Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 8




"Selamat ya sayang," mama tersenyum dan membuka kedua lengannya lebar.  Aku memeluknya dengan penuh kerinduan. Padahal hanya 2 hari mama meninggalkan rumah.  Mama memang seorang ibu rumah tangga sejati yang jarang meninggalkan rumah kecuali jika papa memerlukannya untuk menemani perjalanannya seperti kemarin.  Atau jika mama harus menemui klien usaha floristnya di luar. Sehari-hari mama yang mengurus urusan rumah tangga dibantu beberapa asisten setianya.  Mama juga betah berlama-lama di kebun bunganya yang memenuhi bagian selatan hingga barat rumah kami.  Bersebelahan dengan danau alami tempat papa biasa memancing.


"akhirnya aku tidak bisa lagi menahanmu agar tidak menyerahkan diri dengan sukarela untuk dibawa pergi oleh ombak-ombak itu, " ucap mama setengah menggerutu.  Aku hanya tertawa kecil. "Aku akan bersahabat dengan ombak-ombak itu ma..." ucapku tanpa melepaskan pelukanku. "Ya, ombak kecil memang menyenangkan. Bagaimana jika kau bertemu dengan raja ombak?" sarkas mama merengutkan wajah cantiknya yang berbingkai rambut coklat indahnya. Aku mendelikkan mataku. Raja ombak? apakah Poseidon punya raja bawahan?


"Makan malam sudah siap, nyonya. " itu mrs.  Johnson,  asisten mama di dapur. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan sedikit berisi.  Sorot matanya yang ramah dan pembawaannya yang riang membuat orang mudah jatuh hati padanya.


"baiklah Livia,  kau bisa mulai menyiapkannya di meja makan. Aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu, " mama mengecupku singkat sebelum berlalu menuju kamarnya.


Sementara di meja makan, semua anggota keluargaku telah berkumpul.  Sepertinya mereka sedang serius membicarakan sesuatu, atau membicarakanku?  terlihat dari ekspresi tegang di wajah mereka dan terhentinya semua pembicaraan ketika aku tiba.


Dan semua berubah menjadi ceria,  ceria yang berlebihan.  Membuatku sebal.  Belum cukupkah usia 14 tahunku ini untuk dianggap dewasa dan pantas ikut hadir dalam pembicaraan-pembicaraan rahasia mereka?  Sebentar lagi pun aku akan menghadiri pesta kelulusanku dari sekolah basic.  Setelah itu aku akan bisa melanjutkan pendidikanku ke sekolah keputrian atau sekolah kejuruan. Meski aku belum tahu, bidang ilmu apa yang akan kutekuni nantinya.


Ketika akhirnya papa dan mama datang,  kami pun memulai makan malam kami.  Berada di antara 3 pasang anggota keluarga yang saling mengasihi satu sama lain di meja makan seringkali membuatku risih.  Secara tak sengaja mereka akan mulai menunjukan perasaan mereka dengan saling menyuapi atau membersihkan noda yang tertinggal di bibir.  Hanya aku dan Will yang menatap mereka dengan ekspresi sebal,  atau lebih tepatnya iri.


Nat dan Samantha seperti diciptakan tepat untuk sama lain.  Rambut coklat yang sama,  raut wajah tegas yang sama.  Mata coklat yang sama.    Minat terhadap olahraga dan ilmu beladiri yang sama. Istilah perbedaan akan membuat pasangan saling melengkapi, tidaklah tepat untuk mereka.


