Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 17



Akhir-akhir ini,  tidurku selalu dihiasi mimpi.  Anehnya,  mimpi-mimpi itu selalu terasa sangat nyata,  seolah-olah aku benar-benar mengalaminya.  Seingatku,  dari kecil aku memang suka bermimpi,  tapi sekarang,  mimpi-mimpi itu semakin sering muncul.


Dan,  nama Anna selalu mendominasi.  Kemarin,  saat tertidur di bathtub,  Anna kembali muncul,  dan anehnya,  aku juga memimpikan laki-laki yang ada di kantin Otago,  laki-laki bermata biru dengan rambut panjang keemasan.


Hari ini,  aku tidak memiliki rencana untuk keluar rumah. Itu artinya,  aku akan terbebas dari "pengawasan" para pengawalku seharian penuh.  Meskipun aku tidak yakin jika mama atau papa tidak menyisipkan mata-matanya di rumah ini.  Aku sendiri sudah sangat terbiasa dengan ketidakbebasanku ini.  Hanya saja ada kalanya aku ingin memiliki rahasia,  yang tidak diketahui siapapun.  Kegiatanku yang luput dari pengawasan mereka.


Tadinya,  aku ingin melibatkan evelyne dalam rencanaku ini. memiliki sekutu dalam menjalankan misi rahasia pastilah lebih baik daripada sendiri. Tapi,  kabar mengejutkan darinya kuterima dua hari lalu.  Ia dan keluarganya akan pindah ke Maumare. Ayahnya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin salah satu anak perusahaan Harrington. Sesuatu yang merupakan cita-cita terbesarnya,  demikian evelyne menyebutnya. Lusa,  Kami akan melakukan "hangout" kami yang terakhir sebelum mereka berangkat.  meskipun aku sangat sedih kehilangan sahabat sebaik evie,  dan juga jeremy,  meski jeremy seringkali membuatku jengkel dan kesal.


Tujuan pertamaku seperti biasa adalah perpustakaan.  Tempat yang kupilih jika ingin menyusun sebuah rencana atau sekedar membuat sketsa.  ruangan kecil di sudut perpustakaan ini tidak pernah berubah sejak aku kecil.  Masih dengan karpet bulu yang sama,  sofa tanpa kaki yang sama,  setumpuk puzzle dan tentu saja bertumpuk tumpuk buku yang pernah kubaca tapi belum kukembalikan ke tempat asalnya.  Sepertinya mama sudah lama tidak kesini.  Jika tidak,  mana mungkin aku selamat dari omelannya yang khas. "semua benda harus kau kembalikan ke tempatnya semula Kea,  suatu saat kau perlu,  kau akan menemukannya dengan mudah. " dialog yang bahkan aku hapal di luar kepala.


Duduk dan berbaring di sofa berbulu tebal ini selalu menimbulkan sensasi tenang secara otomatis.  Mungkin,  itu juga alasannya mengapa di ruangan seorang psikiater,  sofa menjadi properti khas yang paling penting, paling menonjol,  selain tentu saja pendulum dan jam dinding.


Harus kumulai darimana penyelidikanku? Bertanya pada narasumber, jelas akan langsung gagal total.  Kecuali jika aku memasang jebakan yang sangat lihay.  Tapi saat ini aku tidak memiliki satu ide pun untuk menjebak kakak-kakakku.  Mereka selalu bisa menebak pikiranku. "Hasil dari latihan bertahun-tahun, " begitu selalu Will berkata.


Atau...  Bertanya pada para pelayan,  pada salah satu asisten mama,  pada Yolan misalnya,  atau Mrs.  Johnson?  Tapi aku khawatir mereka akan menceritakannya pada mama.  Biar bagaimanapun,  biasanya seseorang akan lebih setia kepada yang memberi mereka kehidupan (gaji,  maksudku).


Hemm...  Ahaa..  Ide yang bagus tiba-tiba melintas...  Berdasarkan mimpiku yang tidak kuketahui nyata atau khayalan belaka,  aku berasumsi,  kakak-kakakku mengenal Anna.  bisa jadi,  Anna adalah kenalan dekat keluarga kami,  bahkan mungkin kerabat.  Sesama kerabat biasanya saling mengunjungi di acara-acara penting. Dan di setiap acara penting,  biasanya juga... Ada sessi berfoto bersama.  Aah,  Kea,  kau sungguh jenius.  Aku terkikik geli karena memuji diri sendiri.  Tentu saja...  Foto!  Itulah yang harus kucari.


