Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 3




Seorang gadis manis bermata kecil berlari menghampiriku.  Ia memamerkan karyanya sambil berkata,  "lihat Ann,  aku sudah menyelesaikannya.  Bagus bukan?  Lihat ini,  ini ayahku,  ini ibuku,  ini Sean,  dan ini aku," jelasnya dengan antusias.  "Bagaimana denganmu,  kau sudah membuatnya? " tanyanya memandangku. 


"Belum.  Kau kan tahu aku tak pandai menggambar,  meski ingin. Bagaimana jika kubuat saja sebuah deskripsi sebagai pengganti gambar? Toh sama saja,  menggambarkan keluarga.  Aku bisa menggambarkannya dengan sangat baik menggunakan kata-kata, " ujarku mendadak bersemangat atas ide baruku itu. Tugas sekolah untuk menggambarkan potret keluarga, sungguh membuatku sebal. Aku tak pandai menggambar. Kalaupun kupaksakan, hasilnya pasti jauh dari ekspektasi. Bisa bisa, hasil karyaku itu dijadikan bahan bully an Will selama sebulan. Tak lama kami berdua saling bergandengan tangan,  berjalan menuju sebuah bangunan dengan banyak anak-anak seusia kami di depannya.  Apakah itu sekolah? Bangunan itu luas dengan pagar tembok di sekelilingnya. Beberapa pohon besar dan rindang tampak berada di sudut sudutnya, bagaikan prajurit penjaga gerbang yang tegak berdiri tak peduli cuaca. Sebuah gerbang besar dan tinggi yang terbuka menyambut kami.


"Ayo, Ann... sebentar lagi kita harus berbaris di lapangan untuk apel pagi," gadis manis itu menarik tanganku mengajak berlari.


***


Mataku mengerjap-ngerjap,  sedikit silau oleh terpaan cahaya temaram dari luar jendela.  Sepertinya ini masih pagi atau sudah senja.  Aku tidak yakin.  Dan,  sudah berapa lama aku tertidur?


"Kea,  kau sudah bangun,  sayang? " papa masuk tanpa suara.  Segelas air tampak di tangannya.  Dan aku jadi merasakan haus dan kering di kerongkonganku. 


"ini,  minum dulu sayang,  kau pasti haus." Perlahan papa mendekatkan bibir gelas ke bibirku.  Aku meneguknya dengan rakus. 


"uhuk..., "aku tersedak. 


"pelan-pelan Kea.  Tenang saja,  kalau kurang,  papa masih punya banyak kok, " papa tersenyum geli.  Mau tak mau,  akupun ikut tersenyum.  Segelas besar air putih segar tandas dalam sekejap.  Kesegaran yang melanda tubuhku membuatku kembali mengingat mimpiku tadi.  Mimpi?  Benarkah itu mimpi?


"papa, " ucapku.  Papa tersenyum mendengarnya. "Ya,  sayang...  Ada apa? " ujarnya sambil mengusap rambutku.


"siapa anak kecil bermata sipit itu? Aku memimpikannya," tanyaku ragu.


"Wah,  Kea.  Bagaimana papa bisa tahu siapa yang ada dalam mimpimu,  sayang. Ehm...  Mungkinkah ia temanmu?" papa balik bertanya padaku.


"Sean, ia menggambar Sean bersama dengan gambar dirinya. Tapi,  sepertinya bukan dokter yang merawatku.  Ini Sean yang berbeda,  Sean kecil," jelasku semakin tak yakin. 


Sekilas aku melihat sorot berbeda di mata papa.  Ekspresi wajahnya menjadi gugup.  "Well,  nanti saja kita pikirkan tentang mimpimu.  Ayo,  bersiap.  Sebentar lagi kita sarapan.  Mama dan kakak-kakakmu pasti tak sabar melihatmu," ucap papa mengalihkan perhatian. 


Aku toh tidak terlalu bodoh untuk mengetahui papa menghindari pertanyaanku.


Tak lama papa sudah menggendongku ke lantai bawah.  Aku senang digendong.  Aku bisa mencium harum rambutnya yang segar.


Mama menghampiriku dan mengecup pipiku, "hai sayang,  mama senang kau sudah bangun."


"Will,  jangan ganggu Kea," itu Nat,  kakak tertuaku.  Suara baritonnya mirip papa.  Jika tak melihatnya berbicara secara langsung, mungkin aku mengira itu papa.


