
Kea
Dengan berat hati, kuikuti James dan meninggalkan kolam air bertirai hidup nan cantik itu. James berjalan tidak terlalu cepat, mudah saja bagiku menyamakan langkah.
"Kita mau kemana?" tanyaku. James sejenak menghentikan ayunan kakinya. "Entahlah, aku belum memutuskan." James memandangku, dahinya berkerut seolah di wajahku terpampang teka-teki yang cukup rumit dan berusaha ia pecahkan.
"Mengapa kita tidak kembali saja, James? Para pengejarku tadi pasti sudah pergi," ragu-ragu aku memberikan saran.
"Ada standar prosedur diantara para pengawal, biasanya 3 hari yang dibutuhkan sebelum sebuah kasus ditutup dan dianggap hanya kebetulan, apalagi jika bukti tidak memadai." James kembali berjalan. Aku berusaha mencerna kata-katanya meski aku tidak paham.
"Apa tadi mereka melihat wajahmu, Kea?" James menatapku, kini sorot matanya memancarkan kekhawatiran. Baik sekali dia, mengkhawatirkanku, orang yang baru saja ia temui.
"Ehm... Sepertinya tidak," jawabku ragu. "Aku tidak bertatap muka dengan mereka, jika itu yang kau maksud. Tapi entah, jika mereka melihatku dari jauh," suaraku sedikit bergetar.
James menghela nafas. Suaranya cukup berat seakan ia berusaha mengeluarkan benda besar yang menghambat saluran pernafasannya.
"Sebelum masa 3 hari usai, kau tidak bisa kembali kesana. Mereka pasti masih berpatroli. Jadi, sebaiknya kita ke rumahku saja," James memutuskan tanpa meminta persetujuanku. Ia menatap lurus ke depan, seakan sangat yakin dengan tujuannya.
"Apakah kau keberatan? Apakah ada hal yang harus segera kau kerjakan?" James memandangku. Kali ini nada suaranya lebih lembut.
"Tidak!" Jawabku tanpa ragu. Tentu saja tidak. Aku toh hanya butuh menjauh sementara dari keluargaku. Evelyne pun belum tahu mengenai rencana kunjunganku. Jadi kurasa tak ada salahnya memulai petualangan baru. Lagipula sepertinya aku akan menemukan banyak hal yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Saat ini saja, aku masih kaget, mengetahui bahwa aku bukanlah manusia seperti Evelyne dan Jeremy dan teman-temanku yang lain seperti yang selama ini kukira.
"Tidak untuk yang mana?" James bertanya untuk memastikan. Kali ini seringai tipis terbentuk di kedua bibirnya.
"Tidak, aku tidak keberatan. Dan, tidak, aku tidak punya hal apapun yang harus segera kukerjakan. Aku sepenuhnya bebas," jawabku dengan nada puas.
"Bagus." James menganggukan kepalanya, sebagai persetujuan atas jawabanku.
"Rumahmu... Jauhkan dari sini?" tanyaku. "Tidak juga. Aku dan istriku sering berpatroli di perbatasan. Jadi, demi alasan praktis kami memutuskan tinggal berdampingan dengan Laine." James menjawabku sambil matanya memandang jauh ke depan, ke barisan pagar hijau yang menjulang di seberang sungai. Ya, sungai... tanpa terasa kami sudah mencapai tepi sungai berair jernih yang tidak terlalu lebar.
"Laine? siapa Laine? apakah dia tinggal di sekitar sini?" tanyaku sambil terus melangkah menuju sungai.
"Stop Kea! jangan melangkah lebih jauh. jangan terkecoh dengan ketenangan arus sungai ini. Dia bisa menelanmu hidup-hidup."
Aku terperangah ngeri mendengar ucapan James, namun juga tak yakin. Sungai ini begitu tenang, meski ya harus kuakui disini terasa sedikit aneh... terlalu hening. Ya itu dia, keheningan yang janggal.
"Apa maksudmu, James? kurasa sungai ini tidak terlalu dalam. Aku bisa melihat jelas bebatuan yang ada di bawahnya."
"Lihatlah!" seru James, sambil menendang sebongkah kecil batu ke dalam sungai.
Tak lama aku mendengar gemuruh yang datang dari sebelah kiriku. Itu seperti suara ratusan sepeda motor besar yang dikendarai geng motor, yang datang untuk tawuran. Aku seakan pernah mengalaminya, berada si tengah kepungan motor-motor besar yang meraung-raung. Lalu tiba-tiba saja pemandangan menakjubkan terlintas di hadapanku.... gulungan air yang tingginya melebihi tinggi pepohonan di sekitarnya datang bagaikan rombongan thoroughbread yang berlarian di sabana karena dikejar cheetah. Tidak tidak... mungkin lebih tepat seperti serombongan mammoth yang panik dikejar smilodon.
Aku ternganga kala ombak raksasa itu melintas di hadapanku dan akhirnya menjauh hanya dalam hitungan detik. Dan aku masih diam mematung hingga James menyentuh bahuku. "Miss... kau tidak apa - apa?"
"Ah... ah ya... aku... baik baik saja, jawabku tak yakin."