15 menit berikutnya kuhabiskan untuk mencari album foto keluarga.  Tapi belum juga bisa kutemukan.  Apa album tersebut tidak berada di perpustakaan?


Segera kucari Yolan.  Ia yang bertugas membersihkan rumah bersama seorang asistennya.  Tentu ia tahu dimana album foto keluarga kami berada.  Meski aku sendiri heran.  Seingatku,  belum pernah sekalipun aku diajak menghadiri acara keluarga atau mengunjungi kerabat,  apalagi berfoto bersama.


"Yolan, apa kamu tahu dimana album foto keluargaku disimpan? " tanyaku,  pada wanita di awal usia 40 yang telah bekerja di rumah ini sejak remaja.


"album foto? " nadanya balik bertanya.  Dahinya berkerut, entah karena heran atau karena sedang berpikir.


"saya tidak pernah melihat album foto selama saya bekerja disini,  miss." ucapnya sedikit tak yakin.  Yah,  akupun baru menyadari keanehan itu sekarang.  Salah satu perbedaan mencolok antara rumah kami dan rumah evelyne,  sahabatku adalah, rumah evelyne dipenuhi oleh foto-foto keluarga,  kerabat,  dan teman-temannya,  termasuk fotoku. Bahkan ada satu dinding di rumahnya yang memajang foto-foto evelyne dan jeremy ketika mereka masih balita.  Jeremy selalu memandangku dengan sikap bermusuhan jika aku memandang dinding tersebut sambil tersenyum.  Bagaimana tidak,  waktu bayi,  ia yang super menjengkelkanpun ternyata sangat cute, imut.


"tapi,  miss...  Saya pernah menemukan selembar foto, sepertinya foto keluarga, di kamar nyonya. Tapi saya sendiri tidak yakin," ucap Yolan dengan nada ragu.


"mengapa? " aku sangat senang sekaligus penasaran.


"sepertinya itu foto yang sudah sangat lama.  Foto hitam putih dan sedikit usang," Yolan menambahkan kali ini dengan cukup yakin.


Mungkin tak kan ada yang percaya jika kukatakan Yolan hampir pingsan ketika aku membuat dan menghias kue ulangtahunku sendiri di usia belum genap 7 tahun.  Kue ulang tahun 3 tingkat dengan hiasan keranjang cream penuh bunga.  Sayang mama melarangku memfotonya untuk kenang-kenangan.  Atau saat aku diam-diam mengendarai mobil papa di usiaku yang ke-10. Itu karena Laudya menantangku.  Ia memamerkan kemampuannya bermain piano dengan piawai,  dan mengatakan hal-hal buruk pada evelyne.  Bahwa evelyne tidak bisa apa-apa kecuali mengadu pada kakaknya,  jeremy.  Evelyne tampak tertekan dan matanya memerah menahan tangis.  Hingga aku mengatakan bahwa aku dan evelyne sudah pandai mengendarai mobil.  Sesuatu yang kutahu pasti,  Laudya tidak bisa mengunggulinya.  Ketidakpercayaan Laudya sungguh menjengkelkan,  hingga akhirnya ia menantangku untuk mengendarai mobilku sendiri ke sekolah.  Tentu saja itu tak mungkin.  Aku tak mau mencoreng nama keluargaku dengan melanggar peraturan.  Kami masih belum cukup umur untuk berkendara.  Akhirnya kami memutuskan untuk membawa mobilku ke rumah laudya di jam 1 pagi.


Awalnya aku sendiri merasa takut,  saat menyelinap diam-diam keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil papa dari tempatnya digantung di ruang depan.  Tapi demi evelyne kuberanikan diri dan dengan penuh tekad masuk ke dalam mobil papa, di kursi pengemudi.  Posisi keramat yang tak berani kutempati sebelumnya. Dan ternyata,  setelah mesin mobil menyala,  kudapati mengendarai mobil tidaklah sulit, seakan-akan aku telah terbiasa melakukannya.  Aku sangat senang bahkan menyalakan radio selama perjalanan menjemput evelyne.  Jalanan hanya sedikit terlihat karena pandanganku terhalang dashboard.  Ini karena tubuhku belum setinggi papa sehingga aku harus benar-benar duduk tegak lurus agar bisa melihat jalan di depanku.


