Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 28



KEA


Entah apa yang membuatku mengambil keputusan mendadak ini, rasa marah ataukah putus asa? Atau mungkin rasa bersalah. Ucapan Julian yang mengatakan bahwa Anna adalah istrinya, benar-benar menohokku. Aku merasa, hatiku patah dan merana. Tapi, lebih dari itu, aku… merasa bersalah, pada Anna, yang kemungkinan besar adalah kakakku.


Tak banyak yang kubawa, hanya beberapa potong pakaian yang langsung kujejalkan dengan mudah ke dalam ranselku, tanpa sempat kupilih. Aku memang tidak berencana meninggalkan rumah terlalu lama. Aku hanya butuh menghindar sementara dari Julian. Dan tujuanku adalah Evelyne. Sudah cukup lama juga kami tak bertemu. Dan itu akan memberiku cukup alasan.


Penerbangan malam memang terasa nyaman. Sebagian besar penumpang tertidur. Dan meski mataku sulit terpejam, kuatur kursi pesawatku ke posisi yang nyaman untuk berbaring.


-000-


Kelebat bayangan Julian menghampiriku. Senyum berlesung pipitnya yang mempesona dan kerlipan matanya menggodaku. Aku tersipu. Sebelum sempat kusapa, Julian telah berbalik dan berlari menuju hutan di depanku. Hutan yang sangat familiar. Pepohonan yang seakan – akan berbaris rapat saling bertautan, membentuk benteng alami yang akan menciutkan nyali siapapun yang belum pernah memasukinya.


Entah apa yang mendorongku, namun aku memasuki hutan tanpa ragu. Mataku tak lepas mengikuti bayangan Julian. Semakin jauh menerobos hutan, menginggalkan cahaya matahari menjadi hanya bercak-bercak sinar di sela lebatnya kanopi.


Tak kuperdulikan ranting-ranting yang menggoresku atau mengacaukan tatanan rambutku. Kuacuhkan rasa sakit terantuk dan terjatuh. Bau lembab khas lumut telah sejak tadi memenuhi penciumanku. Suara berkeresak dan hiruk pikuk penghuni hutan yang saling bersahutan yang sejak tadi mengiringi, mulai menghilang perlahan seiring mulai mengaburnya penglihatanku, terhalang kabut yang semakin rendah dan menebal. Kini satu per satu suara Jangkrik mulai bersahutan, memainkan serenade indah alami yang tidak dapat kupahami namun sangat kunikmati. Dan meski tidak dapat jelas melihat sekitarku, anehnya kakiku seakan tahu kemana harus melangkah. Keduanya membawaku dengan langkah mantap menerobos lebih jauh ke dalam hutan, meski bayangan Julian telah lama menghilang. Dan akupun tak merasa takut atau tersesat. Hatiku mempercayai kakiku dan otakku menyerahkan kendali hampir sepenuhnya pada instingku.


Cukup lama aku menyusuri hutan sampai akhirnya kulihat samar menembus kabut, garis cahaya di kejauhan. Bibirku otomatis tersenyum.


-000-


Entah berapa lama aku tertidur. Tubuhku terasa nyaman ketika terbangun tadi. Pramugari telah bersiap. Sesaat lagi pesawat kami akan mendarat di Bandara Kalpa, dan aku harus meneruskan perjalanan darat beberapa jam lagi sebelum sampai ke Maumare.


Di pintu masuk bandara, ramai sekali orang-orang hilir mudik. Beberapa penumpang yang baru saja turun dari pesawat membawa papan nama agar mudah ditemukan penjemputnya. Sementara penumpang sepertiku, tanpa papan nama, tentu saja menjadi rebutan para supir taxi. Apalagi tanpa pendamping, dengan seenaknya mereka menarik-narikku bagai barang rebutan, untuk masuk ke dalam mobil mereka.


