Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 18



Tak sabar,  segera kulihat lagi foto itu dibawah sinar matahari tengah hari yang menerobos jendela kamarku.  Yolan benar,  foto ini sudah tampak usang,  tapi masih bagus.  Gambarnya masih jelas. Aku begitu yakin itu adalah foto keluarga kami jika dilihat dari wajah dan postur mereka yang ada dalam foto.  Seorang laki-laki berambut pirang dengan wajah tampan yang lembut,  merangkul seorang wanita cantik berambut coklat ikal sebahu,  mereka pasti mama dan papaku.  Dikanan kiri mereka,  tiga orang laki-laki yang juga tampan yang kukenali sebagai Nathan, Robert,  dan Willan, yang adalah kakak-kakakku.  Dan seorang wanita berambut keemasan panjang yang menatapku dengan mata coklat besarnya.  Ia lebih tinggi dari mama, dan usianya sekitar 20 tahun.  Wajahnya sangat mirip denganku,  tapi itu tidak mungkin aku.


Lalu,  siapa dia?


Rasa penasaran dan takut ketahuan,  mana yang lebih besar?


Setelah menimbang-nimbang lama sambil membolak-balik tubuhku di atas kasur,  akhirnya kuputuskan rasa penasaranlah yang menang.  Segera aku bersiap, mengganti pakaianku dengan celana jeans dan kemeja flanel.  Kuikat rambutku seadanya,  tak lupa foto tadi kuselipkan ke saku kemejaku.  Baiklah,  waktunya mengunjungi kakakku tersayang.  Will, aku datang....


 Ketiga kakak laki-lakiku tinggal terpisah denganku, papa dan mama sejak lama,  sejak sebelum aku lahir. Nat dan Bob sudah menikah dan sesekali mereka bersama istri masing-masing mengunjungi kami di "the Rink",  nama rumah kami.  Meskipun aku tahu bahwa mereka mengunjungi the rink lebih sering dari yang mereka tunjukan.  Hanya Will yang belum menikah.  Savanah pernah tak sengaja mengatakan bawa dulu Will hampir saja menikah,  tapi calon istrinya meninggal beberapa minggu sebelum tanggal pernikahan yang telah ditetapkan. Aku bersedih untuk Will,  tapi Will tak pernah sekalipun menyinggung tentang masalah itu.  Ia selalu terlihat riang dan bahagia.  Hanya pada malam-malam tertentu saja ia terlihat begitu sedih,  terutama ketika bulan sedang memamerkan wajah bulat penuhnya yang kemilau.


Mobil yang membawaku berbelok memasuki jalan kecil berbatu yang hanya cukup dilalui sebuah kendaraan roda empat berukuran sedang.  Kiri kanan jalan dipagari deretan perdu yang terpangkas rapi.  Dan tak jauh di depan kami,  bangunan minimalis yang didominasi kaca dan warna putih berdiri anggun,  bagaikan seekor bangau yang sedang berenang santai dan perlahan di atas kolam jernih.


Kuminta Theo dan seorang pengawal pribadiku untuk meninggalkanku disini. Aku akan baik-baik saja selama Will ada di sampingku.


Will adalah pribadi yang hangat dengan senyum dan tawa yang menular.  Tapi entah mengapa, rumahnya terkesan dingin dan hampa.  Tanpa hiasan,  tanpa warna.  Hanya ada putih,  hitam dan sedikit abu-abu.


Kuputari bagian depan rumah,  bermaksud untuk masuk lewat pintu samping. Pintunya tidak terkunci.  Terdengar suara orang sedang berbicara.  Rupanya Will sedang menelpon seseorang. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka.  Will sepertinya agak marah.  Nada suaranya tidak bersahabat dan bicaranya cepat.


"Tidak,  Juls.  Jangan coba-coba.  Kami tidak akan diam saja.  Kau membahayakan keselamatannya. "


Diam sesaat,  namun aku menangkap sayup suara seorang laki-laki. Mungkin itu rekan bisnis Will.  Aku tidak terlalu mengenal teman-temannya.  Kakak-kakakku jarang terlihat bersama teman-teman mereka,  mungkin kesibukan berbisnis membuat mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk bersenang-senang.


