Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 21



Salah satu keuntungan menjadi siswa di sekolah kejuruan adalah aku diijinkan untuk membawa kendaraanku sendiri. Sebenarnya bukan kendaraanku pribadi sih. Mobil putih ini adalah milik mama yang sudah jarang dipakai. Sekarang ini mama lebih banyak bepergian bersama papa dan perusahaan floristnya pun sudah menyediakan mobil khusus untuknya jika ingin melakukan perjalanan bisnis, tentunya dengan seorang sopir pribadi.


Tapi yang menyebalkan, sampai saat ini, aku masih juga harus dikawal oleh beberapa orang pria kaku yang sulit diajak kompromi, kemana-mana. Meskipun tidak secara terang-terangan. Sekarang mereka sudah lebih bisa membaur dan menanggalkan seragam hitam-hitam mereka yang membosankan.


Hari ini, adalah hari pertamaku sebagai siswa Otago. Sekolah kejuruan yang cukup memiliki prestasi dan prestise tersendiri di Dunedin. Tidak seperti di sekolah basic, jam belajar di Otago dimulai lebih siang. Untukku yang terbiasa bangun pagi, tentu hal itu bukanlah masalah. Dengan santai aku bisa berlama-lama di kamar mandi, memilih dengan santai pakaian yang akan kukenakan, meski tak banyak pilihan yang kusuka. Favouriteku tetaplah celana jeans dengan blouse yang agak feminine dan sneaker. Aku belum bisa memahami, mengapa gadis-gadis kebanyakan lebih memilih sepatu berhak daripada sneaker. Buatku, penampilan penting tapi kenyamananlah yang utama. Hanya butuh kurang dari 1 jam untuk persiapan pribadi, dan selesailah. Sebelum keluar dari kamar, kusempatkan melirik sekali lagi ke cermin besar di samping meja riasku. Pantulan seorang gadis berambut coklat panjang dengan tatapan mata yang sama coklat dengan rambutnya memandang kearahku. Baiklah Kea Maori Archey, saatnya memasuki duniamu yang baru.


Dari arah dapur, mama memanggilku. Rupanya papa dan mamaku belum berangkat. Papa tentu saja setiap dengan kegiatan paginya ketika berada di rumah, membaca koran dan bisa kupastikan saat ini tengah asyik dengan halaman olahraga. Bau roti panggang segera menyergap penciumanku. Mungkin sedikit sarapan akan baik untuk memulai hari ini.


“kau sudah siap, nak?” Tanya mama sambil menyodorkan setangkup roti panggang berisi telur dan keju.


“hem, yah… tergantung berapa skala kesiapan yang kau maksud, mom.” Kukunyah perlahan roti panggangku. Kejunya yang meleleh di mulutku menimbulkan sensasi asin gurih yang kusuka.


“kuharap kau dapat bersenang-senang disana, kea. Dan segera mendapatkan teman sebaik evelyne.” Mama tersenyum sambil menggenggam tanganku, memberi dukungan.


“mom, evelyne akan tetap merupakan teman terbaikku,” Ucapku. “kami bahkan sudah berencana untuk bertemu di liburan yang akan datang. Bagiku ia sudah seperti saudara perempuan. Mungkin sangat menyenangkan jika aku benar-benar memiliki seorang saudara perempuan,” Ucapku lirih.


Papa terbatuk-batuk, menutup tergesa koran pagi yang sedang ia baca dan meminum kopinya dalam sekali teguk. Aku sedikit merasa bersalah karenanya. Tentu saja kata-kataku tadi mempunyai maksud terselubung, dan sepertinya papa menyadarinya.


Tak ingin keceplosan dan melanggar janjiku pada Will, akhirnya aku pamit. Kuambil kunci mobilku dari gantungannya di dalam sebuah lemari kecil di lorong menuju pintu utama. Rupanya, disitulah mereka memindahkan kunci-kunci mobil kami setelah peristiwa yang kualami dengan mobil papa saat kecil dulu. Aku tertawa mengingatnya.