Di tengah perseteruan para sopir taksi memperebutkanku, tiba-tiba saja seseorang menarik tasku. Copet! Begitu alarm di otakku berdering. Dengan segera aku berlari mengejar sosok laki-laki jangkung yang tengah membawa kabur tasku. Semua baju dan uangku ada di dalamnya. Tentu aku akan kesulitan mencapai tujuanku tanpa uang sepeserpun. Kukerahkan seluruh tenaga dan kemampuan berlariku. Beruntung aku memilih sneaker sehingga dapat berlari maksimal. Namun rupanya pencopet itu pun sangat pandai berlari. Orang-orang melihat kami dengan pandangan heran dan otomatis menyingkir. Aku terlalu lelah untuk berteriak, dan kuputuskan untuk terus berlari mengejarnya. Sampai akhirnya tiba di sebuah jalan mendaki yang lumayan sepi. Di sekitarnya hanya terdapat beberapa café dan toko kecil. Napasku putus-putus dan tersengal-sengal. Kupaksakan kakiku untuk terus melangkah. Laki-laki jangkung itu berhenti dan berbalik. Ia melihatku tak sanggup lagi mengejarnya. Senyum kemenangan tersungging di wajahnya, dan bagiku tampak seperti seringai ejekan. Tubuh lelahku ditambah kejengkelanku melihat seringainya, membuat amarahku memuncak. Sesaat setelah pencopet itu berbalik hendak pergi, aku berteriak sekuat tenaga, “berhenti!”


Dan laki-laki itupun berhenti, berdiri mematung membelakangiku.


“Kembalikan tasku!” teriakku kembali. Dan baru saja aku mengucapkannya, tiba-tiba saja tasku sudah berada dalam genggaman tangan kananku. Aku bergidik, begitu juga dengan laki-laki itu. Saat aku tengah kebingungan dengan keanehan itu, laki-laki itupun melarikan diri setelah sebelumnya menoleh menatapku dengan ekspresi ngeri.


Aku terlalu senang karena mendapatkan tasku kembali. Semuanya masih utuh bahkan sepertinya pencopet itu belum sempat membukanya. Taka da mobil melintas di jalanan lengang itu. Dengan terpaksa, meski sangat lelah, kulanjutkan berjalan mencari halte bus terdekat. Ini sudah cukup jauh di luar bandara. Sungguh tak kusangka aku mampu berlari sejauh itu.


Di kanan kiri jalan, toko-toko kecil dan beberapa mobil yang terparkir berderet renggang, diselingi beberapa pepohonan rindang. Lingkungan ini masih lumayan asri, hanya terkesan sedikit menyeramkan, mungkin karena sepi dan bayangan bukit  yang  melatarbelakangai.


Beberapa lama berjalan, aku merasakan keanehan. Sepertinya ada yang mengikutiku. Apakah saudara-saudaraku? Ah, tidak. Semua saudaraku sangat pandai mengintai, terutama  Will. Aku tahu karena bertahun-tahun lamanya aku hidup dan beraktifitas dalam pengawasan mereka. Bahkan aku sering tak sadar jika tengah dikawal. Tapi kali ini berbeda, mereka bukan professional. Kuteruskan langkahku, dan diam-diam aku mengamati dari dinding kaca buram toko-toko di sepanjang jalan. Betul dugaanku. Ada 2 orang laki-laki berperawakan sedang. Pakaian mereka bagus dan rapi. Penampilan keduanya mirip, berambut panjang hitam, memakai coat panjang dan sepatu yang mirip dengan yang biasa dipakai kakakku, Nathan ketika bepergian.


Dengan khawatir, kupercepat langkahku. Rupanya mereka pun mempercepat langkah mereka. Panik, aku pun kembali berlari. Kali ini tak tentu arah karena tak ada target yang kukejar. Akulah sekarang yang menjadi target. Apalagi aku sama sekali tak mengenal daerah ini. Dengan bingung dan takut, aku berlari melewati gang-gang sempit, hingga akhirnya naas menyergapku. Jalan di depanku terhalang tembok tinggi. Jalan buntu!


