
Nuri meminta pengasuhnya Fisya untuk mengakui pakaian. Dia sendiri pergi ke kamar dam ternyata suaminya juga ikut.
"Sekarang aku suami-mu. Izinkan aku masuk."
Nuri hampir lupa pada rencananya. Dia mengangguk dan mengizinkan suaminya untuk masuk. Rasa sakit pada lengan membuat pergerakan Nuri terbatas. Bahkan untuk melepaskan jas milik suaminya saja kesusahan.
"Biar kubantu." Arsyan sudah berdiri di belskang Nuri lalu membantu istrinya untuk melepaskan jas itu.
"Terima kasih. Maaf aku lupa kalau aku sudah menjadi istri."
Tadinya hari ini Nuri akan kembali melanjutkan gertakan pada Arsyan. Sayangnya rasa sakit membtanya malah ingin tidur.
Mengabaikan Arsyan, Nuri mulai memejakan mata. Dia terlihat tenang dalam lelapnya membaut rasa bersalah dalam hati Arsyan kian menggunung.
Ditariknya selimut untuk mengahangatkan tubuh sang istri yang tidur tanpa meleoas hijab. Perlahan tanganmu terulur mengusap puncak kepala.
Ketukan pada pintu membuat Asryan kembali menarik tanganya. Ternyata mama.
"Nuri mana?"
"Baru saja tidur, Ma. Perlu aku bangunkan?"
"Biarkan saja. Dia sepertinya sangat lelah, bisa kita bicara?" Bahasa mama menunjukan kalau dirinya belum sepenuhnya menerima Arsyan sebagai menantu. Ya meskipun tadi pagi dia melihat perubahan sikap pada putrinya.
Arsyan dan mama duduk di teras belakang yang mengahadap kolam ikan. Tempat yang biasa Nuri gunakan untuk bersantai.
***
Selesai makan malam, Nuri kembali ke kamar.
"Nuri," panggil Arsyan yang ternyata mengikutinya.
"Hmm." Nuri menoleh.
"Terima kasih sudah menerima ku."
"Terpaksa sih sebenarnya, tapi mau gimana lagi. Aku kan harus menghargai usahamu."
Nuri menggoda Arsyan sampai membangunkan sesuatu di bawah sana. Deru nafas Arsyan menanyakan kalau pria itu sudah tersulit gairah. Tangannya hendak meraih tubuh Nuri tapi ternyata Nuri malah masuk ke kamar mandi.
Linu, itulah yang dirasakan Arsyan.
"kenapa?" tanya Nuri tanpa rasa bersalah setelah keluar dari kamar mandi. Pakian sudah lengkap ditubuhnya. Dia berusaha menahan tawa melihat ekspresi Arsyan.
"Kamu menggodaku tapi kamu malah meninggalkanku."
"Aku tidak menggodamu. Aku memang berniat untuk mandi." Nuri melangkah ke arah meja rias dia terus mengulun senyum dan memperhatikan Arsyan dari cermin.
"Nuri aku ingin-"
"Aku belum menerima kamu sepenuhnya. Jadi tolong jangan meminta apa pun dulu."
Arsyan memejamkan mata. Tak kuat menahan Hasrat dis pun masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya. Mungkin mandi atau ... Entahlah jangan berpikir terlalu jauh.
Arsyan ke luar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan sebatas pinggang. Dia lupa bahwa dirinya tak membawa baju ganti ke rumah ini.
"Gak ada baju ganti ya?" Sudah tahu suaminya gak ada baju ganti malah di tanya lagi.
"Iya, kamu bisa meminjamkan satu baju untukku?"
"Hah, kamu mau pakai baju gamis?"
"Bukan, bukan itu maksudku-"
"Oh aku tau sekarang sisi lain dari dirimu.Ternyata ...." Nuri menggelengkan kepala tanda tak percaya. Dalam hati dia bersorak senang berhasil mengerjai Arsyan sampai lelaki itu gelagapan.
Nuri keluar kamar dan kambeli lagi dengan membawa baju dari tempat kerjanya. "Ini lebih bagus ketimbang gamis," ucapnya sambil menyodorkan pakaiannya itu pada Arsyan.
Geus Arsyan menerima. Dia bahkan memakai baju itu di hadapan Nuri. Sontak istrinya itu membalikkan badan.
Memangnya hanya kamu aja yang bisa menjahili aku