
Hari ini sungguh ramai di kediaman kami. Kakakku, ilona, akan diperkenalkan. Dan ibu kami telah mengatur agar ilona bertemu dengan pemuda tampan dengan kriteria tertentu yang "memenuhi syarat", seorang duke lebih disukai tentunya.
Rosetta, pelayan pribadiku telah sedari tadi membantuku berhias. Ia berkeras agar aku menggunakan gaun hijau zamrud dengan hiasan salur emas. "warna emas di gaunmu akan lebih menonjolkan warna matamu, nona," ucapnya penuh keyakinan. "dan itu juga cocok dengan rambutmu," ujarnya lagi. Aku mendengus sebal tapi juga mengakui bahwa ia benar. Semua yang sewarna emas akan sangat pas kukenakan. Dibanding gaun warna peach yang sebelumnya kupilih. Warna peach lebih sederhana. Hiasannya juga hanya berupa renda-renda kecil dengan warna lebih tua. Tapi rosetta menentangnya mati-matian. "jangan salahkan aku nona, jika aku tak sengaja menumpahkan sup ke gaunmu yang pucat ini. Tanpa sengaja, tentunya." Rosetta memang pelayanku. Tapi terkadang ia sanggup mengancam dan mengintimidasiku seperti saat ini. "itu hanya untuk keadaan darurat dan memang sangat diperlukan nona. Bahkan saya jamin, nyonya Spencer juga akan mendukung saya, " selalu kalimat itu yang ia lontarkan setiap kali aku mengingatkan akan status pelayannya. Berusaha mengancam balik untuk memecatnya, tapi rupanya ia sangat paham bahwa di rumah ini hanya ibukulah yang berhak mengangkat dan memecat pelayan.
Dengan terpaksa aku menggunakan gaun hijau itu. Rambutku digelung sebagian, dan sebagian lagi dibiarkan tergerai, memamerkan ikalnya yang menutupi punggungku.
"Nah, sudah selesai nona. Sekarang kau sudah terlihat pantas menghadiri pesta bangsawan, " rosetta tersenyum puas memandang hasil karyanya. Sementara aku menanggapi dengan malas. Toh wajahku tak jauh berubah. Pucat seperti biasanya. Hanya bibirku yang memberikan sedikit warna merah muda. Syukurlah, hari ini illona yang akan menjadi bintang. Tugasku adalah sebagai pendamping. Cukup berdiri di samping Ilona yang akan menyambut tamu-tamu yang datang, mengekor kemanapun ia berjalan, hingga ia menemukan seseorang yang cukup pantas untuk mengajaknya berdansa.
Kereta kuda indah bergantian menurunkan penumpangnya. Pria wanita dengan pakaian pesta beraneka model dan warna. Beberapa wanita masih senang menata rambutnya dengan gaya lama yang sangat rumit dan membedakinya dengan warna yang sesuai warna gaun. Sementara para pria sudah lama meninggalkan kebiasaan mereka menggunakan wig atau membedaki rambut. Gaya yang sekarang lebih praktis dan lebih menonjolkan kemaskulinan mereka, kurasa. Dan itu bagus.
Ayah dan ibu kami berdiri mengapit ilona, tersenyum pada siapapun tamu yang datang. Semuanya adalah orang-orang terpandang di London. Kebanyakan mereka bersama putra-putra mereka yang salah satunya kemungkinan besar akan segera bertunangan dengan ilona. Dan rupanya tak butuh waktu lama bagi Ilona untuk menemukan pria yang ia sukai.
Seorang pria tampan dengan mata hitam kelam, lebih hitam dari rambut pendeknya yang sedikit ikal. Tinggi menjulang di atas Ilona tapi tingkah lakunya terlihat lembut dan sopan. Aah... Tapi bukankah semua pria bangsawan seperti itu. Terlihat lembut dan sopan, sampai kau menikah dengannya. Itu yang dikatakan rosetta.
Aku lega terbebas dari tugasku mengekor ilona. Ia sudah asyik berdansa dengan sang Viscount. Walz... Walz... dan walz... Apakah pemain musik yang disewa ibu hanya bisa memainkan satu genre musik itu saja?
