Nuri

Nuri
41



"Mamaaaa," teriak Nuri langsung berlari ke arah Nena.


Memeluk serta memberikan kecupan. Sungguh pelukan ibu yang selama ini paling bisa menenangkan dirinya.


"Mama doang papa engga."


"Papa udah tua kok ngambekan kayak anak abegeh."


Nuri juga memeluk mertuanya, Fitri, Latif, tak lupa Naura dan Fisya. "Mommy kok sakitnya lama sekali." Fisya langsung bermanfaat-manja pads pelukan Nuri.


"Ayo makan dulu, mama sudah menyiapkan makanan kesukaan, Teteh."


Selesai makan mereka bebrincang di ruang keluarga. Tertawa bersama, membicarkan rencana ke dapan termasuk rencana menumbangkan lawan.


"Naima itu seperti belut sawah, Pa. Licin."


"Perlu papa turun tangan lagi?" tanya ayahnya.


"Sepertinya. Aku juga butuh orang-orang papa. Oh iya aku juga mau menyampaikan ... Eh gak jadi. Kamu mau istirahat?" tanya Arsyan pada Nuri yang lebih banyak menyandarkan tubuh.


"Kalau mau istirahat, istirhat aja. Nanti kalau mama sama papa mau pulang nanti dikasih tau," mama mertuanya ikut bicara.


"Nanti aja lah. Di sini juga istirahat kok."


Tubuh Nuri melayang diantara kedua tangan Arsyan. Suaminya sepengertian itu melihat istrinya yang tak nyaman terus bersandar pada sofa.


"Arsyan," pekik Nuri.


Yang lain malah tertawa melihat kelakuan Arsyan. Hanya Hamzah yang terlihat biasa saja.


Sampai di kamar Arsyan membaringkan tubuh Nuri begitu hati-hati. "Arsyan," panggil Nuri pada suaminya.


"Ya?"


"Jangan perlakuan aku seperti orang sakit."


"Aku hanya ingin menunjukan cintaku padamu Nuri. Aku selalu dihantui rasa bersalah ketika terjadi sesuatu padamu. Berjanjilah untuk tetap disisiku."


Nuri mengangguk paham. Dia sudah merasakan bagaimana bentuk cinta Arsyan padanya. Dia tidak lagi ragu hanya saja belum siap mengakui perasaan sendiri.


"Duduk di sini," pinta Nuri agar suaminya duduk di dekatnya.


Lama saling menatap lalu tersenyum bersama. "Terima kasih ya sudah berusaha melindungiku."


"Sudah kewajibanku."


"Aku ... gak tau apa yang akan terjadi andai kamu gak datang." Suara Nuri terdengar bergetar. Arsyan langsung mendekapnya. Mengusap punggung sang istri untuk menghadirkan rasa nyaman.


"Shuut jangan lagi mengingatnya."


Efek obat yang diminum setelah makan membuat Nuri tak kuasa menahan kantuk. Dalam pelukan yang nyaman dia memejamkan mata. Menjemput bunga tidur yang biasa terlupakan kala mentari menyapa.


***


"Ko sudah rapih?" Arsyan kaget saat melihat Nuri yang sudah rapih. Aroma sabun masih menguar dari tubuh sang istri.


"Ingin aja, memangnya gak boleh?"


"Boleh dong. Oh ya aku mau ajak kamu ke suatu tempat nanti."


"Kan kamu kerja. Gak boleh jadi atasan yang seenaknya pada karyawan. "


Arsyan tertawa, ditariknya pinggang sang istri agar lebih merapat. "Hari ini memang tidak ada agenda apapun. Aku ingin memanfaatkan waktu yang aku punya. Hanya kita berdua."


"Tapi ...."


Arsyan paham istrinya belum sebuah sepenuhnya. Tugas dia adalah membuat istrinya selalu merasa aman dan nyaman di dekat dirinya.


***


Mereka tidak pergi berdua, di mobil belakang dan depan ada beberapa orang yang Arsyan bayar untuk berjaga-jaga.


Seperti kata Arsyan, Naima itu licin dan licik. Dis tetap perlu waspada. Apa lagi jika Naima mengetahui tentang perusahaan Robi yang sahamnya ditarik oleh perusahahan ayahnya.


Semilir angin juga cipratan air terjun memanjakan pandangan Nuri. Semilir angin juga kicau burung menjadi melodi yang menenangkan. Nuri berlari ke arah air terjun. Menjelaskan kedua kakinya pada bagian yang dangkal.


