
Ketertarikan terhadap puzzle yang sedang kususun, berganti dengan rasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan orangtuaku. Mereka menyebut-nyebut namaku tadi.
Kukonsentrasikan lagi pendengaran dan pikiranku pada suara mereka.
"Tapi, Ryan. Kurasa sudah saatnya bagi kita untuk memberitahukan pada mereka kalau kita... kita... Kalau Kea sudah bersama kita kembali", mamaku lebih mendesak dengan suaranya yang tetap lembut, sedikit bergetar.
"Sebentar lagi, Suzan... Sebentar lagi. Saat Kea sudah merasa nyaman menunjukannya pada kita, kita akan Segera mengajaknya ke Yamala", suara papa yang tetap terjaga ketenangannya.
"Oh, Ryan, semoga kali ini Kea bisa menerimanya, berbahagia, dan bersama kita seterusnya. Aku... aku... ", suara mama berganti dengan tangis tertahan, pelan.
"Aku juga mengharapkannya, suzan. Kita akan berusaha lebih keras kali ini", ucapan papa dan pelukan hangatnya, sepertinya membuat mama lebih tenang. Suara tangisnya telah berganti isakan dan kulihat sedikit senyuman di bibirnya.
"Kemampuan Kea akan muncul perlahan-lahan, satu per satu, hanya tinggal menunggu waktu. Hanya saja kita harus berhati - hati, jangan sampai semuanya meledak bersamaan," Papa melepaskan pelukannya dan mulai berjalan mengelilingi meja kecil sambil menopang dagunya, sesuatu yang sering ia lakukan saat sedang berpikir.
"Bukankah lebih cepat lebih baik? Kita tidak perlu lagi menyembunyikan semuanya," kali ini mama yang berbicara. matanya terus mengikuti kemana papa melangkah.
"Tidak, Suzan. Kita harus menunggu Kea cukup dewasa. Saat kemampuannya muncul, ia harus sudah cukup kuat untuk menjaga dirinya dan cukup bijaksana untuk memutuskan dan mengemban kembali tanggungjawabnya. Yang paling penting, semua ingatannya akan masa lalu akan kembali, dan itu butuh waktu.
Pembicaraan terhenti ketika terdengar ketukan di pintu. "Tuan, Mr. Arthur Smith menelpon. Apakah hendak diterima disini, tuan? " suara Yolan yang khas dengan sedikit logat Dunedin.
"Tidak, Yolan. Akan kuterima di kantorku, terimakasih. " papa menjawab tanpa membuka pintu.
"Baik, tuan"
"Nah, Suzan, aku harus membicarakan sesuatu yang penting dengan Arthur. Kuharap kau mau bersabar sebentar lagi. Waktu yang tepat sangat penting untuk setiap moment terjadi", kali ini papa berkata dengan senyuman lesung pipitnya yang sangat kusuka. Ooh, aku ingin memeluknya.
"Yah, baiklah. Aku percaya padamu", mama menyerah kali ini.
"sungguh, benarkah? " pertanyaan papa lebih terdengar sebagai godaan.
Puzzle di hadapanku sudah tak lagi menarik minatku. Tergantikan rasa penasaran akan percakapan orangtuaku beberapa saat lalu. Tentang apa itu tadi? Pastinya melibatkan aku, karena namaku disebut beberapa kali. Aku yakin itu. Kemampuan, ingatan, menunggu, dan Yamala. Papa dan mama belum pernah mengajakku kemana mana. Sejak aku lahir, hanya di Dunedin inilah duniaku. Dimana itu Yamala? Nanti akan kutanyakan pada Will, pasti dia tahu. Will adalah petualang dalam keluarga. Ia sering membanggakan jika tak ada tempat di dunia ini yang belum pernah ia kunjungi.
Belum berapa lama aku melangkah menuju dapur, terdengar suara gelak tawa dari arah halaman samping. Aku sangat mengenal suara itu, tapi tetap saja kusingkap sedikit tirai jendela kaca besar yang memisahkan ruangan tempatku berada dengan teras. Yap, dugaanku benar. Itu Will si jahil dan 2 orang pemuda tampan ataukah harus kusebut laki-laki tampan, yang entah bagaimana bisa menjadi kakakku. Kurasa jika ada orang yang mengatakan mereka ayahku pun, aku akan langsung mempercayainya. Atau setidaknya, paman. Tiga orang laki - laki dewasa yang ketampanannya tidak kalah dari papa. Nat, kakak tertuaku yang paling mirip dengan papa. Hanya rambut panjang dan rambut yang dibiarkan tumbuh lebat di sekitar rahang dan dagunya lah yang membedakan mereka.