Dengan bosan aku berjalan mengitari meja hidangan panjang dimana berbagai makanan istimewa khas London dan bergelas-gelas cairan kekuningan yang kukira brandy tersedia dalam jumlah yang cukup untuk seisi kota, kurasa. Tentu aku tak berani menyentuhnya. Aku tak mau mengacaukan pesta kakakku tersayang. Lagipula aku masih dibawah umur.
Sekilas aku melihat gerakan diantara deretan pepohonan di depanku. apakah itu seekor rusa tersesat yang tertarik melihat sinar lampu? Tapi bukankah biasanya mereka menghindari keramaian? Tapi jika bukan rusa, lalu apa?
Menjelang tengah malam, aku menyeret kakiku menuju kamar. Tak kuperdulikan beberapa orang yang berceloteh dan berjalan sempoyongan karena mabuk. Beberapa pasangan tak sadar jika mereka berada di tengah keramaian, dan ilona... Entah kemana sang Viscount membawanya. Aku terlampau lelah untuk mencarinya.
Rosetta tengah menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuhku setelah dengan susah payah membantuku melepaskan gaun dan membebaskan rambutku dari tatanannya. Tak lama aku segera merangkak ke atas ranjangku, kedalam kehangatan selimut tebal yang melindungiku dari udara dingin musim gugur.
Paginya aku terbangun. Tapi bukan di ruangan yang sama dengan ruangan yang semalam kumasuki. Dimana ini?
Kukerjap-kerjapkan mataku. Dimana rosetta? Ranjang yang berbeda. Ranjangku semalam adalah ranjang besi tempa hitam dengan 4 buah tiang yang berhiaskan sulur tanaman merambat, lengkap dengan kelambu putih yang menjuntai menutupi seluruh tepi ranjang. Ranjang yang berada di bawahku sekarang berwarna putih dan terbuat dari kayu, tanpa kelambu.
Sejenak aku bingung.
"Kea sayang, kau sudah bangun? "
Itu... Itu suara mama.
Perlahan pintu kamarku terbuka, dan sebuah wajah cantik yang sangat kukenal muncul dengan senyuman.
"hari ini, bukankah kau ingin mengunjungi beberapa sekolah kejuruan. Kau harus bangun dan bersiap sekarang, anak manis." Mama melangkah menghampiri dan menyibak selimutku.
"Mama...," lirih kupanggil namanya...
"Iya, sayang. Tentu saja ini mama, siapa lagi yang bersedia membangunkanmu sepagi ini."
Kupaksakan kakiku melangkah ke kamar mandi. Kalimat-kalimat mama tadi kucerna satu per satu. Sekolah, berkunjung, bersiap, sekolah kejuruan. Tidak ada pesta, tidak ada dansa, tidak ada rosetta dan ilona, tidak ada wadah air hangat untukku membasuh muka. Yang ada adalah sebuah bathtub bundar berukuran sedang yang sekarang kosong, dan sebuah pancuran air yang segera kuputar krannya. Air hangat membasuh tubuhku dari ujung kepala, menelisik menyusuri wajah, leher, dan seluruh tubuhku. Jadi, semalam hanya mimpi. Tapi, mengapa mimpi itu terasa begitu nyata...?
Tak sampai tiga puluh menit, aku sudah siap dengan pakaian bepergianku. Celana jeans biru tua dipadukan dengan blouse biru muda lengan pendek dan jaket putih yang tak pernah kukancingkan. Rambutku kuikat asal menggunakan scarf. Jika aku kedinginan, aku bisa menggunakannya untuk menutupi leherku.
Kupandang wajahku dalam cermin. Wajah yang kini kulihat dalam cermin memang sama dengan yang juga kulihat dalam cermin semalam. Namun gaya dandanan kami jauh berbeda. Seakan-akan aku yang semalam berasal dari masa berabad-abad yang lalu.
Bob sudah siap. Ia akan menemaniku berkeliling hari ini. Untuk urusan memilih sekolah, mamaku tentu saja mempercayakannya pada Bob, untuk memberi masukan dan pertimbangan padaku. Bob adalah si akademisi di keluarga kami. Kacamata yang selalu bertengger di wajahnya sudah cukup sebagai bukti.
"Baiklah tuan putri, ayo kita berangkat." bak seorang ksatria, Bob menyediakan lengannya untuk kugandeng. Aku hanya tertawa menanggapinya.
"pastikan kau memilih yang benar-benar kau sukai, sayang, " pesan mama sambil mengecup keningku.
"Ya, ma. Tentu saja."