Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 22



Tak pernah sekalipun terbayang olehku, akan mengulangi kembali hidupku dari awal. Dan mengulangi segalanya kembali dari mula. Jika aku adalah Lord Darren, entah mana kehidupan yang akan aku pilih. Menjadi sulit untuk hilang dari dunia, atau hilang dan kembali, lalu hilang dan kembali. Terus mengulang siklus yang sama namun dengan ingatan yang tak pernah hilang meski tak sepenuhnya utuh.


Jika memang kapasitas otak yang digunakan manusia normal hanyalah sepersekian dari kapasitas totalnya, mungkin memang benar, memory otakku akan mencukupi untuk menampung seluruh kenangan sepanjang eksistensiku yang bertumpang tindih.


-000-


Kelas gabungan di aula pada pertemuan pertama ini diisi oleh para senior di jurusan kami. Setahuku kelas gabungan selalu diisi oleh kuliah umum dari para praktisi dan tokoh-tokoh terkenal. Beberapanya tidak kukenal, tapi ada satu nama yang membuatku senang. Seorang penulis novel yang baru saja menyelesaikan edisi terakhir dari novel triloginya. Seorang wanita setengah baya yang mampu membuatku terhanyut setiap kali membaca kisah-kisah yang ia tuangkan dalam novel-novelnya. Aku ingin sekali bertanya padanya mengenai hal-hal tak kasat mata yang mengelilingi dunia kita seperti yang ia ceritakan dalam novelnya. Apakah ia sungguh mempercayai bahwa itu semua ada, ataukah itu semata-mata hanya sesuatu yang ia bangun berdasarkan imajinasinya saja. Imajinasi yang terkadang mengingkari keyakinan dan kepercayaan sebagian besar orang. Imajinasi nyeleneh yang seolah-olah bertentangan arah dengan ajaran yang telah ditanamkan pada diri kita sedari kecil. Seperti yang pernah ia sebutkan dalam beberapa kesempatan wawancaranya dengan media cetak.


“adakah seseorang yang menarik perhatianmu, Key?” Julian lagi-lagi mengalihkan perhatianku.


“ya, aku berharap bisa bertemu dengan Rose Adam.”


“salah satu fans rupanya.”


“Aku hanya penasaran dengan sosoknya.”


“mengapa?”


“seakan ia pernah hidup di dunia yang ia ciptakan.”


“atau ia hanyalah seorang penulis yang berbakat.”


“yeah, itu juga satu kemungkinan lain.”


“apa menurutmu, dunia seperti itu ada?” sekali ini aku yang bertanya pada Julian


“seperti apa? Maksudmu dunia lain yang tak kasat mata yang tak kita sadari keberadaannya?”


“begitulah”


“entahlah. Mungkin saja ada, jika memang kita sangat bersungguh-sungguh meyakini dan mencari tahu mengenai keberadaannya.”


Bel yang berdentang, menandai berakhirnya sessi pertemuan kami kali ini, belum juga selesai menjalankan tugasnya, namun siswa-siswa telah bergerombol di pintu keluar, seolah jika tak segera keluar dari aula ini, akan terkena hukuman penalty seperti dalam pertanding rugby.


Julian dan aku berjalan beriringan menyusuri koridor. Hari belumlah terlalu sore.


“kemana tujuan kita sekarang?”


“beri aku kejutan.”


“tidak ada kejutan. Aku sendiri jarang berjalan-jalan di Silica. Tapi asumsiku sebagai pendatang baru, kau perlu mengetahui beberapa swalayan dan tempat makan yang enak.”


“baiklah, seperti saranmu, miss. Ayo kita memborong beberapa snack dan minuman ringan.”


Aku tersenyum menanggapi candaannya. Julian ternyata orang yang sangat mudah bergaul. Harusnya tadi ia mudah mendapatkan teman. Mengapa seolah-olah ia hanya menempel padaku? Bukannya aku keberatan sih.


