Nuri

Nuri
24



"Naura main sama kakak ya!" ucap Nuri agar Fisya merasa dirinya tak diabaikan. Biarpun dia anak dari pelaku kejahatan tapi tidak ada alasan untuk membencinya. Mereka pun bermain bersama pengasuh.


Tubuh yang lelah membuat Nuri begitu cepat menyambut lelap. Bahkan dia tak menyadari kalau Naura dan Fisya masukin ke dalam kamar dan ikut tidur bersama.


Fisya yang sangat merindukan pelukan sang mommy, dia pun memeluk Nuri dari belakang. Menganggap kalau yang dipeluk itu adalah mommy-nya.


"Mommy, aku rindu mommy," bisik Fisya.


Naura memilih meringuk di depan Nuri. Karena terlalu nyaman seperti biasa anak kecil tidurnya akan berubah posisi tanpa disadari. Kepala Fisya berada diatas paha Nuri dan kaki di dada. Pantat Naura di depan wajah Nuri yang menengok ke arah kanan.


Nuri terbangun dan terkejut karena mendapat hadiah ledakan bomm alami dari Naura. "Astaga," panik Nuri. pantas saja dari tadi terasa berat ternyata anak-anak itu tidur dengan posisi tidak karuan.


Pelan-pelan Nuri membenarkan posisi masing-masing. Tangannya terasa kebas karena ditindih oleh Nura. "Ini bangun tidur apa habis berantem sih." Nuri mengeluh.


Sampai hari hampir menjelang malam hujan masih saja turun pun tak ada tanda-tanda ayahnya Fisya akan menjemput.


"Coba dihubungi dulu bapaknya!" titah Nuri pada pengasuh Fisya.


"Sudah, Bu. Dari tadi belum ada yang diangkat. Non Fisya kita pulang naik taksi online aja ya?"


"Maunya dijemput daddy," jawab Fisya menunduk. Tangannya memainkan ujung baju.


"Yang penting kan sampai rumah dengan selamat. Kita bisa nunggu daddy-nya non Fisya di rumah."


Fisya tak menjawab tapi mata yang berkaca-kaca menunjukan perasaannya. Nuri yang merasa iba berinisiatif untuk menghubungi Arsyan. Bukan percaya diri akan diangkat tapi coba-coba berhadiah saja. Tak lupa dia meminta lebih dulu nomornya pada pengasuh.


Telpon tersambung.


"Halo Nuri?"


Nuri menjauhkan ponsel dari telinganya. Kok bisa dia tau ini aku?


"Nuri?"


"Ya ... ya ini aku Nuri. Pak Arsyan di mana? Ini Fisya masih di rumah saya."


Arsyan mengubah panggilan menjadi video. "Daddy Kenapa?" tanya Fisya saat melihat lengan daddynya tengah dibalut perban oleh seorang suster.


"Hanya kecelakaan kecil. Pulang sama mbak dulu aja ya! Daddy akan pulang bersama uncle Ares. Kita bertemu si rumah."


"Gak mau, kalau daddy gak jemput aku mau tidur di sini aja."


Nuri dan Fitri yang memang ada di situ langsung saling pandang.


"Jangan dong, Tante Nuri akan kerepotan ngurus kamu. Pulang sama mbak ya!"


"Gak di rumah sepi kalau cuma sama mbak," tolak Fisya. Bibirnya maju beberapa cm.


"Kasih dulu ponselnya sama tente Nuri!"


"Nuri maaf kalau aku merepotkan kamu. Tapi aku minta tolong sekali ini saja. Aku gak tau kalau Fisya ke rumah kamu. Sumpah." Arsyan mengangkat dua jarinya, "tapi aku beneran gak bisa jemput. Ada masalah yang harus aku selesaikan lebih dulu. Kalau kamu punya waktu aku minta tolong, kamu antarkan Fisya pulang."


"Hmmm."


Ini perempuan datar amat sih. Harusnya kan dia perhatian, setidaknya nanya aku kenapa sampe harus diperban gitu. Ngomel kek atau apalah. Katanya kosa kata perempuan lebih banyak dari laki-laki.


"Bisa?" tanya Arsyan memastikan.


"Hmm." Panggilan ditutup oleh Nuri, "pulangnya diantar sama tante mau?"


"Tante mau main ke rumah aku?"


"Iya hanya nganterin kamu."


"Fit, Latif masih di toko 'kan? Nanti minta dia nyusul teteh ya. GPS Teteh aktif kok." Nuri berpesan sebelum mobil melaju.


Mobil melaju mengikuti petunjuk dari pengasuh Fisya. Sedangkan anak kecil itu terus bernyanyi riang tak memutihkan jalanan yang macet. Hari ini dia merasa punya ibu lagi.


Setelah melewati jalanan yang macetnya parah akhirnya mobil sampai juga pada tujuan. Rumah Arsyan masih terlihat gelap. Pengasuh Fisya lebih dulu membuka pintu dan menyalakan lampu.


Adzan maghrib sudah berkumandang lima belas menit yang lalu. Sedangkan jarak rumah Nuri dan Arsyan memakan waktu satu jam setengah itu pun kalau tidak macet seperti tadi. Dari pada melewatkan kewajiban, Nuri meminta izin pada pengasuh Fisya untuk menunjukan kewajibannya di sana.


"Pak Arsyan sudah datang?" tanya Nuri usia shalat.


"Belum, Bu. Bapak juga gak ngasih kabar ke saya."


"Oh gitu. Ya sudah kalau gitu saya pamit ya." Nuri menghampiri Fisya yang sedang menikmati tayangan kartun di tv. "Tante pulang ya, Fisya sama mbak dulu."


Bukannya mengizinkan, anak itu malah menangis membuat Nuri serba salah. Bahkan pengasuhnya pun tak berhasil menenangkan.


"Ok, Ok tante di sini sampe daddy kamu pulang." Jengkel tentu saja. Tapi memang dasarnya hati Nuri itu lembut kenyal-kenyal pada anak kecil, mana bisa ia berbuat tega.


Mereka memasak dan makan malam bersama. Sampai mereka selesai Arsyan masih belum pulang juga.


"Teh aku ke jebak macet, Teteh masih di sana 'kan? kalau iya lebih baik Teteh tunggu aja! Aku khawatir Teteh pulang sendiri." Sebuah pesan yang dikirim oleh Latif.


Nuri meletakan kembali ponselnya setelah membalas pesan dari Latif. Dia menemani Fisya sampai tak sadar matanya mulai mengatup.


Arsyan yang katanya baru saja menyelesaikan masalah, tiba di rumah san diantar oleh Ares. Dia menawarkan Area untuk masuk lebih dulu tapi pria itu menolaknya.


Pemandangan yang selalu dia bayangkan kini terpampang nyata. Dia selalu membayangkan pulang akan disambut penuh cinta oleh Nuri. Ya meski sekarang dia tidak di sambut tapi melihat Nuri dan Fisya tidur di sofa dengan keadaan saling memeluk, sungguh membuat hatinya berdesir.


Ingin membangunkan tapi tak tega. Dia hanya mendekat dan merapatkan selimut pada kedua tubuh beda generasi itu. Wajah Nuri yang lelap tanpa melepas hijab benar-benar menyejukan hati Arsyan. Rasa sakit juga lelah terasa hilang begitu saja.


Tangan Arsyan terulur hendak menyentuh pipi Nuri. Sayangnya dia mebgurungkan karena kegaduhan dari luar.