Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 29



WILAN


Jika dugaanku benar, maka seharusnya setelah melewati pintu bandara, aku akan menemukan “jejak” Anna di sepanjang jalan raya. Tapi mengapa tidak ada? Dan ternyata jejak Anna berada di jalur yang sama sekali tak kuduga. Cemas, aku berlari mengikuti rute jejak itu, dan tepat di persimpangan sebuah jalan, aku menemukan jejak lain. Tak hanya satu, ada dua, tunggu… tiga jejak. Jejak bionic lain. James, salah satunya adalah James, salah satu panglima di bawah komando ayahku yang cukup dekat dengan keluarga kami, dulu. Tapi mengapa James ada disini? setahuku sudah lebih dari 1 dekade ini dia dialih tugaskan sebagai pasukan bayangan. Sebenarnya James bukan hanya anak buah papa, ia juga adalah sahabat kami, sahabatku, Anna, dan Julian. Yeah... sebenarnya awalnya ia adalah sahabat Julian, bahkan lebih seperti saudara kandung. Sejak kecil kemana-mana mereka bersama, jarang terpisahkan, meski karakter dan pembawaan keduanya sangat bertolak belakang, apalagi status keduanya yg mencolok, sungguh suatu hal yg istimewa mereka berdua dapat bersahabat begitu lama. Tapi itu sebelum mereka bertemu Anna. Aku masih ingat saat pertama kali Anna dan James bertemu si kamp pelatihan kami. Saat itu Anna merengek pada papa agar diperbolehkan ikut menemani papa yang turun ke lapangan melakukan inspeksi rutin. Anna si kutu buku, turun gunung, begitu yang kami pikirkan. Ada badai apakah gerangan yang menyebabkan Anna begitu antusias meninggalkan "istana" kecilnya di perpustakaan dan rela berpanas- panas di bawah terik matahari musim panas Azra? Jika itu aku atau Nat, itu bukanlah sesuatu yg aneh. Sebagian besar memang karena kami bertugas di lapangan. Tapi kami pun sangat menyukai kulit kami yang menggelap terbakar matahari. Lain halnya dengan Anna, adik bungsuku itu lebih menyerupai Bob yang sangat menghindari matahari, lebih senang berada dalam area yang dibatasi 4 buah dinding. Khusus untuk Anna, 4 dinding dan 1 jendela berukuran besar yang terbuka lebar. Kehadiran Anna di Azra tentu saja membuat heboh. Seluruh prajurit yang sedang berlatih yang notebene semua laki-laki, sulit mengalihkan pandangan dari Anna yang terus berjalan di belakang papa sambil kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Senyum yang tidak ia sadari terkembang begitu lebar. Ia tak sadar jika senyumnya itu seakan memiliki daya magis dan menghipnotis. Saat itu, James yang masih berstatus komandan pasukan khusus pengawal istana diperkenalkan pada Anna oleh papa. Dan sejak saat itu, James jarang terlihat bersama Julian, karena disetiap ada kesempatan ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah kami, menemui Anna dan menemaninya beraktivitas membosankan menurutku, membersihkan debu yang menempel di buku, memperbaiki halaman buku yang koyak, membahas isi buku yang menarik menurut Anna. Sampai lama aku tidak bisa mengerti mengapa James yang selalu senang beraktifitas di luar ruangan tiba - tiba saja bagaikan pria rumah tangga idaman yang senang menemani istrinya di rumah. Cih... tak mungkin kan jika itu bukan virus bucin.


Sementara 2 bizonik lainnya, aku belum mengenalnya. Sepertinya warga civil biasa atau team patroli kerajaan.


Aku semakin cemas. Semoga saja apa yang kutakutkan tidak terjadi. Fokusku sekarang adalah Anna. Kembali kutelusuri jejak Anna. Jejaknya berbelok keluar dari jalan utama di area ini. Untuk apa Anna kesini? Semakin membingungkan karena Anna memasuki gang-gang kecil, berputar-putar. Kemana sebenarnya tujuan adikku itu? Atau… Oh, tidak. Apa mungkin itu karena ia tidak tahu hendak kemana? Anna sedang melarikan diri. Ia dikejar.


