
.
"Maya... Maya... Ada apa?" James menghentak perlahan bahu Maya melihat istrinya itu tiba tiba saja mendelik dengan seluruh tubuh kaku dan pucat, seolah tiba - tiba saja aliran darah di tubuhnya berhenti mengalir memutuskan suplai oksigen ke paru paru.
Hentakan James membuat Maya tersadar. Matanya kembali normal, melihat Kea dengan sendu. Ia melepaskan tautan tangan mereka lalu sambil menundukan kepala, ia menekuk lutut kanannya dengan kedua tangannya memegang sisi rok panjang berlapis yang dikenakannya.
"Selamat datang kembali, My Queen," ucapnya lirih namun bisa terdengar dengan jelas oleh James dan Kea.
James tertegun, menatap istrinya dengan mulut ternganga. Maya mengangguk.
"Ya, James... Perkiraanmu benar."
James berbalik memandang ke arah Kea, sebelum air matanya jatuh bercucuran tanpa diminta. Ia tergugu dan tertunduk jatuh menekuk lutut di lantai batu yang sengaja ia tanam dengan pola asimetris sepanjang jalan menuju pintu rumahnya.
Kea memandang Maya dan James bergantian dengan dahi mengernyit. "Ap... Apa... Kenapa... Ada apa James... Kau kenapa?" Panik Kea ikut berlutut di hadapan James. Kedua tangannya mengguncang bahu James namun sang pemilik bahu seakan pasrah membiarkan tubuhnya terguncang guncang.
"Miss Kea... Maafkan saya... Maafkan saya... . Ini memang terlalu mengejutkan. Maafkan saya." Maya ikut berlutut di samping suaminya. Namun wajahnya menengadah menatap wajah suaminya. Kedua tangannya terangkat menangkut wajah suaminya dan mengarahkannya agar berhadapan dengan wajahnya sendiri.
"James, maafkan aku. Ini pasti mengguncangmu." Maya berbisik sambil mengusap wajah suaminya yang basah.
Beberapa saat kemudian mata James mengerjap beberapa kali. Ia menggelengkan kepalanya sebelum kesadarannya kembali. Ia menatap istrinya yang berlutut bersamanya. Lalu dengan lembut tangannya meraih kedua siku Maya dan menariknya ke atas bersamanya.
"Bukan salahmu. Maafkan aku, aku lepas kendali." James sedikit tersipu menyadari dirinya telah kehilangan kontrol emosi yang selama ini selalu berhasil ia jaga.
Kea masih terduduk di atas kedua kakinya. Wajahnya menatap pola sederhana yang menghias tepian taman kecil di hadapannya. Namun tatapannya matanya menerawang jauh. "My Gueen... My Queen... My Queen..." Kata kata itu bergema di pikirannya bagai dejavu. "Selamat datang, My Queen... Terima kasih My Queen, Anda sungguh murah hati... My Queen, air panas telah siap... My Queen, Yang Mulia menunggu Anda si ruang makan... My Queen... My Queen..."
"Miss... Kita sebaiknya masuk ke dalam." Perlahan Maya membantu Kea berdiri. Kea mengikuti langkah Maya yang menggandeng lengannya di sebelah kiri. Jalannya tertatih - tatih dan pikirannya masih dipenuhi dengung suara yang riuh berkumpul bagai suara banyak orang di sebuah karnaval yang berbicara bersamaan bersahut-sahutan.
James mengikuti mereka dalam diam.
"Silakan duduk, miss. Saya akan menyiapkan teh untuk Anda." Maya menuntun Kea menuju sofa berlengan yang ada di salah satu sudut ruangan.
James berjalan menuju sebuah kursi goyang yang berada di sudut lain. Kursi berpernis coklat tua dengan bantalan dan sandaran buatan tangan yang senada. Ia meletakan kedua sikunya di lengan kursi dan menjalin seluruh jemarinya sambil kedua ujung telunjuk menghentak perlahan dengan ritme teratur pada bibirnya yang terkatup rapat, sambil mata coklat yang sewarna dengan rambutnya menatap lekat ke arah Kea. Tak ada pembicaraan. Hening.
