
Satu minggu setelah video tersebar. Pak Irsya belum pernah berkunjung kembali ke rumah Nuri. Hanya Akmal yang masih sering berkunjung sayangnya dia tak pernah dilirik oleh Nuri.
Satu minggu mengurung diri di rumah sepertinya orang-orang sudah mulai lupa dengan apa yang terjadi di minggu lalu.
"Naura kenapa?" tanya Nuri saat melihat Naura memilih duduk di lantai dekat sofa paling pojok. Wajahnya cemberut membuat pipinya terlihat mengembung.
"Lagi sulit," kata mama.
"Cantik-cantik kok ngambekan." Nuri mendekat dan menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah menggemaskan itu.
"Main," ucap Naura dengan wajah menggemaskan.
"Mau main sama Ateu?"
Naura mengangguk dan langsung menghambur ke pelukan Nuri kemudian ia menjulurkan lidah pada Fitri dan mama.
Meski sudah satu minggu dari kejadian itu, tapi tak menutup kemungkinan publik masih ada yang mengingat wajahnya. Jadi Nuri memilih menutup wajah dengan masker pun dengan penampilannya yang semakin tertutup.
Nuri mengajak Naura main di taman kota. Anak kecil itu terlihat menggemaskan sekali. Berlari kesana kemari seperti tak merasa capek. Sesekali dia menertawakan kelakuannya sendiri. Tertawa sambil mendongak.
"Hapeee ah," kata Naura dengan nada memelas.
"Apa?" Nuri mensejajarkan posisi tubuhnya dengan si kecil Naura.
"Dukduk," kata Naura sambil menunjuk bangku di pojokan.
"Ooooohhh duduk, ayo!" Nuri berlari kecil pura-pura mengejar Naura. Anak itu kembali tertawa. Nuri membuka jajanan yang mereka beli tadi. Dengan lucunya Naura malah duduk di atas rumput sintetis dan menikmati jajanannya.
Saat Naura sedang asyik menikmati jajanan, seorang anak kecil berusia empat tahun menghampiri mereka dan ikut duduk bersama Naura.
"Kamu lucu," ucap anak kecil itu lalu ia mendongak pada Nuri. "Tante boleh aku menciumnya?"
"Boleh ... Nama kamu siapa?"
"Aku Fisya, Eemmm dia anaknya tante?"
Nuri tertawa melihat senyum malu-malu dari anak itu saat bertanya. "Dia ponakannya tante. Kamu ke sini dengan siapa? Orang tuamu mana?"
Anak kecil itu menunduk dan memainkan tangan. "Aku ke sini sama daddy. Kalau mommy kata daddy sedang berenang dan kejauhan sekarang belum bisa kembali. Aku rindu mommy."
Lihat Nuri! Bahkan ada yang lebih kurang beruntung dari kamu.
"Sini!" Nuri merentangkan tangan agar anak kecil itu memeluknya.
"Aku ingin dipeluk seperti ini oleh mommy saat tidur, tapi yang meluk aku hanya daddy aja. Tante ...."
Nuri memejamkan mata meyakinkan diri kalau bukan hanya dia yang kurang beruntung di dunia ini. Dia memang kehilangan sesuatu yang berharga pada dirinya. Akan tetapi, dia masih memiliki yang lain.
"Tante pasti daddy mencariku. Soalnya tadi aku di suruh menunggu di mobil," ucap Fisya dengan wajah panik malah terlihat menggemaskan.
"Oh ya?"
"Iya, aku pamit ya," ucap anak kecil itu pada Naura kemudian ia berlari ke arak mobil yang tadi dia tunjuk."Sampai bertemu lagi," teriak Fisya saat ia sudah merajuk.
"Buka!" Suara Naura membuat Nuri berbalik. Lantas dia menerima jajanan yang Naura minta untuk dibukakan.
Gak mungkin Nuri
Rumah sakit tempat pak Irsya bekerja tidak jauh dari jauh dari taman kota yang Nuri kunjungi. Pria itu baru saja keluar dari rumah makan yang berhadapan dengan taman kota.