Tak ingin membuang waktu, kutingkatkan kecepatanku hingga beberapa detik kemudian, aku menemukan jejak Anna dan James. Mereka begitu dekat. Mereka bertemu. Begitu juga dengan jejak 2 bizonik lain yang tak kukenal. Mereka pernah disini. Sepertinya benar dugaanku. Mereka mengejar Anna.


Hanya ada tembok sepanjang gang sempit ini. Semua tembok dengan tinggi rata-rata 5 meter, tanpa celah. Jejak 2 bizonik asing berhenti tepat 1 meter di depanku, dan kuduga mereka berbalik pergi, tanpa menemukan apa yang mereka cari. Jejak mereka masih tetap sama, 2 aura yang sama. Sementara Anna dan James, menghilang di balik tembok. Itu mustahil. Tak ada pintu, jendela, atau bahkan celah satupun disini. Apa yang terjadi?


Ah ya… tentu saja.


James adalah seorang “pembuka jalan”. Tak ada apapun di dunia ini, selain mahluk hidup, yang mampu menghalangi langkahnya. Bukan berarti dia mampu menembusnya. Tapi James mampu membuat celah yang bisa ia lewati dan setelah selesai, celah itu akan kembali ke kondisi sebelumnya, tidak ada. Dan dugaanku, James membawa Anna ke dalam tembok ini. Ini adalah tembok sebuah bangunan. Dan semua bangunan buatan manusia memiliki pintu. Pintu itulah yang harus kucari sekarang.


Kutelusuri kembali jalanan di sepanjang tembok itu hingga akhirnya aku menemukan ujungnya, sebelum berbelok ke sisi lain bangunan. Ternyata bangunan itu adalah sebuah café. Mudah saja menemukan pintu café yang berada di depan sebuah jalan kecil yang lebih lebar dari jalan yang sebelumnya kulalui.


\=Café Bella\=


Begitu tulisan besar yang terpasang di papan yang tergantung di atas pintu. Nuansa mahoni dan sedikit putih gading mendominasi suasana café. Tidak terlalu ramai, hanya ada sepasang manusia di pojok dekat jendela besar, dan seorang pramusaji yang sedang menatapku. Aku terkejut, mendapati pramusaji bermata coklat tua besar dan kulit kekuningan itu memiliki aura. Ia seorang bionic.


“Oh hai,” jawabku. Entah mengapa aku gugup.


“Apa Anda ingin memcoba menu terbaru kami, tuan?” tanyanya lagi, masih menatapku dan tersenyum.


“Ya boleh,” jawabku, berusaha sekuat tenaga untuk tetap focus pada tujuanku. Saat ini aku tak boleh teralihkan.


“Baik tuan, pesanan Anda akan segera datang.”


Pramusaji itu berbalik dan memasuki bilik kecil di samping tempatnya berada tadi. Ini kesempatanku. Segera kupindai café itu sekali lagi, mencari apapun ruangan yang berada di balik tembok tempat Anna menghilang. Tapi, tak ada ruangan apapun disana selain ruang tamu café yang berisi beberapa pasang meja dan kursi dan tempat dimana pramusaji itu berada tadi, yang dipisahkan oleh meja bartender panjang setinggi 1.5 meter.


Dan tidak ada jejak Anna maupun James disini. Apa aku salah tempat? Tapi instingku jarang keliru. Reputasiku sebagai pencari jejak ulung di seluruh kerajaan, dipertaruhkan.


Ada satu pintu tepat di sebelah bilik dimana sang pramusaji berada. Masih ada kemungkinan. Kulompati meja kayu mahoni dengan sekali lompatan.


“Hey tuan, apa yang kau lakukan?” pramusaji berlesung pipit itu berteriak.


Kubuka pintu bergagang emas yang ternyata tak terkunci, memudahkanku untuk bergerak cepat tanpa memperdulikan teriakan yang mungkin di kesempatan berbeda akan dengan senang hati kurespon. Semoga pemilik café ini tidak mengetahui aksiku ini sehingga taka da yang akan dimarahi apalagi sampai dipecat. Tapi kalaupun itu terjadi, tak masalah. Aku akan bertanggung jawab. Akan kubuka cabang perusahaanku disini dan menjadikannya asistenku. Hemm.. ide bagus, Willan. Aku terkekeh dengan pemikiranku.