“kita pakai mobilku.”


“oh, tapi akupun membawa mobil.”


“yang mana mobilmu?”


“itu, paling ujung, tepat dibawah akasia.”


“tinggalkan saja disini. Nanti aku antarkan ke rumahmu.”


“tidak, terimakasih. Itu mobil mamaku. Aku tak mau membuatnya kecewa di hari pertama aku menggunakannya. Kita masing-masing saja. Kita bertemu di Marshall Mall.”


“kea, kau tidak sedang bercanda kan. Bagaimana bisa kau dianggap menemaniku berkeliling jika kita memakai mobil masing-masing. Percaya saja padaku. Aku akan mengantarkan mobilmu tepat waktu tanpa kurang suatu apapun ke rumahmu, dan mamamu kujamin tak kan marah.”


“tapi Julian, bagaimana caranya. Itu akan sangat merepotkanmu. Mamaku…”


Belum sempat aku meneruskan perkataanku, sebuah sepeda motor dengan suaranya yang meraung-raung menuju kearahku dengan cara yang tak masuk akal, cara yang hanya  diperbolehkan di sebuah pertunjukan motor di sebuah pasar malam, bukan di sebuah pelataran parkir.


Julian menarik lengan atasku dengan tiba-tiba hingga kepalaku menabrak dadanya. Dan tiba – tiba saja, kilasan-kilasan peristiwa menghantamku. Aku seakan tersedot ke sebuah labirin, berputar-putar sambil melihat berbagai peristiwa yang berbeda-beda dengan sangat cepat. Seorang pemuda sedang tertawa, seorang pemuda sedang meniup seruling, seorang pemuda sedang menatapku, seorang pemuda sedang membelai rambutku, aku berlari di lapangan berumput, di belakangku seorang pemuda mengejarku, aku duduk di tepi sebuah kolam dengan beberapa ekor angsa yang sedang berenang dengan anggun, dan disebelahnya seorang pemuda tengah tertidur sambil menggigit sebatang rumput, aku memakai sebuah gaun biru, aku berjalanan sambil menggandeng lengan papa, dan semuanya itu membuatku pusing. Suara terakhir yang kudengar adalah teriakan nyaring dari seseorang di dekatku, “annaaaa…”


Katya


Entah bagaimana caranya aku mengatakan pada Sebastian Dargavs bahwa aku, tidak mencintainya. Sementara pernikahan kami sudah ditentukan. Satu minggu dari sekarang, di sebuah kapel di ujung Ossetia, disaksikan seluruh warga desa, kami akan mengucapkan sumpah setia sehidup


semati, bersama dalam suka dan duka. Sumpah yang diikat oleh ikatan tak kasat mata yang diberkati Tuhan, dan tak boleh diputuskan hingga maut memisahkan. Begitulah selalu yang diucapkan nenekku setiap malam setelah nana dan mama memberitahuku bahwa mereka telah melakukan kesepakatan dengan keluarga Dargavs untuk menikahkanku dengan putra sulung mereka.


Sebastian adalah seorang pemuda yang baik. Tampan dan baik. Ditambah lagi keluarganya termasuk keluarga terpandang di Ossetia.  Perpaduan kriteria yang akan membuat keluarga manapun merelakan anak gadisnya untuk dijadikan bagian dari keluarga Dargavs tanpa berpikir dua kali. Mungkin, begitu juga dengan keluargaku. Entah apa isi perjanjian mereka. Yang pasti, setelah malam itu, kami tidak lagi makan malam hanya dengan roti dan irisan daging kering. Sudah beberapa malam ini kami menikmati potongan besar daging domba yang lembut dan berbagai buah-buahan. Elena, adik perempuanku satu-satunya bahkan mengeluh sakit perut dan tidak bisa tidur karena kekenyangan. Bahkan malam ini, mama membuat pie daging dengan keju yang sangat banyak sebagai hidangan makan malam. Hidangan istimewa yang sangat jarang muncul bahkan di malam tahun baru sekalipun.