"Arsyan aku suka di sini," teriak Nuri pada Arsyan yang masih bicara pada orang-orangnya.


Arsyan mendekati Nuri yang asyik memainkan air oleh kakinya. "Suka?"


"Aku suka banget. Nginep ya di sini!"


"Nginep? masih siang kok. Masih sanggup untuk pulang."


"Semalam aja ya, ada penginapan kan di sini?" rengek Nuri.


"Ok kita akan menginap." Pada akhirnya ia menyerah juga. Tak kuasa kalau ditatap Nuri lama-lama. Pasalnya tatapan serta senyum Nuri malu memporak-porandakan benteng hasrat yang dia bangun.


Arsyan mengirimkan pesan pada salah satu orang yang berjaga, meminta dia mencarikan oenginapan yang tak jauh dari tempat air terjun.


Mereka sudah memasuki kamar yang disewa untuk stu malam. Iya liburannya hanya satu hari saja.


Nuri melepas kerudungnya dan merebahkan tubuh di samping sang suami. "Kapan-kapan kita ajak Fisya ke sini ya," ujar Nuri, "dia pasti senang main air."


"Kok bisa ada perempuan seperti ini ya Allah. Dia sudah tahu Fisya anak dari orang yang mendzoliminnya tapi dia tidak membecinya sama sekali."


"Gimana? Boleh 'kan ajak Fisya ke sini?" ulang Nuri.


"Nuri ... kamu tidak membencinya?"


"Aku gak punya alasan untuk membencinya." Nuri membenarkan posisi tubuhnya agar lebih nyaman.


"Ada, kamu punya alasan kuat untuk membencinya. Dia anaknya Naima."


Nuri tertawa pelan sambil memiringkan tubuh. Menatap wajah sang suaminya yang tengah menatap langit-langit kamar. "Terlalu lucu kalau aku membenci anak kecil sementara dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Fisya gak ada sangkut pautnya. Bagiku Fisya ya anak kamu dan jelas itu anakku juga." Nuri menghela nafas.


Arsyan menangkup pipi Nuri, menguspanya membuat si pemilik wajah memejamkan mata. "Pantas aku sangat tertarik padamu sejak dulu, Nuri. Ternyata kamu sebaik ini."


"Jangan memuji berlebihan."


"Nuri ... aku bahkan sempat berpikir untuk menjauhkan Fisya dari kamu."


"Oh Arsyan, ayolah dia hanya anak kecil. Sekalipun darah lebih kental dari pada air, aku yakin Fisya tidak akan meniru sikap ibunya. Fisya berada dalam keluarga hangat, banyak cinta dan kasih sayang yang ia dapat."


Arsyan senang melihat sisi sebenarnya pada diri sang istri. Kosa kata yang banyak menandakan Nuri adalah perempuan seutuhnya.


"Aku rindu," bisik Arsyan setelah banyak waktu yang ia lewati hanya untuk memandangi wajah sang istri.


"Aku juga," balas Nuri dalam hati.


"Pegel gak? kan tadi habis jalan jauh."


"Lumayan."


"Balik badannya!" titah Arsyan.


Nuri menurut. Sedikit kemudian dia merasakan pijatan lembut pada kakinya. "Eh kok?"


"Gak papa sesekali suami juga harus memanjakan istri. Enak gak pijatannya?"


Nuri mengangguk sambil memejamkan mata. Menikmati setiap tekanan yang diberikan oleh Arsyan. Di balik wajah yang tenggelam pada bantal Nuri tersenyum. Doanya terkabul.


Allah dulu aku sering mengatakan dalam doaku, tak apa dapat duda yang penting dewasa, lebih perhatian, tegas tapi tidak berkata kasar. Sekarang Engkau kirimkan pria ini padaku, meski jalan yang kami lalui begitu terjal dan berkelok.


"Istriku tidur?" Arsyan mendekati wajah Nuri. Tak ada jawaban sebab yang ditanya sudah entah berada di sessaon mimpi yang mana. "Selamat tidur," bisiknya sambil mendaratkan kecupan. Setelah membenarkan selimut pada tubuh sang istri, Arsyan turun dari tempat tidur. Membuka ponselnya, lalu membalas beberapa pesan yang masuk.


Ditatapnya foto yang baru saja masuk. Arsyan tak percaya pada foto itu. "Hamzah?"