
Kea
Tak terasa waktuku untuk menikmati saat santai di liburan terpanjang yang pernah kumiliki telah hampir habis. Besok lusa aku harus memulai kehidupan baruku sebagai siswa baru di Otago.
Awal liburan yang lalu, aku habiskan bersama evelyne. Sebagian besar adalah membantunya mengepak barang-barang yang akan ia bawa ke rumah barunya di Maumare. Barang-barang utama dan besar-besar sudah diangkut tiga hari sebelumnya. Yang tersisa hanya barang-barang pribadi yang bisa masuk ke dalam mobil keluarga dengan sekali angkut.
Jeremy sudah lebih dulu pergi bersama Mrs. Anderson. Sebenarnya sedih juga membayangkan aku tidak dapat bertemu dengan evelyne dalam waktu lama, juga Jeremy. Aku berhutang maaf padanya atas ketidakhadiranku di pesta kelulusan waktu itu.
Rumah evelyne tampak lengang, dan aku sungguh akan merindukan masa-masa kami menghabiskan waktu disana. Merindukan dinding penuh dengan foto-foto evelyne dan Jeremy, merindukan sofa besar di depan televisi berwarna hitam yang kontras dengan warna dinding putih bersih tempat ia melekatkan diri. Juga merindukan bau masakan Mrs. Anderson yang membuat kami berkumpul di meja makan tanpa dikomando.
"aku akan merindukanmu, eve" ucapku parau saat melepasnya pergi.
"begitu juga aku. Tapi, hey... Liburan berikutnya mungkin saja kau bisa mengunjungi kami di Maumare, " ucap Evelyne begitu bersemangat dengan idenya. "dan kakakku juga pasti akan senang, " evelyne menambahkan dengan nada yang tidak biasa. "oh ayolah Kea, kau pasti sudah tahu kalau jeremy menyukaimu. " bisiknya di telingaku. "sangat! Dan jika di Otago nanti kau tidak menemukan seorang anak laki-laki yang kau sukai, mungkin pada akhirnya kau bisa mempertimbangkan untuk menjadi kakak iparku," Evelyne tersenyum jahil. Aku hanya bisa memutar mataku. Namun dalam hati aku tahu bahwa aku bisa saja mempertimbangkan hal yang sama.
Pertandingan persahabatan antar club renang di pantai Patasha pun sudah diselenggarakan seminggu yang lalu. Tentu saja tak ada juara kali ini. Alih-alih bertanding, kami justru lebih kepada bekerjasama menjelajah dan membuat dokumenter untuk aksi bawah laut kami yang melibatkan ombak, ikan-ikan kecil yang cantik, batu coral berwarna-warni, dan belasan anak perempuan yang sangat antusias memamerkan kebolehan mereka menyelam pada kamera yang mengikuti kami selama kegiatan berlangsung. Aku sendiri tidak terlalu tertarik untuk tampil di depan kamera. oleh karenanya, barisan paling akhirlah yang kupilih, tepat di samping seorang laki-laki kekar yang mengikuti kemanapun kami berenang dengan kamera tahan air dan tabung oksigen kecil sebagai beban tambahan.
Para pengawalku tentu saja tak terlihat. Terakhir kali kulihat mereka bergabung bersama pengunjung yang lain dengan pakaian yang sama sekali berbeda dari biasanya. Celana hawaii dengan kaos longgar bertuliskan "Patasha, for your best diving and surving". Aku tak mampu menyemunyikan senyumku melihat penampilan mereka yang tak biasa.
Tapi, entah mengapa, rasanya seperti ada seseorang di belakangku. Menjaga dengan baik jarak renangnya denganku. Apakah itu Will? Tapi setahuku Will tengah melakukan perjalanan bisnis. Tidak mungkin Nat, karena laut dan air garamnya membuat Nat merasa tidak nyaman. Bukan berarti ia tidak bisa berenang. Sepertinya itu, Bob. Meski, berenang bukanlah hobinya, tapi Bob mampu berenang sebaik Will dan aku, jika ia mau.
