Once Upon A Time In Bizonik World

Once Upon A Time In Bizonik World
Bab 39



Kea


Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian dengan gaun milik Maya, aku berbaring di atas ranjang kayu yang meski sederhana namun sangat kokoh. Kasur yang tertutup kain lembut sangat menggoda untukku memejamkan mata. Tapi, aku tidak boleh tidur. Tidak, jika besok pagi rencanaku akan hancur berantakan. Aku harus cepat memikirkan solusinya. Bagaimana ini?


Hemmmm....


Aha, sebuah lampu bohlam langsung menyala di kepalaku. Sebenarnya tidak diperlukan cara rumit untuk menghindari kehancuran rencanaku. Aku akan menggunakan strategi yang sama seperti sebelumnya, yaitu... Kabur! Hehehe... Kabur dan sembunyi. Aku terkekeh sambil membenamkan wajahku pada bantal tunggal yang ada. Strategi yang sangat praktis dan sebelumnya nyaris saja berhasil jika bukan gara gara pencopet di bandara. Huh!


Itulah sebabnya aku tidak boleh tidur. Cukup menunggu hingga Will memasuki kamar atau tidak lagi siaga, dan aku akan mengendap-endap keluar dari sini.


Hanya ada satu kendala, yaitu gaun yang kupakai. Ini sungguh tidak praktis. Isi lemari Maya tidak ada satupun pakaian casual seperti yang biasa kupakai sehari-hari. Kalaupun ada celana panjang, maka itu milik James. Aku tidak mungkin menggunakan pakaian James. Yah, apa boleh buat. Semoga saja Maya tidak keberatan jika gaunnya menjadi kotor atau sobek. Nanti, setelah kembali ke Dunedin, aku akan membelikan Maya gaun model terbaru seperti milik Tutsy. Ya, begitu saja.


Dan sekarang, tinggal menunggu beberapa saat lagi, mewujudkan rencana nekatku yang tanpa rencana.


Langit malam yang terlihat dari jendela kamar ini, begitu gelap dan pekat. Penerangan satu-satunya yang menerangi rumah ini adalah lentera-lentera yang berjejer sepanjang jalan setapak di halaman depan. Itu bisa terlihat sebagian dari sini. Ada banyak lentera di depan sana. Andai salah satunya bisa ada disini. Setidaknya aku harus memiliki penerangan untuk memuluskan aksiku nanti.


Dan, baru saja aku berpikir, tiba-tiba saja sebuah lentera ada di depan jendela kamarku yang terbuka.


Refleks aku menjerit karena kaget.


"Aaaa....." Dan begitu sadar, aku langsung membekap mulutku dengan kedua tangan. Hanya saja semuanya terlambat, Will telah menyentakkan pintu kamar dan menggapaiku. Disusul Maya tak lama kemudian.


"Kea... Ada apa? Kau tak apa-apa?" Will mengguncang bahuku. Matanya begitu panik menatap wajahku dan sesekali ia memindai seluruh ruangan untuk memastikan sesuatu.


"Itu... Itu... Llenlenteranya...." Aku menjawab terbata-bata sambil menunjuk keluar jendela. Dan secepat kilat, Will menghampiri jendela, melihat sekekiling untuk beberapa saat lalu kembali membalikkan tubuhnya menghadapku.


"Tenanglah, Kea. Sudah... Tidak apa-apa, tidak ada apa-apa." Suara Maya yang lembut berusaha menenangkanku. Yeah itu sedikit berhasil. Hanya saja, aku benar-benar belum meyakini kebenaran penglihatanku tadi.


"Ada apa, Kea? Apa yang kau lihat?" Will bertanya dengan nada menuntut. Ia masih cemas.


"Lenteranya..." Bisikku sangat pelan hingga nyaris aku sendiri pun tak bisa mendengarnya.


"Ya, lenteranya... Ada apa dengan lenteranya?" Will kembali bertanya sambil beberapa kali melihat bolak-balik antara aku dan lentera di depan jendela.


"Ada lentera disana..." Kini Maya yang menjawab. Ia tertegun.


"Ya ampun... Apa kalian sedang mencoba mengerjaiku dan membuatku gila?" Will berteriak sambil berjalan mondar-mandir, mengacak-acak rambutnya.


"Seharusnya tidak ada." Maya menjelaskan jawaban sebelumnya.


"Ada lentera diluar jendela kamar ini, yang seharusnya tidak ada." Maya menegaskan sekali lagi.


