tawa.
"Ah ya... Itu... Itu... Tidak seperti itu. Ah, sudahlah." Will menegak habis minumannya. Ia malu mengakui bahwa ia sendiri tidak begitu tahu seksi itu apa. Ia hanya sering mendengar beberapa gadis mengatakannya.
"Will... Apakah ada sesuatu yang membuatmu melintasi perbatasan ini?" Laine mengalihkan pembicaraan pada hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan sedari tadi.
Will dan pasukannya jarang melintasi perbatasan di wilayah penjagaan Laine. Mereka memiliki akses masuk sendiri yang mudah dilalui oleh kavaleri. Dan daerah ini bukanlah wewenang kavaleri untuk berpatroli.
"Kau tidak sedang bertugas, bukan?"
"Ya, kau benar Laine. Aku sedang mengejar seseorang yang kebetulan melintasi wilayahmu ini." Will berterus terang dengan alibinya.
"Mengejar seseorang?"
"Ya. Kau tahu James? Ia adalah wakil Nat yang dulu biasa mendampingi Anna."
"Tentu saja. Aku bahkan tahu dia baru saja melintasi perbatasan tepat di tempat yang kau lalui. Apakah ia yang kau kejar?"
"Ah, bukan. Untuk apa aku mengejar James. Aku tidak tertarik. Lebih baik aku mengejar gadis Bella itu."
"Bella?"
"Hah... Ah ya bukan juga. Aku hanya asal bicara, Laine. Bukan... Bukan dia. Aku mengejar seseorang yang bersama James."
"Ada seseorang bersama James. Ya, aku bisa merasakannya. Hanya saja, ini sedikit aneh." Laine memiringkan kepalanya.
"Aneh?"
"Ya, will. Entah mengapa, sepintas tadi aku merasakan keberadaan Anna bersama dengan aura James. Kau tahu, aku sangat mengenal aura Anna. Bahkan setelah sangat lama aku tidak lagi merasakannya."
Will terdiam. Bahunya menegang. Ia lupa, Laine memiliki kemampuan mendeteksi aura sama sepertinya. Hanya saja, jika Will hanya bisa mendeteksi aura para bizonik, karena ia sendiri adalah bizonik, maka Laine bisa mendeteksi aura bizonik dan peri, karena Laine adalah campuran keduanya. Ya, ayah Laine adalah seorang bizonik dan ibunya adalah seorang peri yang entah bagaimana bertemu, jatuh cinta dan hadirlah Laine dalam hidup mereka. Sama seperti Sean dan Rebecca yang memiliki ayah bizonik dan ibu mereka adalah seorang wanita biasa yang tinggal di Dunedin. Bedanya, anak mereka bukanlah campuran. Sean mengikuti ayahnya. Ia murni seorang bizonik. Sedangkan Becky seperti ibunya, murni manusia.
"Will, kau gelisah."
"Willan Deandre Archey, kau menyembunyikan sesuatu!" Suara Laine meninggi satu oktaf. Bagi mereka yang terbiasa bersamanya, perunahan suara Laine adalah sebuah peringatan.
"Aku? aku... tidak... aku sudah kukatakan... aku mengejar seseorang yang bersama James." Will menjelaskan tanpa memandang Laine. Sekuat mungkin ia menormalkan nada suaranya uang hampir pecah.
"Dan, bisakah kau katakan, siapakah orang yang bersama James itu, Will?" nada suara Laine sudah kembali melembut, namun tidak dengan ekspresi wajahnya. Will merasa ini seperti lautan yang tenang sebelum badai. Ya, persis seperti itu.
"Itu... bukan siapa siapa. Hanya seorang wanita menjengkelkan." Will menjawab senatural yang ia bisa. Tapi Laine bukanlah Bizonik muda tanpa pengalaman.
"Katakan yang sebenarnya, Will. Kau tahu aku bukanlah wanita penyabar seperti Suzan." Laine masih mempertahankan nada suaranya yang lembut. sekarang sorot matanya pun ikut meredup, membujuk.
Will salah tingkah. Ia tahu kalau dirinya tak bisa keluar dari tempat ini dengan nyaman jika ia teruskan kebohongan ini. Bukan tanpa alasan Laine menjadi pencipta dan penguasa sistem pertahanan terbaik yang melindungi Gizlin ratusan tahun lamanya.
"Anna."
satu detik
dua detik
tiga detik
tak ada jawaban,
tak ada pertanyaan,
tak ada komentar dan balasan,
Dan tiba tiba saja, ruangan itu berpendar-pendar bagaikan langit malam saat pesta karnaval akhir tahun yang dipenuhi kembang api. Bedanya, kembang api di ruangan ini semuanya berwarna biru.
"Oh, tidak! Dad... dad... cepat kesini. Bawa mom bersamamu. Sekarang, dad!"
panik menguar tapi Will berhasil mengirimkan telepati pada ayahnya.
Dan tak lama ayahnya muncul bersama dengan ibunya di ruangan itu.
"Laine..." Suzan memanggil lembut sahabatnya yang sedang dipenuhi amarah. Pesona Laine yang sebagai setengah peri yang lemah lembut sudah menghilang bergantikan sosok menyeramkan yang biasanya merupakan perwujudan dari amarah, rasa sakit, dan dendam. Laine marah. Tidak, bukan sekedar marah. Sang ratu lembah mengamuk. Tak hanya seisi ruangan, tapi seisi istana dan seisi lembah bisa merasakan pengap kemarahannya yang menguar di udara dan merambat dengan cepat...
"Laine..." sekali lagi Suzan memanggil sahabatnya. "Tenanglah, Laine."
Sementara itu,
"Will, bagaimana Kea?" Ryan memandang anaknya yang sedang ternganga.
"Ia bersama James. Mereka telah melalui perbatasan."
"James? Oh.. tidak. Bob, cepat minta Nathan untuk memanggil James, sekarang!" refleks Ryan sebagai seorang Panglima sangat cepat. Ia mengirimkan telepati kepada Bob. Ya, mereka bertiga, Ryan, Will dan Bob, bisa saling bertelepati, seperti komunikasi jarak jauh lewat pikiran. Nathan berbeda. Bukannya bertelepati dengan sesama bizonik, Nathan hanya bisa bertelepati dengan hewan dan tumbuhan.
"Ada apa, dad?"
"Maya!"
"Oh, tidak...! Aku pergi, dad."
"Ya, cepatlah. kuharap Maya bisa menahan diri."