
Nuri menggelengkan kepala, "maaf Pak Irsya tapi..."
"Katakan alasannya Nuri!"
Nuri bingung, haruskah dia menerima tapi pak Irsya akan kecewa nantinya. Atau dia katakan apa yang sebenarnya jadi aib yang dia tutupi selama ini.
"Kamu tidak pernah dekat lagi dengan laki-laki setelah Hardy menikah. Jika itu penyebabnya, izinkan aku menjadi pengobat luka itu."
"Bukan, bukan itu penyebabnya. Aku tidak masalah dengan Hardy menikah. Ada hal lain yang tidak perlu semua orang tahu."
Pak Irsya bangkit dari berlututnya dan kembali duduk. Gagal sudah adegan romantis yang ingin dia ciptakan. Lelaki itu menata Nuri. "Nuri semua orang memiliki kekurangan. Aku tidak tahu apa kekurangan kamu tapi dengan kepurusanku memilih kamu itu berarti aku siap menerima kekurangan kamu. Kalau kamu tidak percaya pada hatimu, kamu tidak akan pernah berhasil."
Nuri diam sejenak, apa yang dikatakan Pak Irsya memang benar. Sebenarnya kalimat Pak Irsya bisa saja menggoyahkan hati Nuri, sayangnya dia tidak yakin sepenuhnya. "Banyak dari mereka yang akan menikah mengatakan hal yang sama. Sayangnya pemikiran mereka sering berubah di tengah jalan saat mengetahui fakta yang disembunyikan oleh pasangannya."
Pak Irsya memijit kepalanya pelan, membuang nafas kasar sampai terdengar oleh Nuri. "Kalau begitu katakan sekarang!"
Nuri berdiri dan Pak Irsya menikutinya. "Aku sudah kehilangan sesuatu yang paling diharapkan kebanyakan orang di malam pertama mekera. Aku adalah korban," bisik Nuri. Meski berat dia tetap mengatakan itu. Melihat Pak Irsya diam, Nuri kembali melanjutkan ucapannya, "Gak perlu mengatakan apapun aku sudah tau selanjutnya."
Nuri meninggalkan Pak Irsya yang masih mematung di tempat semula. Lelaki itu paham apa yang dimaksud oleh Nuri. Tak menyangka itu adalah alasan kenapa Nuri selama ini terlihat begitu dingin pada laki-laki selain pada saudara kandung.
Dia berlari ke luar berniat untuk mengejar Nuri tapi terlambat. Nuri sudah masuk tak ada di sana. Padahal dia diam hanya sesaat tapi secepat itu Nuri pergi. "Pak barusan lihat perempuan bergamis tosca gak di sini?" Dia bertanya pada petugas parkir.
"Yang pakai gamis tosca kan gak cuma satu orang, Pak. Yang duduk di sana jiga pakai gamis tosca." Petugas parkir menunjuk perempuan yang memakai gamis warna sesuai yang ditanyakan.
Malu itu yang dirasakan Nuri. Air mata membasahi pipi sepanjang perjalanan pulang. Mengingat hal buruk di masalalu sama saja seperti menaburkan garam di atas luka. Sakit.
Sopir taksi sesekali menoleh tapi dia tidak ingin mengganggu penumpangnya. Sampai mobil memasuki kawasan tempat tinggal yang sudah ditunjukan oleh Nuri, tak ada pembicaraan oleh mereka.
Setalah turun dan hendak masuk ke dalam rumah, Nuri menarik nafas lebih dulu. Semoga saja dia tidak bertemu mama atau pun papa yang sudah pasti akan menanyakan hasil dating bersama Pak Irsya.
Nuri masuk melalui jalan yang tidak melewati ruang keluarga. Dia langsung ke kamar dan berhati pakaian. Setelahnya dia merebahkan tubuh dan membayangkan sikap Pak Irsya padanya. Mungkin laki-laki itu tak akan berpikir dua kali untuk membatalkan lamarannya.
***
Akmal terlihat murung setelah oulang daei Rumah Hamzah. Dia melihat langsung Pak Irsya menjemout Nuri. "Mungkin mau melamar ala-ala romantic dinner kali?" jawab Hamzah kala ia bertanya. Jatinya langsung meringis mengingat dr. duda itu tertarik pada perepuan yang sama.
