Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 35



Maya


Itu adalah pemandangan alam yang sangat aku kenal. Padang rumput luas dengan barisan pepohonan rimbun dan birunya langit sebagai latar belakang. Terdengar kresak langkah kaki yang menginjak ranting kering di belakangku, ditingkahi suara tawa seorang wanita. Aku menolehkan kepalaku mengikuti asal suara, dan disanalah kulihat mereka, seorang lelaki tampan berkulit kecoklatan karena seringnya terkena sinar matahari, berambut coklat sebahu yang dibiarkan begitu saja, dan manik coklat yang sangat kukenal. Manik yang sama yang selalu membuatku merasa melayang meski telah banyak bilangan tahun kami lewati bersama. Ia James, suamiku. Disampingnya berjalan seorang wanita cantik berkulit putih dengan rambut coklat madunya yang panjang sedikit bergelombang. Tingginya hanya sebahu James, membuatnya harus mendongak saat ia berceloteh riang menceritakan sesuatu pada kawan seperjalanannya itu. Aku merasa mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Tapi... Apakah mungkin? Anna? Queen Anna? Istri dari King Julian, raja Kerajaan Gizlin kami yang agung. Ya, tak salah lagi. Tapi sepertinya saat ini yang kulihat adalah Queen Anna saat beliau masih remaja, lebih muda beberapa tahun dari sosok ratu yang ada di ingatanku.



James tersenyum sangat lebar pada setiap celotehan Anna. Kedua tangannya memegang tangkai sebuah keranjang dari anyaman bambu.


"Oh, James... Tempat ini sangat indah. Bagaimana kau bisa mengetahui tempat seindah ini?" Anna mengedarkan pandangannya ke area padang rumput yang kosong. Semilir angin memainkan rambutnya yang terurai, namun ia tak terganggu dengan hal itu. Langkahnya semakin cepat dan lebar setengah berlari menyusuri pinggiran padang. Tepat di bawah sebatang pohon besar nan rimbun, ia berhenti. "James, kurasa kita bisa menggelar tikarnya disini." Sepetak tanah berumput pendek menjadi pilihan. Sedikit basah karena embun, tapi Anna yang sudah sangat terbiasa bermain di alam terbuka tidak pernah merisaukan gaunnya menjadi kotor atau basah.


Tikar kain bermotif abstrak dibentangkan. Keranjang yang berisi berbagai macam camilan dan satu set teko teh lengkap dengan 2 pasang cangkir beserta alasnya dikeluarkan dari dalam keranjang.


"Oh ya ampun... mrs. Anderson sungguh murah hati. Lihat ini James... Pie blueberry, choco foundan, banana tart... Oh ini favouritku, apel..." Anna mengeluarkan semua bekal mereka ke atas tikar, sementara James hanya duduk sambil memperhatikan dan sesekali tersenyum. Suamiku memang dari dulu sangat irit berbicara.


"Oh, kupikir kita baru akan sampai sore hari. Bukit ini begitu terpencil. James, kau belum menjawab pertanyaanku tadi." Anna menuangkan teh beraroma vanila ke dalam 2 cangkir di hadapannya.


"Lahan ini adalah milik keluargaku, dan sekarang telah resmi menjadi milikku. Ayah telah memberikannya padaku beberapa waktu lalu." James menjawab sambil lalu. Sepertinya ia lebih tertarik memperhatikan kesibukan Anna.


"Lahan milikmu sendiri. Wow, kau sungguh beruntung James." Anna mengosongkan cangkir tehnya dalam 2 tegukan. "Oh ya ampun... Aku sungguh lapar. Perjalanan tadi benar - benar menghabiskan sarapanku."


James tertawa melihat Anna menggigit dan mengunyah pie blueberry dengan semangat. "Pelan-pelan Anna. Tak ada yang ingin merebut makananmu."


"Tentu saja tidak. Kau kan tidak terlalu menyukai makanan manis. Nah, ini... Struddle ini pasti sesuai seleramu. Mrs. Anderson mengisinya dengan daging cincang dan keju yang sangat banyak. Itu sangat gurih dan creamy." Anna menyodorkan sepotong besar beef and cheese strudlle pada James. Rasa sesak sedikit menghimpit dadaku, mengetahui perhatian Anna pada makanan yg disukai dan tidak disukai James. Sampai sekarang pun struddle dengan isian daging dan keju berlimpah tetap menjadi kegemaran laki - laki itu.


"Apa kau menyukainya, Anna?" James mengunyah potongan strudlle perlahan.


"Apa?"


