
Perlahan aku bangun dari tidur pura-puraku. Tubuhku sudah bersih dan aku memakai baju tidur putih seperti biasanya. Rambutku terjuntai bergelombang hingga menyentuh pinggangku. Mama tak mengizinkanku untuk membiarkannya lebih panjang dari ini. "Terlalu merepotkan," begitu katanya. Tercium Harum lavender dari shampo favouriteku. Siapa yang memandikanku? Sepertinya Yolan atau savanah. kupakai jubahku sebelum berjingkat keluar kamar. Mencoba mendengarkan suara apapun yang bisa kutangkap. Keluargaku sepertinya sedang berkumpul di bawah. Samar-samar aku mendengar suara mereka. Kususuri tangga melingkar perlahan-lahan, berusaha tidak menimbulkan suara, sambil tetap fokus mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Apa sekarang aku menjadi seperti penguntit atau tukang intip atau paparazi yang selalu mencari tahu urusan orang lain? Masa bodohlah. Rasa penasaranku telah mengalahkan harga diri.
"Mengapa tidak sekarang? Kalian masih memintaku menunggu berapa lama lagi?" suara itu asing ditelingaku. Tapi, sepertinya tidak juga. Aku yakin pernah mendengarnya.
"Juls, mohon mengertilah. Ini juga tidak membuat kami senang. Anna belum mendapatkan ingatannya sepenuhnya. Malah mungkin ia sama sekali tidak ingat apapun. Ia... Terlihat sangat normal." Itu Nat. Nat juga mengenal Anna. Will dan Nat mengenal Anna.
"Tidak, Nat. Kali ini kalian yang harus mengerti aku. Aku... Aku mencarinya seperti orang gila. Ketakutan jika masa 10 kali hidupnya telah habis dan aku takkan pernah bertemu dengannya lagi," ucap suara itu lirih. Apa maksudnya? Dan mengapa ia terdengar begitu sedih?
"Tunggulah beberapa saat lagi, sampai... "
"Tidak. Aku takkan menunggu lagi. tidak akan! "
Belum selesai papa berkata, suara itu telah menyanggahnya dengan sangat keras. Bahkan aku dan kakak-kakakku belum pernah menyanggah perkataan papaku. Siapa sih dia?
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka kasar, disusul kelebatan seseorang di teras, berlari menuju halaman rumah kami yang meliuk panjang hingga gerbang utama. siapapun dia, yang pasti, dia mengenal Anna. Aku harus menemuinya dan bertanya padanya. Segera aku berlari menuju pintu samping. Kelebatan jubah putih panjangnya masih sempat kutangkap. Ia menuju pintu gerbang. Ya, benar. Beberapa meter dihadapanku, terlihat sosok laki-laki jangkung yang sedang berlari. Kukerahkan seluruh tenagaku untuk menyusul orang itu, ugh... Larinya cepat sekali. Hingga aku tersengal-sengal dan berhenti, tepat beberapa langkah lagi sebelum mencapai gerbang. Kucari-cari sosok incaranku. Tapi kemana dia? Menghilang. Aku yakin dia masih ada di sekitar sini, karena gerbang masih dalam posisi sebelumnya, tak bergeming. Gerbang rumah kami dikontrol dari jarak jauh oleh tim security. Butuh waktu beberapa lama sebelum gerbang itu membuka dan menutup kembali.
Apakah mungkin ia melompati gerbang itu seperti di film-film. Jika iya, wow... Berarti ia bisa menjadi lawan yang cukup tangguh untuk Nat.
Dengan kecewa aku berbalik kembali menuju rumah. Rambutku berantakan, dan kakiku perih... Ooh, aku lupa memakai alas kaki. Pantas saja.
Baru saja melangkah menuju tangga teras rumah, mama sudah menyambutku. "Ya ampun, Kea... Kau darimana? Mengapa... Mengapa rambutmu... Oh Kea... Ooh tidak, Sean... Sean...," dengan panik mama menelisikku sambil memanggil dr. Sean. "Kakinya..., "seru mama ketika dr. Sean melangkah ke arahku. "Ya, tentu saja, Kea yang ceroboh, selalu saja beraksi tanpa rencana, "sambil bersungut-sungut dr. Sean membopongku masuk rumah.
