Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 12



Aku tak mendengar apa-apa lagi. Suasana menjadi hening.  Hanya ada hembusan angin menerpa.  Tubuhku terasa terangkat, seakan - akan ada yang menarikku demikian cepat,  menembus terowongan gelap yang panjang. Hingga aku terdampar di suatu tempat, keras, namun terasa nyaman.


Kukerjap-kerjapkan mataku, silau karena matahari yang bersinar lembut.  Reflek aku mengangkat tanganku untuk menghalangi sinar matahari dari wajahku.  Sekelilingku terasa sunyi. Aku terduduk di sebuah padang rumput luas.  Hanya ada beberapa pohon saja disini,  salah satunya ada di dekatku.  Kemana barisan pohon-pohon yang demikian banyak dan rapat yang sebelumnya kutemui?


"Ada apa,  Ann? " sebuah suara laki-laki membuatku terlonjak, berdiri otomatis. Aku mundur beberapa langkah,  dan kembali dikagetkan oleh pemandangan di belakangku saat aku menoleh.  Tebing, jurang,  dan aliran sungai yang mengalir di bawahnya, bagaikan seekor anakonda yang sangat panjang yang meliuk-liukan tubuhnya ketika berjalan. Tenang,  teratur,  tak bersuara.


"Ann,  sayang, kau tak apa-apa? " suara itu lagi.  Kutolehkan kepalaku ke asal suara,  dan lagi-lagi,  untuk kesekian kalinya aku terkejut.  Berdiri di hadapanku,  seorang pemuda luar biasa tampan.  Lebih tampan dari Sanders yang diidolakan Evelyne atau Pat Robbinson, seorang penyanyi yang beberapa minggu terakhir ini menjadi bahan gosip terheboh diantara teman-teman sekolahku.


Pemuda itu mendekat ke arahku.  Aku tak bisa mundur lagi,  kecuali berniat meluncur ke bawah ke dalam pelukan sungai,  itu pun kalau beruntung. Basah,  dan terseret arus tanpa bisa melawan.  Lebih parah lagi kalau bukan air yang menyambutku,  melainkan kerasnya batu-batu tajam yang akan mengoyak tubuhku tanpa ampun.


"Anna,  kau kenapa? " pemuda itu memegang kedua tanganku dan membawanya ke dadanya.  Aku menatapnya bingung.  Mata biru muda itu juga menatapku bingung.  Rambutnya yang sewarna emas pucat tertiup angin.  Aku bisa memastikan kalau pemuda ini bukan salah seorang siswa di sekolahku.  Karena memiliki rambut panjang sepunggung,  tidak diperbolehkan.  Rambutnya terikat  ke belakang,  lebih tepatnya terkepang rapi.  Kulit pipinya putih sedikit kemerahan,  kuduga karena efek sinar matahari.


Alis coklatnya terangkat menandakan adanya pertanyaan yang belum terjawab.  Matanya menghujamku. Kuputuskan untuk menggelengkan kepalaku, alih-alih menjawab dengan suaraku.  Tak lama ia menyunggingkan senyum menggunakan satu sisi bibirnya.  Apakah hati yang sedang terpana bisa meloncat keluar?  Kurasa hatiku bisa.



"Anna,  kau tiba-tiba saja bangun.  Kupikir ada hewan kecil nakal yang menggigitmu," ucapnya masih sambil tersenyum.  Mama,  tolong jangan bangunkan aku jika ini hanya mimpi.


"Ayo Ann,  kita pulang.  Sebentar lagi waktunya makan siang.  Will, Laura dan kakak-kakakmu yang lain pasti tak sabar menunggu," ucapnya lagi sambil menggandeng tanganku dan membawaku menjauh dari tepi jurang.


Oh,  bagaimana ia mengenal Will?  Dan,  mengapa ia memanggilku Anna?  Will juga pernah memanggilku Anna dalam mimpiku,  begitu juga dengan gadis bermata kecil.  Apakah yang ini juga mimpi?


Belum sempat aku memikirkan kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku tadi, tubuhku kembali tersedot ke dalam terowongan gelap yang sebelumnya kulalui.  Aku menggapai-gapai, tak rela kehilangan tangan hangat yang menggenggamku tadi.  Apa ini?  Berani-beraninya apapun itu mempermainkanku.


"Kea... Kea... Kau sudah sadar,  sayang? " suara lagi.


"Kea...  Kau mendengarku? "


"Apa ia sudah sadar? "


"Luka-lukanya sudah sembuh sepenuhnya. "


"Mengapa ia belum membuka matanya? "


"Apa ada sesuatu yang terlewat,  Sean? "


kali ini suara-suara.


Rasanya ingin langsung kujawab suara-suara yang sudah tak asing lagi itu. Sean, aku kenal nama itu.  Ya,  itu dokter Sean.  Mengapa ia disini?  Siapa yang sakit?


Sebenarnya aku ingin segera membuka mataku,  ketika tiba - tiba kudengar seseorang bertanya,  "Bagaimana dengan tamu kita? " pertanyaan yang langsung dijawab dengan nada panik oleh mama.  "Bawa dia pergi,  Will.  Mereka belum boleh bertemu. "


"Tapi,  ma... "


"mamamu benar,  Will.  Belum saatnya.  Kita masih harus bersabar.  Dia masih harus menunggu," kali ini suara papa.


"Baiklah,  meski aku tak menjamin kalau dia memiliki kesabaran sebanyak itu untuk menunggu, " jawab Will.


Apa sih yang mereka bicarakan.


Kuputuskan untuk menunda membuka mataku.  Siapa tahu akan ada informasi lebih yang bisa kudapatkan. -setidaknya cara ini berhasil ketika aku masih sekolah.  Berpura-pura tertidur,  sehingga anak-anak di sekitarku tak sungkan membicarakan hal-hal rahasia sekalipun.  Dengan cara itulah,  aku mengetahui kalau Laudya sudah tidak lagi virgin.  Ups...  Atau Jack yang sukarela menjadi bodyguardku bersama 2 kawannya,  ternyata menyukai miss. Nina,  guru Bahasa Inggris kami.-  Tapi setelah beberapa saat,  hening.  Satu per satu mereka meninggalkan kamarku.  Hemmm...  Bagus juga, karena aku perlu berpikir. Sendirian.


Pertanyaan terbesarku adalah,  Anna.  Siapa Anna?  Dan apa hubungannya denganku,  sehingga nama itu kerap kali hadir dalam mimpiku?


Yang kedua,  siapa pemuda dalam mimpiku?  Aku masih belum yakin apakah itu mimpi atau nyata.  Yang pasti, ia mengenal kakak-kakakku. Dan yang ketiga,  bagaimana caranya aku bisa berada di kamarku?  Terakhir kuingat aku jatuh mencium tanah di hutan,  lalu tiba di tebing bersama pemuda itu.  Dan tak ada satu orang pun yang mengetahui kemana aku pergi.  Lalu,  bagaimana caranya mereka menemukanku?