Nuri

Nuri
43



"Dari mana?" todong Nuri saat jam sepuluh suaminya baru masuk kamar.


"Habis ngikutin Hamzah. Sini duduk!" Arsyan memutar rekaman tentang percakapan Hamzah dan Naifa. "Bisa kamu simpulkan?"


Nuri mengetuk-ngetukan jari pada pipinya. "Artinya Naima memanfaatkan Hamzah. Hamzah gak menyadari itu sepertinya."


"Iya aku berpikir begitu."


Nuri tiba-tiba teringat saat kejadian penculikan. "Aku melupakan sesuatu. Kamu tahu dimana pakaian yang aku pakai hari itu."


"Coba tanya Fitri atau mama deh."


"Oh iya,"


Tangan nuri di tarik agar kembali duduk, "besok aja, kasihan mama atau fitri mungkin sudah tidur."


Besoknya apa yang Nuri cari pun akhirnya ditemukan. Alat perekam yang sempat Nuri gunakan waktu di dalam mobil saat penculikan terjadi.


Hari ini juga pihak kepolisisan datang ke rumah meminta keterangan Nuri sebagai korban. Beberapa pertanyaan dilontarkan pada Nuri dan dijawab dengan tenang.


"Sekaligus saya mau menyerahkan ini pak," ujar Nuri.


"terima kasih, akan kami selidiki nanti."


Hari-hari terus belanjut dan sidang pada Alisa dan Hanah pun mulai digelar. Beberapa kali Nuri dihadirkan sebagai saksi juga korban.


Alisa juga sempat membantah tuduhan pada dirinya dan meminta keringanan hukuman tapi sayangnya tidak dikabulkan oleh hakim. Begitu pun dengan Hanah.


Bolak-balik mendatangi kantor pengadilan membuat kesehatan Nuri terganggu. Tubuh Nuri kadang lemas kadang juga muntah-muntah.


"Kalau kamu kecapean hari ini enggak usah datang ya,"


"Masih bisa kok, aku juga mau hadir di sana. Ini kan sidang pembacaan tuntutan. Jadi aku harus datang."


Sepanjang jalan Arsyan terus memperhatikan Nuri. Sesekali Nuri menahan mual. "Kita pulang aja. Gak perlu memaksakan. Kesehatan kamu lebih penting."


"Mungkin asam lambung naik lagi. Mampir apotek aja, beli obat."


Bagaimana dengan Naima? Naima pun akhirnya tidak bisa lari lagi dari jeratan hukum setelah beberapa saksi mengatakan dirinya ikut terlibat. Pun pengakuan Naifa yang membuat Hamzah syok.


Naima dan komplotannya kini tidak bisa lagi menikmati fasilitas rumah mewah dan kasur empuk di rumah. Setidaknya untuk lima tahun.


Rasa lega didapatakan sepasang suami istri. Akhirnya pelaku pembuat onar mendapatkan hukumannya.


Dalam perjalanan pulang Nuri Nuri kembali merasakan mual. "Ars kayaknya kita memang perlu ke dokter,"


"Ya memang," balas Ars yang duduk di samping sang istri.


Arsyan dan Nuri bingung karena setelah mendaftar dan menyebutkan keluhan mereka malah diarahkan ke dokter kandungan.


"Masa iya udah hamil aja," ucap Nuri menatap perutnya yang masih terlihat datar.


"Bisa aja, ya mungkin akunya terlalu joss."


"Ish lah bahasannya."


Mereka duduk menunggu sampai namanya dipanggil. Rasa gugup menyelimuti Nuri. Pasalnya kali ini dia masuk ke ruang dokter kehamilan bukan sebagai pengantar pasien.


"Tidak perlu gugup, santai saja," ujar dokter yang tak berhenti menebar senyum. "Sudah berapa lama keluhan yang di rasa?"


"Baru-baru ini sih, Dok. Mungkin karena terlalu banyak aktifitas juga."


"Sudah di cek pakai alat tes kehamilan?"


Nuri dan Arsyan sama-sama menggelengkan kepala.


"Terakhir haid?"


"Bulan lalu masih haid kok, bulan ini baru telat beberapa hari saja."


Serangakian tes dilakukan Nuri sesuai petunjuk dokter. Dan alangkah bahagianya, mereka saat Nuri dinyatakan positif hamil. Air mata haru menetes seketika. Arsyan memeluk Nuri dan mendaratkan beberapa kecupan.