Harusnya aku bersyukur, karena keluarga Dargavs memilihku. Aku pun tidak keberatan menjadi istri Sebastian. Hanya saja, aku ingin juga merasakan jatuh cinta. Aku ingin mengalami bagaimana rasanya hatiku berdebar, tak sabar menunggu saat bertemu dengan laki-laki yang dirindukan, atau bagaimana ketegangan saat-saat kami bertemu secara diam-diam di tempat rahasia, seperti yang telah dialami oleh kebanyakan teman-temanku. Tapi mungkin nanti, setelah aku mengenal Sebastian, setelah kami hidup bersama.


“Aku dan ayahmu juga dijodohkan oleh kedua orangtua kami. Dan kau lihat sendiri, kami bahagia. Apalagi yang dibutuhkan seorang wanita, selain laki-laki yang menerimamu dan keluarga yang hangat?” mama berbicara sambil memandang mataku lekat-lekat, seakan menunggu persetujuan spontan berupa anggukan kepala tanpa bantahan. Aku hanya bisa mendengarkan dalam diam. Tak dapat kupungkiri, walaupun miskin tapi keluarga kami bahagia. Nana adalah seorang ayah yang baik, yang sangat menyayangi kami. Tak pernah kami kelaparan. Di meja kami selalu ada makananan tersaji meski apa adanya. Bahkan di setiap hari ulangtahun kami, nana akan membawa pulang sebuah semangka besar yang sangat merah dan manis. Rasa manisnya bahkan masih melekat di bibirku selama berhari-hari. Entah bagaimana caranya mendapatkan semangka itu. Tapi kudengar nana meyakinkan mamaku bahwa ia membelinya dengan uangnya sendiri, hasil dari menjual kayu bakar yang sangat banyak.


Berita tentang pernikahanku dengan Sebastian menyebar dengan cepat. Teman-temanku tentu saja telah mengetahui hal itu sebelum aku sendiri yang memberitahukannya pada mereka. Sepertinya kabar tersiar di desa ini bersamaan dengan hembusan angin. Angela, zoya, laura, Fiona, dan velicita. Teman-teman terdekatku. Kami selalu bersama-sama memetik berry yang banyak tumbuh di pinggir hutan yang mengelilingi Ossetia. Jika mendapatkan hasil yang banyak, berry – berry itu akan kami serahkan kepada mrs. Stallon untuk dijadikan selai, disimpan, dan dimakan bersama roti saat musim dingin nanti.


Canda tawa selalu mewarnai setiap pertemuan kami, hingga zoya bertanya mengenai kabar pernikahanku. “itu benarkan, Katya? Akhirnya Sebastian menentukan pilihannya juga,” ucapnya tanpa merasa perlu mendengarkan jawabanku.


“tentu saja Sebastian akan memilih gadis yang tepat. Pertama ia memilih gadis dari kelompok yang tepat, kelompok kita. Kedua, ia memilih gadis tercantik di antara kita,” Fiona selalu saja mengemukakan fakta-fakta dalam setiap pendapatnya. Meski kali ini faktanya lebih terdengar seperti fiksi. Aku bukanlah gadis tercantik. Rambutku saja coklat nyaris pirang. Mataku coklat dan tubuhku tidak terlalu berisi. Tidak seperti teman-temanku yang lain yang memiliki rambut sekelam malam atau merah bagaikan mirah delima. Dengan mata biru atau hijau yang mempesona, mereka lebih dari sekedar cantik. Ditambah tubuh mereka yang berisi dan sudah berbentuk layaknya wanita dewasa. Sempurna.


