Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 27



“Ah, sungguh menyebalkan.” Lagi-lagi laki-laki muda itu bergumam sambil mendesis. Sesekali memukul-mukul stir mobil yang sedang dikendarainya, hanya untuk melampiaskan kekesalan. Wajahnya masam dengan dahi berkerut dan alis mata yang hampir bertaut menjadi satu. “Ini semua karena si brengsek Julian,” rutuknya. Mobil yang dikendarainya memasuki area parkir bandara yang hampir penuh. Tak lama, ia keluar dari mobilnya dengan sedikit tergesa. Sebuah tas hitam menggantung di bahunya, hanya sekedar untuk melengkapi penampilan. Akan terasa aneh jika menaiki pesawat untuk bepergian tanpa membawa apapun. Beberapa pasang mata tampak menatap padanya dengan ekspresi kagum yang tidak bisa ditutupi. Hal yang sudah biasa ia alami sebagai bagian dari keluarga Archey. Tak lama mengantri, akhirnya Wilan berhasil memasuki kabin pesawat yang akan membawanya menuju Maumare. Menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi penumpang dan mulai memejamkan matanya. Ya, Maumare. Kata itulah yang muncul dalam ‘penglihatannya’ ketika ia mulai menetapkan tujuannya, “segera menemukan Anna… lagi.” Ia sudah sering mendampingi papanya mencari jejak keberadaan Anna sebelumnya. Menelusuri jejak Anna saat ini sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan pencariannya dulu. Mencari Anna secara random di dunia yang begitu luas tanpa petunjuk apapun, hanya mengandalkan keberuntungan dan insting pemburunya. Pesawat mulai lepas landas. Ingatannya kembali ke peristiwa semalam.


WILAN


Keluarga Archey semakin sering berkumpul di The Rink semenjak kedatangan Julian. Aku cukup merasa bersalah karena telah memberitahukan kebenaran tentang Anna pada Julian. Tapi itu semata-mata untuk mencegah laki-laki itu melakukan hal bodoh, seperti menjatuhkan dirinya ke bebatuan runcing di tepi sungai Dhoom setelah mengurung diri sangat lama seperti pertapa atau bahkan terpidana seumur hidup di dalam perut gunung Malakayan. Meskipun setelah dipikir-pikir, kecil kemungkinan pemimpin tertinggi sebuah suku sepertinya akan semudah itu menyerah. Dan sejak Julian mengetahui bahwa Anna masih hidup, ia tak henti membuat masalah. Kali ini keributan terdengar dari kamar Anna. Suara gedebug yang cukup keras, dan teriakan Anna, “Keluar! Keluar!”


Tak lama pintu kamar Anna terbuka, dan Julian melangkah keluar dari sana dengan wajah bingung dan syok. Susah payah aku menahan tawa alih-alih bersimpati padanya. Mama memelototiku, membuatku memalingkan wajah.


Papalah yang bertanya, “Ada apa, Juls? Mengapa kau di kamar Anna? Kupikir kau tak ada disini.”


cih, aku memutar bola mataku. Apalagi… pastilah ego seorang muda yang sedang kasmaran mengalahkan logika. Aku sudah merasakan keberadaan Julian sejak memasuki halaman The Rink, kemarin sore. Dan itu artinya, Julian tidak pernah meninggalkan rumah ini.


“Aku hanya ingin memastikan Anna baik-baik saja.” Julian mengemukakan alasan. Tatapannya masih menyiratkan kepanikan.


“Dan, apa yang kau lakukan untuk memastikan ia baik-baik saja?” Bob bertanya dengan ekspresi dan nada datar. Namun ia tak dapat menipuku, aku melihat sekilas kedutan di ujung bibirnya. Ia berusaha menahan tawanya.


“Aku… aku hanya… menciumnya.” Suara Julian sedikit bergetar.


“Brengsek kau!” Nat berteriak gusar sambil menggebrak meja. Samantha reflex memegang lengan suaminya, mencoba menahannya dari perang saudara. Well ya… sebenarnya aku sedikit kecewa. Nat VS Julian sangat jarang terjadi. Diluar hierarki kerajaan, di rumah ini Nat tetaplah kakak tertua. Orang kedua yg memimpin keluarga setelah papa.