Sebenarnya hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk mencapai Otago dari rumahku, dengan kecepatan normal yang dapat ditempuh mobilku ini. Tapi, karena aku belum memiliki banyak pengalaman mengendarai mobilku sendiri, mobilku melaju sangat pelan. Aku berusaha untuk tetap berada di jalur sebelah kiri dan selalu waspada khawatir tiba – tiba saja muncul sesuatu di depanku. Belum lagi, jalanan menuju kota sedikit menurun dan berbelok-belok. Meskipun saat ini jalanan lenggang, dan memang selalu lenggang jika belum saatnya panen anggur. Boleh dibilang, rumahku cukup terpencil dan orang-orang lebih memilih melewati jalur lain yang meskipun lebih jauh memutar, tapi juga lebih datar dan nyaman untuk dilalui dibanding harus melewati rumahku.


Gerbang Otago terbuka lebar dan sepertinya aku akan kesulitan menemukan tempat parkir jika melihat banyaknya mobil yang mulai memasuki pekarangannya. Pelan-pelan kubawa mobilku mencari celah diantar mobil-mobil beraneka rupa, dan setelah sepuluh menit menelusuri, akhirnya kutemukan juga tempat yang pas untuk mobil kecilku ini. Tepat disebelah sebuah mobil silver yang kuduga keluaran terbaru dengan atap yang bisa ditutup dan dibuka otomatis. Mobil yang akan membuat Will segera melesat ke showroom. Bukan, bukan untuk membeli dan memilikinya. Kami empat bersaudara tidak suka membeli sesuatu jika tidak benar-benar kami butuhkan. Will adalah seorang kolektor yang gemar membeli barang-barang bagus kemudian menjualnya kembali jika ada yang menawar dengan harga yang ia sukai, dan itu biasanya jauh lebih tinggi daripada harga yang ia dapatkan ketika membelinya.


Dengan menggenggam jadwal kelasku hari ini dan sebuah denah, aku melangkah memasuki koridor otago yang terbuka. Inilah salah satu yang kusuka dari otago, ruang terbuka. Bahkan kelas-kelasnya pun memiliki jendela-jendela besar tanpa kaca yang langsung menghadap ke arah taman-taman dan beberapa kolam asri yang sejuk, bahkan di musim panas sekalipun seperti saat ini.


Tak butuh waktu lama untuk menemukan kelasku. Sebuah ruangan cukup besar dan langit-langit yang tinggi. Beberapa kursi kayu berderet rapi membentuk setengah lingkaran menghadap sebuah podium dengan sebuah papan tulis besar. Beberapa siswa sedang mengobrol santai ketika aku masuk. Aku memilih tempat duduk di baris tengah. Posisi yang belum pernah kucoba setelah sebelumnya selalu menempati baris akhir di kelas basic. Seorang siswa laki-laki dengan rambut sebahu dan berkacamata menyapaku.


“hai, aku Andres. Kau baru saja datang?” tanyanya. Entah apa ia sungguh tak tahu ataukah ia pura-pura tidak menyadari kedatanganku.


“ehm.. ya. Syukurlah tidak terlambat di hari pertama. Sepertinya kita termasuk siswa yang rajin ya,” candaku sarkatik. “aku Kea” aku menyambut uluran tangan Andres sebagai sopan santun, meski tidak terlalu antusias. Andres tertawa, “hahaha… kau benar, tapi taruhan, predikat itu tidak akan bertahan lama. Kau akan mulai sering terlambat dan membolos setelah terbiasa.” Oh, kuharap itu tak terjadi padaku. Bukan watakku untuk datang tidak tepat waktu atau mangkir dari jadwal. Tidak dengan pengawal-pengawal yang selalu memberikan laporan detail kepada orangtuaku.


Beberapa kelompok siswa mulai berdatangan dan memenuhi kelas. Beberapanya melambaikan tangan ke arah Andres. Mungkin mereka berasal dari sekolah basic yang sama. Andres membalas lambaian tangan mereka dengan cengiran lebar. “hai Josh, Ammie. Kea, itu teman-temanku, aku menyapa mereka dulu ya,” entah mengapa Andres merasa perlu meminta izinku. Tentu saja aku mengangguk mengiyakan, dan mengapa juga aku perlu memberinya izin. Aku tertawa sendiri menyadari situasi yang aneh ini. Ah, andai evelyne ada disini bersamaku, tentu aku tak perlu merasa sendirian sekarang.


“permisi, apakah tempat ini kosong?” seorang laki-laki tiba – tiba menginterupsi lamunanku.


