Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 23



"Tak ada yang salah dengan tubuhmu. Sampai saat ini aku belum dapat menyimpulkan, apa yang menjadi penyebab setiap kali kau kehilangan kesadaran.  Tapi kurasa ini berkaitan erat dengan syaraf. " dr. Sean berusaha menjelaskan padaku mengenai hasil pemeriksaannya yang ternyata belum mengalami kemajuan.  Aku sendiri merasa sehat-sehat saja sebelumnya.  Entah sudah berapa kali aku mengalami kejadian ini,  pingsan tiba-tiba padahal tidak ada yang salah dengan kondisi tubuhku. Dan kejadian pingsanku yang terakhir sungguh membuat malu. Bagaimana tidak,  pingsan tepat di pelukan seorang lelaki yang baru kukenal, yang saat ini tengah memandangku tajam dengan mata birunya yang indah.


Baru kali ini keluargaku mengizinkan seseorang yang bukan keluarga,  memasuki rumah kami,  bahkan menjemput dr. Sean bersama sopir kami, dan membiarkannya berlama-lama disini.  Sikap mereka sungguh jauh berbeda dengan saat aku meminta izin mengajak evelyne ke rumah.  Mama dan papa bahkan memberiku ultimatum untuk tidak pernah mencobanya.


"oke,  Kea.  Kurasa kau akan baik-baik saja." dr. Sean merapihkan peralatannya ke dalam sebuah tas hitam yang selalu menemaninya bertugas. Ia tersenyum kepadaku dan membelai kepalaku singkat.  Entah mengapa,  rasanya dr.  Sean bukan sekedar dokter pribadi kami.  Ia sudah seperti kakak keempat bagiku.  Perlakuannya yang hangat bahkan terkadang memanjakan, membuatku merasa menjadi adiknya.  Sierra sungguh beruntung memilikinya sebagai suami.


Kini hanya ada Julian bersamaku. Ia berdiri menyandar pada tembok disamping meja rias. Rambut keemasannya agak sedikit terlepas dari ikatan di belakang kepalanya.  Itu membuatnya semakin terlihat menarik.  Matanya tak lepas memandangku, membuat salah tingkah. Entah apa yang ia pikirkan tentangku sekarang.  Perempuan lemah? Sakit-sakitan?  Mudah pingsan?  Oh, sungguh memalukan.


"uhm,  terimakasih." Aku memberanikan diri memulai percakapan.


"untuk apa?" suaranya terdengar begitu akrab.


"menolongku dan mengantarkanku pulang," ucapku lemah.  Bukan karena lelah,  tapi lebih karena gugup.


"tidak masalah.  Aku senang mengantarmu pulang. Meski sedikit kaget, mendapatimu menyerahkan diri begitu cepat untuk kugendong." Ia tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipit di kedua pipi dan deretan gigi putihnya.


"ap..apa maksudmu,  aku menyerahkan diri? Kau menggendongku? " ucapku dengan intonasi tinggi karena syok.  Ia menggendongku!


Ooh,  harus kusembunyikan dimana wajahku ini?


Julian masih tersenyum.  Perlahan ia berjalan ke arahku.  Dari sekian banyak ruang tersisa di kamarku,  ia memilih duduk di kasur,  tepat disampingku.  Kubiarkan ia membelai pipiku meski sebagai orang asing,  harusnya aku melarangnya.


"jangan malu.  Aku memang harus menggendongmu.  Tak mungkin kubiarkan kau tergeletak begitu saja di pelataran parkir,  atau menyeretmu pulang,  itu akan merusak citraku sebagai pria baik-baik." Julian mengatakannya dengan lirih di telingaku.  Tubuhnya condong ke arahku.  Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Rasanya detak jantungku bertalu tanpa terkendali.


"bagaimana kau tahu dimana rumahku? "


"mudah saja.  Kau, Kea Archeys.  Di kota ini,  sepertinya nama keluargamu sudah sangat terkenal.  Dan tentu saja,  mereka pun mengetahui dimana kalian tinggal." Julian mengemukakan sesuatu yang logis.  Papaku memang terkenal karena selain pemilik salah satu perusahaan besar di Dunedin dengan ribuan pekerja, bersama mama, ia juga senang bersosialisasi, bergaul dengan masyarakat sekitar.  Mereka bahkan membangun sebuah rumah khusus di tengah Silica untuk menjamu tamu-tamu.


