Nuri

Nuri
Bab 9



Bab 9 Nuri


Wajah-wajah panik mengelilingi tempat tidur Nuri. Perempuan itu akhirnya mengerjakan mata setelah beberapa menit pingsan. "Kamu mikirin apa, Teh? papa minta maaf kalau becanda papa si meja makan tadi membuatmu merasa terbebani."


"Air, Ma," pinta Nuri.


Mama menyodorkan air yang sudah disiapkan sejak Nuri dibawa ke kamar. Nuri meneguk setengahnya kemudian menyodorkan gelas itu kembali. Mama mengisi rambut Nuri yang tergerai.


"Mikirin apa?" tanya mama lembut.


"Aku gak mikirin apa-apa ko, Ma. Hanya kelelahan kan tadi baru selesai olah raga juga."


"Bener gak papa ya?" tanya Papa lagi.


Nuri mengangguk kemudian menarik selimut hingga menutupi bagian kepala. Mama dan papa keluar dari kamar Nuri. Sedangkan Hamzah masih berada di sana.


Saat dirasa orang-orang sudah meninggalkan dirinya sendiri, Nuri membuka selimut. "Nah kan gak tidur," Hamzah mengagetkan Nuri.


"Hamzah," pekik Nuri.


"Teteh kenapa sih sebenarnya. Aku gak yakin loh kalau hanya kelelahan."


"Beneran cuma kelelahan, Zah. Keluar sana! Teteh mau istirahat."


"Karena kelelahan terus nangis gitu? Gak masuk akal. Gak mau cerita nih." Hamzah duduk di kasur dekat Nuri.


"Enggak, Hamzah. Keluar sana teteh mau istirahat." Nuri turun dari kasur dan menodorng Hamzah agar keluar dari kamarnya. Pintu kamar segera dia kunci tak peduli umpatan terlontar dari bibir sang adik.


Nuri berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya. Dia cantik, itu perlu diakui. Hanya saja cantik saja tidak cukup. Yang cantik saja banyak yang perahu rumah tangganya tak sampai dermaga.


"Aku tidak pantas bersanding dengan lelaki manapun," ia berkata dalam hati.


Andai ia bisa mengulang masalalu, tapi ia hanya mampu berandai-andai. Nyatanya masalalu tetaplah bagian darinya dan ia harus bisa berdamai dengan itu.


***


Hari senin adalah hati yang paling Akmal benci. Saat dia tengah bermimpi merajut kasih dengan si cinta, mama membangunkannya dengan tidak berprikemanusiaan. Masa anak sendiri diciprati air dari gayung


"Mama!" Akmal mengejapkan mata dan langsung duduk. Tentu saja kepalanya merasa pusing.


"Bangun, ditunggu papa di bawah."


Meski malas tapi Arbani alias Akmal tidak mungkin melanjutkan tidur. Jam sudah menunjukan pukul 04:25 sebentar lagi adzan subuh. Dia harus bangun kalau tidak ingin telinganya menjadi rombeng karena ceramah dari mama.


Di lantai bawah papa sudah menunggu dengan sarung sudah terpasang rapi. Lelaki itu tersenyum anak bungsunya mau bangun meski harus diciptakan air terlebih dulu.


Pulang dari masjid, Akmal memilih berolah raga di taman samping. Saat sinar matahari mulai terasa hangat dia segera mandi dan berangkat ke kampus.


"Gak sarapan dulu, Bani?"


"Akmal, Ma. Gak ah sarapan di kantin aja nanti. Aku berangkat ya." Dia meraih tangan mama dan menciumnya begitupun pada papa.


Sampai di kampus Akmal memarkirkan motor di tempat biasa. Motor teman-temanya belum terlihat. Rupanya dia mendadak rajin gara-gara tamparan kemarin.


Satu jam menunggu di bangku yang berada di bawah pohon akhirnya teman-temannya datang juga. "Anjir, Si kampret jadi anak rajin ceritanya. Tumben nih, lagi cosplay ya." Hans si paling heboh.


Teman-teman Akmal sudah seperti bandit dan Akmal mafianya. Dia mendengarkan laporan hasil penguntitan beberapa hari yang lalu.


Bekas tamparan Nuri di pipi kemarin dia usap. Dengan konyolnya dia mengatakan kalau itu adalah tamparan perkenalan dengan penuh cinta.


