
Langit minggu terlihat begitu cerah. Akmal baru saja bangun tidur karena pintu tak henti berbunyi diketuk dari luar.
"Akmal dah bangun ma," ucap Akmal setelah membuka pintu sambil terus menguap.
Mama berdecak kesal. "Astagfirullah, ini jam berapa Arbani Malik Habibi ..."
"Akmal, ma..."
"Ya ya ya terserah kamu aja. Cepat cuci muka! nanti antar mama!"
Tak sampai sepuluh menit Akmal alias Arbani itu sudah turun menemui mama di dapur. Seberandal apapun dia tetap tidak bisa bersikap kasar pada orangtuanya. Dia tetap mengantar mama.
Mobil yang dikemudikan Akmal berhenti di depan fasilitas publik yang disediakan oleh pemerintah kabupaten. "Jemput lagi gak nanti?"
"Tunggu di sini, kalau perlu kamu ikut olah raga. Mama gak lama," sahut mama yang tergesa-gesa.
Menunggu membuat Akmal kembali ngantuk. Akan tetapi seseorang yang mengemudikan motor dan memarkirkan motornya tak jauh dari mobil Akmal membuat dia kembali terjaga.
Akmal terus mengamati orang tersebut sampai sebuah ide muncul. Akmal melihat ke kabin belakang dimana terdapat sebagian barang-barang. Beruntung dia menemukan celana training dan kaos tanpa lengan. Dia pun segera berganti pakaian. Dan segera ikut bergabung pada orang-orang yang tengah jalan kaki pada lintasan yang tersedia.
Pada putaran ketiga akhirnya dia mensejajari orang yang dia cari. Akmal tersenyum tapi orang yang dia sejajari bersikap seolah tak terganggu sama sekali.
***
Setiap hari minggu, Nuri tak melewatkan rutinitasnya untuk berolah raga. Dengan mengendarai motor dia menuju fasilitas publik yang menyediakan arena olah raga.
Nuri berlari pada lintasan yang sudah disediakan. Putaran demi putar dia lalui. Keringat mulai membasahi. Seseorang mensejajari dia berlari. Nuri menoleh sebentar tapi kembali fokus pada lintasan.
Setelah sepuluh putaran Nuri memilih duduk di bawah pohon dekat penjual minuman. Meneguk air mineral yang dia bawa.
Seseorang yang membawa raket menghampiri. "Mau main ini?" Lelaki muda tadi menyodorkan satu raket pada Nuri.
Nuri mengerutkan kening.
"Ayolah aku sedang tidak ada teman untuk bermain ini," ucap pria tadi lagi.
Berhubung waktu juga masih belum terlalu siang, Nuri akhirnya mengiyakan ajakan lelaki muda tadi. "Sini!" Nuri meminta raket. Merka pun kembali ke tengah lapang dan mulai lah bermain bulu tangkis ala-ala. "Mari kita lihat siapa yang paling hebat," ujar Nuri.
Nuri tertawa saat melihat lawan mainnya terpeleset beberapa kali. Entah itu disengaja atau memang beneran tapi Nuri benar-benar tertawa lepas.
Akmal menikmati momen tersebut. Sebab sejak dia melihat Nuri dan hatinya mulai merasa tertarik dia tak pernah melihat Nuri tertawa seperti sekarang.
"Kamu emang gak sakit dari tadi kepeleset terus?" tanya Nuri saat Akmal kembali berdiri sambil cengengesan.
"Yang penting aku tak melihat suram lagi di wajahmu," balas Akmal pelan.
"Hem..."
Satu jam mereka bermain sampai tercipta sebuah keakraban. Nuri merasa tidak masalah dia akrab dengan yang usianya lebih muda dari dia. Toh anak kecil tidak mungkin jatuh cinta pada orang dewasa, begitu yang dipikirkan Nuri.
Selesai bermain mereka memilih duduk di bawah pohon yang rindang. menikmati semilir angin yang menyapu kulit. Dan Nuri kembali ke mode juteknya.
"Mbak."
"Ya?"
"Kok jalannya sendiri aja?"
"Suka-suka saya lah."
"Kerja dimana, Mbak?" Nuri menoleh sejenak tapi tak menjawab.
"jutek amat, mbak. Mau aku doain biar dapat suami kayak aku?"
Nuri menoleh sambil melotot sejurus kemudian dia kembali fokus pada ponsel. "Suka-suka kamu aja, tapi saya juga punya hak untuk menolak. Kamu tidak termasuk kriteria calon suami idaman."