"keluargaku menyukaimu, " gumamku.  Julian mendengarnya.  "Ya, tentu saja mereka menyukaiku. "


"mengapa? "


"apa maksudmu mengapa?  Apakah aku bukan seseorang yang dapat mereka sukai? "


"bukan begitu.  Mereka tidak mudah menerima orang lain di rumah ini."


"kalau begitu aku pengecualian"


"apa yang membuatmu berbeda? "


"entahlah.  Mungkin,  karena mereka bisa melihat ketulusanku. "


"dalam hal apa? "


"menyukaimu"


"hah? "


"aku menyukaimu. "


Julian menggenggam tanganku.  Genggamannya hangat, tapi tiba-tiba saja sebuah bayangan berkelebat.  Bukan,  bukan bayangan, ini adalah sebuah episode lakorn yang diputar ulang di hadapanku.  Dan hanya aku yang bisa menontonnya.


---000---


Katya bertemu dengan Sebastian untuk pertama kalinya di sebuah pesta yang diadakan keluarga Dargavs.  Sebastian adalah seorang laki-laki tampan dengan mata kecil dan alis tebal yang nyaris menyatu.  Kulitnya putih kekuningan dengan rambut hitam bergelombang.  Ia tinggi, dan tubuhnyaproporsional.  Tapi yang paling menarik justru sikapnya yang santun dan lembut. Menjadi pimpinan di sebuah perusahaan besar,  tidak membuatnya sombong.  Ia terkenal dekat dengan pegawai-pegawainya.  Pribadinya juga hangat.  Seketika Katya merasa bahwa Sebastian bisa menjadi pendamping yang baikuntuknya.  Ia akan mencoba,  hidup bersama dan berusaha untuk jatuh cinta.  Jatuh cinta bukan pada pandangan pertama, melainkan setelah menjadi miliknya, setelah menikah. Meski ada resah menghantui, akankah Sebastian melakukan dan merasakan hal yang sama nanti?


Besok adalah hari pernikahannya dan Katya sungguh merasa gugup. Segalanya telah dipersiapkan oleh kedua keluarga.  Ia hanya perlu mempersiapkan dirinya sendiri,  mengatasi kegugupannya dan berusaha tampil prima esok pagi.  Namun alih-alih tidur lebih cepat agar dapat bangun pagi dengan segar,  ia justru sulit tertidur.  Dengan gelisah ia membolak-balikan tubuhnya di atas kasur,  hingga beberapa saat lamanya.  Dan akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara malam. Disambarnya scarf lebar, hadiah dari neneknya di awal tahun lalu. Ia mulai melangkahkan kaki tanpa tujuan,  hingga akhirnya langkahnya terhenti di tepi danau. Pantulan rembulan terlihat sangat indah di permukaan air yang jernih.  Malam tak begitu gulita karena bulan tengah purnama. beberapaperahu yang tertambat pun begitu tenang bergoyang disentuh angin semilir.


Sesaat ia terhanyut dengan suasana hening yang menenangkan,  hingga sayup-sayup, ia mendengar suara tangisan. Rasa penasaran membuat kakinya melangkah mencari sumber suara.  Semakin terdengar jelas ketika ia mendekati sebuah lumbung tempat warga sekitar menyimpan hasil kebun.


"Velo...  Velocity,  itukah kau? "


Katya yakin dengan penglihatannya.  Sosok yang tengah duduk memeluk lutut itu adalah velocity,  satu dari empat sahabatnya.


Velo tersentak kaget.  Tergesa ia bangun dari duduknya dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya.


"Kat...  Katya... "


"Velo,  ada apa,  kau kenapa?  Apa yang sedang kau lakukan disini? " perlahan katya mendekati velo.  Tangannya terulur ingin merengkuh sahabatnya.


Tapi velo menyentak tangan katya keras,  dan mundur beberapa langkah.  Ia menyibak rambut basah yang menempel di wajahnya. Kemudian tertawa.


"Kau senang kan Katya,  kau senang kan? " ucapnya sedikit histeris.


Katya tak mengerti dan kaget dengan sikap Velo.  Baru kali ini ia melihat velocity begitu terpukul dan berantakan.


