Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 36



...Hai man temaaan......


...Terimakasih sudah sabar menanti dan mengikuti kisah para bizonik. Semoga berkenan. Maaf ya, saya tidak pandai menyapa. Tapi, semoga kalian semua menikmati kisah ini......


...stay cuuun......


############################



"Selamat datang, komandan," seorang wanita cantik tiba-tiba saja muncul di hadapan Will. Rambut panjang bergelombang berwarna keemasannya sangat kontras dengan latar hijau kecoklatan dari rimbun pepohonan di belakangnya.


"Ah, Laine... Peri airku tersayang, apa kabarmu? Apakah mataku yang bermasalah atau memang kau terlihat semakin cantik dari terakhir kali kita bertemu?" Willan membungkuk mengambil tangan kanan Wanita itu tanpa permisi dan mencium punggung tangannya.


Wanita itu, Laine... Sang penguasa air penjaga perbatasan, terkikik geli bagaikan ABG yang tanpa terduga disapa idolnya.


"Oh ya ampun... Willan Deandre Archey, Komandan kavaleri Gizlin yang tak pernah gagal menjalankan tugasnya, merayu wanita tua sepertiku... Rasanya umurku berkurang beberapa ratus tahun." Laine tak melepaskan senyum gelinya menanggapi sapaan Will yang centil. Dasar tukang rayu.


"Tapi itu benar, Laine... Oh, harusnya kau tak selalu mengurung dirimu di hutan ini. Kau itu harus berkeliling ke seluruh penjuru Gizlin dan bertemu orang - orang" Will bersedekap dengan tubuh yang telah kembali tegap.


"Dan, apa tujuan dari kegiatan berkeliling itu, komandan? Apakah sekarang kau menugaskanku untuk menggantikanmu berpatroli?" Laine tak jua melepaskan senyumnya. Tatapan sendunya menatap gemas ke arah Will yang sedang merengut. Will adalah anak sahabatnya, Suzan. Ia dan ketiga saudara saudarinya sudah seperti anak-anaknya sendiri. Anak -anak yang belum dimilikinya sampai saat ini.


"Tentu saja untuk memamerkanmu dan membuka matamu. Bahwa pujianku tadi bukan lipsink (ups... Kata ini ia dapatkan saat menemani ayahnya berbisnis ke luar dimensi) karena akan banyak sekali orang yang memujimu.


Ah, sudahlah... Aku tahu kau tak kan bergeming seperti biasa. Dasar Laine si home a holic. Will menggerutu sambil mengibaskan tangannya dan mulai berjalan mendahului Laine.


Laine terkekeh geli. "Dan sekarang Anda hendak kemana, komandan?"


"Menyidak rumahmu, tentu saja. Ya ampun... Sudah lama aku tak meminum cairan itu. Aku kangen berat."


(Yaa bahasa apalagi itu... Kangen berat) Laine menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anda sungguh beruntung. "Cairan itu" sedang berlimpah saat ini. Orang - orangku baru saja memanen madu hutan dengan kualitas terbaik. Ryan pasti akan suka mendengarnya." Laine berjalan mengiringi langkah Will. Kakinya yang panjang dengan mudah menyamakan langkah dengan Will yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Oh... Peri-periku sudah bekerja keras rupanya." Will tersenyum membayangkan mahluk mahluk kecil yang sangat cantik temannya bermain saat kecil dulu, selain Anna.


Tak sulit menemukan kediaman Laine dan orang - orangnya, jika kau mengetahui caranya. Laine telah memasang semacam petunjuk jalan yang hanya bisa dilihat oleh orang - orang terpilih, salah satunya adalah Will dan Ryan. Dan tak berapa lama, sampailah mereka di sebuah lembah yang luasnya hampir menyamai The Rink. Lembah itu dikelilingi oleh 7 air terjun yang mengalir anggun. Cahaya mentari akan membuatnya berkerlap-kerlip memantulkan spektrum warna jika dilihat dari jauh. Sebuah undakan batu yang tinggi dibuat menuruni lembah yang curam. Will melewatinya dengan lincah. Tentu saja, karena ia sudah sering bermain ke tempat ini. Di ujung undakan, hamparan rumput menyambut lembut kakinya. Dan setelah beberapa langkah, sampailah ia di ujung sebuah jembatan yang terbuat dari papan kayu yang disusun memanjang bersanggakan tonggak tonggak batu yang seakan muncul menonjol begitu saja dari dalam tanah.