"Apa maksudmu, Maya?" Kini Will menatap Maya, lalu perlahan berjalan kembali ke jendela.


"Aku sangat yakin, lentera-lentera itu hanya ada di bagian depan rumahku, untuk menerangi jalan menuju pintu. Selain itu tidak ada lentera di bagian manapun di rumah ini." Maya berjalan menghampiri Will.


"Kea, apakah kau melihat seseorang tadi?" Will kembali menatapku. Kini, sorot matanya sudah kembali seperti biasa.


"Tidak." Aku sangat yakin tidak ada siapapun diluar sana.


"Bisakah kau menceritakan semuanya, Kea? Apapun yang kau lihat atau dengar?" Maya menyambung pertanyaan Will.


Nah itu masalahnya. Aku tidak melihat atau mendengar apapun!


"Aku hanya sedang melihat langit diluar. Kupikir itu sangat gelap, karena tak ada bulan atau satupun bintang. Lalu aku melihat kerlip cahaya dari lentera disana. Kupikir lentera-lentera di depan sana ada lebih dari cukup. Dan kupikir akan sangat baik jika salah satu lentera di depan ada disini, setidaknya diluar jendela kamar ini tidak akan menjadi terlalu gelap." Aku menjelaskan dengan semburan kalimat yang keluar begitu cepat. Aku takut jika tak kukatakan semuanya langsung, aku akan kembali gugup.


Ekspresi yang kulihat di wajah Will sungguh aneh. Seperti seseorang mencekik lehernya sehingga ia kesulitan bernapas dan membekap mulutnya sehingga ia tidak bisa mengeluarkan suara apapun padahal ingin berteriak. Mulutnya terbuka, mata mendelik, dahi berkerut. Benar-benar Will belum selesai mengejutkanku hari ini.


"Telekinesis!" Kudengar bisikan Maya meski tak paham apa maksudnya.


Will berjalan menuju tepi jendela, menarik daunnya dan menutupnya rapat. Jendela kayu yang sewarna dengan pintu itu sedikit bergetar. Dan saat Will kembali menghadapkan wajahnya padaku, ekspresinya yang biasa sudah kembali. Ia memamerkan senyum jahilnya dengan mata berbinar-binar. Itu adalah sosok Will yang melekat dalam ingatanku selama ini.


"Nah, karena tidak ada apapun dan malam telat larut, sebaiknya kau segera beristirahat, Kea sayang. Besok pagi kita akan memulai perjalanan kita yang menyenangkan dan itu membutuhkan dirimu yang bugar. Oke...." Will mengedipkan sebelah matanya. Tangannya mendorong lengan atasku untuk berbalik dan berjalan menuju pembaringan.


Aku segera naik ke atas kasur, berbaring dengan diam dan rapi seperti anak kecil yang diantarkan tidur oleh ayahnya. Willan menarik selimut untuk menyelubungiku. Dan seperti kebiasaannya setiap mengantarku tidur, ia mengecup keningku.


"Tidurlah, Kea. Mimpi indah. Besok, bangun sebelum matahari meninggi ya. Jangan membuat ulah. Ini bukan di rumah." Ugh... Dasar kakak rasa kakek. Willan cerewet!


Mataku sempat melirik Maya sebelum menutup. "Selamat malam, Kea." Ia tersenyum dan kemudian menyusul Will menuju pintu.


Dan tepat ketika suara pintu tertutup terdengar, aku bernafas lega.


Aku hanya perlu menunggu beberapa saat. Sambil menunggu, aku memikirkan kata yang dibisikkan Maya tadi. 'Telekinesis!"


Sebagai pembaca buku terbanyak setelah papa di keluargaku, kata itu bukanlah kata asing untukku. Telekinesis adalah kemampuan pikiran seseorang untuk menggerakkan sesuatu tanpa 'menyentuhnya'. Tapi mengapa Maya mengatakan hal itu? Apakah...?


Aku mengingat-ingat kembali perkataan James saat kami di dalam terowongan. james adalah seorang Bizonik. Dan James sangat yakin jika akupun sama sepertinya. Ia bahkan sudah membuktikannya dengan menyayat lenganku.


Bizonik ya? Meski aku belum terlalu yakin dan tahu banyak mengenai hal itu, tapi menurut James, seorang Bizonik memiliki kemampuan. James bisa membuat api dengan tangannya. Lalu, aku.... ada kemungkinan akupun memiliki kemampuan seperti James, tapi bukan membuat api, melainkan... telekinesis.