Selama ini dia berpikir kalau dia telah menag satu langkah dengan masuk dan berteman dengan Hamzah. Ya sesekali dia berninterksi dengan Nuri meski perempuan itu tetap bersikap judes.
Di taman belakang rumah, Akmal menatap langit yang terlihat gelap. Bintang dan bulan seolah bersembunyi tak ingin menyaksikan Akmal yang tengah patah hati.
"Dia menerima gak ya?" tanya Akmal yang tak mendapat jawaban.
"Ada apa, Ma? Akmal lagi ingin sendiri."
"Lagi merasa jadi manusia paling menderita ya?" tanya mama mendekati anak bungsunya. "Diam berarti iya."
"Aku kalah, Ma dr. duda itu bergerak lebih dulu. Tadi sore Nuri dijemput olehnya, kata Hamzah Nuri akan dilamar ala-ala romantic dinner."
"Kamu ingin mama jadi pendengar atau kamu ingin menginginkan mama berpendapat?" Mama bertanya karena paham disana hati Akmal. Kadang seseorang seseorang bercerita karena hanya ingin didengar keluh kesahnya saja, bukan ingin diberikan pendapat yang berujung berdebat.
"Menurut mama aku harus gimana andai Nuri menerima laki-laki itu?"
"Berarti dia memang bukan jodoh mu. Mama tudak punya kalimat bagus untuk memmbuat hatimu merasa tenang. Dengar sayanⁿg! Kalau seandainya Nuri menerima itu berarti Tuhan tengah mengujimu melalui dia. Hari ini kamu merasa kalah lalu bersedih terus kamu tidak mau melakukan apa-apa termasuk ibadah. Ingat di sisi lain setan tangah berbahagia melihatmu seperti itu. Tapi andai kamu berlapang dada, ikhlas menerima meskipun pahit yakinlah suatu hari Tuhan akan mempertemukan kamu dengan seseorang yang membuatmu bersyukur." Mama memaparkan.
Akmal memejamkan mata sambil memeluk mama. Merasai harum tubuh perempuan yang selalu mengerti dirinya.
"Sudah lebih baik?" tanya mama saat Ama mengurai pelukannya.
Akmal mengangguk, "mama tadi masak apa? Aku laper."
Mama tersenyum dan mereka pun beranjak menuju ruang makan.
"Kirain papa kamu makanannya sudah berubah, Bani," celetuk papa.
"Masih manusia kok, Pa. Nanti kalau aku udah jadi vampir, makananku bukan lagi nasi, tapi darah papa." Akmal kembali bercanda meski tak dipungkiri hati masih merasa cemas. Dia belum siap menerima kenyataan.
"Hushh kamu ini," omel mama.
Lekas makan malam Akmal langsung pamit ke kamar. Dia menatap ponsel yang menunjukan wajah Nuri tengah tersenyum. Ya meski hanya sekedar foto yang diambil dari samping.
"Aku belum siap bertemu hari esok, Nuri. Takut kalau kamu menerima dia. Nuri tidakah kamu merasakan love language yang aku tunjukan. Dokter itu memang sialan Nuri. Bisa-bisanya dia tidak mau mengalah padaku yang katanya anak kecil. Padahal langkahku sedikit lagi Nuri. Kamu tolak aja, terus lempar cincinnya ke kolam. Eh jangan! Kamu jual aja cincinnya. Nuri... Nuri... Nuri Hanya namamu yang selalu kupinta dalam sujud panjangku."
Dia ingin menghubungi Hamzah dan menanyakan hasilnya. Dia yakin Hamzah pasti mengerti. Sayangnya rasa malu membuat dia bimbang. Tak habis akal dia pun membuka sosial media pak Irsya. Biasanya kalau orang-orang lagi bahagia pada momen tertentu pasti akan mengunggahnya ke sosial media.
Akmal terus menggulir layar sampai akhirnya dia menemukan vidio yang membuat matanya melotot. Terlonjak kaget dengan apa yang dia dengar dan lihat.
"Apa ini? Gak, gak mungkin," desis Akmal. Dia melihat jumlah penayangan sudah lebih dari satu juta. Dia pun menekan nomor seseorang.
Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 22:15 Akmal berdecak tapi tak mungkin bertamu di tengah malam.