"Jjaames... aapa itu tadi?"
James tertawa alih alih menjawab pertanyaanku. "Oh maaf maaf, miss... aku tidak bermaksud menertawakanmu. Tapi wajahmu sungguh lucu." permohonan maaf yang terlihat tidak tulus karena James masih menyisakan tawa di matanya.
"Itu adalah salah satu mekanisme pertahanan yg dimiliki Laine untuk melindungi wilayah perbatasan yang menjadi tanggungjawabnya." James menjawab dengan ekspresi kagum yang tak ditutupi.
Tak lama kulihat ia menggumamkan sesuatu dan menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. "Ayo ikuti aku. sekarang sudah aman. kita sudah mendapat izin melintasi perbatasan."
Jika cerita tentang seorang utusan Yang Maha Kuasa yang menyebrangi dasar lautan yang pernah kubaca disalah satu buku koleksi perpustakaan The Rinks masih kuanggap fantasi, maka apa yang ada dihadapanku sekarang kuyakin bukan mimpi. Ombak raksasa yang menakjubkan itu nyata, begitupun tiang batu yang muncul begitu saja sebagai pijakan setiap kami melangkah melintasi sungai hingga ke tepi seberang.
James masih menggenggam tanganku dan menarikku menuju barisan pepohonan. Kami berjalan mengikuti alur yang dibuat oleh sekumpulan cendawan yang berpendar indah di atas tanah, seolah-olah itu adalah lampu penunjuk jalan yang biasa ditemui di perkotaan. Kami berjalan perlahan. Tidak, sepertinya aku yang berjalan perlahan karena mataku sibuk melihat ke kanan dan ke kiri terpesona oleh pendar warna warni mungil yang meliuk bagai bayi anaconda. Sementara James dengan sabar mengiringiku.
"Miss... kita harus bergegas. Sebentar lagi gelap." James mengembalikan kesadaranku.
"Ah ya, baiklah." Bergegas kami mempercepat langkah. Aku mengekori kemanapun James melangkah. Hingga tak lama kemudian, pepohonan di depanku menghilang berganti dengan padang rumput dibawah naungan langit yg mulai temaram.
James melepaskan genggamannya. Syukurlah, aku merasa kurang nyaman saat mengetahui ia sudah beristri. Apa yang akan dipikirkan istrinya nanti? Semoga ia tak salah paham dengan kebaikan suaminya.
"Selamat datang di Rumah kami, Miss Kea," James menatap jauh ke seberang padang rumput dengan mata sendu nan berkilau. Jenis tatapan yang bisa dikategorikan Evelyne sebagai tatapan penuh kerinduan.
"Rumah?" kernyitku.
"Ya, kita sudah sampai di halaman rumahku," James melanjutkan langkahnya semakin cepat.
Dan dia benar. tak berapa lama, dikejauhan terlihat cerobong asap berbentuk tabung berlapis bebatuan alami, yang menempel pada alas berbentuk perisai bundar, yang tertutupi sulur Liana berseling Bougenville putih. wow... satu kata untuk itu, daebak! ups... koleksi kata yang entah berasal darimana.
Kami berjalan melintasi padang rumput tanpa kesulitan. Ada jalan setapak yang terbuat dari susunan batu-batu kecil berpagar bunga bakung. beberapa tiang kecil dengan sebuah kotak kaca tergantung melindungi lilin bercahaya redup berjejer dengan jarak yang sama.
"James...!" suara seorang perempuan menyambut kami. Ia seorang perempuan cantik semampai berkulit cremy. Rambut hitam panjang bergelombangnya bergerak bagaikan ombak tertiup angin. Latar belakang rumah berdinding bebatuan alam warna warni dengan pintu mahoni marun bundar membuat pemandangan di depanku semakin terlihat eksotik.
Maya
Melihat mereka berpelukan berlanjut saling tatap dengan binar penuh kerinduan bukanlah hal aneh untukku. Sepanjang eksistensiku di dunia ini, aku telah dikelilingi oleh 3 pasangan yang tak jengah menunjukan kemesraan mereka dimanapun. Tak sengaja aku memutar bola mataku mengingat mereka, keluargaku tersayang.
"Oh... James, siapa nona cantik ini?" perempuan yang kuyakin adalah istri James, melepaskan pelukannya dan mengarahkan pandangannya padaku.
"Miss Kea, maaf aku tak bermaksud mengabaikanmu," James berkata dengan sedikit tersipu.
"Ini istriku, Maya."
"Halo Maya. Senang bertemu denganmu. Aku Kea, Kea Archey." Tanpa ragu aku memperkenalkan dirimu sambil mengulurkan tangan.
"Oh hai Kea. Senang sekali rasanya mendapatkan kunjungan tak terduga seperti ini. Dan yah... kau sudah mengetahuinya, aku Maya." Tangan Maya terulur menyambut tanganku. Dan ketika kedua tangan kami bersentuhan, reaksi Maya sungguh tak terduga. Tiba-tiba saja ia diam mematung sambil masih memegang tanganku. Matanya tertuju padaku, tapi sepertinya bukan melihatku. Seolah - olah ia melihat jauh menembus kepalaku. Kenapa... ada apa...