Nuri

Nuri
Bab 18



Pak Irsya yang masih bertugas di bagian UGD dn melihat Nuri langsung bergerak melakukan tindakan. Ya meskipun dia heran melihat orang-orang yang mengantar Nuri menggunakan pakaian cukup mewah.


"Alhamdulillah pasien hanya mengalami syok saja. Tapi yang lainnya tidak ada masalah," ujar pak Iraya membertitahu.


Mendengar kabar baik mereka yang di sana saling mengucapkan hamdallah. Ada yang terdengar ada juga yang hanya terlihat dari gerakan bibir saja.


"Maaf pak Hasan jadi seperti ini," ujar pak Amran pada papanya Akmal.


"Tidak apa-apa pak Amran. Mungkin Nuri memang belum siap. Kalau begitu kami pamit ya. Kabari kalau ada hal genting menyangkut Nuri."


"Sekali lagi kami minta maaf nak Akmal," sesal papa sambil menepuk pundak Akmal yang berdiri tepat di sampingnya.


Akmal mengagguk, ya meskipun ada rasa kecewa di lubuk hatinya.


Keluarga Akmal meninggalkan orang tua Nuri. Mereka pulang dengan tangan kosong. Mama sama papa sudah memperkirakan hal ini tapi ia tetap malamarkan Nuri demi mengikat Akmal.


"Elo hutang penjelasan sama kita," ucap Akmal yang sejak tadi merasa heran kakaknya bisa mengenal Nuri padahal dia belum mengenalkannya. Selain itu dia juga heran dengan sikap kakaknya itu.


Sampai di rumah Arsyan langsung dicerca berbagai pertanyaan oleh Akmal.


"Sudah-sudah, Arsyan?"


Yang ditanya membuang nafas kasar dia menatap kedua orang tuanya serta sang adik. "Aku pernah melakukan kejahatan pada Nuri, ...."


"Maksud kamu?" tanya mama penasaran.


Lagi-lagi Arsyan menarik nafas dalam. Inilah saatnya dia jujur. "Aku telah mengambil sesuatu yang paling berharga pada diri Nuri-"


"Bangsat," teriak Akmal langsung melayangkan pukulan berkali-kali.


Mama memberikan mulut sambil menatap papa.


"Akmal, Akmal jangan Nak!" suara mama berbarengan dengan suara papa yang mengatakan cukup.


"Pa, dia pengecut. Lo kabur kan setelah itu. Lari dari tanggung jawab. Lo seharusnya gak di sini bangsat! Lo harusnya membusuk di tahanan." Akmal memaki untuk meluapkan kekecewaan.


Arsyan sendiri tidak menyangka kalau perempuan yang akan dilamar oleh adiknya adalah Nuri. Perempuan yang dia sukai sejak Nuri bekerja di store-nya.


Ya, pesona Nuri saat itu begitu menyilaukan. Awal-awal Nuri bekerja di store, perempuan itu sudah mencuri perhatiannya. Sikapnya yang ramah juga ceria benar-benar memikat hati seorang Arsyan.


Sayangnya saat itu dia sudah terikat pernikahan. Sehingga dia memilih untuk menyimpan rasa itu sendirian. Bukan menghilang, tapi rasain semakin tumbuh karena semakin banyak perubahan pada Nuri.


Yang tadinya Nuri terlihat kusam justru semakin hari semakin bening. Puncaknya dia tak sanggup lagi menahan saat melihat Nuri tengah berbincang akrab dengan pekerja laki-laki. Hal itu membuat seorang Arsyan cemburu.


Sampai saat dia akan pulang dia melihat Nuri menerobos hujan seorang diri. Niat yang tadinya hanya ingin memastikan keselamatan wanita itu justru ia sendiri yang membuat petaka bagi Nuri.


Arsyan mengakui semuanya. Selama lima tahun dia dibuntuti rasa bersalah dan itu sangat menyiksa. Finalnya dia memutuskan kembali ke indonesia setelah melihat video Nuri tersebar.


"Kemarin aku bertemu dengan dia di supermarket. Aku ingin mengucapkan maaf, ya ... meski maaf saja tidak cukup. Kalian berhak marah, Akmal ... hajar aku!"