Begitu pandangan mereka bertemu denganku, Will langsung berlari ke arahku. Tak ada kesulitan baginya untuk mengangkatku dalam satu rengkuhan.
"Kea sayang, astaga... Kau semakin tinggi saja setiap kali kita bertemu. Apa kau ingin cepat-cepat dewasa?" tanyanya retoris.
Belum sempat kujawab pertanyaan Will, tiba-tiba saja, beberapa peristiwa berkelebat cepat dalam pikiranku. Bergerak cepat seperti roll film yang diputar di bioskop.
Will kecil yang mengejar-ngejarku, Will kecil makan es krim bersamaku di bawah sebuah payung besar warna-warni, Will dan aku menunggang kuda poni, will remaja yang memboncengku naik sepeda. Kuyakin itu Will. Wajah tampan yang sama, mata hijau yang sama, rambut sewarna emas yang sama. Dan, tawanya yang khas yang selalu membuatku ingin tertawa bersamanya meski tak tahu alasannya. Tapi kali ini, aku tak ingin tertawa. Kilasan-kilasan cepat ini membuatku pusing. Tiba-tiba kudengar suara teriakan seorang wanita dan beberapa orang memanggil-manggil namaku. Lalu...gelap.
Kurasa udara di sekitarku begitu hangat. Bukankah seingatku terakhir kali daun-daun maple terlihat berwarna coklat? Seharusnya suhu udara semakin dingin mengiringi bergugurannya daun maple dari tangkainya sampai hanya menyisakan ranting - ranting tajam.
Tercium juga aroma yang sangat familiar, aroma teratai yang biasa disediakan mama di kamarku. "Aroma teratai menenangkan. Kea bisa tidur pulas dan bermimpi indah, " begitu selalu kata mama.
Kurasa aku tahu aku dimana. Ini kamarku. Kelembutan kasurnya, selimut yang melingkupi diriku, semua terasa nyaman. Namun, mataku masih sulit terbuka. Berat. Aku bergerak-gerak gelisah. Sebuah suara menghentikan gerakan tubuhku. Tentu saja aku tak ingin terlihat rapuh di hadapan siapapun.
"Kea sayang, kau sudah bangun, nak? " suara mama, lalu terasa tangan lembutnya menggenggam tanganku.
"emmmh," aku hanya melenguh dan. Berusaha tersenyum.
"Kea, apa yang kau rasakan sekarang? " satu lagi suara, tapi kali tak begitu akrab di telingaku. Suara yang lebih berat, laki-laki, tapi bukan papa, dan kesabaran dalam Suara itu memastikan bahwa itu bukan suara salah satu dari tiga kakak lelakiku.
"mom, aku pusing, " kuberanikan membuka suara. "Kepalaku sakit, banyak sekali banyak sekali, " lanjutku tanpa bermaksud mengeluh. Aku memang tidak tahu, apa yang menghantamku tadi.
"Kea harus banyak istirahat ya, jangan bangun dulu. Nanti dr. Sean akan mengobati sakit kepalamu," ucap mama lembut, sambil mengusap-usap kepalaku. Oh ya, aku ingat, tadi adalah suara dr. Sean, aku pernah bertemu dengannya sekali dulu, ketika ia datang malam-malam dengan sangat tergopoh-gopoh. Laki-laki tinggi yang gagah, tentu saja tampan dengan kacamata yang membingkai wajahnya, dan rambut sedikit panjang namun rapi.
Satu jam berikutnya, dr. Sean mengobrol denganku tentang hal-hal yang kusuka, apa yang membuatku takut, apa yang kupikirkan. Ia pun bercerita tentang tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Salah satunya adalah negri Cina, tempat asal leluhurnya. Sambil berbicara, ia menyentuh dahi dan leherku, kemudian menusukan sesuatu ke lipatan tanganku, tapi tidak begitu sakit, terlebih karena aku sangat tertarik dengan cerita-ceritanya. Hingga akhirnya suara dr. Sean semakin sayup, dan akhirnya menghilang.