Malam harinya aku tidur lebih awal. Rasanya pertandingan persahabatan di Patasha telah benar-benar menguras tenagaku. Penampilan aksi bawah laut terbaik akan mewakili Dunedin untuk berpartisipasi dalam acara skala nasional yang akan ditayangkan Discovery Tunnel.
Makan malam pun aku lewatkan karena toh mama dan papa belum pulang dan savanah terlihat pasrah ketika aku hanya menghabiskan segelas susu tanpa menyentuh makanan yang sudah ia siapkan untukku.
000
Aku tak tahu apakah kesepian ini akan selamanya mengikuti. Bukan, bukan karena aku tak memiliki teman. Temanku banyak, tentu saja. Aku cukup popular dilingkungan kami karena alasan khusus. Karena aku menginginkan demikian. Meski aku tak mengerti mengapa aku menginginkannya, padahal semua itu tak berdampak apa-apa bagiku. Kurasa aku hanya menemukan sedikit kepuasan ketika aku dapat melampiaskan kelebihanku. Kekuatan yang sangat jarang kugunakan. Aku hanya merasa terasing ketika berada diantara keluargaku. Diantara 3 pasangan yang sangat saling mengasihi dan seseorang yang sedang kasmaran. Beberapa kali Nat dan Bob, terkadang Will juga ikut berpartisipasi, berusaha mendekatkanku dengan seseorang dari ‘kalangan kami’ dan tentu saja itu semua didukung penuh oleh kedua orangtuaku. Tapi tetap saja, sulit rasanya dekat dengan seseorang ketika hatiku merasa enggan. Dan untungnya, kami bukanlah seperti manusia biasa yang sangat mudah berpindah hati, sangat mudah tertarik satu sama lain hanya karena penampilan fisik yang indah dan rupawan. Jika kalangan kami sudah menemukan pasangan yang tepat, maka itu berlaku untuk selamanya. Well, setidaknya begitulah yang kutahu. Belum ada diantara kami yang memiliki lebih dari satu pasangan atau berganti pasangan. Ikatan yang kami miliki bersama pasangan kami, sangat kuat dan berlaku selamanya.
Di keluarga kami, hanya aku dan will yang belum memiliki pasangan. Tapi saat ini will tengah menunjukkan ketertarikan pada seorang wanita cantik dari Yamala. Aku pernah bertemu dengannya sekali di hari pernikahan Bob. Veronica sangat lembut dan anggun. Tubuh tinggi semampainya hampir menyamai Samantha. Namun mereka berdua terlihat sangat berbeda. Samantha adalah wanita yang bisa kau sandingkan dengan tokoh pejuang Amazon, sementara Veronica lebih mirip Bella dalam dongeng Beauty and The Beast. Dan Tatiana, ia selalu mengingatkanku pada Rapunzel ketika rambutnya telah dipangkas pendek. Aku sendiri seringkali menyamakan diriku dengan Aurora, dan tersenyum geli karenanya, membayangkan saat ini diriku tengah berada dalam kondisi tertidur dan menanti datangnya seorang pangeran tampan yang sanggup melawan naga jahat dan membangunkanku dengan sebuah ciuman.