Fisya yang sejak tadi mendengarkan tidak mengerti apa yang dimaksud orang-orang dewasa di sekitarnya. Yang ia tahu ia harus melindungi daddynya dari pukulan Akmal. Gadis kecil itu mendekap erat pada sang daddy meski tangannya tak mampu menjangkau seluruh tubuh itu.


Akmal yang marah mendengar fakta itu menggantikan tangan pada tembok. Membuat darah menetas dari kepalan itu.


***


Di rumah sakit.


Nuri baru sah siuman dia melihat sekeliling. Memastikan apa yang dia lihat bukanlah mimpi. Sayangnya dia hanya melihat sukses juga kedua orang tuanya tengah berbincang kecil.


"Pa ...," ujar Nuri saat papa menghampiri.


"Aku mau minum."


Pap membantu Nuri untuk duduk, kemudian menyodorkan air mineral. Papa mengusap sayang puncak kepala Nuri.


"Apa aku harus dirawat?" tanya Nuri pada dokter Irsya


"Tidak perlu, kamu hanya perlu istirahat yang cukup. Setelah nanti infusnya habis kamu bisa pulang. Oh iya, Pak Amran saya ingin memberitahu anda sesuatu hal."


"Apa ada kaitannya dengan keaehatanku?"


"Bukan, istirahat saja. Kapan anda punya waktu luang Pak Amran?"


"Datang saja besok ke rumah!"


Setelah infus habis Nuri pun diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Saat di dalam mobil Nuri tak mendengarkan obrolan mama dan papanya. Dia hanya menatap jalanan yang dilalui dan pikirannya melayang jauh.


Sentuhan tangan mama pada pundak Nuri menyadarkan lamunan Nuri. "Sudah sampai, ayo!"


"Loh kok cepat sekali, ma?"


"Cepat gimana orang ini sudah jam sembilan malam. Kamunya aja terlalu fokus melamun."


"Teh Nuri Ok?" tanya Latif yang membukakan pintu untuk mereka.


"Ok,"


Sebagai sesama perempuan Fitri merasa Nuri tidak seperti apa yang ia ucapan. "Teh ... katakan! Apapun yang Teteh rasakan jangan lagi di simpan sendiri," ujar Fitri diikuti anggukan dari latif-suaminya.


"Makasih, Fit. Tapi teteh beneran baik-baik saja."


"Teteh sedang merasa khawatir?" Nuri menjawab dengan gelengan kepala. "Sesama perempuan aku memahami itu, Teh."


Mama menggenggam tangan Nuri lalu tersenyum. "Katakan!"


Nuri terlihat berat bahkan untuk menarik nafas saja dia terlihat enggan. "Lelaki itu ternyata keluarga Akmal,?"


"Maksud kamu lelaki yang menggendong anak perempuan itu?" tanya Papa.


"Iya ... dia."


"Pantes," desis Hamzah. "Kita akan buat dia bertanggung jawab."


"Papa setuju. Pelaku akan terlena dan merasa menang jika korban tak bertindak," ujar papa.


"Emang bisa, Pa? Kejadiannya sudah lama. Biasanya yang beruang yang berkuasa." Nuri mengitarakan kekhawatirannya selama ini.


"Kalau hukum bisa dia kecoh, maka sangsi sosial harus ia rasakan," sambung Latif.


"Kasian anaknya," desis Nuri. Ya anak itu memang mencuri perhatian Nuri sejak mereka bertemu di taman. Apalagi anak itu mengatakan ibunya berenang dan tak kembali.


"Biar papa bicara dengan ayahnya besok. Apa ada bukti yang kamu simpan terkait kasus itu. Aku sempat memotret no polisi mobilnya ... aku juga menyimpan cincin nikahnya yang sempat dia lepas."


"Itu bisa kita jadikan bukti. Oh ya, Teh ... Pak irsya bilang dia sudah mendapatkan pelaku penyebar video itu. Tapi bukan itu poinnya. Jujur saja aku gak ingin Teteh dekat sama dia karena di belakangnya banyak peremouan yang terobsesi dengan dia. Tau sendiri bagaimana orang yang terobsesi. Kadang mereka melakukan banyak hal demi mendapatkan apa yang mereka mau. Termasuk menyakiti orang yang mereka anggap menghalangi keinginan mereka." Hamzah memaparkan. Dia bisa bijak pada waktu-waktu tertentu tapi bisa juga bersikap menyebalkan.