"apa maksudmu,  velo? "


"jangan pura-pura.  Tidak ada siapa - siapa disini. Tak perlu bersikap sok baik padaku."


"tapi,  aku benar - benar tak mengerti apa maksudmu? "


"hahaha...  Kau sungguh tahu apa maksudku,  kat. Kau berbahagia di atas penderitaanku."


Katya tercenung.  Ia menatap velo dengan bingung.


"Sebastian.  Aku tak mengerti,  mengapa harus sebastian, Katya.  Mengapa harus sebastian?"


Katya terkejut mendengar nama calon suaminya disebut.


"kau Bisa menikahi laki-laki lain,  katya.  Tapi jangan sebastian. " velo menatapku tajam.


"aku masih tak mengerti velo,  mengapa tidak? "


"karena aku mencintainya kat,  aku mencintai sebastian."


"Ooh.."  Katya tersentak kaget.


"velo,  kita bisa membicarakan ini baik-baik. "


"maksudmu,  kau mau melepaskan sebastian? "


"melepaskan?  Mengapa aku harus melepaskannya?  Aku tak pernah mengungkung dan membelenggunya."


"kau menjeratnya kat.  Kau menjeratnya dengan kecantikan dan kecerdasanmu.  Sementara kau bahkan tidak mencintainya. " velo kembali terisak.


"pernikahan kami telah diatur oleh keluarga,  velo.  Aku sendiri bahkan baru bertemu dengannya sekali di pesta kemarin. Bagaimana mungkin aku menjeratnya,  seperti yang kau katakan. "


"mana kutahu. Kau bisa saja bertemu dengannya diam-diam kat. "


Aku tak menyangka jika velo memiliki pemikiran demikian tentangku.


"maafkan aku,  velo.  Aku sungguh-sungguh tak tahu.  Kukira,  kau mencintai Arman.  Kalian sangat dekat. "


"Ya,  aku menyukai arman,  tapi aku mencintai sebastian. "


"boleh kutahu mengapa? "


"sebastian...  Begitu baik dan perhatian.  Tak pernah ada orang lain yang memperhatikanku sepertinya. "


Mereka sudah saling mengenal,  rupanya.


"dimana kalian bertemu? " aku penasaran.  Selama ini tak sekali pun velo menyebutkan nama sebastian saat kami berlima berkumpul.


"kami biasa mengunjungi kapel yang sama.  Beberapa kali kami bertemu. "


"ah,  begitu."


"lepaskan dia,  kat.  Kau tidak mencintainya. "


"jika aku lepaskan,  apa yang akan kau lakukan? "


"aku belum memikirkannya.  Tapi yang pasti,  ia tidak akan menderita karena harus hidup bersama wanita yang tidak mencintainya. "


Aku mengernyit.  Teori velo jelas bertentangan dengan mama dan nenekku.


"dan kau yakin ia bahagia bersamamu,  ve? "


"aku yakin ia akan lebih bahagia bersamaku. "


"bagaimana kau tahu?"


"aku merasakannya.  Tak mungkin ia memperhatikanku jika ia tak tertarik padaku. "


Hemm...  Ini sungguh teori yang menarik.  Karena sepenglihatanku, sebastian memang lelaki yang penuh perhatian kepada sekelilingnya.  Ia tipe yang akan membetulkan lukisan yang miring jika kebetulan melewati dan melihatnya,  mengembalikan posisi tempat sampah yang terbalik,  menutup keran air yang tak rapat,  hal - hal seperti itu.  Dan seorang velo,  merasa begitu terpesona dengan sikapnya yang tak biasa,  dan jarang dimiliki oleh laki-laki lain.  Aku masih bingung menentukan sikapku.


"tapi velo,  pernikahan kami tinggal beberapa jam lagi.  Keluarga kami telah berhari-hari mempersiapkannya.  Kurasa,  agak sulit untuk membatalkannya. "


"Kau bisa kat, kau bisa."


"aku harus membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan orangtuaku dan juga,  sebastian. "


"apa yang akan kau katakan,  kat?  Bahwa aku memaksamu, begitu? " nada suara velo naik kembali.  Sungguh,  baru kali ini aku melihat sisi lain sahabatku itu,  padahal sudah bertahun-tahun kami bersama.


"tidak,  velo. Aku akan mengatakan bahwa aku berubah pikiran.  Karena seperti katamu,  aku belum memiliki rasa cinta untuk sebastian."


