
Sebuah bangunan tinggi menyerupai menara dengan atap merah runcing di atasnya, terlihat dari kejauhan. Dikiri kanannya terlihat deretan bangunan lain yang beratap lebih rendah dan lebih datar dengan banyak jendela yang menghadap ke sebuah bentangan rumput pendek yang luas yang dikelilingi beberapa cemara anggun dan tanaman perdu.
Kami segera melewati pintu gerbang dan mulai mencari tempat di lahan parkir yang sudah mulai penuh. Ini adalah tempat terakhir yang ada dalam listku yang terdiri dari 4 sekolah kejuruan ternama yang ada di dunedin. Sebenarnya ada 1 yang juga masuk dalam daftar yang kubuat. Tapi, mama langsung mencoretnya, hanya karena lokasinya berada di luar kota, Yamala. "mama belum mau berpisah denganmu, Kea," senjata pemusnah masal yang mama lontarkan dengan jitu padaku.
Tak berapa lama, Bob dan aku sudah menggenggam brosur mengenai tempat ini, lengkap dengan berbagai jurusan dan fasilitasnya yang diklaim sebagai "yang terbaik" di kota ini. Jarum di arloji Bob menunjukkan saatnya makan siang sudah terlewat lebih dari 2 jam. Pantas saja perutku terasa tak nyaman. Aku tak pernah merasa lapar atau kelaparan. Tapi tetap saja tubuhku terutama perutku akan terasa tak nyaman jika aku melewatkan jam makan yang sudah menjadi kebiasaanku. Kami pun melangkah menuju kantin. Tidak sulit mencarinya karena posisinya yang berada terpisah, berada di bagian belakang bangunan utama. Tempatnya bersih dan nyaman. Jendela-jendela berdaun kembar yang terbuka lebar-lebar memungkinkan sirkulasi udara terjadi dengan baik, pun menyajikan pemandangan taman dan sebuah kolam teratai dengan banyak bangku panjang di sekelilingnya. Beberapa siswa siswi terlihat asyik bercengkrama, beberapanya membaca buku atau bermain musik sambil duduk-duduk di rumput hijau yang terpangkas pendek dan rapi.
Kami memilih meja yang paling dekat dengan jendela, setelah sebelumnya memesan makanan. Aku hanya mengambil sepotong roti isi daging dengan banyak keju di atasnya dan segelas besar capucino dingin. Rasanya segar ketika aliran dinginnya melewati kerongkonganku. Sementara Bob mengambil croisant dan segelas kopi. Menu yang lebih cocok menjadi menu sarapan dibanding makan siang.
Dering telpon samar kudengar. Bob mengisyaratkanku untuk menunggu sementara ia bergegas ke luar untuk mengangkat telponnya. Mungkin itu Tatiana. Itu sudah kali ketiga ia menelpon Bob hari ini. Aku agak heran, mengapa mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal usia pernikahan mereka sepertinya sudah lebih tua dibanding usiaku.
Kuaduk-aduk capucinoku dengan malas. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kantin. Tak banyak yang berkunjung pada jam ini. Hanya 2 orang laki-laki dan sepasang kekasih sepertinya jika dilihat dari bahasa tubuh mereka. Salah seorang dari laki-laki itu sedang asyik menekuni laptopnya, sambil sesekali menenggak minuman kaleng. Sementara, laki-laki satu lagi, sama denganku, hanya mengaduk-aduk minuman yang ada di depannya. Laki-laki yang satu ini, berbeda. Rambutnya dibiarkan panjang dengan warna pirang yang berkilau keemasan. Wajahnya luar biasa tampan. Sesaat aku terpana hingga tiba-tiba, ia memandangku tajam. Aku gelagapan, merasa malu karena tertangkap basah sedang mengamatinya. Kuminum capucinoku dengan tergesa hingga tersedak. Ugh, memalukan. Aku merasa wajahku panas. Untunglah Bob datang dan aku segera mengajaknya pergi. Safe by Bob. Aku tak berani memalingkan wajahku kemanapun, dan kemudian tertawa sendiri atas kebodohanku itu. Memang, apa salahmu Kea? Dan juga mengapa harus malu? Karena memandang seseorang dengan wajah bagai supermodel di tempat umum? Atau karena ia memandangmu?
