Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 4



Setelah aku mampu membaca, aku banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan keluarga kami. Tapi sepertinya lebih tepat jika kukatakan, perpustakaan papa. Karena selain papaku, tak pernah sekalipun kulihat anggota keluargaku yang lain, memiliki ketertarikan untuk mengunjungi perpustakaan untuk membaca, kecuali jika ada pertemuan khusus.


Papa biasa menghabiskan waktu senggangnya, yang mana jarang ia miliki, dengan membaca buku. Tapi, berbeda denganku, papa lebih senang membaca buku-buku politik, bisnis, dan strategi dan semacamnya. Jenis buku yang biasanya kuhindari. Untungnya, di perpustakaan kami buku-buku disusun berdasarkan genre. Buku-buku favouritku takkan kutemukan berada satu rak dengan buku-buku yang papa sukai.


Suatu ketika, aku pernah bertanya padanya, “Dad, apakah semua buku-buku itu milikmu?”


“Oh, tidak sweetheart. Tidak semuanya. Hanya beberapa rak saja buku yang benar-benar milikku,” jawabnya sambil tersenyum. Matanya akan membentuk garis tipis dibalik kacamata baca yang membingkai wajah tampannya ketika ia tersenyum. “Lalu, buku-buku yang lain itu, novel-novel itu, apakah milik mama?” tanyaku lagi. Aku berpindah duduk semakin mendekat padanya.


“Kau kan tahu, mamamu lebih suka membolak-balik majalah-majalah dengan banyak gambar-gambar indah, dibanding buku yang hanya berisi kata-kata,” papa menjawab sambil menggelengkan kepala. Mungkin ia membayangkan mama yang sedang membaca buku, lalu menyadari bahwa hal itu mustahil. Aku tersenyum membenarkan perkataannya.


Kakak-kakakku, hemmm ya, Bob bisa jadi. Ia senang membaca buku-buku bertema sains. Dan kadang, bahkan ia membawa beberapa buku tersebut ke laboratorium kecilnya “sebagai referensi”, begitu dia menyebutnya. Tapi novel? Sepertinya tidak.


“Mungkinkah buku-buku itu milikku, dad?” tanyaku menduga-duga.


“Tentu saja itu milikmu, sayang. Siapa lagi yang begitu menyukai novel dan berbagai kisah fantasinya selain kau,” jawab papa, melirikku sekilas sambil kembali menekuni bacaannya.


“Berarti, kau memang sengaja membelikanku novel-novel itu agar bisa kubaca ketika aku sudah pandai, dad? Perpustakaan dan buku-buku itu sudah ada sejak ketika aku masih sangat kecil,” ucapku sambil mengangkat kedua tanganku seakan-akan hampir ditangkupkan.


Papa terperanjat kaget, tapi kemudian cepat menguasai ekspresi wajahnya kembali. “Oh iya, karena daddymu ini tahu apa yang akan menjadi kesukaanmu,” papa tersenyum menatapku, tapi senyum itu tak sampai ke matanya.


“Kau tahu, Savanah sedang membantu ibunya membuat panacotta. Apa kau tidak mau bergabung bersama mereka?” papa mencoba mengalihkanku. Dan aku tahu, tak seharusnya memaksakan keberuntunganku. Akupun segera melesat ke dapur. Aroma harum strawberry dan vanilla telah memenuhi setiap celah kosong di dapur kami.


Savanah adalah gadis manis berkulit hitam dengan mata cemerlang dan senyum yang menawan. Pembawaannya yang ceria membuatku betah berlama-lama bersamanya.  Savanah baru beberapa tahun lalu menjadi bagian keluarga kami,  membantu ibunya di dapur dan terkadang membantu mamaku merawat kebun bunga,  yang menyuplai bunga - bunga indah ke toko bunga di Silica.


Aku sangat penasaran mengapa Savanah seperti juga mamaku sangat menyukai bunga.  Bukannya aku tak menyukai bunga.  Hanya saja aku lebih menyukai bunga yang masih hidup,  dan berada di atas tanah,  bergoyang-goyang tertiup angin dan harum semerbaknya  menyeruak kemana-mana ke seluruh bagian rumah kami.  Mengapa bunga - bunga itu harus dipotong dan dimasukan ke dalam pot-pot atau dibungkus dengan kertas berwarna-warni?


