Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 31



Merasa cukup meneguk kesegaran mata air juga membasuh wajah dan lengan, James mengajakku kembali berjalan.


"Uhm, James... Apakah kau pikir mereka, maksudku para pengejarku masih ada disana?" Tiba tiba saja aku merasa gelisah, sepertinya ada yang salah. Bagaimana jika keluargaku mencariku dan tidak menemukanku di rumah Evelyne?


"Entahlah," James berhenti berjalan dan menatapku. "Tapi kemungkinan besar mereka masih disana, dan meskipun tidak, mereka akan dapat segera menemukanmu dengan mudah, jika kau kembali." James mengatakan semua dengan yakin. Sepertinya ia sangat mengenal orang - orang itu.


"Kau belum mengatakan apa kesalahanku, James... Hingga aku pantas diburu seperti seorang kriminal?" Kali ini aku menatap James tajam. "Dan kau harus benar - benar mengatakannya padaku, James. Aku tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Setidaknya seingatku bagitu. Bahkan aku baru saja menjejakan kaki di kota ini, dan langsung mendapatkan musibah. Harusnya aku yg mendapat perlindungan. Bukan aku penjahatnya." Tak sadar aku menggerutu sambil memajukan bibirku, persis seperti saat aku mengadukan kenakalan kakak-kakakku pada mama.


Sesaat aku melihat mata James mendelik sebelum akhirnya ia mengangguk.


"Tentu saja akan kukatakan, Miss. Kau menggunakan kekuatanmu pada manusia, maksudku mereka yang bukan bionik. Itu adalah kesalahan fatal, miss." James berkata dengan tanpa penekanan, lebih terdengar khawatir.


"Kekuatanku?" Tanyaku pada James. Aku tak yakin apakah James sungguh-sungguh dengan kata-katanya? Kekuatan apa? Satu satunya kekuatan yang kutahu kumiliki hanyalah menahan nafas di air lebih lama dari kebanyakan orang normal.


"James, kau yakin kau tidak mabuk atau sedang mengada-ada?" Tanyaku lagi.


"100% tidak. Sudah lama aku tidak mengkonsumsi alkohol. Dan tidak, aku tidak mengada-ada. Bahkan, kau baru saja melakukannya padaku." James tersenyum memandangku. Sepertinya ia sedang menggodaku. Memangnya apa yang kulakukan? Aku tidak sedang mengerahkan kemampuan apapun. Kekuatan? Hahaha... Benar-benar lucu James... Justru saat ini aku merasa letih dan penat. Seluruh badanku pegal dan lemas. Terlebih lagi aku pun lapar. Bukan benar benar lapar seperti yang sering Evelyne rasakan saat ia tak sempat memakan sarapannya karena terlambat bangun. Tapi perasaan kurang nyaman karena melewatkan suatu rutinitas. Ya, jenis yang seperti itu. Kurasa ini sudah lama lewat dari jam makan siangku yang biasa. Lagipula daritadi aku hanya berbincang dan berjalan bersamanya, tak ada yang lain.


"Aku semakin tak mengerti, James. Kau membuatku gila." Yup, pasti ia hanya mempermainkanku.


Lorong yang kami lalui semakin lama semakin lebar dan tinggi. Udara tak lagi selembab sebelumnya. Kini bukan hanya bau lumut dan air yang menyapa penciumanku melainkan bau dedaunan dan tanah.


Tiba-tiba saja James menghentikan langkahnya. "Kau mirip... sangat mirip dengan seseorang yang kukenal." Bisikan James terdengar lirih namun dapat kutangkap dengan jelas.


James menatapku, kali ini entah mengapa matanya terlihat begitu sendu. Perlahan ia mendekat padaku, tangannya terangkat dan menggantung sejenak di depan wajahku, sebelum akhirnya ia menyentuh pipiku perlahan, mengelus-elus rahangku dengan punggung tangannya.


Belum hilang rasa kagetku akan sentuhannya di wajahku, James menarik bahuku ke arahnya. Ia memelukku. Tangan kanannya menangkupkan kepalaku ke bahu bidangnya. Kurasakan hembusan nafasnya di rambutku.


"Oh, Anna... Kau tak tahu, betapa aku sangat merindukanmu. " Suara James lirih di telingaku.


Aku tak mampu merespon perlakuan James, namun rasanya ada yang salah... Tak seharusnya aku merasa nyaman berada dalam pelukan hangat tubuh kekar laki-laki itu. Isakan pelan terdengar. James menangis, tapi mengapa?


"James, ada apa? Kau menangis?" Aku berusaha melepaskan diri, namun lengan James, keduanya begitu erat memelukku.


"Kumohon, Anna... Kumohon... Biarkan aku memelukmu." Gumaman James semakin mengiris hati. Apa yan membuatnya begitu sedih? Dan untuk kedua kalinya, aku salah dikenali sebagai Anna, bahkan oleh James. Padahal aku sudah jelas memperkenalkan diriku sebelumnya.


