
Setelah kelulusanku dari sekolah basic, sekarang waktunya aku memilih sekolah yang sesuai dengan minatku. Tapi hingga hari ini aku masih tak tahu, apa sebenarnya yang kuminati selain buku? Ehm... Buku... Sastra... Bahasa...
Mempelajari bahasa sendiri tidaklah sulit untukku. Setelah membaca tuntas buku pertamaku, setelah itu aku mulai menjelajah perpustakaan di rumah kami dan membaca semua jenis novel yang mulai bertambah koleksinya secara rutin setiap papa pulang dari bepergian. Papa selalu bertanya, oleh-oleh apa yang kuinginkan sebagai ganti waktunya yang hilang bersamaku. Dan aku selalu menjawab, "novel! " dan begitulah, papa belum pernah sekalipun lupa membawakannya untukku. Yang mengesankan, tidak semua novel itu baru. Beberapanya ada yang terlihat sudah pernah dibaca, sudah kucel, bahkan ada juga yang sudah lapuk termakan usia. Tapi toh aku tidak pernah mempedulikan bagaimana tampilan buku-buku itu selama masih bisa dibaca, dan terutama selama isinya menarik, membuatku penasaran.
saat aku menginjak kelas lima di sekolah basic, papa pernah membawakanku buku berbahasa perancis, novel tentang seeokor naga perkasa yang menyimpan mutiara di antara kedua matanya. Seekor naga yang menjadi raja dunia, namun takdir memberikan perasaan sakit tak terobati dalam hatinya, membuatnya hidup menyendiri, sendu, dan kesepian. Saat makan malam sesudah aku selesai membaca novel itu, aku bertanya pada papa, tentang naga, apakah sungguh naga itu ada atau hanya simbol semata? Jika ada, bisakah papa mengajakku melihatnya. Papa tersenyum dan bertanya, darimana aku tahu tentang naga, lalu kuceritakan sekilas kisah naga tersebut. "Novel yang bagus, papa. Aku menyukainya, " ucapku dengan penuh harapan papa akan lebih banyak lagi membawakanku novel menarik. Papa dan mama menatapku dengan tatapan yang berbeda, tak kumengerti. Memang ada yang salah dengan kata-kataku?
Setelah itu, papa mulai sering membawakanku
buku-buku berbahasa asing. Bahasa hindi, italy, jerman, perancis, cina, arab, bahkan ada yang berbahasa indonesia, Sebuah negri yang menurut papa sungguh indah. Meski aku tak yakin ada tempat di benua ini yang menyaingi keindahan dunedin.
Papa selalu memintaku menceritakan isi novel yang kubaca. Dan aku dengan senang hati mengisahkannya kembali untuk papa dan mama, dan kadang-kadang untuk kakak-kakakku ketika mereka kebetulan meluangkan waktu untuk makan malam bersama kami. Bahkan yolan dan savanah pun ikut mendengar kisahku. Terkadang Aku merasa, mendongeng merupakan bakat terpendamku.
Sekali waktu, Bob memintaku untuk membacakan sebuah buku untuknya. Buku itu berbahasa cina, dan tentu saja kubacakan dengan gaya cina, tanpa meninggalkan logat dunedinku. Bob hanya terbengong-bengong mendengarkan. Lalu, ia juga memintaku menterjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari kami. Itu adalah buku tentang berbagai tumbuhan berkhasiat yang banyak tumbuh di gunung Shaolin. Tentu saja Bob sangat senang dan sebagai hadiahnya, ia memberiku sedikit kebebasan saat giliran ia menjagaku. Tak kulewatkan kesempatan itu begitu saja, segera saja kuhubungi Evelyne dan mengajaknya menghabiskan waktu berkeliling pusat keramaian. Tak lupa kami mengunjungi salon tante Lusi sahabat mamaku. Creambath, pedicure medicure sambil berceloteh riang tentang berbagai hal.
"mengapa kakakmu meminta kau membacanya, Key... Kupikir kalau kau saja begitu mahir berbahasa asing, apalagi kakak-kakakmu, tidak sepertiku yang memahami kosakata bahasa Inggris saja masih sering kesulitan" katanya sambil terkekeh saat kami menunggu cat kuku kami kering. Apa maksudnya? , bukankah semua anggota keluargaku dan orang lain pun sama denganku. Asalkan sudah bisa membaca, artinya bisa membaca berbagai tulisan dan aksara secara otomatis.
"Maksudmu, kau tidak bisa, eve? Bukankah kau sudah pandai membaca sama sepertiku?" heranku berbalik bertanya.
