
Kegaduhan itu ternyata kedatangan ketua rw juga warga setempat. Mereka menuduh Arsyan dan Nuri berbuat maksiat.
Kegaduhan itu membuat Nuri bangun dan bingung melihat ada banyak orang di sana. Dia juga menoleh pada Arsyan, terdapat luka pada beberapa bagian tubuh pria itu. Dia pikir mereka tengah menjenguk si pemilik rumah.
"Tuh kan apa kata saya pak RW, di rumah ini ada perempuan yang bukan istrinya. Pasti mereka berbuat maksiat." Seorang pria bertubuh subur menoleh pada yang lain meminta persetujuan.
"Iya pasti mereka berbuat maksiat," teriak yang lainnya
"Gawat pak RW ini gak bisa dibiarkan," timpal yang lain.
"Tenang-tenang. Pak Arsyan siapa perempuan ini?" Pak RW bertanya dan menatap Nuri.
"Dia ...."
"Sudahlah pak RW pak Arsyan saja tidak bisa mengatakan siapa perempuan itu. Yang jelas mereka bukan suami istri."
"Pak Arsyan?"
"Dia Nuri, dulu pernah bekerja di store saya. Dia kesini karena anak saya main ke rumahnya dan anak saya mogok pulang kalau saya tidak menjemput. Pada akhirnya saya merepotkan Nuri untuk mengantarkan anak saya."
"Alesan Pak RW, nikahan saja mereka."
Mereka terus saja mengatakan untuk menikahkan keduanya. Penjelasan Nuri dan Asryan tak ada yang diterima. "Pak!" bentak Nuri pada lelaki bertubuh subur itu. Sejak tadi lelaki itu banyak sekali bicara. Bahkan kosakatanya melebihi kosakata perempuan. "Bahkan bapak bisa melihat dengan jelas keadaan saya. Pakaian saya masih lengkap. Dia juga tubuhnya banyak luka. Mana bisa kami berbuat yang tidak-tidak."
"Ah sudahlah nikahan saja. Bener gak?"
"Iya sutuju," teriak yang lain.
"Enggak bisa pak, kalian menduduh tanpa bukti. Saya bisa laporkan kasus ini." Arsyan mengerti perasaan Nuri, maka dari itu sia berusaha meyakinkan warga agar tak manikahkan mereka. Walaupun dalam lubuk paling dalam dia mengaharapkan Nuri jadi istrinya. Tapi bukan dengan cara seperti ini.
"Kami gak takut sama ancaman kalian, kami lebih takut Tuhan marah karena kelakuan kalian." Orang-orang yang bersama pak Rw sepertinya mabok agama. Merrka mengatakan tuhan akan marah karena perbuatan zina tapi mereka sendiri tidak ingin mengetahui kebenaran. Mungkin di balik kejadian ini ada orang tertentu yang memanfaatkan situasi?
Latif yang baru datang langsung diminta warga untuk menghubungi keluarga Nuri. Mereka diminta untuk datang.
Pada akhirnya mereka tetap harus dinikahkan. Warga terus mendesak ketua RW di sana.
Seharusnya Arsyan bahagia karena memang tujuan memilki Nuri sudah dia capai. Senyatanya tidak seperti itu dia yakin kalau perempuan yang sekarang jadi istrinya pasti tengah mengalami tekanan batin.
Nuri memalingkan wajah saat Arsyan menatapnya.
Warga yang tadi memaksa merka untuk menikah pun bubar setalah Arsyan dan Nuri sah jadi suami istri. Papa yang tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya hanya menatap lemah.
Tidak ada kalimat manis yang papa sampaikan kepada menantunya. Pun dengan keluarga Nuri yang lain. Keluarga Arsyan memang belum ada yang diberi tahu.
"Makasih daddy sekarang aku sudah punya mommy baru," ucap Fisya memecah keheningan. Arsyan mengagguk.
"Nuri ...."
Perempuan itu menoleh, sejak mereka dinyatakan sah, Nuri belum mengucapkan sepatah kata pun. "Kamu akan pulang atau akan tetap di sini?"
Nuri diam. Dia sadar sebagai seorang istri apapun yang ia lakukan harus berdasarkan ridho suami. Akan tetapi dia juga tidak memungkiri kalau dirinya sangat tertekan saat harus hidup berdampingan dengan Arsyan.
"Aku minta maaf atas kekacauan ini, Pak," ucap Arsyan.
"Sudahlah kamu terlalu banyak mengatakan maaf. Sebenarnya berat bagi saya menikahkan Nuri dengan kamu. Saya juga yakin kalau Nuri sangat tertekan."
"Apa perlu kita membatalakn pernikahan ini?" tanya Arsyan.
"Sudahlah istirahat saja dulu. Memaksakan solusi saat seperti ini akan mebghasilakan solusi yang kurang tepat. Besok saat kita sudah sama-sama tenang baru temukan solusinya. Hari ini biar Nuri ikut bersama kami dulu. Aku harap kamu Ridho pada setiap langkah yang Nuri ambil."
Arsyan mengangguk, dia mengantarkan keluarga istrinya sampai mobil mereka tak terlihat lagi. "Kenapa mommy tidak nginap di sini saja?" tanya Fisya pada Arsyan.
"Belum saatnya."
Dua orang di dalam mobil tersenyum puas melihat apa yang terjadi pada Nuri dan Arsyan. Penderitaan Nuri sudah dimulai menurut mereka. Mereka mengetahui apa yang terjadi pada Nuri dan Arsyan di masalalu. Dari itu mereka menggunakan kesempatan ini agar Nuri dan Arsyan sama sama menderita. Hidup dengan pelaku pemerkosa apan membuat Nuri tertekan. Pun dengan Arsyan yang merka pastikan akan mensritak karena sikap dingin Nuri.
Mereka yang berada di dalam mobil sama-sama tersenyum puas. "Kerja yang bagus, aku suka ide gila ini."
"Tentu, sudah aku katakan kamu akan puas melihat adegan ini. Selanjutnya kita hanya perlu menonton kisah mereka selanjutnya. Apa mereka akan berakhir dengan salinv mencintai atau saling membunuh. Aku sangat berharap tidak ada happy ending."