Nuri

Nuri
23



Meski tak mengalami cidera parah, papa disarankan untuk dirawat selama bebebeapa hari ke depan. Selama itu pula Nuri dan kedua adik laki-lakinya bergatian untuk bejaga.


Hari ini hari ketiga dan giliran Nuri untuk berjaga. Mama dan kedua adiknya pulang. "Papa istirahat ya!" Nuri membetulkan selimut pada tubuh papa. Setalah papa makan siang dan meminum obat.


Saat papa tidur Nuri baru meninggalkaan papa untuk makan siang.


"Aku gak mau," jerit seorang anak dari taman yang dilalui Nuri. Perempuan itu menoleh ternyata itu itu Fisya yang tengah dibujuk makan oleh pengasuhnya.


Tak lama Arsyan menghampiri mereka. Si pengaush menunduk takut kala melihat tatapan tajam dari sang majikan. Begitu juga Fisya.


"Makannya papa yang suapin ya," ujar Arsyan dan meminta makanan yang dipegang oleh pengasuh.


"Gak. Aku gak mau makan." Bisa cemberut.


"Sya, Ayolah daddy harus kembali kerja."


"Ya udah daddy pergi saja. Kan daddy emang gak sayang aku." Fisya melipat tangan di dada dan memalingkan wajah.


"Fisya!" Bukannya melunak Fisya malah menangis dan meraung. Asyan mengusap wajah kasar melihat tingkah sang anak.


Nuri yang melihat itu dari kajuahan menggelengkan kepala. Dia pun mendekat dengan niat ingin membujuk anak itu. Ya itung aja ini sebagai ungkapan terima kasih karena lelaki itu susah menolong papa.


"Fisya," sapa Nuri lembut dan tersenyum.


Fisya menoleh san mengusap air matanya. "Tante? tante pacar om Akmal kan?"


Nuri menggaruk alis sedangkan Arsyan merasa tidak suka anaknya mengatakan Nuri pacarnya Akmal.


"Kok Fisya gak mau makan?" Nuri ikut duduk pada bangku yang sama yang diduduki Fisya.


"Makanannya gak enak. Daddy gak mau memeblikan makan enak untukku. Daddy terlalu sayang uang sehingga dia pelit padaku. Katanya aku anaknya daddy tapi dia jahat."


"Oh ya memang dia jahat," ceplos Nuri langsung membekap mulutnya sendiri. "Emm, Fisya mau gak disuapin sama tante? Makanan ini memang kurang enak tapi makanan ini bisa membuat Fisya cepat pulih dan nanti bisa makan enak lagi. Mau ya?"


Fisya menatap Nuri ragu.


"Gini deh, nanti kalau Fisya sembuh Fisya boleh main kw rumah tente. Nati tante buatkan makanan yang enak. Mau?"


Fisya menagguk, dia pun mulai menerima suapan demi suapan dari Nuri. Makanan yang katanya kurang enak itu pun habis.


Interaksi keduanya membuat Arsyan bersorak. Ah padahal dia baru berencana mengajak Fisya bekerja sama untuk mendekati Nuri. Tetapi ternyata sementara lebih dulu mendukungnya.


One step closer.


***


Setelah hampir satu minggu papa dirawat dan melakukan serangkaian tes kesehatan, hari ini akhirnya diizinkan pulang. Nuri dan Latif menyelesaikan administrasi, sedangkan Hamzah membantu mama merapihkan barang.


Fitri sendiri sudah datang untuk menjemput menggunakan mobil milik Nuri yang memiliki kafasitas lebih besar.


"Ndong," Naura menjulurkan tangan, meronta-ronta ingin digendong papa.


"Kakeknya baru sembuh, Naura kan sudah besar kasihan nanti kakek sakit lagi kalau gendong Naura," ujar Fitri memberi pengertian.


"Gak papa, Fit. Berikan Naura pada papa!"


Naura langsung tertawa dan menjulurkan lidah saat sudah duduk dipangkuan papa.


"Susah siap?" tanya Nuri yang baru kembali.


"Sudah," jawab mama.


Semua anak-anak papa langsung mengambil peran masing-masing. Termasuk Nuri yang memilih mendorong papa yang duduk di kursi roda.


Sebagai seorang anak perempuan, Nuri tak ingin kehilangan momen-momen yang mungkin akan dia kenang dikemudian hari.


Sepanjang orang tua masih bernafas, sebisa mungkin ia sebagai seorang anak melakukan hal-hal baik untuk menyenangkan hati mereka.


Mereka berpapasan dengan Pak Irsya, dokter itu hanya menganggukan wajah.Mengingat di ujung koridor sana dia melihat Hanah tengah memperhatikan mereka. Dia teringat ucapan Arsyan berapa hari kemaren.


"Nuri dalam bahaya kalau kamu tetap menginginkan dia. Jangan menutup mata kalau di belakangmu ada orang yanh terobsesi padamu. Dia bisa saja mencelekai Nuri kapanpun."


"Apa maksud kalimatmu itu menyuruh agar aku memberi kesempatan padamu? Astaga."


"Tentu, selain aku ingin kesempatan itu aku juga ingin melindungi Nuri dari orang yang ada di belakangmu. Kita mencintai satu perempuan yang sama. Tapi kamu memiliki resiko lebih tinggi."


Jangan katakan dia seorang Arsyan kalau tak bisa mendapatkan Nuri.


***


Mereka sudah sampai di rumah. Sanak saudara dan beberapa tetangga dekat terlihat berkumpul untuk melihat keadaan papa karena tak sempat menjenguk di rumah sakit.


Ada yang menarik di antara orang-orang yang tengah berkumpul di rumah itu. Yaitu keberadaan Fisya. Dia tersenyum manis pada Nuri. Dia datang hanya dengan pengasuhnya saja.


Hamzah dan Latif membantu papa untuk duduk. Mama menggendong Naura sedangkan Nuri dan Fitri membawa tas dari rumah sakit.


Karena lelah Nuri memilih tak ikut berbincang di sana. Dia pergi ke dapur untuk mengambil minum.


"Tante," panggil Fisya yang ternyata mengikuti Nuri.


"Eh kok." Nuri mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Fisya.


"Aku sudah sembuh, jadi aku main ke sini. Tante masih ingat 'kan mau masakin makanan yang enak buat aku."


Gak anak gak bapak sama aja. Sering muncul tiba-tiba tanpa Nuri harapkan. Nyesel dia pernah membujuk anak itu agar mau makan.


"Sekarang tantenya masih capek, tante boleh istirahat dulu gak?"


"Boleh, tapi aku juga mau di sini, boleh?"


Nuri langsung berburuk sangka. Ini pasti trik Arsyan untuk mendekati dia. Nuri membuang nafas kasar.


Pandi sekali dia memanfaatkan peluang, umpat Nuri dalam hati.