
Julian
Aku tak tahu, berapa lama lagi kehampaan ini sanggup kutanggung. Hatiku telah lama mati, meski detaknya masih bergema menelisik relung-relung ingatan, yang dengan tak berperasaan membenamkanku semakin dalam dalam keterpurukan.
Aku tak sanggup lagi. Menghirup udara pun rasanya sangat menyakitkan, bagaikan tarikan nafas satu satu narapidana yang sedang menjalani hukuman, mati di ruang gas beracun.
Aku merasa pasti, bahwa jiwaku telah mati bersamanya. Dan kini, aku hanyalah zombie, mayat hidup yang dipaksa bangkit dari kematian, dan menjalani hidup tanpa kehidupan.
Kuputuskan untuk membebaskan diriku, dari sayatan tipis - tipis rasa bersalah yang tiap hari kuterima dan ribuan jarum penyesalan yang bertubi-tubi menghujamku, tanpa ampun.
Laut di bawah sana, mungkin akan menerima tubuhku penuh suka cita, dan ombak akan membawaku pergi, menyusulnya. Merampungkan apa yang telah kami rangkai. Menyelesaikan apa yang telah kami mulai. Menuju dunia yang sama, tak lagi terpisah.
Kupejamkan mataku, bersiap memeluk laut. Berharap ketika kubuka kembali mata ini, aku akan menatapnya, mata coklat besar cemerlang yang sangat kurindukan, yang selalu menatapku penuh cinta.
"Juls... Julian... Hentikan! "
Tak usah kau hiraukan Juls. Kuatkan tekadmu. Kekasihmu menanti.
"Juls... Hentikan! Anna masih hidup! "
Hahaha... Aku menarik sudut bibirku ke samping, mengekspresikan tawa kerasku yang tak bersuara. Hebat sekali usahanya mencegahku. Aku nyaris tergoda. Aku ingin percaya.
"Julian, aku sungguh-sungguh. Anna tidak mati! " sebuah lengan kekar menyentuh pundakku. Meremasnya kuat.
Kubuka mataku dengan sebal. Kupaksa tubuhku berbalik untuk melihat siapa yang telah menghambatku. Akan kubuat ia menyesal. Tanganku terkepal, siap melayangkan pukulan, sampai akhirnya aku terhenyak melihat tatapan mata Will, mata yang menyorotkan kepedihan yang sama dengan milikku. Namun kini kulihat sedikit kilau disana. Harapan?
"Juls, dengar. Anna masih hidup. Kami menemukannya. Aku dan ayahku. Kami sedang mengunjungi lapisan lain, dan menemui seorang kenalan ayahku, ketika aku melihatnya. " Will berkata tanpa jeda. Aku sedikit limbung dengan adanya informasi baru ini. Apa maksudnya? Bagaimana bisa ia menemukan Anna? Aku sendiri bermaksud menemui Anna, sebelum ia menginterupsinya, tadi.
"Apa maksudmu, Will? "
"Anna. Dia tidak benar-benar mati. Kau tahu, ternyata aku salah. Veronica, dia... dia... " Will mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menahan butiran air yang akan jatuh menyusuri pipinya. Veronica, menyebut nama itu pastinya menyakiti hatinya lebih dari yang kukira.
"Veronica mengganti peluru emas itu dengan kuningan. " Will berjuang melanjutkan kata-katanya.
"Kuningan? " aku tertegun.
"Itu berarti... "
"Ya, Juls. Jiwa Anna tidak ikut hilang bersama jasadnya. Ia berpindah. "
Seketika hatiku begitu ringan. berton-ton beban yang sebelumnya menghimpit tiba-tiba terasa terbang, menguap, menghilang, digantikan milyaran rasa baru, rasa yang dulu pernah kumiliki. Harapan.
"Dimana ia sekarang? " tanyaku tak sabar.
"Untuk itulah aku kesini. Ikutlah ke Dunedin bersamaku. " Will kembali membuatku bertanya-tanya dengan ajakannya itu.
"Tentu saja aku tahu itu. Tapi sebelumnya ada sesuatu yang perlu kau ketahui, Juls. Dan hanya ayahku yang bisa menjelaskannya padamu. Ikutlah ke Dunedin. " Aku melihat kesungguhan di wajah Will. Dan demi bertemu dengan Anna, sepertinya mengunjungi Dunedin tidak beresiko sama sekali.