Sementara Bob dan Tatiana adalah pasangan teraneh yang pernah kulihat.  Bagaimana tidak,  dimataku mereka berdua saling bertolak belakang.  Bob yang pendiam dan selalu tampak serius,  sementara Tatiana selalu tersenyum ceria,  suaranya jernih melengking dan selalu tidak bisa diam.  Kesukaannya terhadap fashion memperparah ketidaknyamananku berada berdekatan terlalu lama dengannya. "Kau tidak boleh menggunakan semua warna putih dari atas kepala hingga ujung kakimu,  Kea.  Nanti orang-orang menganggapmu mayat hidup, " begitu selalu komentarnya jika melihatku memakai gaun putih kesukaanku. Well ya,  meski sepertinya sekarang aku juga menyukai warna biru muda sejak peristiwa di toko baju kemarin.  Atau saat ia melihatku memakai sneaker kesayanganku, dia akan sangat gelisah. "Dengar ya Kea, kau adalah seorang gadis yang menawan. Apakah kau tidak tahu kalau heels diciptakan khusus untuk gadis sepertimu?" ucapnya selalu sambil mengerucutkan bibir mungilnya. "Skets masih lumayan jika warnanya sesuai, tapi sneakers...? Ya Tuhan!" sambil mata dan tangannya lincah berkoordinasi mencari sepatu yg lebih sesuai menurutnya untuk kupakai saat itu.


Sementara Will,  entahlah...  Kakakku yang satu itu belum juga menunjukan tanda-tanda kalau ia memiliki pasangan.


Aku pernah mendengar para asisten mama bergosip di dapur, bahwa dulu pernah ada seorang gadis cantik yang tergila-gila dan jatuh cinta pada Will.  Namun gadis itu meninggal dunia demi menyelamatkan saudaranya.


Aku tidak berani bertanya pada Will.  Aku tak mau ia bersedih.  Mungkin suatu saat aku bisa mendengar Will menceritakannya langsung padaku.


Selesai makan malam,  kami berkumpul di ruang keluarga.  Acara TV menayangkan film dokumenter tentang keindahan benua,  salah satunya Yamala yang meskipun sebagiannya gersang hanya berupa gurun luas dengan stepa dan sabana kurus yang tak seindah hutan pinus kami di Dunedin,  tapi sebagian lainnya adalah padang rumput luas dengan aliran sungai panjang yang berkelok-kelok,  diapit tebing-tebing tinggi di kedua sisinya. Keindahan eksotis yang menantang siapapun yang memiliki cukup nyali dan membutuhkan adrenalin dalam dosis tinggi untuk memanjat tebing atau berarung jeram disana.


Kami asyik berbincang tentang berbagai hal remeh-temeh,  seperti mau kemana aku setelah lulus,  siapa guru favouritku,  produk terbaru yang baru saja dilaunching perusahaan Nat,  tumbuhan yang sedang dipelajari Bob saat ini,  ketika tiba-tiba saja mamaku terkesiap.  Matanya fokus ke arah televisi,  ia mematung dengan ekspresi shock di wajahnya.  Aku mengikuti arah pandang mama,  tapi secara cepat channel televisi berubah ke acara masak-memasak Wok With Yan,  siaran ulangan.  Karena aku pernah menontonnya. Entah siapa yang begitu cekatan merubahnya.  Aku tidak begitu peduli.  Kembali kutatap mamaku yang kini sedang mengerjap-ngerjapkan matanya dalam pelukan papa.  Aku ingin bertanya ada apa?  Tapi papa segera membopong mama menjauh.  "Kurasa mama kalian terlalu lelah setelah perjalanan kami tadi.  Ia butuh istirahat,  anak-anak," ucapnya.


"Apa itu tadi? Apa yang dilihat mama? " tanyaku pada siapa saja yang ada di ruangan ini.  Bob menggedikan bahunya dan mengajak Tatiana untuk pulang.  Begitupun dengan Nat dan Samantha. "Well,  sudah malam,  Kea.  Kami harus pulang.  Besok adalah hari yang sibuk. Dirimu pun harus segera beristirahat.  Tidak mau mengantuk di kelas saat waktumu bersekolah sebagai gadis cilik tinggal menghitung hari,  bukan?" ucap Nat sambil mengerling padaku.


Aku pun hanya terdiam pasrah.  Meski sekarang aku semakin memiliki alasan untuk memulai penyelidikanku sendiri.  Saatnya akan tiba,  nanti setelah pesta kelulusan.  Aku tidak mau tertinggal satu informasipun mengenai apapun yang terjadi pada keluarga kami.


Hanya Will yang tetap tinggal di rumah kami.  Namun sepertinya ia pun enggan membicarakan hal tadi.  Giliran ia menjagaku besok.  Ah,  sungguh menyebalkan.