
Sejak aku mendapati keluargaku berkumpul di perpustakaan tanpa diriku, selalu saja ada yang menemaniku kemanapun aku pergi, kecuali saat aku berada di dalam rumah.
Mama juga menerapkan aturan konyol, aku tidak diizinkan membawa satupun teman untuk berkunjung ke rumah, dan kehilangan kesempatan untuk memamerkan kue-kue lezat buatan savanah dan ibunya. Tidak juga Evelyne, teman sebangkuku sejak kelas 1 hingga sekarang kami sudah akan mengakhiri masa kebersamaan kami di kelas basic. Padahal aku sudah beberapa kali mengunjungi rumah evelyne. Rumahnya jauh lebih kecil dari rumahku, mungkin hanya seluas ruang keluarga kami. Berlantai dua dengan beberapa kamar yang hanya seukuran sepertiga kamarku. Tapi tetap saja aku menyukai kamarnya, rumahnya dan juga senyum ramah Mrs. Stanford, ibu Evie. Hanya satu yang tidak kusukai jika berkunjung kesana, sesosok anak jahil yang selalu tersenyum sinis meremehkanku dan membuatku dan evie menjerit-jerit ketika ia menakut-nakuti kami dengan topeng bertaringnya, Jeremy Stanford. Sebenarnya ia anak laki-laki yang cukup tampan. Memiliki mata biru yang indah seperti Evie. Rambutnya sedikit ikal, dan dibelah tengah dengan poni yang lebih panjang namun selalu rapi. Tak akan ada yang menyangka jika Jeremy ternyata anak yang begitu usil. Tak seperti pembawaannya yang tenang di sekolah, di rumahnya ia selalu ribut, berteriak, menghentak-hentakkan kaki, bermain bola basket di dalam rumah, bahkan menyetel televisi keras-keras. Mrs. Stanford bahkan harus berteriak ketika memanggil evie dan aku untuk makan malam.
Sekali waktu bahkan Jeremy pernah menjegal kakiku hingga aku jatuh dan berteriak.
Tak butuh waktu lebih dari satu helaan nafas untuk membuat para pengawalku bermunculan dari segala arah, membuka paksa pintu rumah keluarga Stanford dan langsung mengelilingiku dengan sikap protektif. Nat langsung menghampiri dan memindai keadaanku.
"kau tak apa-apa Kea? " tanyanya dengan ekspresi bingung dan khawatir. "Tidak kok, " jawabku tak kalah kaget melihat jumlah pengawalku yang cukup banyak. "Lalu, kenapa aku mendengar teriakanmu? " tanya Nat. Suaranya sedikit bergetar dan tatapannya mulai memindai keadaan di sekeliling kami sebelum akhirnya berakhir pada wajah Jeremy yang membeku. "Aku... Aku hanya kaget, Nat. Aku tersandung, "jawabku. Tatapanku berpindah pada mrs. stanfords dan Evie yang saling berpelukan di sudut ruangan. "Oh, Nat, kau membuat takut teman-temanku," ucapku sambil berjalan menuju evie. "Mrs. Stanford, evie, perkenalkan... ini Nathan, kakakku, dan... Ehm... Teman-temannya," ucapku ragu. "mereka memang sedikit berlebihan. Kumohon maafkan kami, mrs. Stanford." Tak ada reaksi. Ibu dan anak itu tetap mematung di tempatnya, hingga sebuah suara memecah keheningan. "Huh, dasar anak manja. Jadi kemana-mana kau selalu ditemani pengasuhmu, ya. " pertanyaan yang lebih tepat disebut tuduhan itu diucapkan oleh Jeremy yang langsung mendapatkan balasan dari Nat. "jaga ucapanmu, anak muda. Kea bukan anak manja. Hanya saja, ia bukan anak biasa - biasa saja sepertimu. Tunjukanlah sedikit rasa hormat," suara Nat tenang, datar namun mengancam.
"Kea, ayo kita pulang, "Ujar Nat sambil membawaku ke sisinya. "Aku pulang, ev. Sampai ketemu Senin nanti di sekolah, " pamitku sambil berjalan terseok-seok menuju pintu, mengimbangi langkah lebar Nat yang membopong lenganku.