Kesepian karena belum memiliki pasangan dan tidak memiliki seseorang untuk kuberi atau kumintai perhatian membuatku sering bepergian hanya sekedar untuk menghabiskan waktu. Rumah yang kutinggali bersama keluargaku berada di perbatasan antara perkampungan Bizonik dan perkampungan manusia lain. Bagi para manusia biasa, perkampungan kami hanya terlihat sebagai bongkahan perbukitan dengan hutan lebat yang menutupi hampir seluruh permukaannya. Keberadaan kami memanglah tersembunyi. Hanya sesekali saja beberapa dari kami muncul dan berbaur dengan dunia manusia biasa. Dan sangat jarang kalangan kami yang berbaur hanya karena alasan iseng, hanya untuk menghabiskan waktu. Papaku yang merupakan seorang Tetua Pengawal, seringkali mengingatkanku untuk berhati-hati. Manusia jarang bisa bertoleransi menerima kelebihan orang lain, terutama jika kelebihannya itu sangatlah mencolok. Entah berapa banyak kalangan kami yang diburu hanya karena memenangkan berbagai taruhan menggunakan kekuatannya. Meskipun hal itu memang terkesan tidak adil. Taruhan adalah soal keberuntungan. Dan kelebihan kami merupakan keberuntungan sekaligus ketidakberuntungan, tergantung siapa yang memandang, dan dari sudut mana. Begitupun beberapa dari kami yang mencoba menolong orang lain dari tindakan criminal, justru diburu hanya karena sanggup melumpuhkan beberapa manusia sekaligus dengan lirikan mata atau kibasan tangan. Hal itu pula yang menyebabkan peraturan tegas mulai diberlakukan di masyarakat kami. Terlarang bagi kami untuk menunjukkan kemampuan di dunia manusia dan juga menceritakan apapun mengenai keberadaan kami pada mereka yang bukan kami. Pelanggaran terhadap peraturan tersebut akan berakibat fatal, bukan hanya hukuman mati yang menanti tapi juga ancaman terhadap keamanan dan eksistensi seluruh kalangan.
Hari ini aku bersiap – siap untuk mengunjungi pasar malam. Acara yang hanya diadakan sekali selama satu musim, dan berlangsung selama sepekan itu tak pernah kulewatkan. Biasanya aku mengajak will kesana. Kami akan mengganti kostum kami dengan sesuatu yang tidak mencolok, membawa beberapa keping logam berharga berbentuk bulat yang bisa kami tukarkan dengan beberapa keeping plastic berwarna-warna untuk menaiki lingkaran raksasa yang memiliki banyak kursi atau untuk bermain pukul kataknya atau untuk melihat berbagai hewan terlatih dan badut-badut dengan dandanan lucu beraksi. Bahkan, aku pernah menggunakan keeping plastic berwarna untuk memasuki sebuah tenda merah tinggi milik seorang wanita cantik dengan rambut sekelam malam dan pakaian berwarna-warni juga gelang-gelang besar yang selalu bergemerincing riuh setiap ia bergerak. Tapi sepertinya kali ini aku harus pergi sendiri saja. Will sudah meninggalkan rumah sejak pagi. Bisa kupastikan saat ini ia sedang menghabiskan waktunya di Yamala, menemui veronica. Bukannya aku tidak mendukung kakakku untuk mendapatkan kebahagiaannya. Aku akan lebih bersyukur jika akhirnya akupun menemukan seseorang pengganti Will yang bisa kuajak bepergian bersama.
Jalanan yang menghubungkan rumahku dengan kawasan Silica di pinggir kota Dunedin ini sangat indah. Bebatuan kecil berjejer rapi mengapit tanah merah yang terhampar memanjang diantara dua padang rumput luas dengan selingan pohon – pohon ramping dan bunga-bunga indah yang masih bertahan di akhir musim semi. Tak perlu kereta kuda untuk mengantarku ke pasar malam. Hari masih terang dan gemercik air sungai menjadi pemandu jalanku. “tetap ikuti sungai ini, Ann. Dan kau takkan tersesat,” begitu biasanya Will mengingatkanku sebelum kami pergi meninggalkan gerbang rumah kami. Semakin lama, jalanan semakin menyempit. Padang rumput di kanan kiriku berganti dengan kebun – kebun anggur berpagar kayu yang berbaris rapi mengikuti jajaran kawat-kawat tipis panjang yang tertutupi sulur-sulur anggur yang mulai digantungi untaian anggur muda bagaikan kalung mutiara mamaku.
Sebentar lagi kawasan ini akan ramai oleh para pemetik anggur yang datang dari berbagai penjuru Silica.