Menunggu evelyne di depan rumahnya selama hampir 15 menit membuatku mengantuk.  Karena evelyne tak juga muncul sementara jam di mobil papa sudah menunjukan angka 00.55, kuputuskan untuk langsung aja menuju rumah Laudya yang tidak begitu jauh dari sini.  Tapi tetap saja tidak mungkin cukup waktu untuk tiba disana tepat waktu.  Kuinjak gas dengan kekuatan maksimal yang bisa kukerahkan,  dan mobil papa melesat bak mobil yang berada di lintasan sirkuit,  mengejar posisi pertama di putaran terakhir.  Aku panik dan mulai mencari-cari rem dengan kakiku.  Otot-ototku menjadi kejang, tanganku mencengkram kemudi dengan kekuatan berlebihan, kakiku menggapai-gapai di bawah sana tapi, dimana remnya...  Dalam keadaan takut dan bingung,  akhirnya aku pasrah ketika melihat dari kejauhan,  sungai victory bersiap menyambutku. Sesaat sebelum aku menuju akhir hidupku (kupikir demikian,  jarang yang selamat dari cengkraman sungai victory ketika airnya sedang mengalir sederas sekarang, awal musim semi yang masih terasa dingin), tiba-tiba aku dikejutkan sosok papa yang telah berada di sebelahku.  Kejadiannya begitu cepat ketika papa mengangkat dan memindahkanku ke kursi belakang dan ia sendiri mengambil alih kemudi,  membanting stir sambil mengeluarkan umpatan keras yang belum pernah kudengar sebelumnya bahkan tak pernah membayangkan papa akan bisa mengucapkannya.


Aku masih tak bisa menggerakan tubuhku,  tak juga bisa berkata-kata. Hanya kutahu papa menghentikan laju mobil, berhenti di tepi sungai.  Tanpa memandangku,  papa bertanya,  "Kau tak apa-apa,  Kea? " nada suaranya dalam dan bergetar.  Aku tak pernah mendengar papa berbicara dengan nada seperti itu sebelumnya. Perlahan kuanggukan kepalaku,  berharap papa mengerti karena aku kehilangan suaraku.  Aku terus memandang papa sepanjang perjalanan pulang.  Papa tak bertanya atau berkata apapun lagi.   Rahangnya menggertak.  Otot-otot lengannya bertonjolan,  dan cengkeraman tangannya dikemudi seakan ingin mematahkannya sebagai hukuman atas partisipasinya terhadap kenekatanku malam ini.  Begitu sampai, papa membuka pintu belakang dan menarikku keluar.  Mama langsung berlari menyambut dan memelukku.  Sekilas kulihat wajahnya sembab,  sepertinya ia habis menangis.  Kakak-kakakkupun langsung menghampiri.  Tapi papa meminta agar aku segera dibawa kekamarku.  Aku memang masih sedikit shock.  Bayangan sungai victory yang siap menyambutku masih jelas di pelupuk mata,  begitu juga papa yang entah bagaimana caranya tiba-tiba berada di dalam mobil dan mengambil alih kemudi dalam hitungan detik.  Dan sekarang ditambah perasaan takut karena tertangkap basah telah melakukan kesalahan fatal.


Yolan tergopoh-gopoh membawakan sewadah air hangat untukku membasuh wajah.  Ia juga menggantikan bajuku dengan baju tidur yang lebih nyaman.  Tak lama,  savanah membawakanku segelas susu hangat.  Sepertinya aku sukses membangunkan seisi rumah ini,  sama sekali berbeda dengan rencana yang telah kususun siang sebelumnya.


Mama tidak bertanya apa-apa padaku.  Ia hanya tersenyum manis padaku dan membelai kepalaku.  Jejak bekas airmata masih terlihat jelas di pipinya. "mom,  maafkan aku," ucapku lirih.  "Oh,  Kea.  Kau tak tahu bagaimana rasanya, " mama memelukku.  "Tidurlah,  kau pasti lelah, " ucapnya.  Dan memang aku sangat lelah terutama secara mental.  Dan rasanya aku sanggup tidur seharian.


Setelah hari itu deretan kunci kendaraan bermotor di rumah kami, menghilang.  Entah kemana.  Mungkin disimpan di tempat tersembunyi yang tak bisa kutemukan.