“sepertinya kali ini kau salah, fi. Sebastian bukan memilih yang tercantik. Tapi memilih yang terpintar. Matanya cukup tajam untuk melihat bahwa Katyalah yang pantas untuk mendampinginya mengurus harta keluarga Dargavs.” Laura mengangguk keras seakan memastikan bahwa kata-katanya tadi sudah benar. Tentu saja, tak mungkin Sebastian memilihmu kan. Kau ingat bagaimana kau menghilangkan kepingan peny mamamu dan mengganti kalkun pesanannya dengan seekor bebek liar?” kami tertawa mengingat kembali moment yang diceritakan Angela. Laura memang yang palingyang paling ceroboh di antara kami. Selalu saja ia menghilangkan barang-barang, meski tanpa sengaja.


“ya, bisa – bisa harta keluarga Dargavs habis di malam pertama kau memasuki rumah mereka.” Fiona menimpali diikuti derai tawa kami siang itu.


“kau kenapa. Velo? Kau sakit?” zoya reflex menyentuhkan tangannya ke dahi velocity dan tangan satunya ke dahinya sendiri, membandingkan suhu tubuh keduanya.


“betul juga, tak biasanya kau diam seperti ini.”


“aku… aku… aku tak apa-apa,” ucap velo tergagap. Suaranya bergetar seperti menahan tangis.


Aku menatapnya heran. Mengapa kami tidak curiga saat velo hanya diam saja mendengar candaan kami. Biasanya ia aktif menimpali segala omongan teman-temanku yang lain. Atau mungkin , ada masalah yang belum ia ceritakan pada kami? Setahuku, ia sedang merasa bahagia karena bisa dekat dengan Arman, pemuda tampan yang sudah lama ia sukai. Lalu, mengapa hari ini ia terlihat begitu sedih?


Kea


Aku terbangun. Kepalaku sakit, dan penglihatanku sedikit kabur. Tapi aku tahu aku berada di kamarku. Disini  gelap, hanya ada sedikit cahaya dari lampu meja yang berpendar redup. Kuingat – ingat kembali kejadian sebelumnya yang menimpaku. Sepeda motor, pelataran parkir, Julian, dan gelap. Lalu… mimpiku. Aku bermimpi lagi. Kali ini mimpiku jauh lebih jelas dari sebelumnya. Aku melihat anna, bersama beberapa gadis lainnya. Tapi mereka memanggil anna dengan sebutan Katya. Aku sungguh tak mengerti, apa arti mimpi-mimpiku selama ini, kemana anna? Jika ia masih hidup seperti yang Will katakan, lalu dimana dia?


Aku mengerang merasakan sakit di kepalaku. Dan sesaat kurasa ada seseorang bersamaku di kamar ini. Sambil menahan sakit, kuedarkan pandanganku ke sekeliling, tapi aku tak menemukan siapapun.


Ketukan di pintu kamarku disusul masuknya mama ke kamarku. “Kea, kau baik-baik saja, sayang?” mama menghampiriku. Wajah cemasnya samar terlihat olehku. Tak lama, papa menyusul. Lampu kamarku menyala terang dan aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Rasa pusing itu tergantikan oleh rasa mual. Rasanya ingin muntah tapi tak ada isi perutku yang bisa kukeluarkan. Hanya cairan asam yang terpaksa kutelan kembali.


“air,” lirihku. Mama mengangsurkan segelas air yang langsung kuminum habis.


“ma, anna… kumohon ma, dimana dia? Mengapa aku selalu memimpikannya?” tak sadar dengan ceracauku yang membuat wajah mama dan papaku tegang, aku kembali menjatuhkan kepalaku ke tempat tidur.


“entahlah suz, Julian sedang menjemputnya.”


Julian… Julian… Julian… “Julian!” teriakku reflex bangun dengan posisi terduduk. Aku baru sadar bahwa Julian bersamaku saat terakhir kali. Jika aku terbaring lemah disini, lalu bagaimana dengan Julian?


“kalian, mengenal Julian?” tanyaku menatap mama dan papa bergantian.