Binar bahagia jelas tergambar pada wajahnya saat melihat Nuri dan Naura ada di sana. Dia ingin menghampiri tapi sudah pasti Nuri akan menjauh.
Perihal video itu dia sudah membuat laporan pada pihak terkait, sayangnya kasus itu perkembaangannya begitu lambat.
"Nuri," desis pak Irsya. Ya dia menyadari jarak dia dan Nuri semakin jauh. Kalau dulu meskipun Nuri bersikap juted tapi ia masih profesional saat pak Irsya menemui atas nama pekerjaan. Sekarang? jangankan duduk satu meja seperti satu minggu lalu. Bertegur sapa pun tidak.
Hatinya terasa diremas, terlebih orang-orang di sekitar Nuri, seprti papa tak lagi mendukungnya. Pak Irsya memejamkan mata. Satu-satunya agar Nuri kembali, dia harus mendapatkan bukti dan pelaku penyebar video itu.
Saat berjalan, dia baru teringat akan ucapan seseorang Pak Amran waktu itu. Pelaku pasti memiliki masalah dengan salah satu diantara mereka.
Astaga Pak Irsya tak menyadarinya. Dia kemudian izin pada pihak Rs untuk pulang lebih dulu. Mobil melesak di jalanan menuju tempat seseorang. Hanah. Ya tidak menutup kemungkinan kalau dia adalah pelakunya.
Satunya kemudian dia sampai di depan rumah milik Hanah. Dia menunjukan identitas pada petugas keamanan barulah dia bisa masuk.
Gelak tawa dari dalam rumah terdengar sampai ke luar. Dengan langkah cepat pak Irsya mendorong pintu.
Gelak tawa yang begitu nyari menyanyi pak Irsya yang sudah berdiri di depan pintu. "See, who's come?"
"Aku perlu bicara dengan Hanah," ucap Pak Irsya.
"Ok." Hanah meninggalkan teman-temannya dan membawa pak Irsya ke ruangan lain.
"Hanah, jawab jujur. Kamu menyebarkan video saat aku melamar?"
Bukan menjawab tapi Hanah malah tertawa. "Kamu baru menyadarinya?" tanya hanya dengan senyum mengejek.
"Aku gak nyangka kamu makin bertindak."
"Kamu tidak ingin duduk?" tanya Hanah saat melihat pak Irsya masih mematung di tempat semula. "Aku hanya ingin mendapatkan kembali hakku."
"Hari itu aku memang menyuruh seseorang untuk mengikutimu dan ternyata aku dapat laporan lebih." Hanah kembali tertawa. "Ya lumayan itu bisa membuatmu jauh darinya meski sedikit sulit juga untuk kumiliki."
Andai yang pak Irsya hadapi adalah laki-laki sudah pasti mereka akan baku hantam. Sayangnya dia tidak mungkin memukul perempuan. "Meski aku tak bisa bersama Nuri akan kupastikan juga kalau aku tak akan kamu miliki. Teruskan obsesimu sampai ia menghancurkanmu sendiri." Tangan Pak Irsya terkepal kuat.
"Jangan emosi, sayang. Kamu gak kangen masa-masa kita?" Hanah mendekati pak Irsya. Gerakannya begitu menggoda. Saat tangannya menyentuh dada pak Irsya, lelaki itu segera menahan dan memelintirnya.
"Aku tak ingin berbuat lebih jauh dari ini. Jangan lagi mengusik ketenanganku atau kamu akan merasakan sendiri akibatnya."
Pak Irsya meninggalkan Hanah setelah memberikan ancaman. Selain itu dia juga sudah mendapat rekaman pengakuan Hanah. Tak sabar rasanya untuk kembali dekat dengan Nuri. Dia yakin Nuri akan menerimanya.
Hanah tak terima dengan ancaman pak Irsya. Dia pun segera menghubungi anak buahnya. "Ikuti dia tapi ingat, aku gak ingin kalian menyakitinya."
"Irsyaaaaaaaa ...."