“oh, iya. Sepertinya kosong,” jawabku ragu. Aku tidak tahu apakah Andres akan kembali. Tapi, meskipun ia kembali toh tidak berarti kursi itu sudah menjadi miliknya.


“maaf, apakah kau sudah memiliki novelnya?” tanya sosok yang kini berada di sampingku.


“novel?” novel apa yang ia maksud dan mengapa aku harus memilikinya?


“apa kau tidak melihat keterangan di jadwal kelasmu, miss?” suara itu… mengapa terasa tidak asing bagiku? Kutolehkan kepalaku ke arah samping, dan rasa kaget membuatku hanya bisa menatapnya tanpa bersuara. Wajah itu… wajah yang sangat mirip dengan seseorang yang pernah hadir dalam mimpiku beberapa minggu yang lalu. Wajah yang sulit untuk dilupakan atau diabaikan.  Wajah lembut tapi sangat maskulin, dengan mata biru yang berpendar-pendar bagaikan air laut di cuaca cerah, senyumnya pun sungguh serupa. Tapi, tidak mungkin mereka adalah orang yang sama. Aku bahkan tidak mengenalnya.


“miss?” tanyanya lagi. Membuatku sadar dari keterpanaan.


“oh, ya. Aku tidak melihatnya. Belum.” Kubalik lembar jadwalku. Sebelumnya hanya lembar pertama dan kedua saja yang kuperhatikan, dan lembar yang terakhir benar-benar kulupakan keberadaannya, dan itu membuatku kesal. Daftar beberapa buku tambahan yang wajib kumiliki dan kubawa di pertemuan pertama. Oh, semoga pengajarku mau mentolerir kecerobohanku kali ini.


Satu – satunya yang mengingatkan tempat ini pada sekolah lamaku adalah belnya yang mirip, hanya bel di Otago ini tidak senyaring bel di sekolah basic. Bel yang menandai dimulai atau berakhirnya sessi pelajaran untuk beralih ke pelajaran yang lain.


Seorang laki – laki setengah baya memasuki ruang kelas dengan membawa beberapa map dan buku. Sepertinya beliau seumuran dengan papaku. Hanya saja, rambut papaku masih sepirang rambut bob dan will, belum ada selembar rambut putihpun yang terlihat. Sementara sosok yang saat ini berada di podium kelasku, memiliki rambut hitam dengan beberapa garis putih yang tampak berpendar tertimpa sorot lampu.


Sesaat aku melupakan laki-laki yang duduk di sebelahku. Barulah setelah mr. Lewis meminta kami membaca synopsis dari salah satu novel yang ada di daftar, yang kebetulan tidak aku persiapkan, dan kebetulan lagi dibawa oleh laki-laki di sebelahku, dan ia menawarkan bukunya untuk kubaca, aku menatap lagi wajahnya. Ia memandangku sambil tersenyum. Dan ucapan terimakasih lirihku sama sekali berbeda dengan ucapan terimakasih yang diucapkan Anna dalam mimpi dengan ekspresi dan nada angkuh.


Novel yang sedang kami bahas ini adalah salah satu novel yang sudah pernah aku baca di perpustakaan rumah kami, dan itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Novel yang cukup menarik mengenai kehidupan para siswa di sebuah sekolah berasrama yang terlibat berbagai petualangan menegangkan melawan seorang tokoh antagonis yang sangat kuat. Dari banyak hal menarik dari novel ini, aku lebih tertarik kepada sang tokoh antagonis. Mengapa ia sangat terobsesi untuk hidup abadi, tak bisa mati, menjadi immortal? Meski harus kesepian, tanpa keluarga, tanpa orang – orang yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Apakah jika masa lalunya tidak suram, tidak dilahirkan dari seorang ibu yang hidup sengsara dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan ayah yang sama sekali tidak menginginkannya, maka ia bisa menjadi manusia biasa dan hidup penuh belas kasih? Mr. Lewis meminta kami untuk membuat tulisan mengenai hal menarik yang bisa diangkat dari novel tersebut, sebagai tugas akhir. Tidak biasanya seorang guru memberikan tugas akhir di awal pertemuan. Hemm, sepertinya benar yang Bob katakan, ada banyak guru yang menarik yang akan aku temui di Otago ini. Guru-guru yang kadang pemikirannya terlihat nyeleneh tapi efektif.


