
"Ya apa tidak?" tanya Arisan sekali lagi.
"Masih ada cara lain kok, selain itu," kilah Nuri Dia merogoh ponsel disaku gamisnya. Lalu dia mendekati Arsyan dan mensejajakan tubuhnya dengan posisi Arisan yang tengah duduk. Mengarahkan kamera ponsel pada keduanya. Saat tangannya menenkan potret dia pun mengecup pipi Arsyan.
Malu, tentu saja.
"Ow!" seru Arsyan. Nuri yang seperti ini sungguh asyik, membuat hari-hatinya semakin berwarna, indah dan menyejukan. Bahkan ketika gerimis mulai turun pun terasa tengah dihujani cinta oleh sang istri. "Tak disangka istriku nakal," ucap Arsyan lagi.
Sebisa mungkin Nuri bersikap wajar. Beberapa kali mengatur oksigen yang masuk ke hidungnya agar tetap bernafas dengan baik.
"Kita kan belum pernah mempublis pernikahan kita, aku rasa foto ini tidak buruk untuk memulai langkah," ujar Nuri sambil memposting foto yang baru saja diambilnya pada media sosial miliknya.
Imamku, jalan menuju surgaku.
Begitu caption yang Nuri Tulis. Sontak para penggemar Nuri langsung membanjiri kolom komentar.
"Benarkah sudah menikah?"
"Suaminya ganteng amat ya, setaralah dengan Tuan Bimo dan tuan Arga."
"Serasi, cantik dann ganteng."
"Semoga cepat dikarunia momongan ya, Teh Nuri."
"Kok imamku, emang kapan nikahnya."
Berbagai macam untaian kalimat tanya juga doa mengisi kolom komentar. Ada beberapa akun yang komentarnya Nuri balas. "Sesekali pasangan perlu kita publis sebagai bentuk pengakuan pada dunia bahwa ia hanya milikku," balas Nuri.
Dia pun memperlihatkan komentar-komentar itu pada sayng suami. "Aku sengaja tulis ini, agar mereka muncul. Kalau mereka benar-benar berani seharusnya tidak bersembunyi, Iya kan?"
"Ide yang bagus," ucap Arsyan sambil membaca caption di bawah foto mereka termasuk tulisan untuk membalas komentar.
Rasa kagum pada istrinya kini semakin bertambah. Tak disangka gadis yang terlihat pendiam saat pertama kali bertemu menyimpan sejuta ide brilian di kepalanya.
Kalau begitu tidak akan pernah dia lepas lagi, bahkan walau seisi dunia ingin menghancurkannya.
Nuri, istriku.
Nuri menyimpan kembali ponselnya pada saku gamis.
"Gak perlu senyum-senyum. Ayo turun aku lapar belum makan siang." Lihat bahkan sekarang Nuri meraih tangannya. Berjalan bergandengan hingga ke ruang makan.
Fitri dan mama yang tengah menemani Fisya dan Naura bermain pun berdehem.
"Kayak gak pernah muda aja," celetuk Nuri membuat mama dan Fitri tertawa. Bahkan Naura dan Fisya yang tadinya asyik bermain pun berhenti sejenak.
"Nenek sama mama Naura kok tertawa?" tanya Fisya sambil meneleiti penampilannya. Takut ada yang salah dan dua orang dewasa itu menertawakan dirinya.
"Ah bukan apa-apa sayang. Hanya sekedar menertawakan kucing yang tengah kasmaran," balas Fitri.
"Kucing kasmaran? Kita kan enggak punya kucing, apa lagi kucing kasmaran. Kasmaran itu apa?" tanya Fisya lagi.
"Ya ampun, Fit. Jelaskan sana, mama bingung cara menjelaskannya," kekeh mama.
Sementara dua orang di meja makan tengah menikmati hidangan santap siang. Arsyan makan lagi untuk menemani sang istri. Dia mengambil makanan sedikit saja karena takut perutnya meledak.
"Mau nambah lagi?"
"Cukup, cukup. Tadi aku sudah makan tapi aku tidak ingin istriku kesepian."
"Berlebihan." Nuri kembali menikmati makanannya.
Arsyan melanjutkan pekerjaan dari rumah. Sesekali dia melirik Nuri yang ikut bergabung bersama mama, Fitri juga anak-anak.