Tak lama Maya datang dengan membawa nampan yang penuh dengan teko dan beberapa buah cangkir serta piring piring yang penuh terisi. Maya menuangkan teh yang masih mengepul ke tiga buah cangkir. Uap teh menguarkan aroma khas daun teh tercampur dengan bau harum ekstrak melati. "Teh kesukaan mama," pikir Kea.
"Silakan miss, minumlah selagi hangat. Anda pasti lelah. Teh ini bisa sedikit menghilangkan lelah." Maya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah James. "Dan kau juga James, Kemarilah. Aku membuatkan bolu gulung strawberry hasil buruanku kemarin sore."
"Maya, maaf jika aku lancang... Aku tahu kita baru bertemu, tapi keberatankah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi?" Kea meletakan kembali cangkir ke atas meja setelah menyesap isinya beberapa tegukan. Ia duduk dengan tegang menatap lekat Maya yang kini duduk berdampingan dengan suaminya. Tatapan yang menyiratkan rasa penasaran sekaligus intimidasi.
Kea
"Maya memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu seseorang." James berbicara mendahului istrinya. "Masa lalu?" Entah mengapa aku enggan melepaskan tatapanku pada Maya. Meskipun ini terdengar janggal untukku, tapi aku mengingat pembicaraanku dengan James sebelumnya di lorong bukit. Bizonik, dengan kemampuan di luar imajinasiku yang selama ini menganggap diriku hanyalah manusia biasa. "Apakah tadi kau baru saja menggunakan kemampuanmu?" Tanyaku.
"Ya, tapi yang tadi itu terjadi begitu saja. Bisa dibilang itu adalah kecelakaan. Aku tidak sengaja melakukannya." Maya seolah merasa bersalah seperti seseorang yang tertangkap basah memecahkan vas. "Lalu, bagaimana cara kerjanya?" Tanyaku lagi dengan tak sabar. Aku sungguh penasaran. Rasanya sesuatu yang selama ini kucari akan kudapatkan jawabannya melalui wanita cantik di hadapanku ini. Mata birunya kembali menatap James sendu, lalu tangannya menggenggam tangan suaminya seolah meminta kekuatan.
"Biasanya Maya mampu mengontrol kekuatannya dengan sangat baik, miss. Ia akan terlebih dahulu meminta izin sebelum menerobos ke dalam pikiran terdalam seseorang." James menjawab mewakili istrinya. "Tak ada yang tau bagaimana caranya. Sesuatu seperti kekuatan ini hanya terjadi begitu saja secara acak, tak berpola. Sama sepertiku yang begitu saja bisa menghilangkan penghalang apapun di depanku dengan hanya memikirkannya." James melanjutkan sebelum ia menjeda perkataannya dengan satu tarikan nafas panjang.
"Kalau begitu, apakah tadi Anda melihat masa laluku, Maya?" Pandanganku kembali kualihkan pada Maya yang kini juga balas menatapku.
"Ya, miss," jawabnya. Tak seperti tadi, kini pancaran matanya tanpa rasa ragu. "Kumohon ceritakanlah, Maya," pintaku. Degup jantungku bertalu-talu mengantisipasi apapun yang akan kudengar nanti. Jika memang Maya dapat melihat masa lalu maka semua pertanyaanku akan terjawab hari ini. Ya ampun... Ya ampun... Jantungku...
"Tentu saja akan aku ceritakan jika Anda meminta, miss."
Binar - binar kini mendominasi mata Maya dibarengi senyuman yang mengembang kian melebar. Sosoknya yang tinggi semampai dengan kulit sewarna susu dengan sedikit campuran coklat berbalut gaun ketat yang memayung di bagian bawah, perlahan berdiri dan berjalan menuju jendela.
"Aku melihat saat - saat Anda bersama dengan James di suatu pagi di padang rumput ini, miss." Suaranya yang tak begitu keras, terdengar jelas olehku karena terbawa angin.