“bagaimana menurutmu?” laki-laki disampingku kembali mengajakku berbicara. “mengenai apa?” tanyaku alih-alih menjawab pertanyaannya. “tugas akhir mr. Lewis, apa kau sudah punya rencana?” tanyanya lagi. “hemm, sepertinya ada satu yang bisa kuangkat sebagai tema tulisan,” Jawabku.


“berarti kau sudah pernah membaca novel ini?”


“kau terdengar sangat yakin dengan rencanamu.”


“well, yeah. Aku pernah membacanya.” Lebih dari 2x tambahku dalam hati.


  “tokoh mana yang menurutmu paling menarik?” ia kembali bertanya. Kali ini aku tepat melihat ke arah matanya yang saat ini juga tengah menatap lurus kemataku. Belum pernah sebelumnya aku merasa gugup sekaligus senang seperti ini. Gugup karena ditatap begitu intens, dan seharusnya membuatku marah karena kami belum saling mengenal. Senang karena entah mengapa, sepertinya aku senang ia menatapku.


“Lord Darren sepertinya menarik”


“hemm, sungguh tak kusangka. Gadis manis sepertimu melihat seorang tokoh antagonis menarik?”    


Ugh… itukan pendapatku, berarti terserah padaku. Aku memang memiliki standar menarik yang cenderung berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan, dan itu sudah berlangsung sejak lama. Misalnya saja, dimataku sneaker lebih menarik dibanding heels. Jeans lebih menarik dibanding rok mini, tas canvas lebih kusukai dibanding tas kulit, dan aku lebih senang mengikat rambutku hingga tak perlu repot-repot kusibakkan ketika menulis, seperti teman-teman perempuanku di sekolah basic. Bahkan di sekolah basic dulu, dimataku tak ada satupun anak laki-laki yang cukup menarik, termasuk Jeremy. Jika bukan karena tingkahnya yang menciumku tanpa ijin dulu, belum tentu juga aku mengingatnya. Dan merasa bersalah karena ingkar janji, hanya karena aku tahu ia menyukaiku. Aku tak akan bisa menolaknya jika ia memintaku menjadi pacarnya, aku yakin itu. Tapi, aku juga tidak mau memaksakan suatu hubungan yang tidak aku inginkan. Itu kan sama saja dengan menipunya. Buatku, Jeremy lebih kepada seorang kakak, seperti Will. Apalagi aku bersahabat dengan adiknya, evelyne. Tentu akan sangat canggung jadinya nanti. Tidak enak rasanya menceritakan kisah percintaanku kepada adik pacarku… ugh. Dan evelyne pasti akan menuntutku menceritakan detail pertemuan kami, acara – acara kencan kami, hal remeh temeh mengenai hubungan kami. Aku harap Jeremy akan segera menemukan seorang gadis manis dan baik di Maumare. Setidaknya ia layak mendapatkannya.


“Aku Julian.” Laki-laki itu menyentakkan lamunanku.


“apa… oh ya. Aku Kea.” Ucapku sedikit tergagap, agak kaget dengan berubahnya tema pembicaraan kami.


“senang bertemu denganmu, kea.” Ucapnya lagi – lagi memamerkan senyumnya. “oh, apakah kau berencana untuk membolos di hari pertamamu?” tanyanya. Aku bingung, mengapa ia berpikir aku berencana membolos?


“apa maksudmu?” tanyaku


“Yah, kupikir kau berencana melewatkan kelas berikutnya. Karena yang lain sudah bergegas menuju TKP dan kelas berikutnya akan dimulai sebentar lagi. Sementara kau sepertinya belum mau beranjak dari sini.” Penjelasannya membuatku terlonjak kaget, spontan mengedarkan pandanganku ke sekeliling kelas yang ternyata sudah kosong.


“ooh,” segera aku berdiri sambil mengambil buku-buku dan memandang jadwal di tanganku. Kelas berikutnya, di Aula. Kelas gabungan untuk seluruh angkatan baru.


“maafkan aku, aku… aku…” entah apa yang membuatku sampai tak mendengar bel berbunyi, bahkan aku tak ingat apa perkataan mr. lewis setelah ia memberikan tugas akhir tadi. Aku benar-benar melamun.


Julian tertawa di sampingku. Ya ampun, bahkan cara ia tertawa pun membuatku terkesima.