Perlahan kulangkahkan kakiku menuju ruang tengah.  Aku tak ingin mengganggu Will.  Tapi rupanya ia mendengarku.


"Anna, " ucapnya terkejut.  Telpon yang berada di tangannya ditutup begitu saja.  Ia melangkah ke arahku sambil membentangkan kedua lengannya.


"Hai adik kecil,  aku tak tahu kalau kau mau datang kesini. Mengapa kau tak bilang sebelumnya? " senyumnya mengembang,  namun senyum itu tak sampai ke matanya.  Aku menatapnya bingung.


"Will,  mengapa kau memanggilku -Anna- ?"


"Benarkah? " tanya will. Ekspresi tak yakin di wajahnya berlawanan dengan kilau panik di matanya.


"Siapa Anna? "


"lawan bicaraku di telpon tadi. "


"Kau bohong"


"mengapa kau beranggapan begitu? "


"karena pendengaranku masih cukup normal untuk mengetahui bahwa orang yang kau putus pembicaraannya di telpon secara tidak sopan tadi,  adalah seorang laki-laki.  Aku belum pernah menemukan seorang laki-laki bernama Anna. "


"Bagaimana kalau itu nama panggilan saja?  Nama sebenarnya Anandito."


"kalau begitu,  ia sebaiknya dipanggil nando"


"ia lebih suka nama Anna. "


"usaha yang menyedihkan,  Will. "


"yeah,  setidaknya aku sudah mencoba. "


Kutatap Will dengan pandangan paling menusuk yang bisa kuberikan.


"Baiklah,  maafkan aku Kea.  Aku tadi sedang memikirkan Anna.  Aku tak sengaja.  Aku bahkan tak sadar sudah memanggilmu -Anna", meski masih mencurigakan, kali ini aku berusaha mempercayai Will.  Toh selama ini ia belum pernah tertangkap basah berbohong padaku.


"Ada apa kau kesini?  Dan,  mana Theo dan Allistair? "


"Tidak bolehkah aku mengunjungi kakakku sendiri di rumahnya?  Haruskah kita membuat janji temu sebelumnya?" tanyaku sinis.  "oh ya,  para laki-laki tanpa senyum itu sudah kuusir," jawabku tanpa merasa bersalah.


"Will,  bagaimana bisnismu akhir-akhir ini? " tanyaku tanpa benar-benar membutuhkan jawaban.


"tak biasanya kau menanyakan perkembangan bisnisku.  Apa kau membatalkan rencanamu melanjutkan sekolah? "


"siapa bilang begitu,  aku hanya heran,  tak bisakah kau membeli satu atau dua lukisan yang menarik,  atau vas dengan bunga warna-warni untuk mengisi peti kacamu ini? " aku berjalan menuju sofa abu-abu tua dengan tanpa minat.


"hey,  apa kau berencana pindah kesini?  Kecuali kau akan tinggal disini,  maka rumah ini akan tetap menampilkan selera dan pesonaku,  hargailah. " Will memberengut, namun sorot matanya sudah kembali hangat.  "nah,  sekarang katakan,  ada apa mencariku? " tanya Will, kali ini sungguh-sungguh.


Suara terkesiap tak sengaja lepas dari bibir kakakku itu.  Ia sungguh tak pandai menyembunyikan emosi.  Dan itu menjadi keuntunganku.


"darimana kau mendapatkan ini? " tanya Will tanpa mengalihkan pandangannya dari foto itu.  Suaranya terdengar sendu.


"aku mencurinya, " ucapku tak ingin berbohong.


"dan siapa yang menjadi korbanmu? "


Ish... Korban.  Toh bukannya aku merampok kamar orangtuaku atau apa.  Aku hanya meminjam foto itu sebentar saja kok.  Dan aku berniat mengembalikannya ke tempat semula jika pertanyaanku sudah terjawab.