Hingga akhirnya isakan James berhenti dengan tarikan nafas panjangnya. Perlahan belitan kedua lengannya di tubuhku mengendur dan ia mundur menjauh. "Maafkan aku", gumamnya tanpa memandangku.


Willan


"Hemmm... Sepertinya ini adalah lorong menuju perbatasan wilayah kekuasaan Laine," Willan mengamati keadaan sekitar sambil berjalan cepat, kalau tidak bisa dibilang berlari-lari kecil.


Tak ada reaksi


"Hemmm... Bella Campbell, lulusan terbaik akademi Arkdale, 19 tahun, menjadi bagian pasukan siluman sebagai mata - mata yang sangat cocok dengan bakat terbaikmu, namun sayang kau masih harus mengejar pengalaman 200 tahun, sebelum bisa menguntitku." Will menyunggingkan senyum separuhnya yang jika ia lakukan di depan sekerumunan wanita, niscaya mereka semua akan shock tak percaya atas keberuntungan mereka menyaksikan mahakarya Tuhan yg luar biasa indah.


Tiba tiba, seakan muncul dari balik dinding lorong, muncul seorang gadis cantik berambut coklat keemasan panjang yang diikat di belakang kepala. Mata indah biru jernihnya menatap Will penuh tanya. Ditambah raut jengkel yang membuat bibirnya mengerucut, membuat Will gemas dan tertawa. Hahahaha.... Lucu sekali...


"Bagaimana... Bagaimana kau tahu?" Tanya gadis itu dengan suara lirih.


"Tahu apa... Tahu bahwa kau menguntitku atau tahu mengenai identitasmu, yang mana yang kau maksudkan?" Alih alih menjawab, Will balik bertanya. Senyum masih belum lepas dari wajahnya. Kepalanya ditelengkan ke kanan, menatap Bella, nama gadis itu dengan tatapan jahil yang sering ditunjukannya pada Kea.


Yang ditatap menjadi salah tingkah dan refleks menundukan pandangan. Semburat merah tiba tiba saja muncul di pipi putih mulusnya, mengumumkan apa yang ia rasakan saat ini.


"Sekarang, dapatkah kau jelaskan, mengapa kau meluangkan waktumu yang berharga untuk menguntitku, nona?" Will merubah ekspresinya menjadi serius. Tidak ada lagi senyum disana. Kedua lengannya dilipat di dada.


"Aku hanya menjalankan tugasku," kali ini Bella telah memunculkan kembali keberaniannya yang tadi sempat terbuai oleh rasa heran.


"Tugas, ya. Dan bagaimana dengan pos yang kau biarkan kosong sementara kau sibuk disini?" Sarkas Will.


"Ada seseorang yang menggantikanku." Hening sesaat. " Hey... Apa kau pikir, aku melalaikan tanggungjawabku hanya untuk mengikutimu? Ish... Yang benar saja." Refleks Bella memutar bola matanya.


"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?" Bella balik bertanya. "Menerobos tempat orang lain itu bisa dikategorikan perbuatan kriminal, apa kau tahu?" Wajah Bella yang bagaikan manekin di butik Tatiana terlihat tak pas dengan ekspresi marahnya.


"Cepat jelaskan, atau aku terpaksa menangkapmu." Lagi lagi ia membuatku tertawa.


Pfff...


"Coba saja tangkap aku, kalau kau bisa, cantik... " Refleks aku mencondongkan tubuh padanya, sebelum akhirnya menghilang tepat di hadapannya. Teleportasi sepertinya pilihan yang tepat.


Tak sampai setengah menit, aku sudah menjejakan kembali kakiku ke tanah. Pemandangan tirai air berlatar dinding batu coklat kemerahan telah berganti menjadi pemandangan hutan dengan barisan pohon pohon tinggi disebrang tempatku berdiri. Sementara tak sampai 1 meter di depanku, sungai dengan aliran airnya yang tak begitu deras, membentang tak berujung, menjadi pemisah.


Hening... Terlalu hening. Hanya terdengar suara aliran air perlahan. Bahkan celoteh serangga yang biasa terdengar di tepi hutan pun tak ada.


"Tarian burung merah menderaikan tangis pembawa kabar bahagia" kuucapkan kalimat itu perlahan dalam bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang terpilih.


Tak berapa lama, terasa angin bertiup seiring terdengarnya suara tak kasat mata seorang wanita, "Selamat datang komandan. Silakan singgah sejenak untuk melepas lelah."


"Terimakasih Laine," jawabku diikuti langkah kakiku lincah melompat dari batu ke batu sebagai pijakan menyebrangi sungai. Perbatasan telah kulewati dengan tanpa masalah. Dan kini saatnya menemui sahabat lamaku yang jelita, Laine Sang Penguasa Air.