"Ayo, Laine. Aku sudah tak sabar." Will melangkahkan kakinya menyusuri jembatan. Laine menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah Will sedari dulu memang seperti itu, manja dan ceria. Kedatangannya ke lembah Waterfall selalu menimbulkan kehebohan. Jika Will seorang idol maka para peri yang tinggal di lembah itu adalah deokhu, alias fans beratnya. Andai saja Anna masih ada... Tentu kehebohan yang mereka ciptakan akan meningkat 3x lipat. Dua pembuat keributan itu...


Tapi... Entah hanya perasaannya saja atau memang beberapa saat yang lalu ia merasakan keberadaan Anna di sekitar perbatasan. Atau mungkin itu hanyalah akibat dari rasa rindu. Rindu seorang ibu yang ditinggal pergi oleh putri tercinta.


"Komandaaaan....." koor suara-suara meningkahi deru air terjun terdengar dari ujung jembatan. Beberapa wanita cantik heboh berteriak kegirangan melihat kedatangan Will.


"Oh ya ampun... peri-periku yang cantik, kalian pasti merindukanku..." ya ya ya... Willan dan tingkahnya yang memalukan jika sedang menebar pesona. Willan mempercepat langkahnya, hingga tak lama kakinya kembali menjejak rerumputan lembab yang terpangkas rapi.


"Komandan... kau kemana saja?" seorang peri berbaju ungu muda bergegas menggandeng tangannya. mulutnya memberengut seperti istri simpanan yang sudah lama tak dijenguk suaminya. "Iya, komandan.... kau kejam sekali, melupakan kami begitu saja..." peri lain berambut merah muda ikut menggandeng tangannya yang bebas.


"Komandan, apakah kau memiliki kekasih hingga kau mencampakkan kami..." peri lainnya menimpali. "Komandan... " peri lainnya... "Komandan..." peri lainnya... "Komandan..." yang lainnya lagi...


hingga,


"ehemmm... hemmm...." begitukah tingkah kalian menyambut tamu berharga kita?" seorang wanita berpostur sedang dengan rambut coklat tuanya yang dikepang rapi dan raut wajah cantik namun tegas mampu membungkam semua keriuhan.


"wakil ketua..."


"wakil ketua..."


"wakil ketua..."


serempak mereka menyapa wakil ketua mereka dengan sedikit mendesah seperti segerombolan anak yang sedang asyik bermain namun dibubarkan supaya mereka bisa mandi sore dan bersiap pergi ke surau (eh itu sih pengalaman author waktu kecil, hehehe)


"Apanya yang wakil ketua... bahkan ketua pun tak terlihat di mata kalian yang sudah dimanipulasi oleh bocah nakal satu ini," Rachel sang wakil ketua tak menurunkan nada suaranya, dan mendelik ke arah Will.


Seolah baru tersadar dari hipnotis, mereka gelagapan melirik kesana kemari mencari keberadaan Laine ketua mereka yang ternyata sudah diam diam menghilang.


"Tapi, memang disini tidak ada ketua, wakil ketua," seorang peri dengan suara ragu berusaha melayangkan protes.


"Tentu saja. Apa menurutmu ketua tahan dengan tingkah kalian yang mirip dengan penghuni "Grand Lotus" (salah satu tempat hiburan yang pernah ada dahulu kala di wilayah Gizlin, namun sekarang sudah dibubarkan atas perintah King Leonard Windsor), sungguh memalukan. Apa begitu hasil jerih payahku mengejar - ngejar kalian siang malam dan mendidik kalian untuk menjadi wanita beretika?" Rachel mendengus dan menatap semua peri yang mengelilingi Willan dengan sorot tajam.



"Ah... Rachel... Rachel... apa kabar wanita anggun kesayanganku ini?" tanpa ba bi bu dan sadar situasi Willan memeluk Rachel. "Ya Ampun Rachel... apa rambutmu kau potong? terakhir kita bertemu aku masih bisa melihat ujungnya yang bersentuhan dengan rerumputan, tapi sekarang ujungnya ada di punggungmu." Willan terus berceloteh tanpa menyadari wanita itu telah menegang dalam pelukannya.


Peri - peri yang melihat adegan itu menahan tawa cekikikan mereka sekuat tenaga. Wajah Rachel memerah, semerah daging strawberry yang banyak tumbuh membentuk tirai di teras Istana Waterfall.