Mama beberapa kali mengatakan padaku,  jika bunga-bunga itu memberikan ketenangan,  membantu mengendorkan syaraf yang tegang dan menghilangkan penat.  Aku hanya mengernyit saat itu,  tanpa dapat memahami apalagi membantah ucapannya.  Dan nyatanya mamaku memang sangat pandai mengontrol emosi dan menenangkanku kapanpun aku merasa gelisah.  Tapi terkadang ia pun menangis.  "Sesekali kau pun butuh menangis,  Kea.  Menangis bukan berarti lemah. Seringkali menangis adalah caramu mengungkapkan perasaan. Menangis saja jika kau ingin menangis, itu akan membantu melegakan hatimu," begitu ucapannya yang selalu kuingat.  Entahlah,  apa maksudnya.  Yang pasti,  sampai hari ini,  aku belum pernah merasa harus menangis.


"Banyak sekali panacota yang kau buat," ucapku membalas sapaannya. Dalam hati aku menghitung jumlah panacota yang telah ia pindahkan ke piring saji.


Setelah aku pandai membaca, berturut turut kemampuanku berhitung, mengenal warna dan bermain musik, menyusul muncul begitu saja, tanpa pernah kupelajari sebelumnya. Aku hanya tiba-tiba bisa.



"Hari ini Nyonya Suzan akan kedatangan tamu dari Silica, jadi kami mempersiapkan hidangan jamuan untuk minum teh nanti. Apakah Anda mau mencobanya, Nona?" Savanah menyodorkan piring berisi panacota yang berlumuran saus strawberry kental, benar benar membuatku meneteskan air liur. Dengan mata berbinar aku mulai memotong panacota menjadi bagian bagian kecil sebelum memakannya.


"Nona Kea, apa yang Anda lakukan. letakkan pisau itu pelan-pelan, Nona." Joan yang baru saja memasuki dapur tiba tiba berteriak sambil pelan pelan menuju ke arahku dengan tangannya terjulur seakan ingin mengambil panacota yang sudah separuh kumakan.


"Oh, ya ampun..." Savanah yang baru sadar dengan apa yang dilihatnya, mendelik ke arahku sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Mengapa semua orang berteriak padaku, tidak bolehkah aku menghabiskan panacota ini.


"Apa kau mau, Joan? ini sungguh lezat. ooh, Savanah... kau memang hebat. " aku tak peduli dengan tatapan mereka. Kalau Joan mau, ia bisa meminta bagiannya pada Savahan, aku tak akan membagi milikku. Sambil menikmati lembutnya panacota berlumur strawberry yang meleleh dimulutku, aku memain-mainkan pisau di tanganku.


"Nona, letakkan pisaunya, nona. Nanti Anda terluka." Kali ini Joan sudah ada di sampingku. Tangan kanannya terjulur ke arahku. "Berikan pada saya, nona..." perlahan ia menyentuh tanganku yang memegang pisau dan melepaskannya dari genggamanku.


"Joan, kau mengambil pisauku Bagaimana aku memotong panacota ini?" tanyaku tak mengerti.


"Anda bisa menggunakan sendok, Nona." Pisauku kini sudah berpindah tangan. Kelegaan terpancar dari sorot mata Joan, seakan akan bahaya sudah berhasil disingkirkannya dariku. Memang apa bahayanya memegang pisau? Aku memegang dan menggunakannya senyaman aku mengunakan sendok. Sesekali bahkan pisau itu kuputar putar mengelilingi jari jemariku. Itu hal yang menyenangkan.


Aku bahkan pernah diam diam memainkan pisau milik Nat yang selalu ia selipkan dibalik sepatu bootnya. suatu ketika sepertinya ia lupa dan meninggalkannya begitu saja di pekarangan belakang rumah kami. Aku begitu senang saat itu, Pisau itu ramping dan runcing, nyaris memenuhi telapak tanganku. Dan tiba tiba saja tanganku refleks melemparkannya sembarangan dan menancap di batang pohon tak jauh dari tempatku berdiri.


Dan tiba tiba juga Nat sudah berdiri mematung di sebelahku. Matanya memandang ke arah pohon yang sudah tak sengaja kulukai. Apakah ia marah?