"laci meja rias mama.  Will,  foto siapa itu? "


"bukankah sudah jelas?  Ini foto keluarga kita. "


"yeah.  5 orang lainnya sudah jelas untukku.  Mereka adalah mama,  papa,  nat,  bob,  dan dirimu.  Tapi,  siapa wanita berambut panjang keemasan itu?  Wajahnya sangat mirip denganku,  tapi kuyakin itu bukan aku," jelasku,  yakin.


Sesaat Will membeku.  Matanya menatapku tak berkedip.  Begitupun bagian tubuh lainnya, tak bergerak.


"Will...  Will...  Kau tak apa-apa?" kuguncang perlahan tubuhnya, hingga ia tersentak,  seolah-olah baru terbebas dari keadaan hampa udara.


"Will...  Ada apa denganmu? "


"oh,  kea.  Maafkan aku.  Tak apa-apa.  Aku hanya terkejut.  Sudah sangat lama aku tidak melihat foto ini." Will menjatuhkan tubuhnya ke sofa berlengan satu di depanku.


"bagaimana harus menjelaskannya? " tanyanya, kali ini tanpa memandangku.


"ehmmm...  Dengan menjawab pertanyaanku?  Siapa wanita di foto itu,  selain mama? "


Will terlihat ragu untuk menjawab.  Kegelisahan tampak di wajahnya.


"dan kumohon,  Will.  Tak perlu berbohong. " aku menatapnya dengan tatapan memohon.


"ini...  Adikku,  adik kami," suara Will lirih,  penuh perasaan.


"Anna, " lanjutnya.


"Ini Anna. "


"Anna?  Dia adikmu?  Itu artinya,  dia juga kakakku? " tanyaku antusias.


Will hanya menatapku.  Aku tak dapat memastikan apa tepatnya yang tengah ia rasakan sekarang.


"dimana ia sekarang? " tanyaku.


"Anna?  ia ada.  Ia sedang bersembunyi," jawab Will,  nyaris berbisik.  Seakan ia takut ada orang lain yang akan mendengarnya.


"bersembunyi?  Tapi,  mengapa?  Dimana ia bersembunyi? " tanyaku dengan suara yang juga lirih.  Keingintahuanku semakin memuncak.


"Kea,  aku tidak dapat mengatakannya padamu...  Tidak sekarang. " Will berdiri dan berbalik.


"Tapi mengapa Will.  Mengapa aku tidak boleh tahu?  Apa hanya aku satu-satunya yang tidak tahu tentang hal ini?  Apa mama dan papa tahu?  Bagaimana dengan nat dan bob? " tanyaku tanpa jeda.  Aku sungguh-sungguh berharap Will mau menceritakan semuanya.


"Kea,  kumohon...  jangan bertanya apa-apa lagi.  Memberitahukanmu identitas Anna saja sudah berbahaya. "


"dan,  kumohon kea.  Kau jangan menanyakan tentang hal ini pada mama dan papa.  Sudah cukup berat beban dan kesulitan yang mereka tanggung.  Terutama mama. " belum pernah sebelumnya seorang Willan Archeys memohon berkali-kali.  Ini semua karena Anna.  Demi Anna.  Sebegitu pentingkah Anna untuknya?


"berjanjilah. Kau akan menahan diri dan bersabar.  Ini akan menjadi rahasia diantara kita berdua. " Will meminta sesuatu  yang sulit kukabulkan.  Aku tak yakin setelah ini akan sanggup menaham diri.


"berjanjilah,  kea.  Aku akan memastikan kami akan menceritakan semuanya padamu. Nanti,  jika waktu yang tepat sudah tiba. " Will menangkup kedua pipiku.  Permohonan yang ia utarakan lewat sorot tajam matanya, lebih memaksa. Dan aku tak sanggup menentangnya.


"Baiklah, " ucapku tanpa gairah.


Will tersenyum,  lalu memelukku.


"Terimakasih, sis. " Will berbisik di telingaku.