Tak berapa lama, aku mulai melihat bendera segitiga merah di kejauhan, diapit beberapa bendera berukuran lebih kecil berwarna-warni berkibar tinggi seolah – olah memanggil siapapun yang melihatnya untuk mendekat. Semakin dekat, suara music terdengar menyambut pengunjung yang mulai berdatangan berduyun-duyun, berdua bahkan sendiri-sendiri sepertiku. Tua muda dan anak-anak dengan aneka pakaian warna-warni dengan berbagai celoteh tentang apapun yang mereka lihat. Gerbang pasar malam hanyalah berupa gerbang kayu tinggi dengan untaian bendera kecil-kecil yang berderet sepanjang sisi kiri dan kanan. Ditambah lampu-lampu kecil warna-warni dan sorotan lampu yang sangat terang dari berbagai tenda-tenda besar yang bertebaran di arena yang luasnya menyamai luas lapangan berkuda papaku. Begitu masuk, beberapa badut menyambut kami dengan beberapa trik sulap sederhana dan mengajak pengunjung untuk masuk ke dalam salah satu tenda. Aku tidak berniat untuk masuk ke dalam tenda. Tujuanku kesini kali ini hanyalah untuk melihat-lihat keramaian dan mungkin memainkan beberapa permainan sederhana. Kedai-kedai yang menjual aneka makanan bertebaran dengan rapi di sekeliling tenda-tenda besar, diselingi beberapa stand permainan dan kios souvenir. Harum masakan yang baru matang menguar di udara. Bagi manusia kebanyakan, bau masakan pasti akan menggugah selera, tapi bagiku dan kalangan kami, bau makanan hanyalah seperti bau udara segar dipagi berembun, atau bau udara pegunungan sehabis hujan. Kami tidak pernah terlalu berselera terhadap makanan apapun. Makanan hanyalah salah satu cara kami untuk menjaga agar kulit kami senantiasa lembab, kenyal dan bercahaya. Memiliki aura kehidupan.
Langkahku terhenti di depan stand permainan pukul kataknya. Oh, aku selalu suka dengan permainan ini. Will dan aku selalu bertaruh siapa yang bisa memukul katak lebih banyak. Dan aku selalu menang. Tapi aku tak yakin kemenanganku itu semata-mata karena diriku sendiri. Dalam banyak kesempatan, Will selalu bersikap sebagai kakak yang baik untukku. “Buatlah Anna senang.” Mungkin kalimat mama yang selalu diucapkan setiap kami akan bepergian itulah yang memotivasi Will untuk selalu mengalah. Beberapa keeping plastic berwarna-warni yang telah kutukarkan kepada penjaga stand kini telah kukantongi. Tiga keeping untuk satu durasi yang ditandai dengan putaran kolam katak yang akan berhenti secara otomatis jika waktu telah habis. Begitu kolam mulai berputar, kepala – kepala katak mulai bermunculan dari lubang-lubang yang bertebaran di permukaan kolam yang dilukis menyerupai air dengan beberapa daun teratai lebar. Aku bagaikan seorang pemukul terlatih yang telah menunggu lama untuk membuktikan hasil latihanku dan bertekad memenangkan pertandingan. Puluhan katak telah gugur terkena bidikan palu kayuku. Aku tertawa-tawa senang. Permainan ini sungguh menguras tenagaku, tapi aku senang. Andai Will ada disini pastilah ia akan memujiku, “wow, kau hebat Ann, tak kusangka dengan tubuh sekecil ini, ternyata tenagamu lumayan juga.”
