Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 30



Kea


Lorong ini panjang dan lembab. Setelah beberapa menit berjalan yang cukup membuat kakiku lelah, aku mendengar tetesan air yang menimpa sesuatu. Mungkin itu adalah stalaktit seperti yang banyak terdapat di gua-gua dalam perut gunung.


Tunggu, gunung? Apakah mungkin… ?


“Kita beristirahat sebentar, miss. Kurasa kau lelah.” James memecah keheningan. Kami tiba di… entahlah, kurasa bukan ujung lorong, apalagi akhir. Karena sekarang di depan lorong ini terpecah menjadi 3 bagian dengan arah yang berbeda, timur, barat laut, dan utara. Mengarah kemanakah lorong-lorong itu?


“apakah kau haus, miss?” James seakan menyuarakan isi hatiku. Aku tidak bisa berkata iya, hanya saja memang tenggorokanku terasa kurang nyaman.


“oh, tolong panggil saja aku Kea, oke. Ya, aku haus, sedikit.” Rasa tak nyaman ini masih dapat kutahan, tapi rasa penasaranku tidak. Mataku menemukan sebuah batu yang cukup besar dan datar. Kurebahkan tubuhku di atas batu besar itu seakan-akan itu adalah Kasur empukku di rumah. Namun tentu saja rasanya berbeda, batu ini keras dan dingin. James pun melakukan hal yang sama. Ia duduk di atas batu lain di sebelahku. Akhirnya ia melepaskan tudung yang sedari tadi menutupi kepala dan dahinya.


Wow… apakah semua bizonik berwajah di atas rata-rata? James memiliki kulit sedikit kecoklatan. Rambut lurusnya yang sewarna tembaga, menyentuh bahu dan dibiarkan tergerai begitu saja. Matanya tajam, bak mata seorang pemburu yang sigap mengincar buruannya. Hidung mancung dan bibir tipis melengkapi toping dingin yang terpahat nyaris sempurna di wajahnya. Namun aku tahu, ia tidaklah sedingin penampilannya. Buktinya, ia cukup peduli untuk menolongku.  


“James, kumohon… ceritakan semuanya padaku. Aku sungguh tak mengerti. Bahkan sekarang aku ragu akan jati diriku sendiri.” Kupasang wajah memelas andalanku, berharap kali ini aku bertemu dengan orang yang tepat.


“Harus kumulai darimana? Kau bahkan tak tahu kalau dirimu seorang bizonik,” jawab James. Matanya melirik padaku.


“Apakah bizonik itu?” tanyaku. Mungkinkah manusia pun memiliki jenis seperti hewan dan tumbuhan? Dunia hewan saja terbagi menjadi beberapa kelompok besar yang tiap kelompoknya sama sekali berbeda, tapi mereka tetap hewan. Misalnya saja, mamalia, reptile dan amphibi.


“Kami kaum bizonik adalah manusia yang memiliki beberapa keistimewaan, jika kau tidak mau menyebutnya keanehan, dibanding manusia lain di luar sana. Aku juga tidak tahu pasti, bagaimana asal mulanya kami ada. Kami hanya ada.” James menjelaskan sambil merebahkan tubuhnya di atas batu, dengan kedua lengan yang ia jadikan sebagai penyangga kepala.


“Apakah semua bizonik dapat sembuh dari luka secepat tadi?” tanyaku mengingat ketika James menggores lenganku.


“Ya. Sembuh dari luka dengan sangat cepat adalah ciri khas seorang bizonik. Kami juga berumur panjang.” James menjelaskan sambil memejamkan matanya.


“Jika kau haus, di depan sana ada sebuah kolam kecil yang airnya sangat jernih. Kau dapat minum sepuasnya disana.” James kembali ke posisi duduk. Aku enggan bangun apalagi kembali berjalan. Tapi kurasa menemukan kolam berair jernih akan membantu menghilangkan penatku. Aku tak pernah merasa benar-benar haus atau lapar. Tapi sentuhan air dingin di dinding kerongkongan pasti akan menyenangkan. Wajahku pun terasa penat sekarang, setelah menyadari betapa lengket dan berdebunya kulitku.


“James, pelanggaran apa sebenarnya yang telah kulakukan tadi, sehingga kedua orang itu mengejarku?” tanyaku, seraya bangun dari pembaringan dinginku. Sesaat James menatapku. Tatapannya sulit kuartikan. Ia mendesah dan memalingkan wajahnya.


“Ayo, akan kukatakan nanti setelah kita sampai di kolam. Dehidrasi akan membuatmu tak nyaman, dan aku takkan mau harus melihat ekspresi anehmu nanti.” James bangkit dari duduknya. Tanpa menungguku, ia melangkah dengan yakin menuju lorong utama. Aku mengikutinya tergopoh-gopoh. Ia berjalan lebih cepat dari sebelumnya, bahkan sangat cepat untuk ukuran manusia biasa sepertiku, dan anehnya aku masih dapat mengikutinya tanpa tertinggal.


Suara tetesan air semakin lama semakin keras dan tidak lagi hanya berupa tetesan. Aku mendengar suara aliran air. Seperti suara mata air yang mengalir dari balik bukit ke danau di samping rumahku. Udara lembab pun tergantikan dengan aroma segar.


Kolam air itu berada di dinding lorong. Besarnya hanya sedikit lebih besar dari bathtub di kamar mandiku. Hanya saja kolam ini landai. Terbuat dari bebatuan alami. Sumber airnya berasal dari dinding lorong. Tidak hanya 1 mata air, tapi banyak, tak dapat kuhitung. Seolah-olah dibalik dinding lorong adalah sungai atau lautan yang siap jebol menerobos lorong kapan saja. Mungkin butuh waktu seharian penuh untuk mengetahui jumlah pastinya. Tetesan-tetesan air itu membentuk sebuah tirai air yang sungguh cantik, memenuhi kolam lalu mengalir ke dalam celah-celah di lantai lorong, untuk kemudian entah mengalir kemana.


Tak sengaja aku melompat kegirangan, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah di hari ulang tahun.


“Kau bisa langsung meminumnya. Air di kolam ini jernih dan segar. Langsung berasal dari perut gunung.” James tersenyum dilatari cahaya obor yang meliuk-liuk karena hembusan angin dari kolam.


“Gunung? Jadi benar dugaanku. Kita berada di dalam gunung?” tanyaku.


Aku tak menyangka akan berada di perut gunung alih-alih berada di keramaian sebuah kota, setelah keluar dari bandara tadi.


“Tidak juga,” James mulai membasuh wajahnya. Sekarang wajahnya tampak lebih segar.


“Mungkin lebih tepatnya, sebuah bukit. Bukit kecil yang membatasi Kalpa dengan Abataya.”


James menyatukan kedua telapak tangannya membentuk sebuah cekungan dan menampung air untuk kemudian meminumnya. Aku mengikuti gerakannya dan merasakan tenggorokanku seketika terasa lega. Air ini benar-benar segar. Jika saja sendirian, mungkin aku takkan sanggup menahan diriku untuk menyeburkan diri ke dalam kolam nan mengundang itu. Jiwa perenangku meronta ronta. Dan aku benar benar butuh mandi.