Evelyne tertawa lebar. "Ya ampun, key... Tentu saja aku pandai membaca. Bacaan yang ditulis menggunakan bahasa sehari-hari kita. Bukan bahasa perancis atau cina sepertimu. Kemampuan seperti itu hanya bisa dimiliki jika kau telah mempelajarinya sebelumnya, atau kau pernah tinggal disana dan memakai bahasa itu secara aktif," ucapnya sambil meniupi kuku tangan kanannya.
Aku tertegun. Tapi evelyne salah. Aku tidak pernah mempelajarinya dan aku juga tidak pernah tinggal di cina, perancis maupun italy. Sejak lahir, hanya Dunedin tempatku tinggal. dan aku bisa membaca semua buku dalam berbagai bahasa secara otomatis. Membaca dan memahami artinya seolah-olah aku sudah terbiasa menggunakannya.
Sesampainya di rumah, aku mencari nomer dr. Sean di buku telpon. Namanya mudah ditemukan karena ada di daftar teratas. Wow, rupanya sedekat ini dr. Sean dengan keluarga kami. Seingatku dr. Sean pernah mengunjungi Cina. Siapa tahu dia pun bisa berbahasa Cina.
"hallo, kediaman keluarga Lee," suara seorang laki-laki menjawab telponku.
"dr. Sean? " tanyaku pada siapapun diujung sana.
"sebentar miss. Akan saya sambungkan untuk Anda," jawab laki-laki itu. Jeda beberapa saat, sebelum suara dr. Sean terdengar.
"Hallo, Dengan siapa ini? "
"dr. Sean... "
"oh, hai kea? Ada apa? Sesuatu terjadi? "
Ugh... Refleks aku memutar mataku. Haruskah terjadi hal yang darurat sebelum bisa menghubungi seorang dokter?
"uhm... Tidak. "
"XiaWu hao. Wo de míngzì shì kea. Wo jinnián 11 sui. Hen gaoxìng renshi ni," Kea menarik nafas sejenak.
"Kau memahamiku, doc? " tanyaku penuh harap.
"kau mempelajarinya secara khusus, doc? "
"Kea, leluhur kami dari ayahku, adalah keturunan cina. Ayahku menikah dengan ibuku yang asli Dunedin, dan lahirlah kami. Aku sendiri lebih mirip ibuku," jelasnya.
Sean
"Dan kau menguasai bahasa itu..." ucapku terputus.
"karena sejak kecil, ayahku berkomunikasi dengan kami menggunakan bahasa cina. Sementara dengan ibuku kami memakai bahasa Kita. Itu semacam kesepakatan diantara orangtuaku," dr. Sean melanjutkan.
"kami? Kau memiliki saudara, doc? "
"oh ya, seorang adik perempuan. Rebecca."
"begitu ya, mengapa kau tidak pernah mengajaknya ke rumah?"
"umm... Adikku sudah meninggal, Kea. "
"Ooh, maaf doc. Bukan maksudku... "
"tidak apa-apa. Aku tahu Kea. Tapi... Mengapa tiba -tiba kau menanyakan hal ini padaku? Menguasai bahasa asing bukanlah hal yang aneh. Kakak-kakakmu sendiri sangat pandai berbahasa asing. Tapi memang hanya aku yang berbahasa cina. Nat menguasai bahasa Jerman dengan baik, Bob lebih tertarik mempelajari bahasa Perancis. Will menguasai setidaknya 3 atau 4 bahasa asing. Itu belum termasuk bahasa isyarat dan berbagai kode-kode yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Begitu juga papamu."
"benarkah, doc? "
"tentu saja benar, untuk apa aku berbohong padamu. "
"baiklah, doc. Terimakasih atas penjelasanmu."
"sesye, kea. "
Aku merasa lega mengetahui bahwa urusan bahasa asing ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Semua keluargaku ternyata bisa bahasa asing.
Aku menertawakan kekonyolanku sendiri karena telah berpraduga yang tidak-tidak.
Akhirnya kuputuskan untuk memilih jurusan bahasa di sekolah kejuruan. Dari awal aku memang tidak tertarik untuk melanjutkan ke sekolah keputrian. Karena toh aku punya mama. Semua hal tentang wanita atau menjadi seorang putri bahkan ratu sekalipun bisa kupelajari dari mama.
Sastra inggris sepertinya cocok. Aku yakin tidak akan banyak menemui kendala jika mengambil jurusan itu. Bukan berarti aku tidak suka tantangan. Hanya saja banyak hal lain yang harus kupikirkan dan kulakukan disamping belajar, dan itu semua menuntutku meluangkan banyak waktu ekstra.