
Sabtu pagi yang cerah selalu membuatku bersemangat. Awal musim panas, adalah waktu yang ditunggu-tunggu olehku dan teman-temanku di tempat pelatihan renang. Ini saatnya kami berlatih menyelam tanpa peralatan apapun. Jika lancar dan lulus test, maka di pertengahan musim panas nanti, kami diperolehkan untuk menyelam di tempat sesungguhnya, laut. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdebar-debar.
Seorang wanita tinggi dalam balutan casual celana kulit ketat dan jaket dengan model dan warna senada menghampiri di ujung anak tangga. "Hai, Kea, sudah siap untuk acara kita hari ini? " tanyanya sambil memeluk dan mencium pipiku. "Tentu saja Sam, aku sungguh tak sabar ingin mengumpulkan batu sebanyak-banyaknya. Taruhan, batuku pasti lebih banyak dibanding Sarah kali ini, " jawabku bersemangat.
"Dan untuk itu, kau perlu mengisi perutmu dengan makanan lezat ini terlebih dahulu, Kea," Tatiana yang sudah berada di meja makan mengedikan bahunya ke arah Tiga kelompok makanan di atas meja yang masing-masing berisi roti dan irisan daging, telur rebus serta segelas besar susu. Kurasa, susu nya hanya ada satu gelas. Sementara 2 gelas lainnya milik Samantha dan Tatiana berisi jus jeruk yang wanginya sungguh mengoda.
"emmmh... Savanah, mrs. Johnson, kalian yang terbaik," ucapku keras-keras, sambil mengunyah irisan daging berbumbu yang disiram kuah kental kecoklatan. Daging untuk sarapan hanya disediakan khusus di sabtu pagi, karena aku membutuhkan energi yang banyak untuk berenang nanti.
"Tatiana, kemana kita akan pergi setelah kelasku usai? " tanyaku dengan mulut penuh.
"kurasa, kita akan memerlukan beberapa buah gaun untuk acara kelulusanmu dari sekolah basic. Juga sepatu yang sesuai dan dompet pesta kecil yang sedikit berkilau," jawab Tatiana dengan ekspresi yang jauh lebih bersemangat dariku. Disebrangku, Samantha memutar matanya sambil melenguh. Aku hanya tertawa melihatnya. Kedua kakak iparku ini memang unik. Meski bertolak belakang sifat, tapi untuk urusan menjagaku,
mereka sangat kompak. Samantha bergaya masculine dan petarung yang tangguh. Meski wajahnya sangat cantik dan rambut ikal sebahunya indah luar biasa dengan tubuh proporsional yang pasti akan sangat memukau jika ia memakai gaun, ia jarang mau menghabiskan waktu untuk memoles diri di depan kaca.
Sementara Tatiana, mungil. Wajahnya lembut feminine seperti mama tapi kilau mata hitamnya menyiratkan jika ia bukanlah jenis wanita yang betah hanya duduk manis saja sepanjang waktu. Penampilannya selalu terlihat anggun, namun gerakannya gesit dan lincah. Belum lagi cara bicaranya yang cepat, memberi kesan kalau ia adalah sosok periang. Rambut panjangnya yang sehitam matanya, kontras dengan kulitnya yang putih. Mengingatkanku pada sosok Putri Salju.
Kolam renang kami memiliki panjang 50 meter berbentuk persegi panjang simetris dan kedalaman 2 meter. Benar-benar biasa saja. Yang Istimewa kali ini adalah, di dasar kolam renang telah berserakan banyak sekali bebatuan. Dan tugas kami dalam test kali ini adalah mengambil sebanyak mungkin batu berwarna merah diantara ribuan batu-batu lainnya dalam waktu 1 jam.
Rambut panjangku telah digelung dan dimasukan ke dalam topi renang. Kacamata renang membantuku melihat jelas di dalam air. Sementara untuk bernafas, kami sesekali perlu muncul ke permukaan. Masing-masing dari kami dilengkapi kantong bertali sepinggang sebagai tempat menyimpan batu-batu yang berhasil kami kumpulkan.
Waktunya telah tiba, pelatih meminta kami berdiri berjajar di tepi kolam. Mataku berkeliling mencari sosok Tatiana dan Samantha. Keduanya berada di kanan dan kiriku sejauh beberapa meter, di antara kursi-kursi penonton yang hanya terisi sedikit hari ini. Memang ini bukan perlombaan, hanya test kesiapan biasa.
Bergabungnya aku dengan club pelatihan renang ini hanya dikarenakan aku harus meyakinkan orangtuaku kalau aku benar-benar mampu. Mereka tentu saja tak percaya jika aku bisa berenang begitu saja sejak usiaku balita. Hanya Yolan yang tahu, karena seperti biasa, ia selalu berkeliling rumah sambil membawa berbagai perlengkapan kebersihannya. Dan suatu hari, ia berteriak panik melihatku sudah berada di tengah-tengah kolam renang rumah kami. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat berharap ia mengerti dan berhenti panik. Kutunjukan padanya aku baik-baik saja dengan berenang balik ke tepi kolam. Namun, sejak peristiwa aku membaca koran pertamaku dulu, ia enggan memberitahukan kepada mama mengenai apa yang ia lihat. Tentu saja tak enak rasanya jika dianggap berimajinasi sementara kita yakin bahwa itu bukan khayalan.