Dan aku yakin,  mama dan nenek akan menceramahiku sampai pagi jika aku nekat melakukannya.  Mereka bahkan mengurung dan merantaiku agar dapat dibawa ke kapel besok pagi tanpa bisa melakukan perlawanan.


"tidak perlu kat,  mereka pasti akan memaksamu.


Akan lebih baik jika mereka tak tahu apa-apa.  Lebih baik kau pergi,  kat.  Pergi.  Hanya untuk sementara,  sampai mereka melupakannya,  sampai sebastian melupakanmu,  dan berpaling padaku.  Sampai kami menikah. "


Lagi-lagi aku tersentak. Sungguhkah dia velo,  sahabatku?  Atau dia adalah mahluk danau yang menyamar sebagai velo dan mencoba menggangguku? Beberapa orang pernah berkata,  pasangan yang akan menikah biasanya menghadapi berbagai gangguan yang bisa menggagalkan pernikahan mereka.  Rasanya sulit dipercaya,  velo menginginkan aku pergi.  Meninggalkan keluargaku,  teman-temanku, kehidupanku, dan... Setumpuk Masalah?


"aku tak bisa, ve. Akan terlalu sulit bagiku untuk pergi begitu saja.  Aku tak tahu harus kemana,  aku bahkan tak pernah meninggalkan Ossetia.  Belum lagi masalah yang akan kutimbulkan untuk orangtuaku dan juga keluarga sebastian."


Aku memohon pengertian velo melalui tatapanku.


"baiklah kat.  Kalau begitu,  lebih baik aku saja yang pergi.  Kau lebih suka jika aku yang pergi,  bukan?  Aku memang pecundang.  Tak ada gunanya juga aku hidup hanya untuk melihat orang yang kucintai menikahi orang lain."


Orang lain?  Velo menganggapku orang lain?  Rasanya ada sisi hatiku yang tercabik mengetahui sahabatku menganggapku hanya orang lain.


Aku tak menyadari kepergian velo,  hingga kecipak air mengalihkan perhatianku.


Kulihat sosok velo tengah menuju danau.  Apa yang hendak ia lakukan? Tanpa pikir panjang,  kuangkat gaunku dan berlari menyusulnya.


"ve,  velocity,  apa yang kau lakukan?  Berhenti!  Velo... "


Nafasku pendek - pendek,  tersengal. Aku berhasil mencapainya.  Kuraih lengan velocity dan membalik tubuhnya.  Air hampir mencapai lututku.


"apa yang kau lakukan ve,  jangan.  Ayo,  kita kembali." aku menarik lengannya,  berusaha membawanya kembali ke darat.


"lepaskan aku kat.  Aku akan pergi,  dan tak akan mengganggu kalian lagi.  Aku akan pergi selamanya.  Itu kan yang kau mau? "


Aku mendelik.  Tak percaya dengan apa yang kudengar.


"kita bisa membicarakan ini baik-baik ve,  kau, aku,  sebastian.  Ia pasti mengerti."


"tidak.  Jangan libatkan sebastian.  Ini hanya diantara kita,  katya.  Kau yang pergi atau aku. "


Aku berdiri mematung.


"haha...  Sudah jelas aku yang harus pergi. "


Velo melepaskan diri dari peganganku.  Ia kembali menuju ke tengah danau.


"tidak ve,  jangan"


"lepaskan aku kat. "


"ayo kembali, ve."


"untuk apa?  Aku sudah tak ingin hidup lagi. "


Velo mempercepat langkahnya di air.


Aku mencoba meraihnya kembali.


"lepaskan aku...  Lepaskan..."


"tidak,  velocity...  Tidak...  Kembali...  Velo... "


"lepaskan aku,  lepaskaaaan... "


Dug...


"arghhh," sebuah erangan terlepas dari mulutku.  Kepalaku sakit.  Refleks kuangkat tanganku menyentuh bagian yang terasa sakit. Mataku berkunang-kunang.  Aku masih melihat velo berdiri mematung,  sebelum perlahan pandanganku dipenuhi hitamnya dedaunan,  langit yang kelam dan purnama. Lalu...  Gelap.


---000---


"Kea,  key... "


Tubuhku berguncang-guncang.


"Kea,  kau kenapa key...  Key... "


Julian...  Itu suara Julian.