Perjalanan pulang kami lewati dengan mengevaluasi tempat-tempat yang telah kami kunjungi seharian ini. "Aku suka Massey," Bob mengutarakan pendapatnya. Tentu saja ia menyukai Massey, laboratorium disana memiliki fasilitas terlengkap diantara yang lainnya. Tapi ini kan tentang aku, dan aku tidak membutuhkan mikroskop tercanggih abad ini atau komputer pengolah data super cepat dan akurat. Aku hanya butuh guru yang menyenangkan untuk bertukar pikiran dan diskusi.
"Kau tahu, jarak Rumah kita dengan Massey tidak terlalu jauh. Kau bisa naik trem atau mungkin aku bisa membujuk papa untuk membelikanmu sebuah mobil," senyum Bob mengembang, terlihat sekali ia sangat senang dengan idenya itu. "Oh, entahlah Bob. Aku belum bisa memutuskan sekarang. Massey bagus, tapi suasananya terlalu muram, lebih mirip rumah sakit dibanding sekolah. Aku tak yakin bisa melewatkan 1 semester disana tanpa bosan," tak sengaja aku mengernyit membayangkan lorong-lorong panjang di massey dengan kaca mozaik yang bertebaran menghias dinding bagian atas, kelas-kelas yang berjejer seragam dan warna putih yang mendominasi. Hanya perlu menambahkan sedikit bau obat-obatan, maka lengkaplah suasana rumah sakit st. maria diadopsi oleh massey collage.
Bob tersenyum lebar, "yang benar saja... " ucapnya. "Kau menyamakan massey dengan rumah sakit? Memangnya kau tau seperti apa rumah sakit itu? "
Tentu saja aku tidak perlu ke rumah sakit. Tidak selama kami masih memiliki dr. Sean dan Bob. Yang satu memiliki keahlian, dan satunya pemilik teknologi kedokteran.
"Tentu saja tahu. Banyak kok novel-novel yang mendeskripsikan keadaan di rumah sakit secara detail. Dan kupikir berdasarkan info yang kudapat, "
"khayalan yang kau bangun berdasarkan persepsi, lebih tepatnya, " Bob memotong ucapanku. "Apapun anggapanmu, Bob. Yang pasti aku tidak akan memilih Massey. "
"Kupikir itu belum diputuskan, "Gerutu Bob.
"Keputusan mendadak," ucapku.
"Dan kau banyak membantuku memutuskan. Terimakasih, Bob. " seringai jahil menghiasi wajahku. Rasakan itu, skor sama 1 - 1. Tak ada yang boleh meremehkan novel-novelku.
Hanya dibutuhkan 20 menit berkendara dari otago college menuju rumah, dengan kecepatan sedang seperti yang selalu ditampilkan Bob ketika berkendara. Sudah masuk waktu minum teh. Setelah berterimakasih pada Bob, aku bergegas menuju kamarku dengan cara memutar melewati dapur. Tubuhku lelah setelah nyaris Seharian berjalan. Dan pembicaraan serius dengan mamaku sebaiknya kulakukan setelah berendam. Saat seperti sekarang, biasanya ia sedang menyesap teh sambil membaca majalah di serambi yang menghadap langsung ke kebun bunganya.
Sesampainya di kamar, segera aku mengisi bathtub dengan air hangat dan meneteskan beberapa sabun beraroma terapi kedalamnya. Keringat yang telah mengering membuat tubuhku lengket. Untung saja rambutku tidak terlalu lepek, tapi tak ada salahnya mencucinya lagi untuk menghilangkan bau matahari yang menempel kuat.
Busa sabun segera menyambut dan menyelimuti tubuhku. Aromanya menenangkan dan kehangatan air rendaman ini membuat otot-ototku rileks. Ayunan lembut riak air seakan meninabobokanku. Tak ada obat apapun yang paling mujarab untuk rasa lelah, selain berendam air hangat.