Aku mendengar langkah-langkah mereka semakin mendekat. Tak mungkin bagiku untuk kembali karena itu sama artinya dengan menyerahkan diri. Di tengah kekalutanku, tiba-tiba seseorang membekapku dan menarik paksa tubuhku ke dalam salah satu rumah. Aku mencoba memberontak. Tapi bahkan tendangan kakiku tak cukup kuat untuk menyakitinya.


“Kumohon, diamlah nona, atau kita akan ketahuan.” Suara baritone berbisik di telingaku. Aku pun sedikit tenang. Sepertinya ia bukanlah kelompok orang-orang yang mengejarku.


“Jika Anda berjanji tidak akan berteriak, dan mau mengikutiku, aku akan melepaskanmu.” Aku berusaha mengangguk sebagai persetujuan.


Akhirnya ia pun melepaskan bekapannya pada mulutku dan lilitan lengan kekarnya di pinggangku. Aku berbalik menghadapnya, ingin mengetahui sosok penolong misteriusku.  Tapi tudung hitam menutupi kepala hingga separuh wajahnya, hingga hanya bibirnya yang dapat kulihat.


Ketika ia mengongakan kepalanya, kudengar ia terkesiap, sebelum menghela napas berat, dan bergumam. Aku tak begitu jelas mendengarnya, tapi sepertinya sesuatu seperti… “begitu mirip.”


“Maaf, apa yang barusan kau katakana?” tanyaku penasaran.


“Bukan… bukan apa-apa.” Ia tergagap dan reflex mundur beberapa langkah.


“Nona, mari lewat sini. Sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum orang-orang itu kembali.”


Laki-laki itu menunjukkan jalan padaku. Sebuah ruangan yang merupakan ujung dari sebuah lorong. Tanpa ragu aku mengikutinya menyusuri lorong yang gelap itu. Tak lama, ia menyalakan sebuah obor yang tertancap di dinding dengan entahlah… sebuah pemantik? Atau bukan. Aku tak melihat benda apapun yang dipegangnya selain obor.


Hening. Hanya terdengar suara langkah kaki kami yang memantul di sepanjang dinding lorong. “Terima kasih,” ucapku.


Laki-laki itu berhenti. Menatapku sebentar, kemudian kembali berjalan.


“Sama-sama,” jawabnya.


“Aku Kea,” Kurasa memperkenalkan diri adalah langkah yang baik untuk memulai  percakapan.


“James,” jawabnya lagi.


“James,” gumamku.


“James, apa kau tahu siapa orang-orang itu? Maksudku, yang mengikutiku tadi?” tanyaku sambil tetap berjalan mengikutinya.


“Aku tidak yakin. Tapi kurasa mereka adalah kaki tangan Osvaldo.” James menjawab tanpa memandangku.


Osvaldo? Aku belum pernah mendengar nama itu.


James menghentikan langkahnya. Ia mengernyit memandangku.


“Kau benar-benar tak tahu?” tanyanya.


“Tidak, apakah kau tahu?” aku balik bertanya.


“Kau melakukan pelanggaran, nona.” Ujarnya sambil  menyeringai dan meneruskan langkahnya.


“Seingatku laki-laki yang mencopet tasku itulah yang melakukan pelanggaran,” jawabku berapi-api. Aku mengingat-ingat adakah aku melanggar rambu tertentu saat berlari tadi, memasuki property milik orang lain, atau menabrak sesuatu? Tapi kurasa tidak. Aku hanya berlari di jalanan tanpa penghalang. Hanya saja memang laki-laki itu lebih kuat dan cepat berlari daripadaku.


“Aku sangat yakin, James. Tak ada pelanggaran apapun. Bahkan kurasa mereka bukan polisi.” Aku masih berusaha meyakinkan diriku sendiri dan juga James.