“Ya, kea. Dia yang mengantarkanmu pulang dalam keadaan tak sadar. Kami sungguh khawatir, sayang.” Mama mengusap kepalaku.


“lalu, bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja?”


“oh iya. Kalian berdua selamat dari kejaran motor itu. Kemungkinan besar kau hanya syok, kea. Tapi kami ingin memastikannya lebih jauh. Julian sedang dalam perjalanan menjemput Dr. Sean.” Papa berjalan mengitari tempat tidurku.


Banyak hal sebenarnya yang ingin kutanyakan pada orangtuaku. Bagaimana Julian mengetahui rumah kami? Dimana anna? Mengapa aku terus memimpikannya? Tapi kepalaku terasa semakin berat. Belum lagi mual di perutku, sungguh membuatku tak tahan. Kurebahkan kembali tubuhku dan menutup mataku, berusaha tidur kembali. Tapi tentu saja itu akan sulit kulakukan dengan banyaknya hal yang kupikirkan saat ini.


“ma, dimana Will? Apa ia belum pulang dari perjalanannya?” tanyaku tanpa membuka mata.


“oh oh oh… rupanya ada yang sedang rindu padaku ya…”


“will!” itu will. Kuteriakan namanya semampuku, sangat berharap bahwa suara itu bukan hanya halusinasiku saja. Hanya will yang bisa kuajak berbicara saat ini.


“hai gadis tukang pingsan. Harusnya kau memilih-milih waktu dan tempat sebelum pingsan. Bagaimana mungkin kau pingsan di hari pertamamu sebagai siswa baru.” Will mendengus. Ia meledekku tapi dekapan hangatnya membuatku tahu jika ia pun sama khawatirnya dengan mama dan papa.


“baiklah. Karena sekarang Will ada disini, maka aku dan mamamu akan menunggu Dr. Sean di bawah.” Papa mengecup keningku dan bersama mama, mereka keluar dari kamarku bergandengan. Ah, sungguh aku bersyukur memiliki orangtua yang penuh kasih seperti mereka.


“Nah, kea. Karena sudah sangat lama sekali menjadi kakakmu, aku jadi mengetahui bahwa kau takkan merindukanku tanpa alasan.” Will menyunggingkan senyum jahilnya sambil menjawil hidungku. Aku merengut protes.


“siapa bilang aku merindukanmu?”


“oh, Kea. Aku tahu ekspresi itu. Kau tidak bisa bohong. Matamu itu mengatakan segalanya padaku.”


Yah, begitulah Will. Ia yang paling memahamiku.


“will, “ kalimatku menggantung. Aku berusaha duduk tegak, menahan nyeri di kepalaku. Mataku kubuka selebar yang kumampu.


“aku… memimpikannya lagi. Anna.”


Will tertegun. Tak kutemukan keterkejutan disana.


“will, kumohon katakan padaku, dimana anna. Mengapa aku selalu memimpikannya?” suaraku terdengar lirih namun bertekad. Aku harus mendapatkan jawabannya sekarang juga.


“aku… aku belum bisa mengatakannya sekarang Kea. Aku tak tahu, apakah aku boleh.”


“kau sungguh tak mengasihaniku, Will? Aku tersiksa oleh rasa penasaran. Mimpi-mimpiku semakin jelas dari waktu ke waktu. Seakan-akan, anna ingin menceritakan seluruh kisah hidupnya padaku, will.”


Will mendekat padaku. Menggenggam tanganku. “kea, percayalah. Kau hanya perlu sabar menunggu. Kau akan mengetahui semuanya pada waktunya nanti.”


Aku tahu, aku takkan mudah mendapatkan apa yang kuinginkan, meski memohon pada Will sekalipun.


“bagaimana perjalananmu, will?”


“biasa saja, tak ada yang istimewa. Beberapa barang langka seperti biasanya. Aku belum sempat menawarkannya pada para pelangganku.”