Rasanya segar, setelah seharian berkuda, kemudian menghempaskan tubuh dalam sebuah ember stainless keperakan berisi air hangat. Meski tak cukup untuk merendam seluruh tubuhku, tapi cukuplah untuk menghilangkan keringat dan debu yang menempel penyebab rasa tak nyaman. Sebelumnya rasa tak nyaman ini tidak terasa, tertutupi rasa puas karena telah berhasil mengalahkan Will. Kami berlomba berkuda di pesisir pantai. Dari menara lampu hingga dermaga. Sebelumnya belum pernah sekalipun Will mengalah, tapi entah mengapa sepertinya hari ini perhatian Will teralihkan. Ia mencoba tampil memukau secara berlebihan, yang mana terasa bukan dirinya, dan tentu saja memuluskan jalanku untuk menang.
Kehangatan air sudah mulai menghilang, aku segera berdiri dan memakai jubah mandiku. Rambutku yang basah harus terlebih dahulu dikeringkan. Kubuka jendela dan membiarkan hembusan angin memasuki kamarku. Angin dan waktu merupakan perpaduan tepat untuk mengeringkan rambutku secara cepat. Sebelum kusisir dan kukepang besar-besar supaya tidak kusut ketika bangun tidur nanti.
Tiba-tiba sebuah tangan yang sangat kukenal memeluk pinggangku dari belakang. Pemilik tangan itu mencium rambut basahku dan menarik tubuhku sehingga menempel di dadanya. Aku tersenyum.
"Kau sungguh harum"
"aku merindukanmu. "
"kita baru bertemu kemarin"
"ehm... Kemarin itu sepertinya sangat sangat lama."
Aku terkekeh.
"Tidak selama jika Nat memergoki kita kemudian menyegel pintu kamarku selama satu minggu. "
"Nat sedang sibuk. "
"bagaimana kau tahu? "
"kulihat tadi ia mengikuti sam dengan terburu-buru ke kamarnya."
Aku kembali terkekeh. Nat dan Samantha selalu terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sedang kasmaran. Padahal, usia pernikahan mereka sudah mau memasuki tahun ke-10.
"Apakah kau akan terus menyanderaku seperti ini? " tanyaku padanya.
"ugh, " laki-laki itu mendengus, dan kutahu sambil memutar kedua matanya, jengkel.
"apakah kau keberatan" tanyanya setengah berbisik di telingaku.
"tidak. Tapi papaku pasti keberatan. Dan ia sedang memandang kita dari bawah, " ucapku tersenyum geli.
"papamu pasti tak keberatan. Toh seminggu lagi kau akan sepenuhnya menjadi milikku, " ucapnya masih belum juga melepaskan pelukannya dari pinggangku.
"itu artinya baru seminggu lagi papaku baru akan menyemangati bahkan mendukung yang kau lakukan, Juls."
"Ooh, Anna. Bisakah kau mengenyampingkan saja apa pendapat orang lain? Aku sangat merindukanmu, Ann."
"orang lain bisa, tapi tidak papaku. "
"aah, menyebalkan sekali. " laki-laki itu mendesah sekaligus mencebik bersamaan. Wajah tampannya cemberut dengan dahi berkerut-kerut. Tapi, tetap saja tampan. Hidung mancungnya menggemaskan. Sepasang alis tebal keemasan. Berwarna Lebih tua daripada rambut panjangnya yang membingkai wajah bak pahatan pualam. Dan, mata birunya yang indah seperti langit cerah di pagi hari. Matanya... Mata itu... Ooh, itu mata yang sama dengan mata yang memandangku tajam, siang tadi di kantin Otago.
Terkesiap dan tersedak berbarengan membuatku kewalahan. Terbatuk-terbatuk berusaha mengeluarkan lagi air sabun yang tak sengaja kutelan. Mataku berair. Dan ooh... Airnya sudah dingin. Rupanya aku tertidur. Sudah berapa lama aku tertidur?
Segera kutarik sumbat bathtub dan melangkah menuju shower, membilas sisa sabun yang menempel di seluruh tubuhku.