Aku turun dari gendongan papa,  dan berjalan menghampiri Nat,  memeluknya.  Nat membalas pelukanku lalu mengangkatku ke pangkuannya.  Ia mencium pipiku. Rambut kecil di sekitar pipi dan hidungnya membuatku terkekeh geli. 


"Oh,  aku senang mendengar tawamu,  nona manis. " Bob,  kakak keduaku mencium tanganku layaknya aku seorang putri,  mengedipkan sebelah matanya kepadaku.  Aku tersenyum semakin lebar. 


"Ya, ya,  ya,  jika Nat yang memelukmu atau Bob yang menciummu,  kau tertawa.  Ketika aku yang memelukmu,  kau langsung pingsan," gerutu Will. Otomatis semua mata yang berada di meja makan memelototi Will. Aku pun tertawa kencang. Pagi itu aku sangat bahagia.  Terasa nyaman ketika bersama orang-orang yang menyayangimu dan kau sayangi. 


Setelah peristiwa pingsannya aku beberapa waktu lalu,  aku mulai sering bermimpi.  Mimpi-mimpi itu terasa sangat nyata.  Dan semua anggota keluargaku muncul bergantian.


Tapi lebih sering Will yang muncul.  Entahlah,  mungkin karena aku memang lebih dekat dengan Will dibanding Nat atau Bob.  Karena usia Will yang paling dekat denganku. 


Pernah aku bermimpi menunggang kuda bersama Will.  Tapi Will dalam mimpiku jauh lebih muda.  Sekitar hanya berjarak 2 atau 3 tahun denganku.  Mata hijau Will berbinar makin cemerlang ketika ia sedang antusias.  Seperti saat itu.  Tapi,  ia memanggilku Anna, sama seperti gadis kecil dalam mimpiku sebelumnya. 


"Anna...  Anna, ia memanggilku dari jauh.  Ia menghampiriku sambil berlari,  "kau takkan percaya apa yang kukatakan, " ujarnya terengah-engah. 


"Apa Will,  apa? " tanyaku antusias.  Semua kabar darinya pasti menarik,  karena Will satu selera denganku hampir dalam segala hal,  sepertinya begitu.  Kecuali fakta bahwa aku sangat menyukai buku,  sementara ia lebih senang bermain-main dengan segala bendanya yang aneh,  yang temukan atau ia buat sendiri. 


"Papa membelikan kita hadiah. Kau tahu apa hadiahnya? " tanya Will tersenyum penuh misteri.  "Mana kutahu Will,  papa tidak pernah mengatakan apapun padaku soal hadiah, " jawabku sedikit kesal.  Aku sudah setengah mati penasaran.


"Oh,  Anna...  Dimana serunya.  Coba kau tebak,  kira-kira,  hadiah apa yang pantas kita dapatkan? " ujarnya lagi sambil bersedekap. 


"Ehmmm..  Kurasa,  aku pantas mendapat satu atau dua buku baru karena aku berhasil mendapatkan nilai baik dalam pelajaran mengeja dua hari lalu," tebakku.  "Tapi,  kalau dirimu,  Will, aku tak tahu,  apa sih yang membuatmu pantas mendapatkan hadiah? " kataku lagi membalikkan pertanyaan.


Will mendengus kesal.  "Ya,  ya,  ya...  Anna Miriam Archey, si kutu buku yang juga pandai mengeja, aku menyerah kalah padamu. Mulutmu mungkin tajam,  tapi aku meragukan ketajaman tebakanmu.  Taruhan pasti kau akan sangat terkejut," sahutnya dengan lagak seorang congkak yang merasa dibutuhkan. 


"Dengarkan baik-baik, " ucapnya lagi,  sengaja berlama-lama membuatku semakin penasaran. "papa,  membelikan kita,  2 ekor kuda, " pekiknya tak tahan menyimpan rasa senang. Aku ikut memekik kegirangan.  Kami melompat-lompat sambil berputar berpegangan tangan.


"Ayo,  kita lihat, "ajakku. 


Kami pun segera melesat menuju padang rumput yang terletak di sebelah timur rumah utama. Dari jauh aku bisa melihat beberapa orang pegawai papa,  sedang menuntun 2 ekor kuda berjalan berkeliling padang rumput. 2 ekor kuda kecil, coklat tua berkilat dan putih bersih seperti kapas.  Sungguh cantik. Keduanya tidak setinggi kuda milik papa,  Bob dan Nat,  tapi lebih tinggi dari kuda poni milik Becky.


Becky...  Becky...  Siapa dia?