“oh, maafkan aku. Seharusnya kau tak perlu bergegas kemari sebelum pekerjaanmu usai, will.”


“dan apa, gelisah karena memikirkan adikku satu-satunya sedang terbaring tak berdaya? Lalu aku kehilangan konsentrasi, tidak focus dan akhirnya para distributor itu berhasil membeli barang-barang yang kudapatkan dengan susah payah dengan harga yang murah. Itu yang kau mau?”


Aku tersenyum, tak bisa berkata apa-apa.


“kau tahu dimana Ossetia, will?”


“Ossetia? Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”


“salah satu kenalanku di Otega tadi, berasal dari Ossetia. Sepertinya nama itu asing di telingaku. Sementara kau kan sudah menjelajahi mungkin hampir seluruh benua ini, will. Untuk mencari barang-barang aneh itu.”


“aneh kau bilang. Itu bukan aneh, tapi antik, unik, satu-satunya.” Will sedikit memberengut. Jika seperti ini, ia terlihat mirip denganku.


“Ossetia? Hemm, sepertinya itu adalah salah satu desa yang pernah kukunjungi. Jauh sekali kenalanmu itu bermigrasi. Ossetia berada di ujung benua, berbulan-bulan menggunakan kapal laut untuk mencapainya. Itu kalau benar Ossetia darimana kenalanmu berasal, sama dengan Ossetia yang pernah kukunjungi.” will terdiam sejenak.


“bagaimana penduduk disana will? Maksudku, penampilan mereka?”


“ehm… sepertinya sama saja dengan kita disini. Jika maksudmu adalah cara mereka berpakaian. Tapi beberapa waktu lalu, saat pertama kali aku kesana, penampilan mereka sehari-sehari sangat jauh berbeda.”


“ceritakanlah padaku will,” pintaku dengan nada memelas.


“mengapa kau begitu penasaran, key?”


“aku hanya ingin mengenal kawanku itu lebih jauh. Siapa tahu kan, ia bisa menjadi evelyne bagiku.” Kuatur ekspresiku sebaik mungkin, untuk menyembunyikan kebohonganku.


“ehm… bagaimana ya. Secara fisik, mereka tidak jauh berbeda dari kita. Rambut mereka kebanyakan gelap, hitam, coklat pekat, dan ruby. Mata mereka cerah. Rata-rata hijau dan biru. Itu yang membedakan mereka dengan orang-orang di daratan timur yang kebanyakan warna mata dan rambutnya sama-sama gelap.”


Will menarik nafas


“para pria disana memakai celana yang panjangnya hanya sampai menutupi lutut, dengan kaos kaki tinggi dan kemeja yang lengannya digulung hingga ke siku. Sementara yang wanita, menggunakan gaun yang mengetat di bagian atas dan melebar di bagian bawah. Warnanya bermacam-macam dan meriah.” Will tersenyum ketika mengatakan hal tersebut.


“will, hey… aku tahu apa yang kau pikirkan.”


“hahaha… kau tidak bisa menyalahkanku key, mereka memang terlihat menggoda dengan pakaian seperti itu. Kau tahu… ba..”


“ya ya aku tahu.” Aku memotong ucapan will. Kurasa pipiku memerah karenanya.


“kau tahu? Apa kau pernah melihatnya, key?”


“oh… tidak tidak,” ucapku gugup


“hanya saja, aku tahu apa yang dipikirkan para pria sepertimu ketika melihat mereka.”


Will terkekeh.


“kau tidak bisa menyalahkan kami, key. Itu namanya insting.”


Penggambaran will, benar-benar sangat mendekati dengan apa yang kulihat di mimpiku. Sepertinya Ossetia benar-benar ada, sepertinya aku tidak hanya sekedar bermimpi…


Benakku dipenuhi berbagai pertanyaan baru, sampai telingaku mendengar beberapa langkah kaki di luar kamar. Mungkin dr.  Sean sudah datang dan juga,  Julian.