"Bro, kalau gue lihat dari hasil penguntitan beberapa hari ini. Sepertinya lo akan susah ngedeketin dia. Lihat si dr. duda yang terlihat rapih dan gak meyeramkan aja kesulitan buat nyentuh hatinya. Apalagi lo yang terlihat berandalan."


"Si dr. duda itu memang pintar buktinya dia bisa jadi seorang dokter. Sayangnya dia bodoh dalam meluluhkan hati si cinta. Lo semua tau kenapa? jawabannya jelas, karena si cinta maunya sama gue."


"Mal, Mal, Pd-mu emang selangit, Bro. Buy the way itu pipi diusap mulu."


"Latihan ngusap pipi si cinta," kekeh Akmal. "Dah ah gue mau masuk kelas dulu. Cape gue nungguin lo semua.


"Jim, so rajin si kampret."


"Dalam misi ngeracik strategi, Bro. Saingan gue bukan elo-elo semua tapi dokter." Lelaki jangkung itu melenggang menyusuri koridor kampus. Bibirnya tersungging karena dia tengah membayangkan berjalan di red karpet menuju tempat akad dan Nuri tengah tersenyum dari tempatnya.


"Lets see dokter duda, gue boleh kalah star tapi gue pastikan finish itu milik gue."


***


Sebelum berangkat kerja, pak Irsya menghubungi Hani lebih dulu. Tentunya dengan tujuan mengorek informasi lebih tentang Nuri.


"Aku kurang tau sih, soalnya dia termasukborang yang gak suka mengumbar masalah pribadi. Terakhir yang aku tahu dia ditinggal nikah oleh kekasihnya si Hardy. Parahnya si Hardy nikah sama teman satu gengnya Nuri." Suara Hani terserah dari smabungan telepon.


"Apa mungkin dia trauma karena itu ya?" gumam pak Irsya.


"Ok thank, Hani. Aku harus berangkat kerja." Sambung terputus. Pak Irsya mulai menikmati sarapannya. Ya meski Nuri masih saja mengusik hati dan pikiran.


***


Pagi ini Nuri sudah terlihat seperti biasa. Dia tak menunjukan sikap seperti kemarin. Tempat kerja pun sudah mulai ramai dengan candaan-candaan para pekerja.


Nuri menyunggingkan senyum saat salah satu pekerja menyapa. Sebuah buku dia dekap dan di bawa masuk ke dalam ruangannya.


Nia mengetuk pintu dan memberikan laporan satu minggu kemarin. Setelahnya perempuan itu kembali ke pekerjaannya.


Nuri sendiri mulai menyalakan laptop. Dia hendak melanjutkan novel yang masih mangrak itu. Teringat dengan buku, Nuri tak jadi mengetik. Dia memilih membaca buka yang diberikan pak Irsya kemarin. Sebagai seorang penulis banyak membaca itu penting.


Jam makan siang Nia kembali mengetuk pintu. Perempuan itu membawa buket bunga.


"Cie dapat kiriman bunga ya, Ni? romantis amat."


"Ish bukan punyaku lah. Ini tuh barusan ada yang ngirim katanya buat teteh."


"Aku gak pesan kok."


"Mungkin dari pak Irsya, Teh. Kayaknya dia naksir sama Teteh. Cocok kok kalian. Tampan dan cantik"


"Pinternya kamu pakai ilmu cocokologi. Sayangnya tebakanmu salah." Nuri melipat buku yang sejak tadi dia baca.


"Jangan salah lo, Teh, perempuan itu mahkluk perasa. Kepekaannya sangat tinggi. Ya kecuali emang perempuannya kayak Teteh sih. Setiap laki-laki dianggap menyebalkan." Nia terkekeh melihat ekspresi Nuri.


"Kamu sudah makan siang?" Nuri mengalihkan begadang yang sungguh membuat dirinya merasa terganggu. Apalagi yang dibahas adalah pak Irsya.


"Bosku yang satu ini emang paling pinter mengalihkan pembicaraan." Nia menggelengkan kepala sambil tertawa.


"Nia gajimu kupotong setengahnya," ancam Nuri. Tentu saja Nia gelagapan. Pan ini bukan kesalahan fatal. Bisa-bisanya bosnya kepikiran hal itu. Ya meskipun Nia yakin kalau Nuri tak sungguh-sungguh akan memotong gajinya.