Malamnya kuceritakan kejadian itu pada Will. Dan iapun tertawa terbahak-bahak sangat lama, sulit berhenti. Bahkan aku bersumpah melihatnya mengeluarkan air mata.
"hahaha... Ya ampun, Kea. Hal itu tidak akan terjadi jika aku yang mengawalmu," ucapnya setelah tawanya mereda.
"Tapi Will, aku masih tak mengerti, mengapa kalian harus mengawalku sih. Tak cukupkah aku ikut kelas Mr. Juno setiap Rabu, sampai badanku mau patah rasanya. Aku juga sudah lumayan mahir sekarang. Pertemuan terakhir kemarin aku berhasil mengalahkan Kate, si ratu pertandingan," ujarku berapi-api. Kelas beladiri yang kuikuti seminggu sekali itu memang membuat tubuhku kaku setiap malam seusai latihan. Tak seperti kelas renang di setiap sabtu pagi. Meski berjam-jam lamanya, berenang tidak pernah membuatku lelah.
"Mengawalmu itu memang diperlukan, Kea sayang," kali ini Will mengusap pipiku lembut. "Kau tak mau kan mama sampai harus berada berbulan-bulan di kamarnya karena tak sanggup menanggung rasa sedih, dan pastinya kau juga tak mau melihat papa mabuk-mabukan, atau Nat menggila dengan kayu-kayunya. Bahkan Bob kehilangan minat untuk mencari tanaman obatnya meski persediaan di laboraturiumnya sudah habis," ucap Will dengan nada suara yang entah mengapa terdengar sangat sedih. Aku menatapnya bingung. Tak sekalipun aku pernah melihat papa mabuk, atau mamaku menangis. Kalau Nat yang menggila dengan kayunya, well... Gila yang seperti apa? Apakah termasuk melewatkan jam makan pagi, siang, dan malam, serta waktu mandi hanya untuk menyelesaikan sebuah pahatan mungil dengan detail sangat rumit? Dan Bob, tidaaak... Rasanya sulit membayangkan Bob kehilangan minat terhadap tanaman obat. "Jika di hadapannya ada wanita cantik sangat seksi dan sekeranjang tanaman obat langka, taruhan dengan seluruh koleksiku, Bob akan memilih keranjang tanamaan itu," begitu dulu Will pernah berkata. Aku tersenyum mengingatnya.
"Bagaimana denganmu, will. Apa kau tidak sedih jika sesuatu yang buruk menimpaku? " tanyaku tersenyum mengodanya. "Aku? Aku cukup menjadi bayangan bagi si jalang berambut merah itu sambil menunggu kesempatan untuk menculik dan mengurungnya di suatu tempat tanpa emas dan perak sedikitpun, hingga ia mati lemas. Bahkan itu pun tak cukup. Ooh, aku pasti akan menemukan cara lain untuk menyiksanya, demi kepuasanku," ucap Will menyeringai. Ekspresinya dingin dan kejam. Aku menatapnya, bingung. "Apa maksudmu, Will? " siapa jalang yang kau maksud? " Kau mengatakan seolah-olah, dia telah melakukan sesuatu yang buruk padaku, " tanyaku penasaran. Will tergugup, lalu cepat tersadar. Ekspresi wajahnya normal kembali. "Oh, tidak Kea. Itu hanya khayalanku saja," ucapnya sambil mengibaskan lengan dan mengerling padaku. "Yang ingin kusampaikan adalah, pokoknya kau turuti saja keinginan papa dan mama sementara ini, oke. Jika mereka merasa yakin kau aman, kurasa para pengawalmu itu harus secepatnya mencari pekerjaan baru, hehehe... " Will terkekeh sambil mengacak rambutku. "istirahatlah. Kau pasti lelah. Besok pagi jangan sampai terlambat bangun dan membuat pelatih renangmu marah, " sambungnya. Ia mengecup keningku sebelum meninggalkanku dalam rasa penasaran yang semakin nyata. Ada sesuatu yang aneh. Tentu saja aku tidak tahu apa, dan pasti butuh waktu cukup lama untuk mengetahuinya. Itupun jika aku sangat bertekad. Aku harus mencari tahu.