“Di dunia manusia biasa, kau memang tidak melakukannya. Tapi di dunia bionic, kau telah melakukan pelanggaran berat.” James menjawab dengan suara ragu.


“Dan mereka memang bukan polisi, tapi ketika mereka berhasil menangkapmu, kesempatanmu untuk hidup sangat kecil, kecuali kau memiliki jimat keberuntungan.


Kali ini giliran aku yang tertegun. Apa maksudnya, dunia manusia, dunia bionic?


“James, apa maksudmu?” tanyaku.


Langkahku tertahan karena aku menuntut jawaban. Cahaya obor yang menerangi wajah James membuatku dapat melihat raut heran di wajahnya.


“Kau sungguh tak tahu?” Tanya James.


“Apa yang seharusnya kuketahui? Katakan padaku, James!” desakku, atau lebih tepatnya, ekspresiku memohon.


James memindahkan obor ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya mencari-cari sesuatu, sebuah pisau yang diacungkannya padaku.


Aku otomatis mundur mengantisipasi apapun yang ingin ia lakukan.


“Jangan takut,” ucapnya dengan nada suara yang lebih lembut. Menurut cerita dari novel yang pernah kubaca, begitulah cara predator merayu mangsanya.


“Apa yang kau inginkan, James?” ucapku berusaha tetap tenang meski kurasakan suaraku bergetar.


“Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu,” jawabnya sambil mendekatiku perlahan.


Aku terus mundur saat ia maju, hingga kurasakan dinding lorong menempel di punggungku. Situasi yang sama sekali tak menguntungkanku.


“Apa kau percaya padaku?” tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati.


“Kita baru pertama kali bertemu,” jawabku spontan.


Sejenak ia tertegun hingga akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya berguncang-guncang, begitu pula obor yang ada di tangannya. Api obor meliuk-liuk bagaikan kepala naga yang menari sambil menyemburkan kekuatannya. Lalu kemudian api obor pun mati.


“Kau lucu,” James berbisik dalam gelap. Namun tak lama, obor menyala kembali.


“Lihat itu?” Tanya James sambil menunjuk obor. Aku menatapnya bingung.


“Oh, aku tidak membawa apapun selain pisau ini,” ucapnya sambil mengacungkan pisau dalam genggamannya di depan wajahku.


“Pegang ini.” James menyodorkan pisaunya padaku. Aku memegangnya takut-takut.


“Perhatikan!” James mengangkat tangan kanannya. Ia menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya perlahan dan tiba-tiba munculah api dari ujung kedua jarinya. Aku terpukau menatap api itu, lalu menatap wajahnya. Api, wajahnya, api, wajahnya, silih berganti. James tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya yang rapi.


“Sekarang pegang ini,” James menyerahkan obor ke tangan kiriku setelah sebelumnya mengambil pisau yang kugenggam. Ia mengambil tangan kananku dengan tangan kirinya.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku panik.


“Shh… diamlah, percaya padaku dan lihatlah!” tanpa peringatan, James menggores lenganku dengan pisaunya. Aku berjengit merasakan perih. Darah merembes dari celah panjang yang terbentuk.


“Perhatikan!” mata James tertuju pada lukaku. Jika saja itu bukan tanganku sendiri, aku akan menganggapnya trik murahan. Luka itu menutup perlahan-lahan hingga akhirnya kulit lenganku kembali mulus seperti sediakala hanya dalam waktu beberapa detik saja, hanya meninggalkan sisa darah sebagai bukti bahwa luka itu pernah ada.


James tersenyum puas. Aku tercengang.


“Aku benar, kau… bukan manusia,” kata-kata james menohokku.


Aku bukan manusia… aku bukan manusia… lalu, apa?


“Aku apa?” tak sadar aku memegang lengan James dengan kedua tanganku, lagi-lagi menuntut jawaban, tak membiarkannya pergi. James memandang lengannya yang kupegang.


“Kau sama sepertiku… seperti kami.”