Puas dengan permainan pukul kataknya, aku melanjutkan jalan-jalanku. Anak-anak kecil berlarian di sekitarku, beberapanya bahkan berlari mengelilingiku. Beberapa pasangan saling bergandengan tangan dan tersenyum satu sama lain. Didepanku seorang pemuda berpakaian putih-putih berjalan santai ditemani dengan seorang anak kecil yang membuntutinya sangat dekat. Mungkin itu anaknya, pikirku. Tapi, penampilan mereka berdua sangatlah berbeda. Jika pemuda itu terlihat bersih dengan rambut keemasan yang tertata rapi, sang anak sebaliknya. Pakaiannya kumal dan rambut coklatnya berantakan seolah-olah sudah lama tidak tersentuh air dan sabun. Rasa penasaran membuat pandanganku terfokus pada mereka, dan jeritan kecil terlepas dari mulutku. “hey, kau… apa yang kau lakukan,” teriakku berusaha mempertanyakan tingkah anak tadi yang kupergoki telah mengambil kantung uang dari balik jubah si pemuda. Anak itu melihatku sekilas, kemudian berbalik arah dan berlari. Tanpa pikir panjang, kuangkat bagian bawah gaunku. Lariku mungkin tidak cepat, tapi rasanya tidak benar membiarkan seorang pencuri lolos begitu saja. Anak itu berlari sangat cepat, gerakannya sangat lincah menghindari orang-orang yang berlalu-lalang dan terutama melangkahi tali-tali dan pasak tenda yang siap menjeratmu jika kau tidak memperhatikan. Hampir saja aku kehilangan jejak, sampai akhirnya mataku menangkap sosok anak itu di kejauhan. Ia tengah berdiri di belakang sebuah tenda berwarna coklat berpenerangan redup. Kudekati ia pelan-pelan, takut jika ia menyadari kehadiranku, ia akan kembali berlari. Ternyata anak itu tidak sendiri. Di depannya ada dua orang pria. Yang satu tinggi kurus berdiri di depan sebuah caravan lusuh. Pakaiannya mirip pakaian perompak yang sering diceritakan Mr. Stewart setiap ia pulang dari bepergian. Yang seorang lagi berbadan kekar dengan ikat kepala dan rokok yang berhembus dari mulutnya. Ia duduk dengan santainya di tangga caravan seakan tak perduli dengan kehadiran anak tadi. Jiwa pahlawan yang kuwarisi dari papa mendorongku untuk segera menyergap anak tadi dan menangkapnya sebagai pencuri. Baru saja aku menegakkan tubuhku dan mempersiapkan sikap percaya diri untuk menghampiri ketiganya, sebuah tangan membekap mulutku dan ada satu tangan lagi yang mendekap pinggangku, menyeretku menjauh.
Aku berontak dengan menghentakkan kakiku. Tapi pemilik lengan ini sungguh kuat. Ia terus menyeretku menjauh, hingga mencapai keramaian. Tak lama setelah ia melepaskan tangannya dari mulut dan pinggangku, aku berbalik hendak menyerangnya. Untung saja, sebelum sebuah pukulan sempat kulayangkan, otakku merespon dengan cepat apa yang aku lihat. Di depanku, sosok pemuda yang kutemui di jalan tadi, sosok pemuda berbaju putih dengan rambut keemasan yang berkilau tertimpa cahaya lampu jalan, berdiri dan bersidekap, memicingkan matanya ke arahku. Namun tak lama, ia tergelak hingga kepalanya terbawa ke belakang, sambil memegangi perutnya. Apa yang ia tertawakan? Pertanyaanku itu rupanya keluar dari mulutku dengan suara keras, hingga membuatnya menghentikan tawanya, berganti senyum lebar yang menampilkan deretan gigi putih dan lesung pipit yang menawan. Ooh, kemarahanku agak teredam karena kekagumanku padanya. Hey, aku toh hanya perempuan biasa yang tentu akan mengagumi setiap wajah tampan yang melintas di depan mataku. “mengapa kau tertawa?” tanyaku lagi. Oh, “dan mengapa kau menarikku?” tanyaku kesal. “kau tahu, sekarang pasti mereka sudah menghilang. Oh, aku terlalu lelah jika harus mencarinya lagi.” Ucapku lemah. Pemuda itu masih menatapku. Kali ini tak lagi tersenyum, namun sekilas kulihat matanya berkedut. Ia sedang menahan tawanya. Apakah penampilanku selucu itu? Kulihat gaunku dari atas ke bawah… tak ada yang salah. Semua tampak seperti sebelumnya. Oh, ataukah rambutku? Kuangkat tanganku ke atas kepala, dan mencoba merapikan rambutku jika memang angin telah mengacaukan tatanannya ketika aku berlari tadi. “Hey tuan, kau belum menjawab pertanyaanku,” sentakku padanya begitu aku merasa bahwa penampilanku bukanlah hal penting.