“ayo, kita masih punya waktu dan akan sampai sebelum bel berikutnya berbunyi jika kita bergegas,” ajaknya padaku. Seperti kerbau dicocok hidung, aku pun menurut, mengikutinya.


Setengah berlari kami menuju Aula yang ternyata telah dipenuhi oleh para siswa baru yang masih sangat antusias mengobrol dan berkenalan satu sama lain. Julian menemukan tempat untuk kami. Tepat di samping sebuah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan pepohonan tinggi yang tidak begitu lebat tapi terlihat anggun. Angin musim panas yang kering bertiup semilir. Jika bukan karena suara riuh rendah yang memenuhi ruangan besar ini, tentulah akan mudah untuk tertidur disini… hehehe… setidaknya, untukku.


“apa rencanamu setelah kelas berakhir?” Julian kembali memulai pembicaraan denganku.


“entahlah, aku belum memikirkan rencana apapun.” Dan memang aku sengaja tidak berniat kemana-mana hari ini, begitu sampai rumah, aku akan memulai misiku berikutnya, mencari tahu sebanyak-banyaknya mengenai Anna. Mungkin hari ini aku akan nongkrong di dapur dan membuntuti Mrs. Anderson seharian. Mrs. Anderson sudah berumur melewati paruh abad dan sepertinya kandidat yang cukup bagus untuk kujadikan narasumber. Hehehe.


“sama sekali tak ada?” Tanyanya lagi.


“sampai saat ini aku sangat yakin jika aku belum memiliki rencana, tuan yang sangat penasaran.” Ucapku sedikit jengkel.


“hahaha… “ ia tertawa. Aku baru menyadari jika mata birunya akan berubah menjadi sebaris benang biru ketika ia tertawa. Rambut pirangnya dibiarkan memanjang hampir menutupi punggung. Penampilannya sungguh berbeda dengan laki-laki seumurannya kebanyakan. Aku yakin ia lebih tua beberapa tahun dariku. Malah sekarang aku tidak yakin jika ia adalah seorang mahasiswa baru. Jangan-jangan ia adalah seorang guru yang sedang menyamar, atau lebih parah lagi, ia salah seorang pengawal yang ditugaskan papaku untuk menjagaku.


“kalau begitu, maukah kau mengantarku berkeliling Silica?” tanyanya lagi.


“mengapa harus aku? Apa kau tidak memiliki kawan untuk kau ganggu?” jawabku sedikit ketus. Betapa tidak, meskipun aku memang tertarik padanya. Pertama karena ia memang tampan, dan baik hati sepertinya. Kedua karena ia mirip dengan laki-laki dalam mimpiku. Mungkin ada sesuatu yang berkaitan, meski aku belum tahu apa. Setidaknya jika Anna lebih muda dari Will dan lebih tua dariku, mungkin mereka berdua, maksudku Julian dan Anna memiliki usia yang tidak terlalu berbeda.


“terus terang, aku memang tidak memiliki kawan. Aku baru saja hari ini pindah ke Silica. Aku belum mengetahui seluk beluk kota ini. Dan kupikir alangkah senangnya jika ada seseorang yang dengan senang hati mau berteman denganku dan menemaniku


berkeliling. Maaf jika aku mengganggumu, kea.” Penjelasan Julian membuatku sangat malu. Tidak seharusnya aku berkata sedemikian ketus, terutama setelah kebaikannya meminjamkan novel dan tidak meninggalkanku dalam kebingungan ketika kelas berakhir tadi. Ooh, betapa tidak tahu terimakasihnya aku. Mudah-mudahan hal ini luput dari pengawasan para pengawalku. Aku tak mau mereka menceritakan perihal ketidaksopananku ini kepada mamaku.


“maafkan aku, Julian. Bukan maksudku. Tapi.. tapi kupikir, laki-laki sepertimu pasti memiliki banyak teman, aku tidak tahu kalau kau orang baru disini.” Terburu-buru aku meminta maaf dengan ekspresi semenyesal mungkin. Dan Julian pun kembali memamerkan senyumnya yang jika semakin lama semakin membuat jantungku berdetak abnormal.


“berarti kau bersedia menemaniku?”


“uhm… ya.”


Saat itu aku belum sadar bahwa Jawaban itu akan mengubah duniaku seluruhnya dan selamanya.