
Kea
Cerita Maya tentang apa yang ia lihat sebagai masa laluku tak dapat begitu saja kupercaya. Bagaimana bisa aku pernah bersama dengan James sebelum ini? Kami baru saja bertemu dan berkenalan belum sampai sehari. Tapi Maya menceritakannya tanpa keraguan, meski beberapa kali aku menangkap semburat sedih di wajahnya.
"Ehm... Maya, aku sungguh ingin mempercayaimu, tapi aku..."aku menggantung kalimatku. Entah apa yang harus kukatakan pada Maya dan James, bahwa aku merasa semua ini tidak masuk akal? Tapi, apa motifnya Mereka melakukan semua ini?
"Tak hanya dirimu, miss... Bahkan James dan aku pun masih belum sepenuhnya percaya. Jika saja kami tidak mengenal keluargamu, terutama ayahmu, aku akan menganggap kekuatanku mulai mengalami distorsi. Yeah, itu bisa saja terjadi meski sangat jarang."Maya berjalan perlahan kembali ke tempat ia duduk sebelumnya.
Tiba - tiba terdengar suara gagak berkoak di atas atap. Aku terlonjak kaget, begitupun James. Tapi bukan karena kaget, melainkan karena bergegas.
"Maya, aku harus memenuhi panggilan."James berdiri dan menghampiri istrinya, memeluknya dan berpamitan. "Aku segera kembali."
James menganggukan kepalanya ke arahku. "Miss, Anda bisa beristirahat di rumah ini. Anda pasti lelah. Maya akan menemani dan memenuhi kebutuhan Anda. Aku harus pergi sebentar." James tak menunggu jawaban dariku. Ia berbalik, dengan cepat melangkah dan menghilang di balik pintu.
"Apa kau lelah, Miss?"Maya berbalik padaku setelah melepas kepergian suaminya.
"Tidak. Oh... Dan tolong panggil saja aku Kea, okey. Aku lebih muda darimu, jadi sangat aneh jika kau memanggilku begitu formal."
"Sudah seharusnya aku memanggilmu demikian, bahkan..."
"Tidak, Maya... Kumohon. Hanya panggil aku Kea, okey..."Kea mengerjap-ngerjapkan matanya seperti yang biasa ia lakukan jika ia sedang meminta sesuatu pada Evelyne atau Will.
"Ehm... Baiklah Kea, jika itu membuatmu nyaman."
"Ya, tentu saja. Itu membuatku nyaman."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Kau membutuhkan makan siang, Kea? Jika ya, aku akan segera menyiapkannya."
"Oh, tidak terimakasih, Maya. Kurasa sesekali melewatkan makan siang tidak akan membuatku mati, hehehe."Kea terkekeh dengan sarkasnya sendiri. "Ya... Keluarga kami memang terbiasa melakukannya di the Rink. Kau tahu, sarapan, makan siang, makan malam... Ibuku bahkan mengadakan jamuan tehnya sendiri setiap sore."Kea menggerak - gerakan tangannya seperti biasanya jika ia sedang bersemangat bercerita. Menceritakan tentang The Rink dan penghuninya selalu membuatnya antusias.
"Ah ya.... James pernah menceritakannya padaku. Itu karena di rumah kalian ada banyak pelayan." Maya menambahkan.
"Begitukah?" Kea mengernyit.
"Ya, sebagian karena itu. Tapi sebagian lagi karena orangtua dan kakak-kakakmu memiliki hubungan bisnis di Dunedin dan mereka seringkali harus menghadiri berbagai acara yang melibatkan ketiga waktu makan tadi." Maya menambahkan.
"Maya... Apakah kau keberatan jika aku meminta bantuanmu?" Kea berdiri dan berjalan ke arah Maya. Ia mendudukan dirinya di sebelah Maya, persis dimana James sebelumnya duduk.
"Tentu tidak, Kea. Jika aku sanggup, aku akan dengan senang hati membantumu. Bahkan jika aku tak sanggup pun kita akan mencari cara lain." Maya menangkupkan kedua tangannya ke tangan kanan Kea. "Kau tahu, Kea... Kau adalah satu-satunya teman James yang ia perkenalkan kepadaku, secara resmi." Kehangatan tangan Maya membuat Kea semakin yakin.
"Kau pasti sanggup, Maya. Bahkan kurasa, hanya kaulah satu-satunya yang dapat membantuku." Mata coklat madu Kea berbinar-binar. Harapan akan menemukan jawaban dari segala pertanyaannya kini semakin besar. Anna, teka-teki tentangnya akan segera terpecahkan.
"Maya, aku ingin kau membantuku..."
"Kea!"
Ah, tidak...suara itu ... suara yg sangat familiar, terdengar lega sekaligus gusar.
Will menemukanku. Bagaimana bisa? Bukankah James menggunakan jalur khusus untuk membawaku kesini?
"Will! Kau... Kau..." Ah, aku tak percaya.