Ia masih saja memandangku sambil menjepit kedua bibirnya dengan jari tangannya. “miss, apa sebenarnya yang kau pikirkan tadi?” tanyanya. Suaranya begitu lembut. Maskulin, tapi bernada lembut. Jelas ia bukanlah laki-laki kebanyakan. “Apa maksudmu?” tanyaku alih–alih menjawab pertanyaannya.
“mengendap-ngendap di balik kegelapan, dan menemui para lelaki yang tidak kau kenal, sendirian. Apa kau tidak takut?”
“aku? Takut? Mengapa harus takut?” kini aku sepenuhnya heran.
“apa maksudmu? Mengapa aku harus takut? Bukan aku yang bersalah. Bukan aku yang mencuri kantong uangmu,” ucapku penuh pembelaan.
“miss, apa kau pikir, mereka akan perduli siapa yang bersalah atas hilangnya kantong uangku?” ucap pemuda itu. Kali ini wajahnya serius. Ia mendekat satu langkah ke arahku. Otomatis aku mundur 1 langkah. Itu membuatnya memalingkan wajahnya ke samping sambil tertawa lagi.
“dan kali ini, apa arti tawamu itu?” tanyaku ketus.
“kau sungguh tidak takut terhadap pria-pria di belakang sana? Padahal jelas-jelas mereka adalah penjahat yang dengan senang hati melakukan apa saja selama apa yang mereka inginkan terpenuhi. Kau malah takut terhadapku? Bukankah disini aku adalah korbannya?” tanyanya retoris.
Ooh… bunyi klik tiba-tiba memenuhi kepalaku. Tapi tentu saja aku tidak mau begitu saja mengaku kalau aku benar-benar ceroboh. “tentu saja aku takut padamu. Jelas-jelas kau membekapku dan menyeretku secara paksa”
Senyum itu tertahan di mulutnya, tapi terumbar jelas di matanya. “apakah menurutmu, lebih baik mereka yang membekap dan menyeretmu? Mungkin ke dalam tenda gelap itu?” kali ini wajahnya berada tepat disampingku hingga kata-kata yang ia bisikan tadi terdengar sangat jelas di telingaku. Walaupun aku tak bisa melihat tampangku saat ini, tapi rasa panas yang kurasa merupakan pertanda bahwa saat ini wajahku semerah kepiting rebus. Aku tak tahu harus berkata apa. Setelah dipikir-pikir, kuakui ia memang benar. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi jika aku nekat menangkap anak kecil itu. Bisa saja kedua lelaki itu adalah para penadah yang menerima hasil curian anak-anak, bahkan bisa jadi justru merekalah yang menyuruh anak itu mencuri. Dan jika itu benar, maka bukan hanya seorang anak yang lincah berlari yang harus kuhadapi, tapi juga dua orang laki-laki yang tentu tenaganya jauh lebih kuat daripadaku. Meskipun aku yakin, itu bukan masalah buatku. Aku bisa saja menggunakan kekuatanku dan membuat mereka menyerah dan mematuhi perintahku. Tapi jika hal ini sampai terjadi dan diketahui oleh para elite di kalangan kami, maka tak butuh waktu lama hingga mereka membawaku secara paksa ke Yamala.
“terimakasih.”
Setengah terpaksa kuucapkan juga kata itu padanya. Orangtuaku terutama mamaku akan sangat marah jika akubertindak tidak sopan dengan tidak berterimakasih kepada orang yang jelas-jelas telah menyelamatkanku, meski secara tidak langsung.
“untuk apa?” tanyanya. Kali ini ia telah menegakkan tubuhnya kembali. Kepalaku hanya setinggi bahunya ketika kami berhadapan seperti ini.
“untuk menyelamatkanku. Walaupun itu kulakukan semata-mata untuk menangkap pencuri kantung uangmu.” Jawabku tanpa memandangnya.
“ooh, kalau begitu seharusnya akulah yang berterimakasih, miss.”