"Padang rumput ini. Apakah kau menyukainya?" James kembali bertanya pada Anna. Kali ini gerakan tangannya yang memotong - motong struddle menggunakan sendok perak kecil terhenti. Seakan - akan ia takut terlewat apapun jawaban yang akan Anna berikan.


"Ya, aku menyukainya." Binar - binar di mata Anna terlihat jujur. "Padang rumput ini tersembunyi dengan baik, James. Dan seolah - olah memang sengaja dibuat oleh seorang perancang bangunan. Lihat bentuknya yang melingkar nyaris sempurna. Dan disama... Ada aliran air mengalir di satu sisi dengan jarak teratur. Dan oh... Kau lihat James... Bunga - bunga di sebelah sana, meakipun mereka adalah bunga liar tapi petak mereka sungguh rapi. Kurasa tidak mungkin kebetulan terjadi sebanyak itu, James... ." Rupanya Anna adalah seorang pengamat yang teliti.


James mendesah.


"Hahaha... " Anna tergelak. Tubuhnya condong ke belakang begitupun dengan kepalanya yang setengah menengadah. "Maafkan aku James. Bukan maksudku membuatmu merasa seperti itu. Kupikir itu benar - benar indah, James. Dan alami." Anna kembali duduk dengan tegak. Tatapannya terfokus pada satu titik di antara petak bunga dan aliran air padang rumput. "Hanya saja, masih ada yang kurang," Anna mengernyitkan dahinya.


"Ya tentu saja. Masih tersisa banyak lahan kosong. Aku belum sempat membeli kuda - kuda itu." James kembali mengaduk aduk strudlle lalu menyuapkan ke dalam mulutnya strudlle dalam potongan besar.


"Kuda - kuda...? Apa maksudmu James? Anna memasang raut tak mengerti.


"Ya, tentu saja aku akan memanfaatkan lahan kosong itu untuk kujadikan peternakan kuda." James menjawab penuh keyakinan.


"Apa?" teriakan spontan Anna berlalu begitu cepat terbawa hembusan angin. Matanya mendelik ngeri seakan mendengar berita buruk yang menggemparkan seisi kerajaan.


James menyemburkan remahan strudlle yang masih sedikit tersisa di mulutnya. Segera ia meraih cangkir teh yang telah dingin dan menghabiskan dalam sekali tegukan.


"Apanya apa? Apa aku salah, Anna?'" dengan susah payah James berhasil menghindari tersedak. Wajahnya sedikit memerah.


"Ugh... Kau menghancurkan imajinasiku, James." Anna mencebikkan bibirnya sambil bersedekap. Aku terkekeh geli. James memanglah seperti itu. Sisi romantisnya selalu kalah dengan hal - hal praktis.


"Memangnya apa yang kuhancurkan? Satu - satunya yang kuhancurkan hanyalah struddle ini." James tak berpura - pura dengan ekspresi bingungnya saat ini.


"Mengapa kau ingin membuat peternakan kuda disini?"


"Ya karena apalagi yang bisa kulakukan dengan tempat ini? Apalagi semuanya sangat mendukung. Rumput yang segar, mata air bersih, ketinggian dan lokasi yang jauh dari keramaian. Ini sempurna, Anna." James mecondongkan tubuhnya ke belakang dengan bertumpu pada kedua lengan berototnya, hasil dari olahraga dan latihan keras hampir setiap hari. Wajahnya menengadah dengan mata terpejam seakan membayangkan impian yang telah ia rencanakan sejak lama telah mewujud.


"Tapi... Tapi... Menurutku, alangkah baiknya jika... Jjika... Ahh, sayang sekali," Anna mendesah dengan ekspresi lesu yang kerap ia tampilkan jika ia terlalu malas mengikuti pelajaran tatakrama di asramanya dulu.


"Kenapa, Ann... Memang apa yang kau harapkan?


"Ah tidak... Aku hanya membayangkan.... Alangkah indahnya jika disana, tepat di tengah padang, berdiri sebuah pondok batu dengan sulur sulur tanaman yang menutupi atapnya dan bergantungan di jendela. Kau juga bisa membuat jalan setapak dari tepi sini hingga ke pintu rumah. Dan oh... Pastikan juga kau menanam bunga bakung dan lily di sepanjang jalan itu, James... Ah ya ampun... Itu... Sempurna." Anna memejamkan mata sambil menangkupkan kedua tangan dengan ujung jari menyentuh dagu.



Aku terhenyak. Entah kenapa dadaku terasa semakin sesak. Perasaan asing ini membuatku tak nyaman. Semua yang Anna katakan sesuai dengan deskripsi rumahku saat ini, rumah kami, aku dan James.