Rencana berikutnya adalah mencari foto yang dimaksud Yolan di kamar orang orangtuaku.  Tapi aku harus sedikit bersabar karena mama dan papa masih berada di kamar mereka.  Mungkin nanti siang jika aku cukup beruntung.


Dan rupanya waktu keberuntunganku adalah menjelang makan siang.  Papa dan mama pergi untuk menghadiri jamuan makan siang dari relasi bisnis papa.  "Pembicaraan bisnis selalu tepat dilakukan ketika perutmu kenyang. " begitu slogan papa. Dan aku tidak berani meremehkan kalimat itu karena bukti keberhasilan papa terpampang dimana-mana di rumah kami.


Tanpa bersuara kumasuki kamar mereka.  Tak berani menyalakan lampu,  tapi memang tak perlu.  Siang ini cukup cerah dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar yang menghadap danau dan kebun bunga memberikan penerangan yang cukup.


Aku berjalan mendekati laci hias mamaku.  Kutarik laci-laci yang berderet rapi satu per satu.  mamaku memang orang yang rapi,  cermat dan teliti.  Isi laci-lacinya disusun dengan kategori tertentu. Perhiasan,  alat kecantikan,  jam tangan  parfum dan beberapa perlengkapan menulis dan berkirim surat.  tapi,  laci yang terakhir,  terkunci.  Beberapa kali kutarik sedikit keras,  tak juga mau terbuka.  Mengapa yang satu ini dikunci?  Dimana mama menyimpan kuncinya?


Mataku segera menyapu ke sekeliling ruangan,  dan menemukan gantungan kecil tempat puluhan anak kunci bergelayut berhimpitan membentuk setengah lingkaran seukuran sedikit lebih besar dari kepalan tanganku.  Segera kuambil kunci-kunci tersebut.  Bentuk dan ukurannya bermacam-macam.  Yang manakah kira-kira kunci untuk membuka laci terakhir ini?  Kucoba beberapa kunci yang sekiranya cocok dengan ukuran laci yang tidak terlalu besar.  Dan,  yaaa...  Ini dia,  pada percobaan keenam,  akhirnya aku menemukan kunci yang tepat dan laci itupun terbuka.


Hanya ada sedikit benda di dalamnya.  Sebuah peti berukuran kecil berwarna hitam dengan ukiran sulur tanaman berwarna emas, berisi beberapa perhiasan emas dan juga berlian.  Ada juga safir yang berbentuk hati,  sangat indah.  Kukembalikan peti kecil itu dengan hati-hati ke tempatnya semula.  Sebuah kotak musik yang berhiaskan sepasang boneka laki-laki dan perempuan yang sangat indah.  Kucoba memutar tuasnya,  dan tak lama terdengar alunan musik lembut bersamaan dengan gerakan boneka yang berdansa berputar perlahan-lahan.


Benda terakhir adalah sebuah buku bersampul hitam.  Seperti sebuah buku harian.  Kubuka buku tersebut dengan perasaan takut ketahuan,  malu karena lancang, tapi juga penasaran. Sepertinya ini berisi catatan.  Tapi aku tak bisa membacanya.  Tulisannya lebih mirip goresan tajam naik turun,  seperti anak SD yang menggambar kumpulan rumput pada lukisan pemandangan.  Ketika tanganku sedang membuka lembar demi lembar buku tersebut,  menemukan apapun yang sekiranya bisa kumengerti,  sesuatu keluar tanpa sengaja dari tempat persembunyiannya.  Sebuah foto.  Kutarik foto tersebut dengan agak kasar.  Pinggiran selembar kertas tersobek sedikit karenanya.  Tapi aku tak sempat memikirkan konsekuensi perbuatanku itu nantinya.


Itu adalah Foto beberapa orang dalam nuansa hitam putih.  Ada enam orang di dalamnya.  4 laki-laki dan 2 orang wanita.  Tapi aku belum dapat memastikan siapa mereka.  Terburu-buru kututup buku dan kukembalikan ke tempatnya semula.  Kututup juga laci,  tak lupa menguncinya kembali.  Kusimpan rangkaian anak kunci ke gantungan kecil di dinding.  Dan segera aku keluar dari kamar orangtuaku.  Menuju kamarku sendiri.  Tak sabar ingin melihat foto di tanganku lebih jelas lagi.