"Kea, akhirnya aku menemukanmu." Will memelukku yang masih terduduk, tanpa permisi.
"Will, apa yang kau lakukan disini?" Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Tapi itu membuatnya semakin mempererat pelukannya.
"Ah, maaf. Maafkan aku Maya, aku masuk tanpa permisi." Akhirnya Will melepaskan pelukanku, setelah ia menyadari seseorang yang berada di sampingku.
Maya terkekeh melihat tingkah posesif kakakku itu.
"Tidak apa-apa, Komandan. Selamat datang di rumahku. Silakan, buatlah diri Anda senyaman mungkin." Maya berdiri berhadapan dengan Will.
"Saya akan mengambilkan teh untuk Anda, Komandan." Maya berjalan masuk ke bagian dalam rumahnya. Kurasa itu hanya alasannya saja untuk memberikan kami waktu berdua. Toh, teh yang tersaji di depanku ini masih banyak.
Will duduk di sofa satu dudukan di hadapanku. Ia rersenyum sangat lebar. Sementara aku menyilangkan kakiku dan bersedekap. Postur yang seringkali kupilih saat jengkel. Dan sekarang aku jengkel luar biasa.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Will!"
"Aku? Tentu saja untuk menemukanmu dan membawamu pulang. Mom dan lain-lain sangat khawatir, kau tahu?" Will memasang ekspresi serius di wajahnya. Namun tentu saja aku takkan tertipu. Matanya berkedut. Itu hanya berarti ia sedang menahan semburan tawa yang siap keluar dari bibir harajukunya itu.
"Hffph... Aku tak mau pulang!"
"Kau harus pulang, Kea!"
"Tak mau!"
"Harus!"
"Tak mau!"
"Ha..."
"Silakan diminum tehnya, Komandan. Maafkan hanya ini yang bisa saya sajikan." Maya datang menginterupsi apapun tingkah kekanakan yang tengah kami lakukan. Wajahnya datar seolah tak mendengar dan melihat apapun.
"Terimakasih, Maya." Will mengambil cangkir teh dari meja dan mulai menyesap isinya perlahan. Sungguh pencitraan, kakakku yang satu itu. Di rumah mana pernah ia minum teh dengan begitu.... Anggun?
"Maya, terimakasih telah menyambut adikku dan aku di rumahmu. Tapi sayangnya, kami harus cepat pergi. Ini sudah menjelang malam." Will meletakan cangkir tehnya tanpa suara. Sesuatu yang langka untuk kusaksikan.
"Dengan senang hati, Komandan. Sebenarnya Kea adalah tamu suamiku. Dan tamu suamiku pasti akan aku jamu dengan sebaik-baiknya." Maya tersenyum menatap Kea dan Will bergantian.
"Aku tidak mau pulang, Will. Dan kau tidak bisa memaksaku.." Masih dengan mode merengut dan merajuk andalanku, berharap Will akan luluh.
"Oh, tentu saja kau akan pulang bersamaku, adik kecil. Suka atau tidak." Will tetap dengan seringainya yang menyebalkan.
"Aku baru saja sampai disini, dan aku sangat lelah, Will. Kau tahu, setelah berlarian mengejar pencopet dan dikejar orang-orang misterius, aku harus berjalan begitu jauh seharian ini. Kakiku sakit." Jika merajuk tidak mempan, maka cara lain untuk membujuk kakakku adalah dengan menjadi objek penderita. Ha! Biasanya itu selalu berhasil.
"Komandan, kurasa sebaiknya kalian bermalam disini. Perjalanan menuju perbatasan Tenggara cukup panjang, dan aku rasa Kea harus memulihkan dirinya, kulihat telapak kakinya sedikit bengkak." Oh ya ampun, Maya, kau penyelamatku!
Sejenak Will ragu-ragu. Namun, seperti yang kuharapkan dari kakakku tersayang, ia pasti akan lebih mementingkan kenyamananku.
"Hemm... Baiklah. Kurasa kau ada benarnya, Maya. Kea bisa beristirahat malam ini. Besok pagi-pagi sekali kita akan pulang. Dan aku tidak lagi ingin dibantah!" Will menatapku tajam.
"Kea, ketika kukatakan istirahat, yang kumaksud adalah kau harus tidur!" Urgh... Will sangat mengenalku.
Aku malas menjawab kata-katanya. Setelah memutar mata, aku pun memalingkan wajah pada Maya saat wanita cantik itu memanggilku.
"Ayo, Kea... Kutunjukan kamarmu. Kami memiliki kamar tamu yang sangat jarang dipakai, namun selalu kubersihkan. Meski tak terlalu besar, semoga kau nyaman beristirahat disana malam ini. Maya berdiri dan menjulurkan tangannya padaku.
Aku menyambutnya dan mengikutinya dengan patuh. Sekali lagi, aku melirik Will, dan oh... Dia masih menatapku tajam. Menyebalkan. Rupanya dia sangat serius dengan kata-katanya.