Dia mengatakannya sambil membungkukkan badannya bagaikan seorang ksatria yang akan mengajak seorang putri berdansa.
“sebagai rasa terimakasihku, bolehkan aku mengantarmu pulang?”
“tidak perlu. Terimakasih saja sudah cukup. Lagipula rumahku dekat.”
Tanpa pikir dua kali, aku langsung berjalan meninggalkannya dengan tubuh dan kepala tegak. Setidaknya aku masih bisa menyeimbangkan kedudukan kami, seri. Otomatis aku tersenyum karena pemikiranku itu. Hari ini sepertinya bukan hanya permainan pukul kataknya yang membuatku bahagia, tapi kejadian yang sedikit memalukan tadi membuat hatiku berdesir.
Gerbang pasar malam sudah terlihat. Tanpa ragu aku melewatinya menembus kegelapan yang menyelimuti pinggiran Silica. Dengan yakin kususuri jalanan perkampungan. Tak berapa lama, aku sudah menemukan jalan setapak yang jika kuikuti, akan langsung membawaku menuju rumah.
Masih memikirkan kejadian tadi, tepatnya memikirkan pemuda itu. Siapa dia? Jika dilihat dari penampilannya, aku sangat yakin ia bukanlah orang dari perkampungan Silica. Pakaiannya tentu akan terlalu mencolok jika digunakan di siang hari di waktu-waktu biasa di perkampungan manusia biasa. Apakah ia pun seorang bizonik? Mengapa aku tidak pernah melihatnya? Atau, ia bukan dari Dunedin? Jika ya, lalu untuk apa ia ada disini?
Sesaat aku terdiam, langkahku terhenti begitu menyadari ada sesuatu yang aneh. Sekelilingku gelap. Saat ini bahkan bintangpun hanya satu dua yang menghias langit. Tanpa penerangan karena rumah-rumah penduduk sudah jauh tertinggal di belakang. Aku tidak bisa melihat keanehannya. Tapi hatiku merasakannya. Apa yang janggal?
Ooh, kesadaran itu menghantam kepalaku dengan palu kayu kasat mata. Sungai!
Aku tidak bisa mendengar suara aliran air sungai. Mengapa? Tidak mungkin air sungai mengering atau berhenti mengalir. Rumahku berada di hulu. Jalanan yang saat ini kulalui harusnya adalah jalanan mendaki. Ooh..
Itu dia, keanehan lain. Aku tidak merasa berat melalui jalanan ini. Jalan ini bukanlah jalan mendaki. Itu artinya… jalan ini bukanlah jalan yang menuju rumahku.
Kepanikan mulai menyerangku. “ikuti suara air, dan kau tidak akan tersesat, anna.” Suara Will kembali terngiang. Tapi will, kali ini tak ada suara air. Dan kali ini, tak ada tanganmu yang bisa kupegang tanpa ragu, tanpa takut salah arah, karena bahkan dengan mata tertutup pun, kau bisa dengan mudah menemukan rumah kita. Kali ini… aku tersesat.
-000-
Aku masih ingat, ketika pagi harinya, aku terbangun di kamarku, aku masih berpikir kalau gadis dalam mimpiku itu adalah aku, atau aku adalah gadis dalam mimpiku itu. Mimpi itu begitu jelas, seakan aku benar-benar mengalaminya, seolah-olah itu adalah ingatan. Ingatanku. Tapi dalam mimpi itu, Will memanggilku Anna. Mengapa? Apakah Anna begitu mirip denganku? Mengapa mama tak pernah bercerita bahwa aku memiliki seorang kakak perempuan?
Aku tahu bahwa misiku ini belum selesai, belum hingga rasa penasaranku terpuaskan. Larangan Will untuk tidak menyinggung hal ini tentunya tidak akan menghalangiku untuk mencari tahu dengan cara lain. Aku tersenyum membayangkan aku menjadi semacam detektif, yang kemungkinan besar akan menginterogasi seluruh pelayan yang ada di rumah ini, dan akan mulai menjelajahi rumah ini hingga ke setiap sudut yang bisa aku jangkau.