Mataku mengerjap beberapa kali.  Hingga aku melihat wajah itu.  Wajah tampan dengan mata biru indahnya yang menatapku dengan ekspresi ngeri.  Apa yang terjadi?


"Kau tak apa-apa,  key? " Julian menangkup pipiku dengan kedua tangannya.


"tidak...  Tidak apa apa,  julian.  Aku tak apa - apa."


Aku menjawabnya dengan nada tak yakin.


Apa itu tadi?  Kuyakin ini bukan mimpi,  karena aku tidak sedang tertidur.


"Oh,  kea...  Kau membuatku terkejut." Julian meraih tubuhku ke dalam pelukannya.  Kini hatiku bukan hanya meloncat - loncat.  Hatiku bergemuruh siap meledak seperti puncak malakayan yang siap menyemburkan laharnya setiap saat.


"apa yang kau rasakan, key? " julian menatapku dengan dahi berkerut.


"aku...  Entahlah.  Aku tak yakin." aku memang benar-benar tak yakin mengenai apa yang baru saja kualami.  Itu jelas bukan mimpi,  bukan juga khayalan,  kurasa juga bukan ingatan.  Siapa orang-orang itu?  Katya,  sebastian,  velocity?  Nama-nama yang asing bagiku,  tapi sepertinya tidak juga.  Aah,  entahlah.  Aku bingung.


Tak sadar aku mengernyitkan dahiku.


"kau sedang memikirkan sesuatu,  key." julian menginterupsi pikiranku.


"bagaimana kau tahu? "


Julian tersenyum. Seketika hatiku menghangat.


"anggap saja,  kebiasaan lama yang belum hilang"


Aku kembali mengernyit.  Apa maksudnya?


Julian pun kembali tertawa.


"kau memprotesku,  key? " tanyanya.


"tidak. "


"anggap saja,  aku merasa telah begitu dekat denganmu dan mulai mengetahui kebiasaanmu. "


"memang,  apa kebiasaanku? "


"salah satunya,  kau akan mengernyitkan dahimu ketika sedang sibuk sendiri di dalam sini." julian menyentuh pelipisku.


"oh ya,  begitu juga ketika kau sedang protes." ia tertawa memamerkan gigi-giginya yang berbaris rapi.


"julian,  apa yang kau tahu tentang halusinasi? " tanyaku sesaat setelah kami sama - sama terdiam.


"halusinasi?  Mengkhayalkan sesuatu itu ada atau terjadi,  padahal sebaliknya.  Kurasa begitu. " julian menjawab pertanyaanku tanpa ragu.


"kau pernah mengalaminya? "


Julian terdiam. Sejenak kulihat kesedihan di mata birunya.


birunya.  Hingga tak lama ia tersenyum kembali.


"ya,  pernah.  Cukup sering.  Bahkan terkadang,  aku tak bisa membedakan apakah itu nyata atau halusinasiku saja,  jika saja aku tidak..." kalimatnya menggantung.  Lalu matanya terpejam.  Ia menggeleng lemah, seakan berusaha menghalau pikiran apapun yang sedang melintas di kepalanya.


Julian menggenggam tanganku lagi,  meremasnya lembut.


"tapi sekarang aku cukup yakin jika aku tidak sedang berhalusinasi." julian mendekatkan wajahnya padaku.


"Kau nyata," ucapnya lirih sebelum akhirnya ia menciumku.


Kurasa saat ini,  rongga dadaku bisa jadi retak menganga karena jantungku yang melompat-lompat demikian kerasnya tak terkendali.


Lalu beberapa waktu yang menyenangkan sekaligus mendebarkan kemudian,  telingaku menangkap suara langkah kaki di luar menuju kamarku.  Itu langkah kaki Will, aku takkan salah menebak.  Irama langkah Will sangat khas berdetak di lantai rumah kami.  Mataku menangkap daun pintu kamarku yang tak tertutup.  Refleks ku kibaskan lenganku,  panik tak ingin Will melihat kami dengan bibir yang sedang menyatu.  Daun pintu menutup keras dengan suara bedebum. Disusul suara bedebum yang lain,  suara tubuh will menghantam daun pintu kamarku,  berusaha merobohkannya.


"Julian,  apa yang kau lakukan?  Julian!  Julian! "