“Apa Anna menolakmu?” Kali ini Tatiana yang bertanya. Si kecil yang selalu antusias dengan kisah percintaan siapapun itu memandang Julian dengan raut penasaran dan mata berbunar-binar.


“Tidak juga, sebelum ia bertanya apakah aku mengenal Anna.” Raut wajah bingung itu mulai tampak berpikir. Ia mendongakkan sedikit dagunya. Aku sering melihat ekspresi itu dalam beberapa pertemuan penting yang kami hadiri. Meskipun ekspresi panik dan tak berdaya yang ia tunjukan tadi sangat jarang kutemui.


“Lalu…?” mama yang sebelumnya sudah merasa sangat khawatir, kini ikut penasaran.


“Ooh… tentu saja…” senyum mengembang di wajah Julian saat lampu bohlam itu mulai menyala di kepalanya yang biasanya banyak berisi ide-ide brilian. "Mungkinkah ia cemburu?" pertanyaan retoris, Julian bertanya tanpa memerlukan jawaban.


“Kukatakan… Anna adalah istriku,” masih sambil tersenyum, Julian menjawab pertanyaan mama.


Dan tiba-tiba saja, meja makan kesayangan mama sudah terdorong beberapa meter, diikuti tubuh tinggi besar Nathan menerjang ke arah Julian yang tiba-tiba saja menghilang.


“Aku akan menengok Anna. Ehm, maksudku, Kea.”


Tak lama ia pun melesat ke lantai atas.


Julian sudah benar-benar pergi, aku tidak merasakan keberadaannya lagi di rumah ini. Hanya ada 5 aura yang dapat kurasakan sekarang, setelah Nathan dan Samantha pergi.


Tapi, lima…? Mengapa hanya ada 5? Siapa lagi yang pergi? Di rumah ini ada banyak manusia selain keluargaku, para pelayan dan pekerja di kebun bunga milik mama. Tapi aku hanya bisa merasakan keberadaan manusia dari jenis kami, bionic. Jadi, seharusnya ada 6 orang di rumah ini, aku, Bob, Tian, mama, papa, dan Anna. Siapa lagi yang pergi? Kulihat papa masih memeluk mama di sofa ruang tamu. Kekhawatiran mama tidaklah berlebihan. Meski selama ini mama yang selalu diandalkan untuk menenangkan orang lain dengan kemampuan khususnya, tapi trauma atas kehilangan Anna belum sepenuhnya bisa dihilangkan. Bob sibuk membolak-balik channel televise yang kuragukan disimaknya. Televisi hanyalah salah satu kamuflase bagi kami untuk mengalihkan pikiran. Lalu, apakah…


“Bob… Will, cepat kesini?” teriakan Tatiana di lantai atas mengkonfirmasi kekhawatiranku. Hanya kulihat Tatiana di kamar Anna, berdiri di samping nakas. Tangannya memegang selembar kertas berwarna kuning muda yang kemudian ia serahkan padaku. Tulisan tangan Anna yang sangat kukenal.


Dear mom, dad…


Maafkan aku. Kurasa aku perlu waktu untuk menenangkan diri. Setidaknya sampai aku dapat mencerna semuanya atau sampai kalian siap menceritakan segalanya. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.


Love u,


  Kea


Lemas tanganku terkulai. Kuremas surat Kea dan kubuang asal entah kemana.


“Pergilah Wil, dampingi Anna.” Suara papa di belakangku.


“Aku ikut.” Bob menepuk pundakku.


“Tidak Robert, harus ada orang yang menahan Nathan disini, siapa tahu Julian kembali. Aku akan menyusul Wilan setelah memastikan mama kalian baik-baik saja.” Papa telah memutuskan.


Dan disinilah aku, setelah menelusuri jejak yang ditinggalkan Anna, yang memastikan dugaanku, bahwa adik tersayangku memutuskan untuk mengunjungi sahabatnya di sekolah Basic dulu. Kemana lagi tujuannya jika itu melibatkan pesawat terbang? di masa kehidupannya yang sekarang, Anna belum pernah sekalipun pergi ke luar kota tanpa didampingi. Jika ia harus memutuskan tujuannya dengan cepat dan jauh, kuyakin tujuannya adalah orang yang telah ia kenal dengan sangat baik, Evelyne.