Bunyi ponsel dari saku training Akmal membuat lelaki itu tak lagi berbicara asal. Akmal bergeser sejenak untuk mengangkat panggilan.
"Meskipun terlihat kayak adek-ade juga aku dah bisa bikin adek di rahimu lob mbak. Mau coba?"
Seketika tamparan mendarat di pipi Akmal. Bahkan mama yang tengah berjalan hendak menghampiri pun melihat itu. Orang-orang di sekitar mereka pun saling berbisik.
"Jaga ucapanmu." Kilat amarah nampak jelas di mata Nuri. Perempuan itu segera meninggalkan Akmal yang meringis memegang pipi.
"Bani ada apa?" tanya mama panik dan menatap kepergian Nuri yang tak menoleh lagi. "Kamu pasti macam-macam lagi," lanjut mama yang sudah hafal tabiat sang anak.
"Biasalah ma, ini tuh usaha anak mama demi mendapatkan cinta calon menantumu." Akmal alias Arbani malah cengengesan. Jangankan orang lain mamamu pun gemas dengan polah putra bungsunya itu.
"Ma, nanti mama lamaran dia untukku ya," ucap Akmal saat mereka sudah berada dalam mobil.
"Melamar? emangnya kamu kenal baik sama perempuan tadi?"
"Kenal kok, buktinya dia nampar aku sebagai tanda cinta."
"Gak mama gak mau sembarangan melamar anak orang, apalagi untuk kamu. Astagfirullah Bani penampilan kamu aja urakan, wajah juga pas-pasan." Mama terlihat beberapa kali menggelengakan kepala. Anaknya bungsunya memang berbeda dengan kakak-kakaknya.
"Orang lain dibully teman sebaya lah aku dibully ibu sendiri," keluh Akmal membuat mama tertawa. Ban mobil pun mulai berputar meninggalkan pelataran parkir.
***
Sampai rumah tawa mama masih belum juga berhenti. Apalagi saat ditengah perjalanan dia menceritakan bagaimana dia bertemu Nuri. Menyewa intel frelance untuk memantau keadaan sang pujaan hati dan puncak pertemuannya tadi.
"Ada apa ni, ma? happy banget sepertinya." Papa yang lagi duduk di bangku taman menghampiri ibu dan anak yang baru masuk.
"Ini loh pak anakmu lagi jatuh cinta. Dan yang membuat mama tertawa itu usaha dia, Papa."
"Kalau hanya jatuh cinta ya wajar mah, yang gak wajar itu kalau dia minta melamar." Papa meletakan koran yang sejak tadi dia baca.
"Itu dia masalahnya Pa, anak mu ini minta kita melamar anak perempuan orang. Heeehh mama gak sanggup." Mama menggelengkan kepala pelan.
***
"Kok... sudah pulang, teh. Biasanya kan sampai siang," tanya mama saat Nuri ikut menghempaskan bobotnya di samping mama. Mama dan papa tengah menikmati tayanagn televisi hari minggu.
"Lagi males aja. Kan bisa olah raga di atas," balas Nuri.
"Biasanya juga kalau hari minggu kamu senang olah raga di luar. Apa jangan-jangan..." papa menimpali.
"Apa sih, Papa?"
"Loh kok sewot," kekeh papa. "Ganteng gak? Kenalin dong sama kita! Harus pinjam dan ke siapa ma untuk pesta?"
"Ish, ngaco dah. Dah ah Nuri mau olah raga di atas." Nuri meninggalkan kedua orang tuanya.
Sedangkan mama dan papa hanya saling pandang sambil menahan tawa. Semoga harapan mereka segera terwujud.
Sebagai orang tua mama dan papa tentu merasa khawatir pada anak sulungnya itu. Pandangan orang lain dan putrinya tentu berbeda. Bagi Nuri menikah usia dua puluh tujuh tahun dan belum menikah itu bukan masalah. Akan tetapi orang lain akan beranggapan kalau Nuri adalah perawan tua yang tak laku. Biasa orang luar akan lebih pusing memikirkan masalah orang lain. Padahal yang menjalani happy-happy saja.
.
.
.
.
.
.
Selamat pagi sayang-sayangku, gimana menurut kalian Ara cocok sama Pak Irsya atau Arbani aka Akmal? Kasih pantun dulu ah. Buah mengkudu, buah semangka. cakep gak tuh? Enggak