Yolan membawakan air hangat dalam wadah perak. Terasa perih ketika kain halus yang digunakannya untuk membasuh kakiku, mengenai lukaku.
"Lukanya tidak dalam," dr. Sean memberitahuku sambil mengoleskan sesuatu dan membuatku berjengit. Rasanya dingin. Dingin yang menyejukan dan menenangkan. "Usahakan jangan menggerakan kakimu untuk beberapa detik saja, sampai obatnya meresap. Setelah itu kau boleh kembali berjalan atau... Berlari kalau kau mau. Hanya saja kali ini, jangan lupa mengenakan alas kaki," ucapnya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut depanku. Mau tak mau, akupun ikut tersenyum.
"Mau menceritakannya, padaku? " tanya Will yang tiba-tiba sudah memasuki kamarku. Dr. Sean sudah sedari tadi pergi. Ia hanya memastikan lukaku tidak infeksi. Luka itu sendiri secara ajaib menutup, kering, dan sembuh dengan sangat cepat.
Aku mendengus. "Harusnya kau yang menceritakan segalanya padaku, Will", ucapku sewot.
Will mendelik. "Oh ya, dan menurutmu, apa saja yang harus kuceritakan?" Senyum jahilnya muncul kembali.
"Sebatas yang boleh kuceritakan, mengapa tidak? "jawab Will.
Aku mendengus... Sebal menyadari bahwa Will tidak akan mungkin begitu saja menceritakannya padaku. Dia akan -bermain aman-.
"Bagaimana aku bisa ada di rumah? Seingatku, aku terjatuh di suatu tempat tadi pagi, " tanyaku, sekuat tenaga menutupi rasa penasaran.
"Seseorang menemukanmu, dan membawamu kesini, " jawab Will, dengan suara tenang yang dibuat-buat.
"Apakah laki-laki tadi? " tanyaku, tanpa basa-basi.
Will melirik sekilas padaku. Raut wajahnya tegang. Rupanya tebakanku benar. Will tak perlu menjawabnya. Aku yakin, laki-laki tadilah orangnya. Hanya saja bagaimana dia tahu siapa aku dan membawaku ke tempat yang tepat. Aku yakin, ia bukan orang yang kebetulan melintas dan tak sengaja menemukanku.
"Siapa dia, Will? " tanyaku lagi.
Will menunduk. Lalu menarik nafas panjang, dan mendesah. Seberat itukah mengatakan kebenaran padaku?
"Salah satu kenalan keluarga kita, " jawab Will.
"Dia menemukanmu tergeletak di dalam hutan, saat ia ingin mencari kayu," lanjutnya.
"Dia mengenalimu, Kea. Tentu saja. Wajahmu kan mirip mama." Kali ini Will tersenyum.
"Mama dan papa sempat bingung dan panik karena tidak menemukanmu di sekolah. Dan kau tahu, kau hampir saja menghilangkan pekerjaan 4 orang pengawal terbaik dan menyebabkan 2 orang ayah tidak dapat lagi membelikan susu untuk anak-anaknya, " ucap Will.
"Ooh." suara itu terlepas begitu saja dari bibirku bersamaan dengan kesadaran yang muncul, bahwa aku telah bersikap tidak bertanggungjawab dengan melupakan kemungkinan mama dan papa ingin menemuiku di sekolah.
"Maafkan aku, " dengan rasa bersalah aku menatap Will yang tengah memicingkan mata hijaunya padaku. Dia tergelak... "Kau memang sangat menggemaskan, adikku, " Will mengacak-acak rambutku. "Sudahlah, lupakan saja dulu apa yang terjadi hari ini. Kau bisa minta maaf pada papa dan mama ketika badanmu sudah lebih segar," ucap Will.
"Kau mau kemana? " tanyaku panik. Masih banyak yang harus kutanyakan padanya.
"Tentu saja aku harus bekerja, masih banyak barang-barang unik yang menunggu untuk ditemukan olehku. " ucap Will. Ia berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Sampai nanti Kea. Oh ya, aku akan membelikanmu sepasang sepatu untuk kau pakai berlari nanti, " ucapnya sambil mengedipkan mata sebelum menghilang dibalik pintu.