***
"Sepertinya cara kita tidak berhasil," ujar salah satu dari mereka.
"Iya aku rasa juga begitu. Aku juga beberapa kali berpapasan dengan Nuri, dia tak menunjukan wajah tertekannya sama sekali."
Perempuan yang paling banyak mengeluarkan ide itu menatap postingan Nuri. Dia diam tak memberikan komentar apa pun.
"Kalian terlalu memuji lawan," ujannya seteleh beberapa saat diam. Dia beranjak masuk ke dalam kamar. Ketika keluar dia sudah dengan penampilan yang sungguh berbeda.
Dia memacu mobilnya menuju komplek perumahan Nuri. "Mereka terlalu lemah dan banyak bicara."
Cara lebih efektif untuk menghancurkan lawan adalah menjadi babagian darinya.
Mobil berhenti di depan pintu, dia turun dan bersikap seperti klien pada umunya.
Nia langsung menghubungi Nuri. "Aku akan ke sana, tolong temani dia sebentar."
Nuri memang selalu berusaha meneraoakan tiga kata yang sudah sering dilupakan sebagian orang. Maaf, tolong, dan terima kasih. Dia tidak ingin pekerjaan merasa memiliki sekat yang teramat tinggi dengan dirinya. Sebab ia pun pernah berada di posisi para pekerjanya saat ini.
Arsyan menoleh, melihat Nuri berdiri. Dia pun menyusul di belakangnya.
Seorang wanita dengan penampilan mewah tengah duduk bersama Nia.
Nuri menggukan kepala sambil tersenyum kemudian menyapa. Sedangkan Arsyan mengamati dari balik meja kerja Nia. Tidak ingin kecolongan, perasaannya mengatakan kalau tamu Nuri kali ini tidak biasa.
"Anda Bu Nuri pemilik tempat ini?" tebak Naima yang memperkenwlkan diri sebagai Rahima.
"Benar, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya sering mendengar tentang perusahaan anda, sehingga saya tertarik datang ke sini."
Nuri membalas dengan senyuman.
"Boleh saya lihat-lihat?"
Nuri sempat mengerutkan kening, rasanya baru pertama kali ada klien yang ingin melihat-lihat tempat kerjanya.Mengingat teror padanya kerap terjadi, hatinya langsung mengatakan waspada.
"Ah, maaf. Apa yang anda maksud adalah melihat jenis pakaian yang kami produksi?"
"Iya iya maksud saya lihat-lihat itu."
Sial, ternyata dia begitu waspada.
Arsyan tersenyum mendengar sikap hati-hati sang istri yang disampaikan dengan tenang. Tidak menunjukan rasa cemas berlebihan.
"Tunggu sebentar, akan saya ambilkan."
Saat Nuri beranjak, perempuan yang datang sebagai calon klien baru itu menatap liar pada ruangan itu.
"Bu Nuri, bisakah lain kali kita duduk bersama untuk menikmati kopi?" tanya perempuan itu saat Nuri kembali dan membawa beberapa model pakaian.
"Oh tentu saja. Atur saja waktu anda, kalau saya siap kapan saja."
"Besok?"
Nuri menyiapkan wajah berpikir sejenak lalu dia mengiyakan ajakan klien barunya. Dia melirik ke arah meja kerja Nia sebab tahu suaminya ada di sana. Dia akan mendiskusikan hal ini dengan sang suami.
Naima tidak ingin berlama-lama menyaksikan drama yang menurutnya tidak bermutu. Dia harus bergerak cepat untuk melihat hasil yang diharapkan. Kematian Nuri dan Arsyan.
Uh sayang kamu begitu manis. Huh ternyata begitu mudah memancing tikus keluar dari sarang. Siapkan kata-kata cinta untuk keluargamu. Waktumu hanya tersisa tidak sampai 24 jam lagi. Aku tak sabar untuk itu.
Naima menyeringai meski waktu berjalan terasa sangat lambat. Dia pun mengisi pesan pada orang-orang yang bekerja sama dengan dirinya.
"Aku sudah berhasil memancing tikus itu untuk keluar. Siapkan kucingnya." Pesan terkirim.