43 batu merah berhasil kukumpulkan, di akhir test. Hanya selisih 2 batu lebih banyak dari sarah, yang biasanya menjadi kolektor terbaik tiap tahun. Tentu saja aku sudah menduga kalau kali ini aku yang akan menjadi pemenangnya. Selama seminggu terakhir aku sudah berlatih menahan napas dalam air lebih lama, setiap aku berendam di bathtub. Aku bertekad untuk meyakinkan mama agar mengizinkanku menyelam di pantai Labuba bulan depan.
Sambil tersenyum, aku melangkah ke ruang ganti. "Selamat Kea, kau hebat, " Sarah mengulurkan tangannya padaku. "Oh, Sarah, terimakasih. Kau juga luar biasa. Sungguh keberuntungan semata bisa melampauimu hari ini, " ucapku tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sarah tersenyum. Aku, Sarah, Jane dan Rita terpilih untuk mewakili club kami ke Labuba nanti.
Seperti biasa, sepulang dari renang, samantha dan tatiana mengajakku berjalan-jalan ke sebuah pusat pertokoan dekat situ untuk sekedar bersantai. Favouritku adalah kedai roti dan kopi Osaka. Roti labunya adalah yang terbaik di seluruh Dunedin. Sementara Samantha tak pernah sekalipun melewatkan untuk masuk ke sebuah galeri seni. Ia cukup puas hanya melihat-lihat berbagai karya seni yang dipajang disana. Setiap kali kutanya, "mengapa kau tidak membeli salah satunya, Sam? " kutahu ia bukan tak mampu. Suaminya yang adalah kakakku merupakan pengusaha mebel sukses dan terkenal karena sentuhan tangannya yang luar biasa, bukan hanya di Dunedin melainkan di seluruh Benua. Uang bukanlah masalah. "aku lebih menyukai karya suamiku, " begitu jawab Sam setiap kali. Ughhh, kefanatikan berlebihan seorang fans, begitu selalu kuanggap.
Dan kali ini, Tatiana mengajak kami ke sebuah toko fashion yang cukup besar. Manekin pria dan wanita tampak berdiri kaku menampilkan koleksi couple terbaru dari toko tersebut.
Beberapa pramuniaga langsung menyambut kami ramah. Salah seorang yang sepertinya manajer disana menunjukan beberapa model pakaian terbaru pada kami. Mataku tertarik pada sebuah jaket bertudung berwarna biru muda. Warna biru muda yang cantik. Mengingatkanku akan sesuatu, tapi apa?
"Kami memerlukan beberapa gaun pesta untuk adik kecil kami, Kea. " Tatiana menyebutkan apa yang kami cari. Tangannya menyentuh kedua bahuku dan membawanya ke hadapan manajer tadi. "tentu saja, Mrs. Archey, seperti Anda ketahui, kami memiliki koleksi gaun yang terbaik di kota ini. " jelas sang manajer.
Tak lama kemudian, beberapa buah gaun telah selesai kucoba ditemani tatiana di kamar ganti. Sementara Samantha menunggu di luar. Tak satupun dari gaun-gaun tersebut mendapatkan persetujuan Tatiana untuk menemaniku ke pesta nanti. Barulah saat gaun terakhir yang sebenarnya bukan koleksi terbaru, kucoba... Tatiana menatapku dengan ekspresi bahagia. "Benar-benar cocok, sesuai!" pekik Tatiana kegirangan. "Kami ambil yang ini," ucapnya lagi.
Gaun biru dengan model terbuka di bahu, tanpa renda, dan sedikit menggembung dari pinggang ke bawah. Memang sangat cantik. Aku mematut diri di depan cermin, masih memandangi dan mengusap gaun tersebut ketika tiba-tiba saja sebuah kilasan peristiwa muncul.
Seorang gadis cantik, sedang berdiri di tengah taman nan indah. Ia mengenakan sebuah gaun biru yang panjang menyentuh lantai. Rambut keemasannya dibiarkan terurai, berkilat cantik dengan sentuhan sebuah mahkota mungil bermata biru, di atasnya. Tiba-tiba sepasang lengan merengkuh bahunya, "kau sangat sangat sangat cantik, Anna," ucap pemilik tangan tersebut, berbisik di telinga sang wanita. Suaranya sendu sedikit serak. "Aku sungguh tak percaya kau telah menjadi milikku, " ucapnya lagi.
"Kea... Kea... Sadarlah Ke, " seseorang mengguncang bahuku dan kemudian menepuk kedua pipiku. Sebuah lengan halus namun kuat, menarikku. "Lekas, Tian. Kita harus segera pulang. Gantikan bajunya," itu suara yang sangat familiar. Tapi aku masih tertegun dengan pemandangan dalam "penglihatanku" tadi. Siapa wanita itu? Namanya Anna. Begitu si pemilik lengan memanggilnya. Anna... Anna... Mengapa selalu nama itu yang muncul. Siapa sebenarnya Anna?