"Oh, Juls, sebenarnya apa sih yang kau pikirkan tadi? " Will menatapku, kali ini dengan kilauan jahil di matanya. Kilau yang lama sekali tak kulihat. "Kau pikir, sungai dan bebatuan akan mampu menyingkirkanmu? " tanyanya lagi, sungguh retoris.
"Jangan meremehkanku, Will. Pikiranku tak sesederhana itu. Kau pikir aku akan beraksi tanpa perhitungan? Kau akan kaget jika kukatakan detail rencanaku. "
Sesaat Will tertegun. Detik berikutnya ia telah berhasil menyusulku, memegang lengan atasku, sebelum akhirnya kubawa ia menembus lorong kosong yang berputar, menuju Dunedin.
Ryan Archey, laki-laki yang juga sudah menjadi orangtuaku itu terlihat sama saja dengan terakhir kali kami bertemu, puluhan tahun yang lalu. Wajahnya yang selalu tersenyum, meski pernah kulihat ia begitu tertekan ketika peristiwa di Yamala yang membuat hidup kami berubah, sikapnya yang tenang dan hangat membuat siapapun merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.
"Julian, " sapanya padaku, sambil merentangkan tangannya lebar. "Bagaimana kabarmu, nak? " tanyanya. Ia memelukku dan menepuk-nepuk bahuku. Disampingnya, seorang wanita cantik, menangis tanpa suara. Hanya air matanya deras membasahi pipi.
Suzan
"Suzan," sapaku padanya. Aku berganti memeluknya. Dan saat itulah, histerianya mulai muncul. Tangis kerasnya meledak di dadaku. Kupeluk dan kubelai rambutnya yang ikal. Hingga tangisannya perlahan mereda, berganti dengan isakan tertahan, meninggalkan sembab dan merah di matanya.
"Suzan, beristirahatlah di kamar ya. Kau bisa kembali bergabung bersama kami nanti." Ryan menenangkan istrinya, yang masih menatap dan membelai pipiku.
"Aku merindukanmu, Julian, " suaranya terdengar parau.
"begitupun aku, Mom", jawabku.
"Ooh... ", entah mengapa Suzan kembali menangis. Dan Samantha yang baru kusadari kehadirannya, membimbingnya pergi.
"Mari, duduklah Juls. Kemana saja kau selama ini? " Ryan mendahuluiku menuju sofa berwarna gelap yang sangat kontras dengan ruangan tempatnya berada.
"Aku, hanya menenangkan diri, " jawabku. Dengan Willan bersamanya, aku meragukan jika Ryan tidak tahu bahwa selama ini aku mengubur diriku di kedalaman gelap tanpa cahaya, bersama kelembapan pekat yang aromanya masih menempel kuat di tubuhku.
"Dimana dia? Katakan padaku, "
"saat ini, kami belum tahu pasti. Situasinya berubah-ubah."
Apa maksudnya dengan belum tahu pasti? Bukankah Will mengatakan ia telah melihat Anna?
"kau harus mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu, Juls," Ryan terlihat yakin, tapi aku tidak.
"Jangan menunda-nunda lagi, aku ingin bertemu Anna. Sekarang. Kalau perlu akan kucari di seluruh penjuru rumah ini, " tak sabar aku berdiri. Tak tahukah mereka betapa lelahnya aku menanti? Berharap semuanya hanya mimpi, menunggu saat kuterbangun dan mendapatkan Anna di sisiku. Pandanganku menjelajah seisi ruangan. Ruangan ini masih sama seperti dulu, warna putih pudar dan kuning gading mendominasi, beberapa vas besar berisi rangkaian bunga hasil tangan dingin Suzan kuyakin memberi kesan hidup dan hangat. begitu juga piano besar hitam yang ada di pojok ruangan, masih mengkilat dan anggun. Hanya saja sekarang dalam keadaan tertutup.
"Kau akan mengerti setelah mendengarkan penjelasan papa, saudaraku. " suara maskulin yang sangat kukenal. Nat menghampiriku dan menjabat tanganku erat. Kemudian memelukku singkat. Keseriusan di wajahnya juga kutemui di wajah Bob, yang memandangku di kejauhan sambil bersender pada tembok, mengangkat sebelah kakinya dan menyembunyikan kedua telapak tangannya di saku celana.
Baiklah, kali ini aku mengalah. Akan kuikuti permainan mereka. Rasa rinduku masih harus menunggu.